
Adrian terbangun dari tidurnya karena tiba-tiba merasa lapar. Ya dia telah tiba di London 3 jam yang lalu, setelah kurang dari 15 jam berada di dalam pesawat.
"Lapar banget sih, aku." gumam Adrian sambil mengelus-elus perutnya.
"Sepertinya aku harus keluar membeli makan dulu," batin Adrian sembari melangkah ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Setelah itu, Adrian melepaskan pakaiannya dan mengganti dengan sweeter berwarna biru muda. Dia sedikit mematut dirinya di depan cermin sambil membenarkan rambutnya
Setelah dirasa cukup rapi, diapun mengayunkan kakinya melangkah menuju nakas yang terletak di samping tempat tidur, untuk meraih ponselnya.
"Astaga! aku lupa memberi kabar dan papa dan mama kalau aku sudah tiba di London." gumam Adrian sambil menepuk jidatnya.
"Pasti dari tadi mereka khawatir karena aku tidak memberikan kabar." ucap Adrian.
Diapun sontak mengaktifkan kembali ponselnya untuk menghubungi orangtuanya. Cahaya biru yang memancar dari layar ponselnya langsung menyinari wajah pria berusia 18 tahun itu.
Tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih, begitu melihat wajah Reyna yang dia jadikan sebagai wallpaper, dan belum dia ganti.
Adrian mengembuskan napasnya, dan segera ingin Menganti wallpaper handphonenya dengan photo dirinya sendiri. Akan tetapi, dia tiba-tiba merasa sayang untuk menghapusnya.
"Hmm, biarlah aku membiarkan photo ini untuk seminggu ini. Setelah itu akau akan menghapusnya." bisik Adrian dalam hati.
Benar dugaannya, puluhan panggilan dan pesan masuk ke dalam nomornya. Dan itu semua berasal dari nomor mamanya, papanya berganti ke nomor kakak-kakaknya.
Adrian melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, dan melihat kalau sudah pukul 1 pagi di waktu Indonesia. Karena dia belum merubah jamnya ke waktu London. Adrian langsung merubah jamnya menjadi pukul 7 malam. Karena perbedaan waktu, London dan Indonesia bagian barat itu, Indonesia lebih cepat 6 jam.
"Hmm, aku telepon balik gak ya? mereka pasti sudah tidur jam segini. Tapi aku coba dulu deh."
Adrian langsung menghubungi balik tanpa perlu membaca pesan-pesan masuk itu lagi.
"Kamu dari mana aja, hah?" masih bunyi pertama dan belum sempat berbasa-basi, suara Amanda sudah terdengar meninggi dari ujung telepon.
__ADS_1
"Maaf, mah, aku ketiduran tadi. Sebenarnya aku sudah tiba di London,3 jam yang lalu."
"Ya udah, yang penting kamu sudah tiba dengan selamat. Kamu belajar baik-baik di sana ya. Jangan macam-macam!" Adrian terkekeh, karena bisa membayangkan mimik mengancam wajah, mamanya di ujung sana.
"Iya, Mah. Tenang aja. Mama kok belum tidur?"
"Bagaimana mau tidur? mama nggak tenang sebelum dapat kabar dari kamu." jelas Amanda.
Adrian menerbitkan seulas senyuman dengan mata yang berembun. Baru kali dia jauh dari orangtuanya dalam jangka waktu yang lumayan lama. "Papa sudah tidur, Mah?"
"Belum? Papa menunggu kabarmu juga dari tadi." bukan suara mamanya yang menjawab, justru suara Ardan papanya lah yang terdengar.
Ardan dan Amanda bergantian memberikan pesan lagi pad Adrian. Tetapi, mereka tidak memberitahukan mengenai keberangkatan Reyna dan Roni dalam beberapa jam ke depan.
Adrian memasukkan ponsel ke dalam sakunya dan mengayunkan kakinya, melangkah ke luar dari apartemennya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 8 pagi Reyna dan Roni kini sudah ada di dalam pesawat, Garuda Indonesia, agar bisa langsung menuju London tanpa memerlukan transit di negara orang.
"Kak, di jamku pukul 22 malam, tapi di sini masih terang ya Kak?" ucap Reyna begitu keluar dari kawasan bandara.
"Itu waktu Indonesia. Kalau di sini ya berarti ...." Roni terlihat menghitung jarinya hingga mundur 6 jam. "Di sini pukul 4 sore." imbuhnya kemudian.
