
"Hai, calon suamiku!" sapanya begitu wajah Calvin terpampang jelas di layar ponselnya, tidak peduli dengan ekspresi kaget Calvin dari ujung sana.
"Oh iya, calon suami nggak jadi ya? maaf salah!"sambung Cantika kembali, dengan senyum sinis.
"Eh, bocil maksudmu apa?" Calvin menaikkan alisnya, bingung.
"Mm, nggak bermaksud apa-apa sih, laki-laki tua, cuma mau__"
"Siapa yang kamu panggil laki-laki tua, Hah?" Calvin menyela, sebelum Cantika menyelesaikan ucapannya.
"Kamu panggil aku bocil, ya aku panggil kamu laki-laki tua lah. Kan impas?" Cantika memeletkan lidahnya, membuat Calvin yang ada di ujung sana menggeram, kesal.
"Hei, aku belum tua, asal kamu tahu. Aku itu __"
"Aku juga, bukan bocah lagi, asal kamu tahu," Cantika menyambar langsung ucapan Calvin.
"Tapi dibandingkan aku, kamu masih bocah,"
"Ya, berarti dibandingin aku, kamu juga udah tua, weee!" Cantika, tidak mau kalah.
Calvin benar-benar geram saat ini. Apalagi melihat senyum Cantika, yang terlihat mengejek, dibarengi dengan jidatnya yang dia naikkan ke atas berulang laki.
"Kamu ya, tadinya aku mau minta maaf sama kamu, tapi aku rasa, tidak perlu lagi." ucap Calvin, sangat, sangat kesal.
"Kamu mau apa menghubungi aku sesore ini? kamu tidak ada kerjaan? hah?!"
"Ada, siapa bilang aku tidak ada kerjaan. Ya ini kerjaan aku, ngerjain kamu, hahahahaha!" jawab Cantika yang membuat Calvin ingin membanting ponselnya, saking kesalnya.
"Oh ya, calon suamiku yang tidak jadi, aku cuma mau ngasih tahu kamu, kalau aku yang buruk ini, sudah punya pacar. Barusan jadian. Dia itu, udah ganteng, baik, pintar, hmm apa lagi ya, pokoknya perfect deh! dan yang pasti dia nggak tua kaya, Kakak," ucap Cantika, mengejek.
Calvin mengepalkan tangannya, merasa jengkel dengan ejekan Cantika. Dia sekarang justru merasa tertantang untuk menaklukkan Cantika.
"Hei, bocil. Aku nggak yakin kalau dia lebih tampan dari aku. Boleh saja dia lebih tampan, tapi aku yakin dia tidak lebih berkharisma dari pada aku." Calvin sudah mulai terpancing.
"Gampang kalau masalah itu. Nanti aku suruh aja dia pakai motor Kharisma. Lama-lama dia akan dipanggil cowok berkharisma." Cantika sekarang merasa bagai di atas angin.
"Apa hubungannya pakai Kharisma jadi cowok berkharisma?" kening Calvin bertaut, bingung dengan ucapan Cantika yang ambigu.
__ADS_1
"Iyalah, nanti kan kalau orang tanya, siapa pacar Cantika? pasti jawaban orang-orang, 'itu lho, si Anu, cowok yang berkharisma itu'. Iya kan?"
"Kamu belajar bahasa Indonesia kan? sejak kapan, orang yang memakai motor Kharisma berubah menjadi orang yang berkharisma?"
"Kakak, yang nggak mengerti. Coba deh, kalau ada wanita yang memakai baju warna kuning, pasti untuk mempersingkat kalimat, pasti jadi wanita berbaju kuning. Jadi, ini pun sama, pria berkharisma," jawab Cantika, yang membuat Calvin mati kutu.
"Hei, asal kamu tahu, kalau Om Bagas, masih berharap kalau aku yang jadi menantunya. Baru saja Om Bagas menyuruhku mengantarkanmu besok ke sekolah. Jadi, siap-siap aja kamu putus dari pacar baru kamu itu," Calvin tersenyum miring.
"Tidak akan! karena aku sudah bilang padanya, kalau akan ada laki-laki tua nanti yang akan mengaku-ngaku calon suamiku. Dan aku sudah bilang padanya, kalau itu tidak benar, sama sekali, weee!" Cantika kembali menjulurkan lidahnya.
Calvin berkali-kali mengembuskan napasnya keluar, berusaha untuk menahan kesal.
"Lagian, besok aku akan dijemput sama dia, jadi kakak nggak perlu datang lagi," ujar Cantika lagi.
Calvin tersenyum miring dan sangat misterius, hingga membuat Cantika merasa curiga.
"Kenapa, kakak senyum-senyum? sangat mencurigakan." Cantika, menautkan ke dua alisnya, menatap Calvin dengan tatapan menyelidik.
