Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kama dan Kalila.


__ADS_3

Setelah memakan waktu kurang dari 30 menit, akhirnya Bagas dan Clara sudah tiba di kediaman Ardan. Dia langsung berjalan masuk sambil mengandeng tangan Clara istrinya.


"Nyampe juga, Sob. Aku kirain kalian tidak jadi datang," ucap Ardan begitu Bagas masuk.


"Aku pasti datang dong, aku gak mungkin nggak datang. Aku kan mau pamer," sahut Bagas, ambigu.


"Pamer? pamer apa kamu?"Rio buka suara.


"Nih aku mau nunjukin ini," Bagas, memberikan photo USG Cantika Putrinya.


Ardan dan Rio saling silang pandang,tidak mengerti maksud Bagas memberikan mereka photo USG itu. "Maksudnya ini apa?" Kening kedua pria itu berkerut.


"Apa kalian tidak bisa lihat, ada 3 kantong di sana? itu artinya aku sebentar lagi akan punya 3 cucu sekaligus, hahaha,"


Rio bergeming, dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Serius kamu? ini pasti akal-akalan kamu kan?" Sudut bibir Rio, naik ke atas, tersenyum miring tidak percaya dengan ucapan Bagas.


"Buat apa aku pakai akal-akalan seperti itu. Kamu bisa lihat jelas nama yang tertera di photo itu, namanya siapa? Cantika kan?" Bagas , menatap Rio dengan tatapan meledek.


"Benar, Clara? Cantika hamil 3 janin sekaligus?" tanya Amanda dan langsung diangguki kepala oleh Clara, membenarkan.


"Wah, selamat ya," Amanda dan Jasmine langsung menyalami Clara, memeluk serta cium pipi kiri dan cium pipi kanan, seperti gaya khas wanita pada umumnya.


"Apa kalian berdua tidak mau mengucapkan selamat padaku?" Tatapan Bagas tertuju pada dua sahabatnya itu.


Rio mendengus kesal, tetapi tetap merangkul Bagas."Selamat ya! tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang di antar kita bertiga," ucapnya


"Cih, sekarang kamu bilang seperti itu, kemarin-kemarin, kamu meledekku, pokoknya kamu sekarang yang kalah, "


Rio terkekeh dan kembali duduk. Setelah itu, Ardan pun melakukan hal yang sama.


"Gak ada yang kalah dan gak ada yang menang. Yang jelas kalian semua, sudah jadi kakek. Itu berarti kalian sudah tua. Jadi jangan kaya anak-anak lagi!" celetuk Jasmine, yang membuat ketiga pria yang tidak sadar umur itu, melongo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa, kandungan Anin sudah mendekati hari dimana Anin akan segera melahirkan bayinya. Segala persiapan sudah di siapkan, mulai dari pakaian bayi sampai kamar bayi juga sudah.

__ADS_1


Kamar bayinya didekorasi dengan warna netral, karena baik Kenjo maupun Anin masih tetap memutuskan untuk tidak ingin mengetahui jenis kelamin calon anaknya. Tapi, yang pasti Kenjo sudah menyiapkan 2 nama yang berbeda nama buat anaknya.


Peluh terlihat merembes dari pelipis Anin. Wajahnya terlihat pucat dan sesekali meringis menahan sakit. Dia berkali-kali melihat ke arah Kenjo yang masih terlelap dalam tidurnya. Dia ingin sekali membangunkan suaminya itu. Tapi, dia merasa tidak tega karena Kenjo baru saja tidur sejam yang lalu.


"Auwww, Sakitt!" rintih Anin dengan suara yang lumayan keras, karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit.


Mendengar jeritan istrinya, Kenji sontak terbangun dan langsung panik melihat Anin yang kesakitan sambil memegang perutnya.


"Ka-kamu kenapa, Sayang?"


"Sakit, Sayang! sepertinya anak kita sudah mau keluar," desis Anin meringis.


Kenjo seketika melompat dari tempat tidurnya dan mengangkat sang istri keluar dari kamar.


"Maaaa, buka pintunya! Anin mau melahirkan!" teriak Kenjo di depan pintu kamar yang di dalamnya ada orang tuanya yang sudah hampir 2 Minggu ini, menginap di rumah Kenjo dan Anin.


Pintu terbuka dari dalam dan Ayu mamanya Kenjo keluar dengan mata yang masih terlihat sangat ngantuk.


"Astaga, Kenjo! bawa menantu mama ke mobil lebih dulu! Mama dan papa akan menyusul secepatnya. Mama ambil dulu semua perlengkapan Anin," titah Ayu berusaha untuk tenang.


Setelah mendengar ucapan mamanya Kenjo segera melakukan sesuai dengan yang diperintahkan oleh mamanya itu. Tidak menunggu lama, kedua orang tua Kenjo, sudah keluar dari dalam rumah dan menyusul Kenjo masuk ke dalam mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anin segera dibawa keruang bersalin dan Kenjo juga ikut serta masuk ke dalam. Karena pembukaan masih pembukaan 3 menuju ke. empat, Anin disarankan untuk melakukan jalan-jalan untuk sebentar, agar pembukaan bisa cepat. Ingin sekali Kenjo menggantikan Anin untuk menanggung rasa sakit yang dirasakan istrinya itu.