"Ohh!" Reyna menganggukkan kepalanya, mengerti.
"Ayo kita ke apartemen!" ajak Roni, sambil masuk ke dalam sebuah taksi dan Reyna mengekor dari belakang.
Roni menyebutkan nama sebuah apartemen mewah, yang berdekatan dengan Oxford university, tempat di mana Adrian juga tinggal selama berada di London
Setelah satu jam lamanya berada di dalam taxi, mereka pun tiba di apartemen yang dimaksud. Mereka pun langsung menuju lobby dan melaporkan diri mereka terlebih dulu ke resepsionis di bawah. Setelah mereka mendapatkan no pin atau password untuk bisa masuk ke apartemen mereka, Roni dan Reyna langsung menuju unit apartemen mereka.
"Kak, unit Adrian di mana? Katanya tempat Adrian tidak terlalu jauh dari kita?" tanya Reyna sambil mengitari ke arah barisan pintu yang tertutup.
" Apa kamu sudah tidak sabar bertemu dengan Adrian? hitung saja 4 pintu dari sini." jawab Roni, sambil menekan angka yang diberikan oleh resepsionis tadi. Kemudian setelah pintu terbuka, Roni langsung mengganti PINnya sesuai dengan yang dia mau, karena memang disarankan seperti itu.
__ADS_1
Reyna tidak menjawab, dia hanya terkekeh, menanggapi ucapan kakaknya. Akan tetapi, sebelum menyusul kakaknya masuk, dia menyempatkan diri untuk menghitung pintu dan berhenti di hitungan ke empat.
Reyna menyunggingkan senyumannya, bahagia walaupun hanya melihat pintu yang tertutup itu. Dia tidak tahu, apakah Adrian ada di dalam atau tidak.
"Reyna, Masuk! Kenapa kamu senyum-senyum sendiri berdiri di sana, seperti orang gila?" teriak Roni memanggil dari dalam. Walaupun kesal dengan kakaknya, Reyna tetap masuk dan menutup pintu. Tanpa dia sadari, di saat dia masuk dan menutup pintu, Adrian justru keluar dari apartemennya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sinilah Reyna sekarang, di dapur Adrian memasak makan malam. Dia berharap Adrian akan pulang sebentar lagi. Reyna sengaja datang ke apartemen Adrian, ketika Roni kakaknya sedang tidur.
Bagaimana dia bisa masuk? Reyna hanya mencoba-coba saja, menekan angka tanggal lahir pria itu sebagai password untuk membuka pintu tapi gagal. Dia mencoba tanggal lahirnya, gagal juga. Ada sedikit rasa kecewa ketika mendapati pasword yang digunakan Adrian bukan tanggal lahirnya.
"Dia kan ke sini untuk menghindariku, jadi tidak mungkin dia menggunakan tanggal lahirku," gumam Reyna. Akhirnya dia mencoba menggunakan tanggal lahir Amanda yang kebetulan dia tahu, karena pernah di undang dalam perayaan ulang tahun wanita yang telah melahirkan pria pujaannya itu. Ternyata, pintu apartemen Adrian bisa terbuka dengan percobaan terakhirnya.
Awalnya dia ingin memberikan kejutan. Akan tetapi, Reyna kecewa ketika tidak mendapati Adrian ada di sana. Akhirnya dia memutuskan untuk memasak makan malam dengan bahan yang sempat dia beli tadi bersama kakaknya di supermarket terdekat.
Masakan Reyna sudah matang. Akan tetapi belum ada tanda-tanda, Adrian akan pulang. Berkali-kali Reyna melirik ke arah Jam di dinding yang ternyata sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam.
"Dimana sih dia? apa dia berniat mencari wanita bule di negara ini?" batin Reyna merasa takut.
"Kalau iya, berarti apa yang diucapkannya selama ini hanya omong kosong." lagi-lagi Reyna berbicara yang hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri.
"Sabar, Reyna, jangan berpikiran yang macam-macam! dia pasti sedang ada urusan di luar dan sebentar lagi juga pulang." Reyna berusaha untuk menangkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba handle pintu itu berputar pertanda akan ada yang masuk. Reyna sangat yakin kalau itu adalah Adrian.
Reyna sontak bersembunyi di balik sofa dan menunggu pemuda itu untuk masuk.
Tbc
Nam Da Reum as Adrian
Kim Sae Ron as Reyna
__ADS_1