Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Aby dijebak? (S2)


__ADS_3

"Kamu mau kemana, By?" ucap Amanda melihat penampilan putranya, dari atas sampai ke bawah.


"Aby mau main, sama Kenjo dan Calvin, Ma." sahut Aby, santai.


"Kenapa kamu tidak izin dulu dari mama? bukannya tadi pagi mama sudah bilang kau malam ini kita ada acara barbequean sama keluarga Om Rio dan Om Bagas, jadi kenapa kamu masih mau pergi?" tanya Amanda menatap Aby dengan ekspresi tidak senang.


"Maaf, Ma. Aby kan tidak terlalu penting ada di sini," sahut Aby


"Apa yang tidak penting? penting tidak penting kamu tidak boleh kemana-mana!" nada suara Amanda terdengar tegas, pertanda kalau tidak ada yang boleh membantah lagi.


"Tapi ma ... aku udah janjian sama Kenjo dan Calvin, nggak enak, ma kalau aku tidak jadi ikut," Aby bergelayut manja di lengan Amanda. Ini lah Aby, di depan orang dia akan terlihat tegas dan dingin, tapi di depan Amanda, dia bisa bertingkah seperti layaknya anak-anak walaupun usianya sekarang sudah 25 tahun.


"Kamu ajak mereka berdua ke sini. Kan bisa?" Amanda tetap kekeh pada kemauannya.


"Ma, hari ini Kenjo ulang tahun dan kami mau merayakannya bersama. Nggak mungkinkan aku paksakan mereka datang ke sini? Sama aja kita memaksakan kehendak kita." jelas Aby, memberikan alasan yang dia yakini mamanya akan mau mengerti.


Amanda bergeming, tidak bisa berkata apapun lagi.Karena apa yang dikatakan anaknya itu benar,


"Tapi, ini bukan alasanmu aja kan untuk menghindari Celyn?" tanya Amanda dengan tatapan menyelidik.


"Tentu saja tidak, ma. Ini murni karena Kenjo ulang tahun." sahut Kenjo, dengan mimik wajah yang meyakinkan.


"Salah satunya, menghindari Celyn juga sih, ma," ucap Aby, yang tentu saja hanya berani dia ucapkan di dalam hati saja.


"Kalau bukan karena itu, kenapa Anin dan Celyn tidak ikut denganmu? bukannya mereka juga temannya Kenjo?" Amanda memicingkan matanya, menatap Aby curiga.


"Kenjonya hanya mau mengajak aku sama Calvin aja, ma."


Amanda menganggukkan kepalanya, kemudian mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan.


"Ya udah, mama tidak boleh menahan kamu lagi. Kamu boleh pergi," pungkas Amanda, memutuskan.


"Terima kasih, Ma!" Aby mencium pipi mamanya dan berlalu pergi.

__ADS_1


Amanda menghela napasnya dengan cukup panjang, menyadari usahanya selama ini untuk mendekatkan Aby dan Celyn tidak berhasil. Sepertinya putranya itu, tidak tertarik sedikitpun dengan putri sahabatnya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aby menggeliat dan mulai membuka kelopak matanya. Sayup-sayup dia mendengar suara Isak tangis yang sepertinya berada di belakangnya. Aby sontak menoleh ke belakang dan kedua netranya langsung membesar dengan sempurna begitu melihat seorang gadis yang menangis sesunggukan dengan kulit pundak yang terpampang jelas, tidak tertempel sehelai benangpun.


Aby menyingkap selimut yang menutup tubuhnya, dan mengintip ke dalam sekilas. Tampak jelas kalau dirinya juga tidak mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya.


"Shasa? apa yang kamu lakukan di sini?!" pekik Aby, dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Harusnya aku yang tanya kamu, kenapa kamu tega melakukan ini padaku? kamu telah menodaiku, Aby!" Gadis yang ternyata bernama Shasa itu berucap tidak kalah tinggi dari Aby.


"Diam! kamu jangan ngawur! aku tidak merasa kalau aku melakukannya padamu." Sangkal Aby dengan rahang yang mengeras.


"Bagaimana mungkin kamu masih menyangkalnya. Kamu lihat jelas, kalau sekarang kondisi kita bagaimana? Hah?! " ucap Shasa masih dengan dibarengi Isak tangisnya.


"Bagaimana aku bisa yakin. Aku tahu, selama ini kamu mengejarku, bisa jadi kamu berusaha menjebakku, agar kamu bisa menikah denganku. Aku benar kan?" tukas Aby dengan bibir yang menyeringai sinis.


Untuk sesaat, tampak perubahan raut wajan Shasa yang berubah sedikit pucat. Akan tetapi, Shasa kembali menguasai keadaan.


"Stop! hentikan sandiwaramu. Apa kamu lupa siapa aku? aku tahu membedakan, yang mana menangis sungguhan dan yang mana hanya berpura-pura. Jadi sebelum aku semakin marah, kamu keluar dari sini!" suara Aby meninggi dengan wajah yang memerah. Pandangannya juga sangat tajam, aura ingin membunuh.


Shasa bergidik ngeri melihat tatapan Aby, yang seperti siap untuk mencincang habis tubuhnya. Dengan gerakan cepat, Shasa memungut pakaiannya dari lantai dan mengenakannya kembali.


