
Anin mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari keberadaan Kenjo. Akan tetapi, dia tidak melihat lagi, di mana keberadaan pria itu.
"Aneh, kenapa cepat sekali menghilangnya? dan kenapa mobilnya masih ada di sini?" batin, Anin sambil mengelus-elus mobil Kenjo.
"Non, apa Nona mencari, Tuan Kenjo?" ucap salah satu ART di rumahnya, tiba-tiba, menghampiri.
"Iya, Mbok. Apa Mbok ada lihat, dia?"
"Tuan Kenjonya, pergi ke arah kolam renang, Non."
"Hah, kolam renang? ngapain dia di sana?" Anin, menautkan kedua alisnya, dan wanita yang dipanggil mbok itu hanya mengangkat bahunya, sebagai jawaban.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sementara itu, Ardan dan Amanda terlihat berdiri ke tengah-tengah para tamu. Ardan bertepuk tangan, untuk meminta perhatian dari para tamu yang hadir di tempat itu.
"Para undangan sekalian, terima kasih buat kehadiran dan doa-doanya di acara syukuran kelahiran cucu kami. Sekarang, kami sebagai tuan rumah, ingin mengajak anda semua, untuk berpindah ke area kolam renang, karena di sana juga akan ada sebuah kejutan." selesai mengucapkan kalimatnya, Ardan menggandeng tangan Amanda, mengayunkan kaki, melangkah menuju ke area kolam renang, diikuti dengan para tamu, yang merasa penasaran ada apa di sana.
"Kak, emang ada acara apa lagi di kolam renang?" tanya Cantika, yang jiwa keponya masih sangat tinggi.
"Mana aku tahu, ayo kita ikut aja ke sana!" Calvin berjalan, tanpa menggandeng tangan Cantika. Akan tetapi, begitu dia melihat mata pemuda yang mengajak Cantika berkenalan tadi, tengah menatap wanita remaja itu, Calvin sontak meraih tangan Cantika, dan menautkan jari-jarinya di antara celah-celah jari gadis itu.
"Kak, apa nanti di sana akan ada acara permainan, siapa yang kalah akan diceburin ke dalam kolam? kalau ada, aku nanti bagaimana dong? aku gak bawa pakaian ganti. Kita tidak usah ikutan ya, kak."
Calvin, mengembuskan napas dengan sekali hentakan, merasa kesal dengan celotehan gadis di sampingnya itu.
"Kamu bisa diam, gak? Tidak mungkin ada permainan seperti itu. Itu permainan anak-anak seperti kamu," ucap Calvin, ketus, membuat Cantika mengerucutkan bibirnya.
"Aku anak-anak, yang sudah bisa menghasilkan anak lho,Kak, kalau kamu lupa," suara Cantika, masih terdengar memprotes, tidak terima dipanggil anak-anak oleh Calvin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anin, melangkah semakin perlahan begitu hampir sampai di area kolam renang. Alangkah kagetnya dia begitu melihat apa yang terjadi di area kolam renang . Kolam renang yang berukuran besar itu terlihat sangat indah, karena dihiasi oleh lampu-lampu, menambah kesan romantis, malam itu.
__ADS_1
Anin mencari keberadaan Kenjo, tapi di tidak melihat pria itu di manapun. Lagi-lagi dia kaget ketika melihat kolam yang satu lagi, kolam yang lebih kecil, sudah penuh dengan mawar dan yang paling membuat Anin terkesima adalah tulisan yang ada di atasnya.
"Will you marry me?" sebuah suara, yang sangat dikenalnya terdengar dari arah belakang. Anin segera berputar dan tiba-tiba meneteskan air mata, begitu melihat Kenjo yang bersujud di depannya dengan tangan yang terulur, sambil memegang sebuah cincin yang harganya sangat fantastis.
Anin semakin kaget, begitu mendengar suara-suara yang berteriak,' terima' dari orang-orang dan banyaknya balon-balon yang dipegang oleh para anak yatim yang bertuliskan 'Will you marry me'.
Dengan menutup mulutnya, Anin menganggukkan kepalanya, sambil mengulurkan jarinya, untuk dimasuki cincin, oleh Kenjo.
Anin langsung menghambur memeluk Kenjo, begitu cincinnya sudah masuk ke dalam jari, manisnya. Semua orang yang ada di sana, bertepuk tangan dengan meriah, melihat pemandangan romantis itu.
"Maaf, kalau selama ini aku terkesan menggantungmu, sebenarnya aku sudah lama merancang ini, dan terima kasih juga, sudah mau menerimaku," bisik Kenjo di telinga Anin.
"Kamu, jahat!" Anin, memukul pelan dada, Kenjo dengan air mata kebahagiaan yang masih menetes di pipinya.
"Sejak kapan, tempat ini didekorasi? Tadi sore masih seperti biasa?" tanya Anin, bingung.
"Sejak acara syukuran dimulai. Karena aku sudah menyewa, tim WO untuk mendekor tempat ini sebelumnya. Jadi, ketika semua orang sibuk di acara syukuran, tim mereka mulai bekerja di sini. Aku juga sudah izin pada Om Ardan dan Tante Amanda, sebelumnya." jawab, Kenjo yang membuat Anin, mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kamu dikasihtahu, bukan kejutan dong namanya," sahut Kenjo.
