
Aby menghela napas dengan cukup panjang, menahan rasa kesalnya, karena harus bersama dengan Celyn yang menurutnya sangat menggangunya. Dengan santainya mama dan papanya serta Om Rio dan tante Jasmine, memintanya untuk menjaga dua gadis kecil, yaitu Anin dan Celyn. Sementara mereka harus pergi ke acara lamaran Bagas dan Clara. Anin memang berisik, tapi baginya tidak masalah, karena bisa melihat adiknya itu sehat dan ceria kembali adalah kebahagiaan buat dirinya. Tapi masalahnya, sekarang dia tidak suka berisiknya Celyn, apalagi sikap manjanya.
"Kak Aby, main sama kita yuk!" Celyn menarik-narik tangan Aby yang sedang serius dengan bukunya.
Tangan Celyn akhirnya melemah, ketika melihat lirikan tajam dari Aby, pertanda kalau Aby, tidak punya niat untuk bergabung dengan dirinya dan Anin.
"Kakak! jangan tatap Celyn seperti itu! Kakak sudah membuatnya ketakutan," tegur Anin, menatap tak kalah tajam pada kakaknya itu.
Aby, mengembuskan napasnya, tidak berkutik kalau princes di rumahnya itu sudah marah.
"Iya, Maaf! Tapi kakak benar-benar tidak mau diganggu. Kalian berdua bermain boneka, jadi tidak mungkin kakak ikut bermain boneka bersama dengan kalian. Jadi, tolong bermain sendiri." ucap Aby tegas, tak terbantahkan.
"Celyn, kita main berdua saja. Kamu jangan sedih," Anin yang mewarisi kelembutan Amanda, meraih tangan Celyn dengan lembut dan mengajaknya duduk di atas karpet yang sudah penuh dengan boneka.
Aby akhirnya merasa lega, melihat Celyn yang sudah menjauh darinya dan sudah asik bermain boneka dengan Anin.
"Nin, aku haus," bisik Celyn dengan hati-hati dan sedikit takut sambil melirik ke arah Aby.
Pendengaran Aby yang tajam, dapat mendengar dengan jelas, apa yang dibisikkan oleh Celyn. Tapi, dia berpura-pura tidak mendengar dan terkesan tetap fokus pada bacaannya.
Anin menoleh ke Kakaknya yang terlihat acuh dan fokus pada bacaannya. Dengan helaan yang cukup panjang, Anin berdiri dan berucap, " Biar aku saja yang ambilkan,"
"Biar kakak saja, kamu di sini saja, temani si cengeng itu!" ketua Aby, beranjak dari tempat duduknya, membuat Celyn menunduk takut.
"Mau kemana Tuan muda?" tanya salah satu bodyguard yang ditugaskan Ardan menjaga Aby dan Anin.
"Mau ambil minum, Om."
"Biar saya aja, Tuan." ujar bodyguard itu dengan sopan.
"Apa, Om tidak keberatan?" tanya Aby, memastikan.
"Itu sudah jadi tugas kami, Tuan muda. Aku ke bawah dulu ya, Tuan?"
__ADS_1
Aby menganggukkan kepalanya, dan kembali lagi kedalam kamar.
"Mana minumnya Kak?" tanya Anin, dengan menatap tangan Aby yang tidak membawa sesuatu.
"Om, Dito yang turun mengambilnya ke bawah," ujar Aby santai dan kembali naik ke atas tepat tidur.
"Anin, di sana kan ada bel, yang bisa kalian tekan untuk menyuruh pembantu jika kalian memerlukan sesuatu, tapi kenapa kalian tidak menggunakannya. Apa kalian tidak tahu cara menggunakannya?" tanya Celyn dengan suara yang sangat pelan.
"Bukan tidak tahu, tapi kata kak Aby, selagi kita masih mampu, jangan menyusahkan orang lain. Kata Kak Aby, ART sudah bekerja seharian, dan malam adalah waktu mereka untuk istirahat, jadi tidak etis lagi kalau kita menggangu istirahat mereka hanya untuk hal yang bahkan anak kecil bisa lakukan. Kata kak Aby mereka itu juga manusia juga bukan robot." terang Anin, yang membuat Celyn mangut-mangut, mengerti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rombongan Bagas sudah tiba dikediaman Clara yang sederhana. Dan alangkah kagetnya Nining ketika melihat siapa yang datang.
"Gayatri? kamu Gayatri kan?" pekik Nining dengan binar bahagia.
Gayatri tidak kalah kagetnya, melihat sosok yang akan jadi besannya. "Nining? ini kamu?" Gayatri yang memang tidak bisa kalem, langsung bersorak dan langsung memelukku Nining.
"Wah ternyata kita sebentar lagi akan besanan, ya?" ucap Gayatri masih dengan kehebohannya.
Bagas dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala, melihat kehebohan dua sahabat yang baru saja bertemu itu.
