
"Celyn, bagaimana kamu bisa hamil, Hah?" pekik Jasmine begitu sampai di kediaman mereka. Ya, tadi mereka memutuskan untuk periksa ke dokter kandungan, untuk memastikan apakah yang dikatakan dokter umum itu benar atau tidak. Ternyata, Celyn benaran hamil dan sudah berusia 4 minggu.
"Aku tidak tahu, Ma. Aku juga bingung kenapa bisa seperti itu?" Celyn menangis sesunggukan.
Jasmine tidak percaya begitu saja. Dia menatap putrinya dengan sorot mata yang sangat tajam, menuntut penjelasan.
"Sekarang, kamu jelaskan sama, Mama. Siapa yang menghamilimu, hah? biar kita bisa meminta pertanggung jawabannya!" desak Jasmine dengan suara yang meninggi.
Air mata Celyn semakin banyak merembes keluar dari matanya, mendengar suara mamanya yang meninggi. Seumur-umur, baru kali ini dia dibentak oleh wanita yang melahirkannya ke dunia ini.
"Sumpah, Ma. Celyn benar-benar tidak tahu. Celyn benar-benar tidak pernah melakukan perbuatan kotor itu." ujar Celyn terbata-bata.
"Bohong! bagaimana mungkin kamu bisa hamil tanpa pernah melakukan hal seperti itu? Kamu kira itu anak bisa hadir begitu saja di dalam rahimmu?" ucap Jasmine tanpa menurunkan intonasi suaranya. Tanpa dia sadari, air matanya juga sudah merembes membasahi pipinya.
Celyn semakin menangis sesunggukan, bingung mau menjelaskan apa lagi, karena memang apa yang di alaminya itu sungguh sangat tidak mungkin terjadi.
"Ada apa ini, Sayang? Kenapa kamu menyuruhku buru-buru pulang? dan kenapa Celyn menangis?" Rio tiba-tiba muncul dan bingung melihat Celyn menangis demikian juga istrinya.
"Putrimu hamil, Mas,"
"Apa?!" pekik Rio dengan kedua netra yang membesar, syok mendengar kabar yang diberikan oleh istrinya. Kemudian dia mengalihkan tatapannya ke arah Celyn yang menangis sesunggukan sambil menundukkan kepalanya.
"Celyn, jelaskan sama papa, kenapa kamu bisa hamil dan siapa yang menghamilimu?" Suara Rio memang tidak tinggi, bahkan terkesan sangat datar. Tapi, walaupun datar, terselip aura yang menakutkan di dalam ucapan Rio.
Sumpah demi apapun, baru kali ini Celyn mendengar nada suara papanya yang sangat dingin dan rasanya begitu menyakitkan.
Celyn memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Rio papanya. Akan tetapi dia kembali menundukkan kepala, begitu melihat tatapan Rio yang sangat tajam, dan wajah yang memerah, karena marah.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak tahu, Pah. Aku berani bersumpah, kalau aku benar-benar tidak pernah melakukan perbuat kotor itu." ucap Celyn dengan suara dan tubuh yang bergetar.
"Jadi bagaimana kamu bisa hamil, hah?! apa bayi itu bisa ada di rahimmu begitu saja? kamu jangan konyol!" suara Rio yang tadinya datar, sekarang menjadi meninggi, membuat Celyn semakin dilanda ketakutan.
"Berapa kali aku mengatakan, kalau aku benar-benar tidak tahu. Aku juga sekarang bingung, Pa, kenapa aku bisa hamil." Celyn memekik,dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, frustasi melihat papa dan mamanya tidak mempercayainya.
"Kamu jangan berbohong Celyn! Lebih baik kamu kasih tahu Papa sekarang juga! ini demi kebaikanmu, agar kita bisa meminta pertanggung jawaban laki-laki itu,"
"Sumpah demi apapun, aku benar-benar tidak tahu, Pa, Ma. Please percaya samaku," suara Celyn melemah disertai dengan tubuhnya yang tersungkur ke lantai, berlutut di depan kedua orang tuanya.
Melihat wajah Celyn yang memelas, membuat Jasmine merasa kasihan pada putrinya itu.