"Sekarang, kamu bukan lagi pacarku, tapi kamu itu calon istri, Kenjo Adijaya," Anin tersipu malu, mendengar kalimat, 'calon istri' yang baru saja dilontarkan oleh Kenjo.
"ihh, so sweet!" ucap seorang gadis remaja, sambil melipat tangannya, dan diletakkan di bawah dagu, dengan manik mata yang berbinar.
siapa lagi dia, kalau bukan Cantika.
"Pengen deh dilamar seperti ini, nantinya sama calon suamiku," sindir Cantika dengan ekor mata, yang melirik ke arah Calvin.
"Ya udah, kamu cari saja pacar yang romantis, biar nanti kalau kamu dilamar bisa seperti ini." sahut Calvin, asal. Membuat Cantika langsung mencebikkan bibirnya, merasa keki mendengar jawaban Calvin.
"Dion! kamu putus aja ya sama Debi, habis itu kamu lamar aku, menjadi istrimu. Aku siap kok menikah muda denganmu. Menikah dengan sahabat, sepertinya tidak buruk." celetuk Cantika tiba-tiba, sambil meraih tangan Dion.
__ADS_1
Dion terkesiap kaget, dengan mata yang membesar sempurna. Merasa, sahabatnya itu, errornya lagi kumat. Akan tetapi, begitu melihat kedipan mata Cantika, Dion langsung paham apa maksudnya sahabatnya itu.
"Kamu serius, Can. Aku pasti mau, karena sebenarnya aku juga__"
"Kamu juga apa? kamu mau bilang, kalau kamu juga menyukai Cantika?" Calvin menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Dion yang langsung bergidik takut, melihat tatapan itu.
"Ini lagi, mesti ya harus pegangan tangan?". Calvin, melepaskan paksa tangan Cantika yang sedang menggenggam tangan, Dion.
"Apaan sih, Kak? jangan tatap Dion seperti itu, ah! Lagian kenapa kakak jadi marah? bukannya kakak tadi yang suruh, kalau aku mau seperti ini, aku harus cari pacar romantis. Setahu aku, Dion ini romantis." Cantika berdiri di depan Dion dan balas menatap tatapan Calvin, dengan tatapan tidak kalah tajam dari pria itu.
"Tapi, dia ini udah punya pacar, Cantika. Itu sama saja kamu membuat wanita lain, tidak bahagia Satu hal yang harus kamu ingat, kalau kamu berbahagia di atas penderitaan wanita lain, hubungan yang kamu bangun dari hasil merebut itu, tidak akan berakhir bahagia." ucap Calvin, berusaha merendahkan nada suaranya, karena banyak orang di tempat itu.
"Hmm, kalau begitu, aku sama teman kamu tadi deh, Yon. Sepertinya dia menyukaiku, dan juga romantis. Di mana dia tadi? __oh, itu dia! aku ke sana dulu ya". Cantika hendak melangkah, tapi langkahnya langsung berhenti, ketika lengan besar milik Calvin, menahan tubuhnya.
"Sekali kamu melangkah ke sana, aku tidak akan segan-segan menciummu di sini!" ancam Calvin, dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Coba aja kalau berani! Kamu pasti dihajar habis-habisan sama, Papa!" ancam Cantika dengan tersenyum miring.
Calvin mencondongkan tubuhnya, hendak mencium Cantika, dan Cantika memundurkan kepalanya, sambil memejamkan matanya.
"Ih, kamu ngarep ya?" tiba-tiba, Calvin menyentil jidat Cantika, hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Aku kirain, bakal jadi ciumnya. Kan lumayan ada tontonan gratis," gumam Dion, yang membuat, dua pasang mata, milik Calvin dan Cantika, menatapnya dengan tatapan horor.
Tidak berselang lama, tempat itu, mulai berangsur-angsur sepi, karena para tamu sudah pulang satu persatu. Sekarang yang tersisa adalah keluarga besar Ardan, Rio dan Bagas. Sedangkan Orangtua Kenjo dan Calvin juga sudah permisi untuk pulang terlebih dulu.
"Kenjo! kamu sudah membuat kolam renang ini penuh dengan mawar. Aku harap, kamu membersihkannya sendiri, dan jangan minta bantuan ART di rumah ini, karena ini bukan tanggung jawab mereka!" titah Ardan yang membuat Kenjo melongo.
"Cantika, ayo menyingkir dari sini! perasaanku sudah tidak enak." bisik Calvin sambil meraih tangan Cantika.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Cantika, bingung. Tapi masih tetap mau diajak pergi oleh Calvin.
"Calvin! jangan coba-coba pergi! Kamu harus bantu aku!" teriak Kenjo, yang membuat langkah Calvin dan Cantika berhenti seketika.
"Kan, apa aku bilang, perasaanku sudah tidak enak, ya ini nih, aku harus bantuin, Kenjo. Kamu sih, lambat banget jalannya."
__ADS_1
"Kok, jadi aku yang disalahin?" sahut Cantika, tidak terima.
Tbc