
Suasana canggung terjadi di antara kedua pasangan pengantin baru itu, imbas dari kejadian di depan pintu. Bayangkan saja, setelah Amanda mendarat darurat, Ardan tanpa sadar malah mengusap bahkan memijat bo*kong Amanda, yang membuat netra Amanda membesar dengan sempurna.
"Ma-maaf, soal yang tadi, aku tidak sengaja." Ardan buka suara menghentikan situasi Awkward di antara mereka.
"Tidak apa-apa! aku tidak ___"
"Ya, jelas tidak apa-apalah, aku kan suamimu, jangankan cuma mengelus yang itu, yang lainya juga sah- sah aja," cerocos Ardan, menyela ucapan Amanda.
Mendengar Ardan yang berceloteh, membuat Amanda justru jadi bingung, melihat sisi lain pria itu, yang ternyata bisa juga cerewet.
"Kamu ngapain lihat aku sampai segitunya? aku tampan ya? aku juga tahu itu, jadi nggak usah kamu omongin lagi," Ardan kembali berceloteh, penuh percaya diri dan Amanda hanya memutar bola matanya, jengah.
"Dasar gila!" umpat Amanda, yang hanya berani dikeluarkannya di dalam hati saja.
Amanda tidak merespon sama sekali celotehan Ardan, karena baginya tidak ada faedahnya juga untuk menanggapi, pria dingin yang berubah narsis itu. Dia akhirnya berdiri dari atas ranjang, dan mengayunkan kakinya untuk melangkah menuju kamar mandi.
"Kamu mau kemana?" Ardan bertanya cepat, melihat Amanda yang meninggalkan tempat dia duduk.
"Aku mau mandi, badanku rasanya sudah lengket, Mas." sahut Amanda, menoleh sekilas ke arah Ardan, dan pria itu hanya menganggukkan kepala dengan mulut yang membulat membentuk huruf 'o'.
Amanda menanggalkan semua pakaiannya,dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Amanda tidak berniat berendam atau melakukan hal lain, karena dia tahu, kalau Ardan pun pasti ingin membersihkan tubuhnya juga.
"Astaga, aku lupa bawa handuk dan baju ganti," Amanda berucap sambil memukul jidatnya. Akhirnya Amanda pun membalutkan jubah mandi berwarna putih yang dia yakini milik Ardan. " Dia marah nggak ya, kalau aku pakai miliknya?Tapi kalau aku gak pakai ini, aku gimana bisa keluar nanti?" batin Amanda berperang antara ingin melepaskan atau membiarkan saja melekat di tubuhnya. "Ah, pakai ajalah. Bodo amat, kalau dia marah atau nggak," bisik Amanda lagi pada dirinya sendiri.
Amanda akhirnya memberanikan diri untuk, melangkah mendekati pintu, dengan sekali hentakan, Amanda memutar knop pintu dan menariknya ke dalam.
Duggh ....
"Aww!" jerit Ardan yang bo*kongnya tiba-tiba mendarat di lantai kamar mandi. Ternyata selama Amanda mandi, Ardan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, ingin ikut mandi bersama, tapi malu untuk meminta. Tanpa sadar, dia menyenderkan tubuhnya, di pintu, dan ketika Amanda membuka pintu, dia tidak bisa mengelak lagi, untuk tidak jatuh.
"Astaga, Mas! maaf ... maaf!" Amanda menarik tangan Ardan untuk membantunya berdiri.
"Kamu mau balas dendam ya?" Ardan menggerutu sambil memijat panggulnya yang sakit.
"B-bukan begitu, Mas. Aku kan nggak tahu, kalau mas lagi menyender depan pintu," amanda, membela diri.
"Harusnya tuh, sebelum keluar dari kamar mandi, kamu teriak dari dalam 'ada orang di luar?' begitu ...,"
"Kan sebelum masuk kamar mandi, aku juga udah tahu, kalau kamu emang ada di luar. Ngapain harus pakai tanya lagi?" sahut Amanda dengan kernyitan di keningnya.
"Walaupun kamu sudah tahu, sekali lagi kami harus tetap ada aba-aba kalau mau keluar dari kamar mandi. Paham?!"
__ADS_1
"Kurang kerjaan amat," gumam Amanda sangat pelan tapi tetap bisa didengar oleh pendengaran Ardan yang tajamnya bisa menebus 3 tembok.
"Apa kamu bilang? kurang kerjaan?" Ardan mendelik tajam ke arah Amanda.
"I-iya, paham." sahut Amanda dengan cepat dan gugup. "Gila, bisa dengar juga dia, padahalkan aku ngomongnya pelan banget," batin Amanda, sambil bergidik, ngeri.
"Hei bukannya yang kamu pakai itu, 'bathrobeku'?" Ardan menunjuk ke arah bathrobe yang membalut tubuh Amanda.
