Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Pacar pura-pura


__ADS_3

Hari ini seperti biasa, Aby melakukan seperti yang disarankan oleh dokter, untuk membuat Asi Celyn lancar. Aby melakukan pemijatan secara telaten di area dada, dan bahkan juga memijat punggung Celyn agar istrinya bisa rileks dan merasa sangat dicintai. Walaupun hal ini benar-benar siksaan buatnya.


"Sayang, sampai berapa lama aku harus begini? aku benar-benar tersiksa. Udah kita tidak pernah malam pertama, aku pun harus dituntut untuk menunggu lagi." keluh Aby dengan wajah yang merengut.


"Hmm, sabar ya, Kak. Katanya sih masa nifas itu 40 hari. Ini baru dua hari jadi 38 hari lagi, gak lama kok."


"Hah? gak lama? kalau kamu bilang tinggal dua hari lagi, baru tidak lama, Sayang." Aby sudah mulai berani menunjukkan sisi manjanya pada Celyn. Emang benar kata orang, laki-laki setegar dan sedingin apapun di luaran sana, pasti akan manja pada wanita yang dia cinta. Jadi, tidak heran kalau Aby sudah mulai menunjukkan sikap manjanya pada Celyn.


Setelah selesai memompa seperti biasa mereka akan memberikan botol berisi Asi itu ke perawat untuk disimpan, untuk diberikan pada kedua bayi itu ketikan malam hari. Kalau untuk Pagi, siang dan sore, Celyn sebisa mungkin menyusui langsung kedua bayinya.


Perkembangan Baby Arick dan Arend sangat pesat. Walaupun masih dua hari, berat badan keduanya sudah mulai bertambah walupun masih sedikit. Hal ini memberikan kebahagiaan buat sepasang insan yang baru saja menjadi orang tua itu.


Keadaan Celyn juga sudah mulai baik-baik saja bahkan, menurut Dokter Sinta, besok, Celyn sudah bisa pulang ke rumah. Akan tetapi, si kembar sama sekali belum bisa dibawa pulang karena masih perlu perawatan yang intensif.


"Sayang, besok mama sudah pulang, tapi maaf kalian berdua belum bisa ikut. Tidak apa-apa ya?"ucap Celyn setelah selesai menyusui kedua putranya.


Kedua bayi itu terlihat menggeliat, dan tiba-tiba terseyum, seakan mengerti dengan apa yang baru diucapkan oleh Celyn.


"Tapi, kalian berdua jangan khawatir, kalau mama tidak bisa datang, papa setiap hari pasti datang ke sini." Celyn lagi-lagi mengejak kedua putranya untuk berbicara. Sedangkan Aby, melengkungkan bibirnya ke atas, sambil merangkul pundak Celyn.


"Kak, mereka benar-benar mirip kamu, hidungnya, bibirnya, alisnya semuanya ke kamu." Celyn mengerucutkan bibirnya.


"Tentu saja iya, merekakan anak-anakku, ya pasti miriplah." ujar Aby, bangga. Hingga membuat Celyn mendengus kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Berbeda dengan keadaan Aby dan Celyn yang sedang berbahagia, Calvin kini masih sangat-sangat kesal pada Cantika. Aura wajahnya yang gelap, membuat para karyawan bingung dan takut untuk menyapa.


"Arrrgh!"! Calvin menekan-nekan keras tuts-tuts pada keyboard laptopnya, karena dari tadi apa yang dia kerjakan tidak ada yang benar.


Calvin berusaha untuk kembali fokus, akan tetapi, lagi-lagi pikirannya tidak bisa diajak kompromi.


"Argghhh! kenapa sih setan kecil itu, mengganggu pikiranku? emang pantas dia dipanggil setan." umpat, Calvin sambil menutup laptopnya.


"Masuk!" teriaknya dari dalam ketika mendengar suara pintu yang sedang diketuk seseorang dari luar.


"Hai, Sob!" sapa orang yang baru masuk itu, yang ternyata Kenjo.


"Hmm," balas Calvin, malas.


"Kamu kenapa sih? dari kemarin kamu terlihat aneh. Kamu ada masalah ya?" tanya Kenjo dengan menaikkan jidatnya, menyelidik.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Ken. serius!"


Kenjo menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya pada ucapan Calvin.


"Tidak, aku yakin kalau ada sesuatu yang membuat kamu kesal. Ayo, kamu ceritakan padaku sekarang!"


"Aku, bilang tidak ada ya, tidak ada, Ken. Sekarang justru aku mau tanya sama kamu, kenapa pagi-pagi begini kamu sudah ada di kantorku? Kamu kurang kerjaan ya? kalau kurang, tuh kerjaanku banyak. Tolong kamu bantu kerjain,"


Kenjo mendengus kesal, mendengar ucapan sahabatnya yang tidak mau menceritakan masalahnya.