"Bodo amat, pokoknya besok pagi aku akan tetap datang ke rumahmu. Kita lihat aja besok, Om Bagas akan milih siapa yang akan antar kamu ke sekolah. Aku atau dia? Pokoknya kamu siap-siap aja patah hati." pungkas, Calvin langsung memutuskan video call secara sepihak.
"Hahahaha, kena kamu!" aku tinggal mikirin cara, bagaimana supaya dia kesal besok. Hmm bagaimana ya?" gumam Cantika, berpikir keras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini, Calvin dibangunkan oleh jam alarm yang sengaja dia atur, lebih cepat dari biasanya. Buat apa? buat bisa berangkat lebih pagi dan tidak keduluan oleh pria yang disebut Cantika pacar barunya itu.
Walaupun masih diserang rasa kantuk yang amat sangat, Calvin tetap berjalan ke arah kamar mandi dan langsung membersihkan tubuhnya. Setelah mandi, dia langsung mengenakan pakaiannya dan berangkat tanpa sarapan terlebih dulu.
"Gila, buat apa sih aku seperti ini?" batin Calvin, kesal tapi tetap saja melajukan mobilnya menuju kediaman Bagas.
"Aku tidak menyukainya, aku hanya kesal, karena dia membanding-bandingkan aku dengan laki-laki lain. Aku hanya memastikan kalau dia akan menangis karena patah hati. Pasti aku akan puas menertawakannya," Calvin berbicara, yang hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri, sambil tersenyum licik.
Calvin memasuki pekarangan rumah Cantika dan menghentikan mobilnya tepat di samping, Pak Kurdi, supir yang biasanya mengantar-jemput Cantika.
"Pagi,Pak Kurdi! Cantiknya, ada?" tanya Calvin, sambil menyembulkan kepalanya dari jendela mobilnya.
"Hmm, Nona Cantikanya sudah berangkat tadi, Pak Calvin." sahut Pak Kurdi menghentikan sebentar kegiatannya, yaitu mencuci mobil.
__ADS_1
"Sepagi ini?" Calvin memicingkan matanya.
"Iya, Pak! katanya dia ada urusan penting hari, makanya dia berangkat pagi sekali."
"Dengan siapa dia berangkat?" tanya Calvin menyelidik.
"Hmm, Nona Cantika, berangkat sama seorang laki-laki, pakai motor besar, Pak. Katanya sih, pacarnya Nona Cantika."
Calvin mencengkram alat kemudi mobilnya dengan kencang, dan rahangnya mengeras.
"Apa pria itu tampan?" tanyanya lagi, berusaha untuk bersikap biasa.
"Hmm, Tampan Pak. Badannya tinggi dan kulitnya putih, pokoknya gagah,"
Jawaban Pak Kurdi, membuat Calvin semakin meradang. Wajahnya bukan hanya mengeras, tapi sudah memerah.
"Lebih tampan mana, aku atau laki-laki itu?" tanya Calvin, lagi.
"Awas saja kalau jawab, laki-laki itu," Calvin menggeram di dalam hati sambil menggigit giginya sendiri.
"Menurut , bapak sih hampir sama, cuma bedanya, pacar Non Cantika lebih muda," jawab Pak Kurdi dengan ekor mata yang melirik ke suatu tempat. Entah apa yang dia lirik, hanya dialah yang tahu.
"Sialan! aku dikadalin sama tuh anak." umpat Calvin sambil memukul alat kemudi di depannya.
"Hmm, sepertinya aku semakin tertantang untuk membuat dia menangis karena patah hati diputusin sama cowok itu. Aku tidak terima diremehkan seperti ini. Banyak gadis yang berlomba, ingin menjadi pacarku, beraninya dia memandang remeh padaku. Lihat aja nanti Cantika! Aku akan buat kamu ditinggalkan sama laki-laki itu." Calvin menyunggingkan senyumnya, membayangkan Cantika yang menangis-nangis karena patah hati.
"Membayangkannya saja, sudah membuat aku senang begini, apalagi kalau sudah benaran terjadi, aku pasti akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini, hehehe," Calvin terkekeh dengan bibir yang menyeringai sinis, membuat, Pak Kurdi bergidik, ngeri.
Calvinpun melajukan mobilnya kembali, meninggalkan kediaman Bagas,setelah berpamitan pada Pak Kurdi.
Setelah mobil Calvin benar-benar hilang dari pandangan, Cantika keluar dari tempat persembunyiannya, sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Pak Kurdi, aktingmu mantap!" Cantika mengacungkan jari jempolnya, yang disambut senyum bangga dari Pak Kurdi.
"Tapi, kenapa Non Cantika berbohong?" tanya Pak Kurdi penasaran.
"Nggak kenapa-napa, Pak. Udah Pak, kita berangkat sekarang!" Cantika, masuk kedalam mobil, demikian juga dengan Pak Kurdi.
__ADS_1
Tbc
Kencengin, like, vote dan komennya dong gais. Thank you