Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kabar bahagia


__ADS_3

Hari ini adalah yang sangat ditunggu-tunggu oleh Ardan dan Amanda. Hari ini keduanya akan mengadakan resepsi mereka yang tertunda. Sekaligus Ardan akan memperkenalkan Amanda dan kedua anaknya secara resmi. Karena waktu pers confrence kemarin hanya Aby lah yang ada di samping Ardan.


Ruangan Ballroom yang didekorasi dengan indah dan sangat mewah, sangat menarik perhatian dari para undangan yang sudah memenuhi ballroom itu.


Musik-musik romantis dari tadi sudah berkumandang untuk dinikmati para tamu. Hidangan-hidangan mewah untuk dinikmati juga sudah tersedia di atas meja.


Di antara para tamu tampak Rio dan Jasmine. sudah menghadiri acara resepsi Ardan dan Amanda. Sedangkan Johan dan istrinya, sedang sibuk bercengkrama dengan Rudi dan Amara. Karena setelah kejadian itu, hubungan Johan dan Rudi terjalin dengan baik kembali.


"Mas, bukannya itu Bagas ya? dia datang bersama siapa tuh? itu calon istrinya ya?" tanya Jasmine secara beruntun seraya menunjuk ke arah pasangan yang baru saja memasuki ruang ballroom itu.


"Oh, itu Clara, sekretarisnya. Mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Mungkin Bagas mengajaknya agar tidak terlihat menyedihkan tanpa pasangan." sahut Rio. Jasmine mangut-mangut mengerti dan sangat yakin dengan ucapan suaminya, melihat tidak adanya kemesraan yang ditunjukkan oleh dua sejoli itu.


Rio mengangkat tangannya untuk memanggil Bagas, yang sepertinya juga tengah mencarinya.


"Clara, itu ada Rio dan istrinya, kita ke sana Yuk!" Bagas meraih tangan Clara, menggenggamnya dengan erat, lalu melangkah untuk menghampiri Rio dan Jasmine. Genggaman tangan Bagas, membuat jantung Clara berdetak dua kali lebih cepat dari detak jantung normal.


"Hei, Sob. Udah lama ya?" tanya Bagas berbasa-basi sambil melakukan tos dengan Rio , kemudian menjabat tangan Jasmine.


"Belum terlalu lama kok," sahut Rio.


"Halo, Pak Rio, Bu!" Clara tidak ketinggalan untuk ikut menyapa juga.


Bagas, menarik kursi buat Clara dan mempersilahkannya duduk, setelah itu dia menarik kursi untuk dirinya sendiri. Hal itu tidak luput dari pandangan Rio dan Jasmine.


"Apakah dugaanku salah? apa mereka sudah memiliki hubungan?" bisik Rio pada dirinya sendiri.


"Sepertinya, dugaan Mas Rio salah nih!" Jasmine membatin.


"Kenapa kalian berdua bengong? apa ada yang salah?" Bagas terlihat bingung, tidak sadar kalau apa yang dia lakukan barusan sudah mengundang tanda tanya.


"Apa ada hal yang perlu kamu jelaskan, yang tidak kami tahu, Gas?" tanya Rio dengan mata yang memicing, curiga.


"Sepertinya tidak ada," sahut Bagas, santai.


"Apa kamu dan __"


"Ladies and gentleman, please welcome dan beri tepuk tangan yang meriah untuk Raja dan ratu kita malam ini!" Suara MC yang menggema, membuat Rio tidak jadi melanjutkan Ucapannya.


Semua tamu berdiri dan memberi tepuk tangan yang sangat meriah ketika Ardan dan Amanda, memasuki ruangan tempat mereka mengadakan resepsi.


Gaun yang dipakai oleh Amanda terlihat sangat sederhana, tapi tetap elegan dan tidak bisa menutupi aura mewah pada gaun itu. Demikian juga halnya dengan Ardan yang tampil gagah dengan tuxedo berwarna hitam kesukaannya.


Sepasang bocah kecil yang berjalan di depan Ardan juga sangat menarik perhatian para tamu, siapa lagi mereka kalau bukan anak kembar sang penguasa, Ardan Orlando Bagaskara, Abyasa dan Anin.


Ada dua ekspresi yang berbeda yang terlihat dari wajah kedua bocah itu. Anin dengan senyuman yang mengembang dengan sempurna, sedangkan Abyasa dengan wajah datarnya.


Anin yang tampil dengan gaun indah dan rambut palsunya, terlihat sangat bahagia. Impiannya untuk bisa kembali melihat dunia luar terkabul dengan sembuhnya penyakitnya. Tapi yang paling menggembirakan dia bisa melihat Papa dan mamanya menikah.


Setelah sampai di atas panggung, Ardan dengan gagah dan berwibawa, akhirnya mengumumkan secara resmi, Istri dan kedua anaknya, kepada para undangan dan media yang hadir.


Acara berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Semua tamu terlihat sangat menikmati acara dan jamuan yang sangat berkelas itu. Anin bahkan, mempersembahkan lagu buat Amanda, yang berjudul 'Cinta untuk mama' yang dinyanyikan oleh 'Kenny'.


Apa yang ku berikan untuk mama


Untuk mama tersayang


Tak ku miliki sesuatu berharga

__ADS_1


Untuk mama tercinta


Hanya ini ku nyanyikan


Senandung dari hatiku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk mama


Apa yang ku berikan untuk mama


Untuk mama tersayang


Tak ku miliki sesuatu berharga


Untuk mama tercinta


Hanya ini ku nyanyikan


Senandung dari hatiku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk mama


Walau tak dapat slalu ku ungkapkan


Kata cintaku tuk mama


Namun dengarlah hatiku berkata


Oh hanya ini ku nyanyikan


Senandung dari hatiku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk mama


Lagu cintaku untuk mama


Semua tamu bahkan ada yang sampai meneteskan air mata mendengar nyanyian Anin.