Kenjo akhirnya menghela napasnya, tidak mau memaksa, Calvin untuk bercerita. Kemudian, dia pun mengutarakan maksud kedatangannya mengenai ajakan untuk bersama-sama mengelola bekas perusahaan Radit.


"Bagaimana? aku harap kamu mau membantuku,"


Calvin diam untuk sepersekian detik, mempertimbangkan permintaan Kenjo. Detik berikutnya, akhirnya, Calvin menganggukkan kepalanya, setuju.


"Terima kasih, Cal!" Kenjo, menerbitkan senyuman tulusnya.


"Sama-sama!"


"Sekali lagi aku, mau bertanya, apa kamu benar-benar tidak mau bercerita padaku, masalahmu?" Kenjo benar-benar belum puas, sebelum dia tahu masalah Calvin sebenarnya.


"Bukan masalah itu,Ken. Masalahnya sekarang si Cantika ngeremehin aku." pancingan Kenjo benar-benar berhasil memancing Calvin untuk buka suara.


"Maksudnya?" Kenjo mengrenyitkan keningnya, bingung.


Calvin akhirnya menceritakan, mulai dari hal yang terjadi kemarin sampai pagi tadi.


Kenjo yang mendengarkan Calvin bercerita, berusaha untuk menahan tawa. Dia merasa kalau sekarang Calvin benar-benar bertingkah kekanakan.


"Bukannya, seharusnya kamu senang,kalau dia sudah punya pacar? Jadi, kamu tidak perlu menikah dengannya."


"Bukan itu masalahnya, Ken. Ini mengenai harga diri. Aku seperti tidak punya harga diri, tahu nggak! Masa aku yang setampan ini disepelekan sama bocah?"


Kenjo tidak dapat lagi, menahan tawanya. Akhirnya tawanya pecah memenuhi ruangan itu.


"Cal, Cal, justru kalau kamu bertingkah seperti ini, kamu yang seperti bocah." ledek Kenjo di sela-sela tawanya.


"Enak aja, bilang aku bocah! ini menyangkut harga diri, Ken."


Kenjo, berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Cal, Cal dengan kamu merasa tersinggung hanya karena seorang ABG, berarti kamu sama aja dengan bocah. Masa hanya gara-gara itu, kamu merasa tidak punya harga diri? bilang saja, kamu kesal karena ada wanita yang terang-terangan menolakmu, jadi kamu tidak terima dengan itu. Iya kan?"

__ADS_1


Ucapan Kenjo benar-benar tepat sasaran. Tapi, Calvin berusaha menyangkalnya. Dia tetap yakin, dia kesal karena menyangkut harga diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Yon, boleh ya? please. Hanya pura-pura jadi pacar gue kok," mohon Cantika, pada Dion, sahabatnya.


"Ogah! ntar, my bebeb marah. Kalau kami putus, loe mau tanggung jawab?" tolak Dion mentah-mentah.


Tapi, bukan Cantika namanya kalau menyerah. Dia tetap saja berusaha untuk membuat Dion memenuhi permintaannya.


"Kalian kenapa, sih?" suara seorang wanita tiba-tiba menegur Cantika dan Dion.


"Eh, Beb, gak ada kok, nih si Cantika, minta aku buat pura-pura jadi pacarnya. Aku tidak mau, tapi dia tetap memaksa," jelas Dion, takut pacarnya itu salah paham.


"Emang, kenapa loe mau Dion berpura-pura jadi pacar loe?" tanya Deby, wanita yang merupakan pacar Dion sekaligus sahabat Cantika.


Cantika pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi, dan kedua sahabatnya itu mengangguk-anggukan kepala, mengerti.


"Bagaimana, Beb? apa kamu setuju?" tanya Dion pada pacarnya.


"Please, Debi, boleh ya?" mohon Cantika pada sahabatnya itu.


"Boleh deh! tapi ingat hanya pura-pura dan nggak ada yang namanya nikung," tegas Deby.


"Loe tenang saja, standar gue tinggi. Jadi gue nggak mungkin naksir sama cowok loe,"


"Maksud loe apa? cowok gue gak tampan gitu?" Deby mendelik tidak senang.


"Tahu nih, gue itu tampan kali," Dion menimpali ucapan pacarnya


"Tampan kok Deb," sambar Cantika cepat, sambil cengengesan, sebelum sahabatnya itu, berubah pikiran.


"Tapi, Yon, nanti pas di parkiran, kamu langsung pakai helm ya!"


"Emang, kenapa?" tanya, Dion menyipitkan matanya.


"Hmm, soalnya gue bilang, kalau pacar gue itu lebih tampan dari dia. Nanti, kalau dia lihat muka loe, jadinya gak sesuai dengan yang gue katakan. Nanti dia bakal ngejek gue dong,"


"Kampret, loe! ini sama aja loe ngatain gue jelek, setan!" Dion menggeplak kepala Cantika dengan buku.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2