"Jangan bilang kalau kamu ini,Nak Tyo! " Nining mengalihkan tatapannya pada Bagas, menuntut penjelasan.
"Iya, Tante aku Tyo. Maaf kemarin aku tidak langsung mengakuinya, karena ingin memberikan kejutan buat Tante dan Clara. Karena sejujurnya aku sendiri baru tahu, kalau Clara itu Ara, setelah melihat Tante tadi malam." jelas Bagas.
"Jadi Ara belum tahu kalau kamu ini Tyo?"
Bagas menganggukkan kepalanya sebagai jawaban buat Nining.
"Oh ya, mana menantuku?" tanya, Gayatri sambil mengedarkan matanya.
"Dia masih di dalam kamar. Tadi aku bilang dia boleh keluar kalau aku memanggilnya."jawab Nining masih dengan senyuman yang tidak tertanggal dari bibirnya.
__ADS_1
"Yuda, tolong kamu panggilkan kakak kamu!" titah Nining.
Yuda yang sedang asik bercengkrama dengan Ardan dan Rio, menganggukkan kepalanya, kemudian pamit pada atasnya itu.
Lima menit kemudian tampak Yuda datang bersama Clara yang tampil cantik Dengan makeup tipisnya, membuat tatapan Bagas tidak pernah lepas dari gadis itu.
Clara menjadi salah tingkah melihat tatapan Bagas yang menatapnya dengan intens.
Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya acara lamaranpun dimulai. Setelah papanya selesai bicara, kini giliran Bagas untuk berbicara.
"Tante, maksud dan tujuan saya datang ke sini ingin meminta izin kepada Tante untuk melamar putri Tante , Clara. Menjadikannya sebagai seorang istri saya. Saya berjanji akan membahagiakan dia dan memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya. Saya ingin menyampaikan ketulusan hati saya, bahwa saya akan mencintai Clara dengan tulus." Ujar Bagas dengan tulus, hingga membuat manik mata Gayatri dan Nining sudah berembun karena sudah dipenuhi oleh cairan bening yang sudah siap ditumpahkan dari wadahnya.
Setelah selesai mengucapkan keinginannya pada Gayatri, Bagas mengalihkan tatapannya pada gadis pujaannya. "Ara, aku percaya, takdir Tuhan itu sangat nyata dan adil sehingga kita berdua bisa dipertemukan lagi, setelah terpisah bertahun-tahun. Kamulah alasanku selama ini tidak menikah. Dulu kamu memberikan aku hadiah gelang ini sebagai kenang-kenangan, dan aku sama sekali tidak mempersiapkan apa-apa. Sekarang, aku ingin memberikan ini padamu, bukan sebagai kenang-kenangan, tapi sebagai hadiah untuk menebus kesalahanku, yang terlalu lama membiarkanmu menungguku. Sekarang aku datang untuk memenuhi janjiku dulu untuk menikahimu kalau kita sudah dewasa nantinya." ujar Bagas memberikan hadiah gelang berlian yang sangat indah dan mewah. Siapapun tahu kalau harga gelang itu sangat fantastis.
Clara menatap nanar pada gelang manik-manik yang pernah dia hadiahkan pada seseorang di masa kecilnya. Dari gelang itu, dia menatap ke arah Bagas yang tersenyum tulus padanya.
"K-Kak Tyo? ka- kamu kak Tyo?" ucap Clara gugup dan seperti sulit untuk percaya kalau kalau yang terjadi sekarang adalah nyata. Clara bahkan sampai menepuk pipinya sendiri dengan keras, untuk memastikan kalau ini hanya mimpi atau tidak, hingga membuat Bagas merasa gemas, dan yang lainnya tertawa .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara lamaran kini sudah selesai dengan lancar, dan tentu saja lamaran Bagas diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Clara.
Sekarang duduk mereka sudah terpisah dengan orangtuanya Bagas dan mamanya Clara.
"Ara, ternyata penantianku terjawab sudah. Asal kamu tahu aku sudah lama mencarimu kemana-kemana." ucap Bagas, dengan menyunggingkan senyum lebarnya.
"Masa sih? buktinya kamu sudah pernah menikah." bibir Clara mengerucut merasa kesal, mengingat kalau dirinya bukanlah wanita yang menjadi istri pertama Bagas.
"Kamu kan sudah tahu ceritanya bagaimana? asal kamu tahu, bahkan setelah bercerai aku masih terus berharap bisa menemukanmu, dan tidak membuka hatiku pada wanita manapun."
"Bohong itu, dia pernah hampir saja ingin mendekati Amanda, sampai beli-beli tas segala. Iya kan, Dan?" celetuk Rio tiba-tiba.
Semua mata sontak menatap Rio dengan tatapan horor kecuali Clara yang menatap horor pada Bagas.
__ADS_1
Tbc
Please goyangin jempolnya banyak-banyak dong gais. Jangan lupa buat vote dan komen juga. Thank you