Para tamu, terlihat mulai keluar dari ruangan resepsi, untuk kembali ke rumah masing. Tinggal beberapa lagi yang terlihat masih bertahan di sana, dan bisa dipastikan kalau mereka ada keluarga besar dari keluarga Bagaskara.


"Mas, apa kita sudah bisa istirahat sekarang?" tanya Amanda yang terlihat pucat dan kelelahan.


"Apa kamu sudah sangat lelah?" tanya Ardan sambil menggiring Amanda untuk duduk dulu. Belum sampai di tempat duduk, tiba-tiba, pandangan Amanda terasa buram, dan tanpa bisa ditahan lagi, Amanda pingsan di pelukan Ardan.


"Sayang! Sayang! bangun !" pekik Ardan, dengan paniknya sembari menepuk-nepuk pipi sang istri.


Mendengar teriakan Ardan, semua orang yang masih tertinggal di ruangan itu, berlari untuk melihat apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Ada apa Ardan?" tanya Amara khawatir.


"Nggak tahu, Mah. Dia bilang dia kecapean, dan aku baru saja mau membawa dia duduk, tapi tiba-tiba dia pingsan." Sahut Ardan


Melihat mamanya pingsan membuat Anin memekik menangis.


"Pa, mama kenapa? kenapa mama menutup matanya?" cecar, Anin dengan pipi yang sudah bersimbah air mata.


"Mamamu tidak kenapa-napa, Sayang. Cuma kecapean aja?" Kali ini Rudi yang buka suara untuk menenangkan, Anin.


"Mela! tolong periksa menantuku!" titah Amara, pada Mela, sepupu Ardan yang berprofesi sebagai dokter.


Ada baiknya, Kakak ipar biar enak memeriksanya." ucap Mela. Kemudian dia minta tolong pada suaminya, untuk mengambil peralatan medisnya di dalam mobi. Sementara suaminya pergi, Mela menyusul Ardan yang menggendong Amanda ala bridal style.


Amara membukakan pintu kamar buat Ardan. Kemudian Ardan pun masuk dan membaringkan tubuh istrinya itu.


Setelah menunggu beberapa saat, Suami Nela pun tiba dengan peralatan medis yang disuruh oleh istrinya tadi.


"Bagaimana, Mel? istriku tidak apa-apa kan?" Ardan mendesak sepupunya untuk segera menjawab pertanyaannya.


Mela tersenyum misterius ke arah Ardan yang tidak sabaran.


"Kak, Ardan. Kakak ipar tidak apa-apa kok. Kakak ipar justru sangat baik-baik saja dan ini sangat biasa terjadi, pada awal-awal kehamilan." terang Mela dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari senyumannya.


"Apa, Mel?maksudmu Amanda hamil?" tanya Ardan memastikan. Mela menganggukkan kepalanya, membenarkan.


"Untuk lebih jelasnya, besok bawa istri kamu untuk melakukan melakukan pemeriksaan." sambung Mela lagi.


Ardan tercenung dan membeku untuk beberapa saat, seakan tidak percaya. Setelah tersadar, Ardan tersenyum bahagia. Anin yang tadinya menangis, kini bersorak bahagia, dan menarik tangan Celyn, mengajak bocah itu untuk melompat-lompat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kamar Ardan, kini terlihat sudah mulai sepi. Yang tampak di sana hanya Rio dan Jasmine serta Bagas dan Clara. Bagas, mengatakan kalau dia akan mengantarkan Clara pulang, ketika Yuda sang adik mengajak Kakaknya itu pulang tadi.


"Lihat, Yo! kamu kalah lagi. Sebentar lagi aku akan punya anak lagi." ledek Ardan pada Rio yang sudah berdecih tidak senang.


"Siapa bilang kalau Rio kalah? sebentar lagi Celyn juga bakal punya adik kok," celetuk Jasmine tanpa sadar, merasa tidak suka Ardan meledek suaminya itu.


Pernyataan Jasmine sontak membuat mata Rio terbeliak kaget.


"Apa itu benar, Sayang?" tanya Rio, memastikan.


"Iya, Benarlah. Rencananya aku mau kasih kejutan di Aniversary Minggu depan. Tapi gara-gara mulut Ardan, yang lemes meledek kamu, mau gak mau aku kasih tau sekarang." jelas Jasmine, sambil mengeluarkan photo hasil USG seminggu yang lalu dan menunjukkannya pada Rio.


Rio speecless dan matanya sudah terlihat berembun melihat photo janin Meraka yang ternyata sudah berusia 6 minggu itu.


Ardan dan Rio akhirnya saling mengucap selamat. Sedangkan Bagas hanya jadi penonton saja.


"Bagaimana dengan kamu, Gas? apa kamu tidak ingin seperti kita?" ledek Ardan, ditanggapi dengan tawa meledek dari Rio.


"Gimana mau punya anak, Dan? Istri juga dia tidak ada." Rio menimpali ucapan Ardan.


"Kalian jangan meledekku terus, karena sebentar lagi aku juga akan menikah dengan Clara." cetus Bagas, dengan senyum tipisnya.


"Apa?!" pekik Ardan dan Rio bersamaan.


Tbc

__ADS_1


Kencengin Vote, like dan komennya dong gais


__ADS_2