
"Hei, lepaskan tangan dia!" tiba-tiba seorang pemuda menghadang Calvin dengan gaya angkuhnya.
"Siapa kamu, berani-beraninya menghalangiku?" Calvin memicingkan matanya, menatap tidak senang pada pemuda itu.
"Kenapa aku tidak berani? aku Max, calon pacar, Cantika. Emangnya kenapa?"
"Sial, banyak juga penggemar si bocil ini." batin, Calvin kesal.
Calvin menoleh ke arah Cantika yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa kamu menyukai pemuda modelan begini?" tanya Calvin, memandang rendah pada Max.
"Ng- Nggak, Kak!" sahut Cantika cepat.
"Tuh, kamu dengar. Calon istriku tidak suka dengan laki-laki sepertimu. Jadi, kamu tolong minggir dan jangan halangi jalanku!" ketus, Calvin.
"Calon istri? tidak salah? Cantika, jadi begini tipe kamu?"
"Emang kenapa dengan saya? apa kamu pikir kamu bisa dibandingkan dengan saya? coba kamu lihat sekelilingmu, siapa yang mereka kagumi sekarang, aku atau kamu?" sambar Calvin, sambil memberikan isyarat pada Cantika agar diam saja.
"Gila, aku berurusan sama anak SMA. Benar-benar kurang kerjaan aku ya."
Max melakukan apa yang diperintahkan oleh Calvin,dan betapa kesalnya dia ketika melihat mata para siswi-siswi yang biasanya mengaguminya kini terlihat sangat mengagumi Calvin.
"Dalam hal tampang mungkin aku kalah, tapi dalam hal basket, aku yakin kalau ketampanan kamu itu tidak akan ada gunanya." Max tersenyum miring, meremehkan.
Calvin mengulum senyumnya, merasa tidak perlu untuk meladeni tantangan Mark.
"Maaf, aku tidak punya waktu, untuk bermain-main dengan kamu. Karena aku punya kesibukan. Ayo, Cantika!" Calvin kembali meraih tangan Cantika dan melangkah menuju mobilnya.
Akan tetapi, Calvin kembali menyurutkan langkahnya, ketika terdengar sorakan mengejek dan meneriakinya 'pengecut' dari gengnya pemuda bernama, Mark itu.
Calvin menoleh ke belakang dan melihat Mark yang mengacungkan jari jempol ke bawah, ke arahnya.
"Baiklah! aku terima tantanganmu, dengan syarat, kalau aku menang, kamu jangan ganggu Cantika lagi." Calvin membuka Jasnya dan melonggarkan dasinya. Kemudian dia menyerahkan jasnya ke tangan Cantika, yang terpengarah, melihat Calvin yang entah kenapa, kadar ketampanannya semakin terlihat di matanya.
__ADS_1
"Ok! Tapi, jika aku menang, Cantika jadi milikku, bagaimana?" Mark, mengajukan syarat darinya, yang tentu saja membuat Cantika panik seketika. Siapa yang tidak mengenal Mark di sekolahnya, seorang kapten basket yang permainannya sudah tidak bisa diragukan, dan bahkan sering menjuarai kejuaraan basket antar sekolah.
"Kak, tidak usah diladeni! kita pulang saja." Cantika menggelengkan kepalanya, dengan wajah yang memelas.
"Kamu meragukanku? Kamu tenang saja, kamu akan lihat siapa aku sebenarnya,"
Calvin melangkah mendekat ke arah Mark.
"Baik, aku terima tantanganmu!" pungkas Calvin, tegas.
Akhirnya semuanya melangkah ke lapangan basket. Bahkan yang tadinya ingin pulang, mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk menonton pertandingan yang pastinya akan seru.
Calvin dan Mark kini sudah berdiri berhadap-hadapan, dan menunggu wasit yang merupakan teman Mark melemparkan bola ke atas atas yang sering disebut, "jumpball'.
setelah Pluit dibunyikan. Teman Mark melempar bola ke atas. Calvin dan Mark melompat ke atas sama-sama untuk menangkap bola. Calvin berhasil menangkap bola dan menggiring bola dengan cara mendribel, sementara Mark berusaha untuk menghalangi. Akan tetapi Calvin dengan gampang bisa menghindari Mark dan berhasil melakukan shooting dari jarak jauh, sehingga berhasil mendapat 3 poin sekaligus.