"I-iya, maaf, Mas. Di kamar mandi adanya cuma ini, handukku tidak ada. Jadi aku pakai yang ini saja. Kamu marah ya? tenang saja, nanti akan aku cuci sebersih-bersihnya dan kembalikan ke kamu," mimik wajah Amanda terlihat ketakutan, sehingga membuat Ardan ingin tertawa.
"Ya udah, kamu lepas sekarang, aku mau pakai!" titah Ardan, tegas.
Mata Amanda membola, dengan mulut sedikit terbuka. "Le-lepas? di- di sini?" ucap Amanda, gugup.
"Iya, lepas. Aku mau mandi juga, jadi aku mau pakai juga." sahut Ardan, santai.
"T-tapi ini kan sudah aku pakai? jadi __"
"Emang kenapa? kamu gak punya panu kan? kurap dan rekan-rekannya?" Ardan menyela ucapan Amanda.
"Tentu saja tidak." sambar Amanda, cepat.
"Ya udah, kalau begitu tidak ada masalah kan? Sini in, bathrobenya!" Ardan menengadahkan tangannya, meminta.
"Gak ada tawar-menawar.Aku tetap mau pakai yang itu. Lagian kalau masih bersih buat apa ambil yang lain? deterjen sekarang lagi mahal."
Amanda melongo mendengar ucapan absurd Ardan. "Heh? deterjen mahal? sejak kapan, seorang Ardan perduli dengan harga deterjen?" bisik Amanda pada dirinya sendiri.
"Hei, kenapa diam saja? sini-in bathrobenya!" ucap Ardan, tidak sabaran
"Ta-tapi, aku belum pakai baju." desis Amanda, lirih. Ardan sontak menelan salivanya sendiri dengan mata yang menyoroti tubuh Amanda dari atas sampai ke bawah.
"Hei, jangan lihat aku begitu!" pekik Amanda dengan tangan yang menyilang ke dadanya.
"Y- ya udah, ka- kamu pa-pakai dulu pakaianmu, sana!" ucap Ardan, gugup.
Amanda mengedarkan matanya, memindai segala penjuru ruangan, untuk mencari barang miliknya, yang kata mertuanya tadi sudah ditaruh di kamar Ardan. Akan tetapi, dia sama sekali tidak menemukan satu koperpun ada di sana.
"Kamu mencari apa?" tanya Ardan yang melihat wajah Amanda yang kebingungan.
"Emm, kata mama pakaianku sudah ada di sini, tapi kok aku nggak melihat apapun?"
__ADS_1
Ardan hampir saja tergelak mendengar ucapan Amanda, tapi ditahannya, agar Amanda tidak merasa malu.
"Itu ada ruangan ganti, namanya walk in closet. Mama mungkin sudah menyiapkan pakaianmu di sana. Jadi, coba kamu lihat ke dalam!" Ardan menunjuk ke arah kanan Amanda.
"Oh, iya. Aku masuk dulu, kamu jangan ngintip!" ancam, Amanda.
"Emang kenapa? emang ada perubahan bentuk atau size-nya, dari yang terakhir ...,"
"Mas Ardan! bisa tidak, berhenti ngomongin itu?" Amanda mendelik, tidak senang ke arah Ardan.
"Hei, kamu berani menatapku seperti itu?!" Ardan balik mendelik.
"Ma-maaf!" Amanda menundukkan wajahnya.
"Tapi, aku serius, kamu jangan mengintip!" Amanda mengulangi, permintaannya.
"Ya ... ya, aku nggak akan mengintip. Sana kamu ganti pakaianmu!" Ardan mengibaskan tangannya, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Ingat, kamu jangan ngintip!"
"Astaga!" Ardan memegangi dadanya, karena kaget, melihat kemunculan Amanda kembali dari balik walk in closet.
10 menit kemudian, Amanda keluar dari ruang walk in closet dengan tubuh yang masih berbalut jubah mandi.
"Kenapa belum ganti?" tanya Ardan dengan alis yang bertaut.
"Emm, anu ... itu ... kamu ikut deh, aku susah ngomongnya." Amanda menarik tangan Ardan masuk ke dalam Walk in closet.
"Ada apa?" Ardan bertanya setelah mereka berhenti, dan tampak Amanda hanya berdiri, mematung di depan lemari.
"Mas, coba buka lemarinya! aku gak menemukan pakaianku, yang ada pakaian kurang bahan dan tipis kaya saringan." bisik Amanda persis di telinga Ardan, hingga membuat tubuh pria seketika, meremang.
Ardan menggeser pintu lemari itu, dan tampak jelas di depan matanya, berjejer lingeria berbagai model dan berbagai warna. Lingeria berwarna merah darah langsung menarik perhatiannya, dan membayangkan Amanda menari di depannya menggunakan pakaian itu.
"Mas," Amanda menyentuh pundak Ardan.
"Iya, menarilah! aku suka goyanganmu," ucap Ardan tanpa sadar.
"Heh?"
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejaknya gais. Thank you🙏😍