Jasmine menarik napasnya dalam-dalam, kemudian dia mengembuskannya kembali ke udara. Kemudian dia akhirnya berdiri dan memeluk putrinya itu, sedangkan Rio mengusap wajahnya dengan kasar, frustasi dengan apa yang sudah menimpa putrinya itu.
"Pah, percaya sama Celyn. Aku benar-benar tidak melakukan hal itu, Pa. Aku juga bingung bagaimana janin ini ada di rahimku," ucap Celyn lirih dengan wajah yang memelas.
Rio akhirnya mendekat dan meraih tubuh putrinya itu, membantu berdiri dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Maafkan Papa, Nak! Papa hanya sulit untuk percaya, bagaimana ini bisa terjadi, tanpa kamu ketahui. Papa benar-benar bingung sekarang," tanpa terasa cairan bening menetes membasahi pipinya. Dia merasa sedih membayangkan bagaimana putrinya itu menghadapi cibiran orang-orang, yang melihatnya hamil tanpa adanya suami.
"Maafin aku, Pah. Aku benar-benar tidak tahu, bagaimana ini bisa terjadi," isak Celyn menempelkan kepalanya di dada papanya itu.
"Iya, iya papa akan percaya, walaupun memang sulit untuk dipercaya. Tapi Papa yakin kalau kamu tidak sedang berbohong," ucap Rio sembari mengelus lembut kepala putrinya itu, lalu mendaratkan kecupan yang agak lama di puncak kepala putrinya itu.
"Maafin mama juga, Nak! mama benar-benar kalut dan bingung dengan apa yang sudah terjadi." Ujar Jasmine dengan air mata yang juga tidak berhenti menetes dari pipinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Celyn duduk termenung di dekat jendela kamarnya, memandang kosong ke arah luar.
Tangannya dari tadi tidak lepas dari perutnya, menyentuh perutnya yang masih tidak terlalu menonjol itu. Di dalam rahimnya kini bersemayam dua nyawa yang sama sekali tidak berdosa.
"Bagaimana kalian bisa ada di dalam perutku? siapa papa kalian? dan kapan kalian bersemayam di dalam rahimku?" Ucap Celyn lirih dengan air mata yang kembali menetes.
"Aku tidak tahu, kalian ini anugrah buatku atau musibah. Tapi bagaimanapun kalian tidak berdosa, Jadi bagaimanapun mama akan mempertahankan kalian berdua," lagi-lagi Celyn mengajak kedua janinnya berbicara. Walaupun dia tahu, kalau kedua janin itu masih belum berbentuk.
Dari arah pintu, Rio dan Jasmine mendengar ucapan-ucapan putrinya dan mereka semakin yakin kalau putri mereka benar-benar tidak tahu, siapa ayah dari janin yang dikandungnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rio dan Jasmine beranjak menjauh dari kamar Celyn, turun ke bawah.
Raut wajah keduanya benar-benar tidak bisa berbohong kalau mereka dilanda kebingungan dan juga kesedihan, membayangkan bagaimana nasib Putri mereka nantinya.
"Sayang, apa baiknya kita kirim saja, Celyn ke luar negri? dan kamu ikut bersamanya ke sana." Rio memberikan saran dengan suara yang lirih.
"Tapi, Pa, bagaimana dengan dirimu dan Rico nanti? siapa yang akan mengurus keperluan kalian berdua?" tanya Jasmine berat hati meninggalkan suami dan putranya.
"Apa kamu lupa, kalau aku pernah mengurus diriku sendiri selama bertahun-tahun? kamu tenang saja, aku pasti bisa mengurus diriku dan aku juga yakin kalau Rico juga pasti bisa mengurus dirinya sendiri. Lagian masih ada si Mbok dan yang lainnya untuk mengurus rumah dan memasak untuk kami berdua," tutur Rio diplomatis.
"Kalau menurutmu itu yang terbaik? aku akan pergi bersama Celyn. Bagaimanapun ini demi kebaikan dia juga," pungkas Jasmine, akhirnya menyanggupi.
"Celyn tidak perlu dikirimkan ke luar negri, Om Tante, biarkan aku yang akan menikahinya dan menjadi ayah dari anak yang dikandungnya," terdengar suara yang muncul tiba-tiba dari arah belakang mereka.
Jasmine dan Rio sontak menoleh ke arah suara , dan mereka begitu terkesiap kaget melihat sosok pria yang berdiri tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
Tbc