Mark yang tadinya menganggap remeh Calvin, kini mulai terlihat khawatir. Keinginannya yang fokus untuk mengalahkan Calvin, akhirnya menjadi bumerang buat dirinya sendiri. Dia menjadi kurang fokus bermain sehingga Calvin bisa membaca permainannya
Tidak berselang lama, akhirnya pertandingan dimenangkan oleh Calvin. Keringat yang menempel di tubuh Calvin, membuat tubuh tegap Calvin,tercetak jelas, hingga membuat para siswi-siswi di sana histeris.
Mendapat pelukan dari Cantika yang tiba-tiba, membuat jantung Calvin berdetak lebih cepat dari detak jantung normal.
Cantika yang tiba-tiba tersadar, langsung melepaskan pelukannya dan menundukkan kepalanya, tersipu malu.
"Nak, Calvin kenapa kamu ada di sini? keringatan segala lagi." tiba-tiba pria setengah baya, muncul dan menyapa Calvin, seakan sudah kenal lama.
"Eh, iya Pak! Tadi, lagi kangen main basket, jadi aku bermain tadi sama, kapten basket sekolah ini, yang katanya jago banget, main basketnya," ucap Calvin dengan nada menyindir.
"Mark, sini kamu!" Mark mendekati, pria setengah baya, yang ternyata pelatih basket di sekolah itu.
"Mark, ini nak Calvin, dia dulu pemain basket unggulan di sekolah ini, bersama temannya Aby dan Kenjo. Kamu boleh belajar darinya kalau mau."
Ucapan pelatih itu, bagaikan petir di siang bolong, bagi Mark. Dia tidak menyangka kalau yang dia tantang adalah pemain basket yang hebat.
Bukan hanya Mark yang kaget, Cantika juga sama kagetnya dengan yang lain. Dia mengedarkan matanya menatap ke sekeliling, dan dia merasa geram melihat para siswi-siswi yang menatap kagum pada Calvin.
__ADS_1
Ingin rasanya dia menarik Calvin untuk pulang sekarang, tapi rasanya sangat tidak sopan, karena Calvin sedang berbicara dengan mantan pelatihnya dulu
Ekor mata Calvin, bergerak melirik ke arah Cantika yang terlihat sudah blingsatan, bosan.
"Oh ya, Pak, sepertinya aku harus pulang dulu, karena aku ada pertemuan sebentar lagi. Mudah-mudahan suatu saat kita bisa ngobrol-ngobrol lagi." ucap, Calvin dengan nada yang sangat sopan.
"Oh, ok, silahkan, Nak Calvin!"
Cantika juga berpamitan pada pelatih basket itu, dan menyusul Calvin yang sudah terlebih dulu melangkah.
Cantika mendelik dan mempelototi gadis-gadis remaja sepertinya yang masih tetap tidak melepaskan pandangan dari Calvin.
"Cantika, buruan!" panggil Calvin yang kini sudah berada di samping mobilnya.
Dengan sedikit berlari Cantika menghampiri Calvin sehingga tanpa sengaja dia tersandung ketika hampir dekat dengan Calvin. Untungnya dengan sigap Calvin langsung menangkap tubuh Cantika, agar tidak terjatuh.
Suara debaran jantung keduanya kini kembali berdisco di dalam sana. Untuk sepersekian detik, mereka bergeming saling menatap.
Detik berikutnya, tiba-tiba Calvin tersadar, dan langsung melepaskan tubuh Cantika. Cantika yang belum benar-benar siap untuk berdiri, kini benar-benar jatuh tersungkur ke tanah.
"Makanya tidak usah berlari! seperti ada yang mau dikejar saja," ujar Calvin, untuk menutupi dentuman yang terjadi pada jantungnya.
"Aw, sakit Kak! aku kok dilepas sih?" Cantika merengut, kesal sambil menepuk-nepuk roknya yang sudah penuh dengan pasir.
"Rasain! emang enak! hahaha!" Tiba-tiba Dion sudah muncul dengan Deby yang berada di boncengannya. Dan yang paling buat kesal, Dion membuka helmnya sehingga wajahnya terlihat jelas
"Hey, kamu benar-benar tidak tahu __"
" Sudah, Kak Cal! Dionnya Jangan dipukul!" seru Cantika tiba-tiba menghentikan Calvin.
Calvin sontak menatap Cantika dengan tatapan tidak senang, merasa Cantika kini sedang membela pria yang jelas-jelas sudah menghianatinya.
"Mereka sahabatku! dia bukan pacarku!" aku Cantika, sambil menundukkan wajahnya.
tbc
__ADS_1