Sekitar dua jam menahan rasa sakit, akhirnya pembukaan sudah sempurna dan air ketuban juga sudah pecah.


"Ayo, Bu Anin , sedikit lagi anaknya pasti akan keluar. Kepalanya sudah terlihat," titah dokter dengan sabar.


"Ayo, Sayang kamu pasti bisa! Sebentar lagi kita akan bisa bertemu dengan anak kita. Kamu itu ibu yang hebat, I love you," bisik Kenjo di telinga Anin, untuk memberikan semangat.


Suara tangisan bayi terdengar dengan nyaring seiring dengan teriakan kencang Anin. Kenjo tidak dapat lagi menahan air matanya, begitu mendengar suara anaknya.


"Terima kasih Sayang, terima kasih!" Kenjo berulang kali mennciumi puncak kepalanya Anin istrinya.


"Selamat ya, Pak, Ibu, anaknya laki-laki dan sehat tidak kurang satu apapun." ucap dokter itu, dengan seulas senyuman yang bertengger di bibirnya.

__ADS_1


"Kita bersihkan dulu anaknya," sambung dokter itu kembali sambil menyerahkan bayi itu ke tangan perawat.


"Aww, Dok kenapa perutku sakit lagi?" Anin kembali berteriak sama persis seperti melahirkan tadi. Jangan lupakan Kenjo yang kembali panik.


Dokter itupun kembali memeriksa Anin dan tersenyum tipis.


"Sepertinya, Ibu Anin mengandung bayi kembar dan sekarang kembarannya ingin keluar juga." jelas dokter itu yang membuat Kenjo kebingungan.


"Bagaimana bisa?"


"Aku akan jelaskan nanti. Sekarang aku harus membantu persalinan istri anda dulu."


Anin pun kembali mengejan sesuai instruksi dokter. Benar saja, suara tangisan bayi berjenis kelamin perempuan,terdengar nyaring memenuhi ruangan itu. Di luar sana orang-orang yang sedang menunggu, pasti kaget mendengar suara tangisan bayi dua kali


Dokter kembali, menyerahkan bayi perempuan itu ke tangan perawat untuk dibersihkan. Kemudian para bidan yang membantu dokter, mengeluarkan ari-ari dan memberikan jahitan di bagian inti Anin yang robek.


"Dok, bisa anda jelaskan sekarang?" tanya Kenjo, penasaran.


" Pak Kenjo, ini kondisi di mana salah satu janin bersembunyi sehingga tidak terlihat dalam pemeriksaan USG. Kondisi ini disebut hidden twin. peristiwa janin kembar yang tersembunyi ini bisa juga disebabkan karena kedua janin berada dalam satu kantung chorion. Sehingga membuat posisi mereka sangat berdekatan dan membuat salah satunya menjadi tersembunyi dan tidak terdeteksi pada mesin pemindai. Tapi bisa juga karena mereka berbagai kantung ketuban yang sama." jelas dokter itu dengan lugas.


"Tapi bagaimana dengan detak jantungnya ,Dok?" Kenjo kembali bertanya, karena dirinya masih sangat bingung.


"Dalam kehamilan kembar, tak semua detak jantung bayi bisa dibedakan. Bila detak jantung kedua janin berjalan sinkron maka kemungkinan besar yang terdengar hanya satu detak jantung, seperti itu, Pak Kenjo." Kenjo mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.


"Tapi, apapun itu, selamat sekali lagi ya, Pak," ucap Dokter itu sambil mengulurkan tangannya dan disambut langsung oleh Kenjo dengan wajah yang berbinar bahagia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semua orang sudah berkumpul di ruangan perawatan Anin. Kenjo sudah memberitahukan apa yang terjadi sesuai dengan penjelasan dokter.


Dua orang perawat terlihat masuk dengan menggendong satu bayi di tangan masing-masing dan memberikan langsung ke tangan Amanda dan Ayu.


"Kalau boleh tahu, siapa nama mereka, Ken?" Ardan buka suara.


"Aku sudah menyiapkan dua nama, dan ternyata dua-duanya terpakai. Untuk putraku, aku beri nama Kama Adelio. Kama artinya yang 'dicintai', Adelio artinya 'pangeran yang mulia'. Jadi dia akan menjadi pangeran yang mulia dan dicintai.


Untuk anak Perempuanku, Kalila Adonia. Kalila artinya, 'yang dicintai' juga dan Adonia artinya 'cantik'. Dia akan menjadi putri yang cantik dan dicintai.

__ADS_1


Tbc


Sumber tentang kembar tersembunyi atau hidden twin aku riset dari, klikdokter.com dan theasianparent.com. Terima kasih🙏🏻😍


__ADS_2