"Kamu tega By, setelah kamu mengambil harta yang paling berharga dariku, kamu malah mengusir seperti layaknya sampah. Kamu mungkin bisa tidak percaya semua ucapanku, tapi kamu bisa lihat bukti noda darah yang menempel di atas seprey itu." ucap Shasa masih setia dengan Isak tangisnya.


"Bukannya aku menyuruhmu untuk keluar? jadi kamu tunggu apa lagi? Keluaaaarr!" Aby hampir kehilangan kontrol, suaranya menggelegar, membuat Shasa terjengkit kaget.


"Tunggu saja Aby, aku akan membuat kamu bisa mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, aku aku akan menyebarkan perbuatanmu ini ke semua orang," ancam Shasa.


"Kamu pikir aku takut? sekarang kamu keluar sebelum aku bertindak kasar padamu. KELUAR!" Shasa berlari keluar dari kamar itu, merasa takut melihat raut wajah Aby yang seperti ingin membunuhnya.


Aby menyeringai sinis menatap punggung Shasa yang menghilang di balik pintu.

__ADS_1


"Sial! beraninya dia mengusikku." umpat Aby dengan tangan yang terkepal kencang.


Aby memijat kepalanya untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi, kenapa dia berada di ruangan yang sangat asing baginya.


Rentetan kejadian tadi malam, berkelebat di dalam pikirannya. Dimana dia berada di sebuah bar bersama dengan kedua sahabatnya Kenjo dan Calvin untuk merayakan ulang tahun Kenji yang ke 25 tahun.


Aby mengingat saat itu mereka hendak pulang, Aby berniat ke toilet terlebih dulu, dan menyuruh kedua sahabatnya itu untuk pulang duluan, dan begitu keluar dari toilet tiba-tiba dia tersungkur jatuh karena ada yang membekap hidungnya menggunakan sapu tangan dari belakang dan Aby yakin kalau sapu tangan itu sudah dibubuhi dengan obat bius.


"Sepertinya ini memang disengaja. Aku tadi malam bahkan tidak meminum alkhohol setesespun. Jadi tidak mungkin aku mabuk dan tanpa sadar menyeretnya ke sini kan?" bisik Aby pada dirinya sendiri.


Disaat Aby sibuk menduga-duga, tiba-tiba ponselnya berbunyi pertanda kalau ada panggilan masuk.


Aby meraih ponselnya dan melihat jelas, nama Kenjo sahabatnya sedang memanggil.


"Halo, Ken, ada apa?" tanya Aby dengan intonasi kurang semangat.


"Kamu dimana, Sob? Tante Amanda, berkali-kali menghubungiku tadi malam, untuk nanyain kamu ada dimana. Kamu baik-baik saja kan? Tante Manda katanya udah telpon ke nomormu, tapi kamu selalu mereject. Kamu dan Tante Amanda tidak lagi ada masalahkan?" cecar Kenjo beruntun tanpa memberikan waktu buat Aby untuk membuka mulut, menjawab pertanyaaan Kenjo.


"Brengsek! itu pasti ulah Shasa. Dia pasti yang mereject panggilan mama," umpat Aby, dengan napas yang memburu, menahan amarah.


"Apa maksudmu? apa kamu bersama Shasa tadi malam?" tanya Kenjo dengan suara yang meninggi, terkesiap kaget.


Aby akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada dirinya, mulai dari dia keluar dari toilet sampai dia bisa berada di dalam kamar hotel, bersama dengan Shasa dengan tubuh polos.Dan gadis itu menuduhnya telah merenggut kehormatannya.


"Brengsek! aku yakin kalau kamu itu dijebak. Kenapa kamu tidak periksa CCTV bar dan hotelnya saja? untuk membuktikan kalau kamu dijebak?" ucap Kenji memberikan usul.


"Apa kamu pikir aku bodoh. Sebelum kamu menyarankannya aku sudah memikirkan hal itu, tapi, bar dan hotel ini milik keluarga Shasa, jadi jika dia punya tujuan menjebakku, dia pasti sudah memusnahkan bukti rekaman CCTV itu." terang Aby, yang membuat Kenjo mangut-mangut walaupun Aby tidak bisa melihat gerakan kepalanya itu.


"Sudah! kamu tidak usah memikirkan hal itu, biar aku cari solusinya sendiri nanti. Oh ya, kamu jawab apa sama mamaku? apa kamu bilang kalau aku sudah pulang tadi malam?" raut wajah Aby sontak berubah panik.


"Tenang sob, aku bilang kalau kamu menginap di rumahku tadi malam. Dan bilang kalau kamu ketiduran sehingga lupa mengabari ke rumah. Dan untuk masalah panggilan yang direject, aku bilang ponselmu ada di bawah bantal dan kemungkin tombol menolak yang terpencet." jelas Kenji, yang membuat Aby menghela napas lega.


"Terima kasih,Ken! kamu memang selalu bisa diandalkan." Panggilan akhirnya terputus setelah Aby mengatakan kalau dia akan pulang sekarang.

__ADS_1


Tbc


Hai gais, seperti janjiku tadi malam, kalau season 2 akan aku publish di sini juga. Jadi, tetap stay tune dan tunggu kelanjutannya ya gais. Thank you


__ADS_2