Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
meledek Rio.


__ADS_3

"Ardaaannnn! Aku sudah mengetahui siapa wanita itu!" teriak seseorang yang muncul dengan hebohnya.


Ke-empat orang yang sedang saling berpelukan itu, sontak menoleh ke arah datangnya suara. Tampak Rio yang berdiri dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Yang jelas dia kaget melihat ke-empat orang itu, sedang berpelukan dan yang paling membuat dia heran, wajah ke empat orang itu, basah.


Seandainya, Rio punya sedikit saja nyali, ingin rasanya dia merekam momen langka ini, dimana dia bisa melihat, Ardan dan Rudi menangis. Bukan hanya Rio, Jasmine yang juga berdiri di sampingnya, juga bergeming dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca.


"Apa aku benar-benar sudah terlambat?" batin Rio dengan wajah yang tiba-tiba sendu, merasa sangat bersalah.


" Maafin aku, Dan! Maaf! seandainya aku tidak terlambat, hal ini pasti bakalan tidak terjadi!" lirih, Rio dengan mimik yang terlihat sangat sedih.


Ardan dan yang lainnya, mengrenyitkan kening, merasa bingung dengan ucapan Rio yang 'ambigu'.


"Maksud kamu apa, Yo?" tanya Ardan.


"Seandainya aku cepat menyampaikan informasi kalau wanita yang kamu cari adalah Amanda, dan kedua anaknya adalah anakmu, mungkin kamu bisa, cepat melakukan pemeriksaan, sum-sum tulang belakangmu cocok atau tidak. Sehingga Anin tidak cepat meninggalkan kita begini." terang Rio, yang membuat Ardan terkesiap kaget.


"Apa?! Anin meninggal?" pekik Ardan sambil mengguncang-guncang bahu, Rio.


"Lho, kok kamu malah nanya aku? kalian semua menangis, bukannya karena, Anin meninggal? atau gimana sih? kok aku jadi bingung gini? apa aku salah paham ya?" Rio menggaruk-garuk kepalanya, yang tidak gatal sama sekali. Sedangkan, raut wajah Ardan berubah merah, dengan tangan yang mengepal, menahan kesal.


"Riooooo! kamu ...." Ardan mengayunkan kedua tangannya dengan gerakan ingin mencekik.


"Ini ada apa sih? kenapa kamu marah? aku salah ya?" Rio masih dengan ekspresi wajah tak bersalahnya.


"Oh ya, nanti dulu kamu jelaskan apa yang terjadi. Karena yang aku akan informasikan ini, lebih penting. Kamu tahu gak, wanita yang kamu cari 7 tahun yang lalu itu, Amanda dan kedua anaknya adalah anakmu," Rio kembali menjelaskan dengan lugas, karena merasa kalau Ardan tidak terlalu fokus mendengar penjelasan awalnya.


"Udah? itu saja?" tanggapan Ardan sama sekali di luar ekspektasi yang dipikirkan oleh Rio sebelumnya. Rio berpikir, kalau Ardan akan memberikan ekspresi kaget level tinggi, dengan mata yang membola, mulut yang menganga. Tapi lihatlah, Ardan justru terlihat sangat tenang.


"Kamu Nggak kaget, Dan?" tanya Rio dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Kamu telat,Yo! aku sudah tahu semuanya dari Aby." sahut Ardan.


"What?! Aby?" Rio sontak memekik seraya mengalihkan tatapannya ke arah Aby yang menatapnya dengan tajam.


" Kok bisa?" imbuh Rio kembali.


"Jawabannya hanya satu, Om! aku lebih cerdas dari, Om Rio." Sahut Aby, yang kembali ke sikap awal. Dingin dan misterius.


"Sial! mulai lagi anak ini. Kayanya nih anak ngajak perang terus deh," umpat Rio, yang hanya bisa dia lontarkan di dalam hati.


Karena raut wajah Rio masih terlihat bingung, akhirnya Ardan pun menceritakan kembali semua, yang sudah diceritakan Aby. Sambil menunjukkan bukti-bukti yang Aby kumpulkan. Dan Rio hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari raut wajahnya, tidak bisa berbohong kalau dia sangat terpukau dengan kecerdasan yang dimiliki oleh Aby.


"Kenapa aku tidak sampai kepikiran untuk melihat rekaman di lobby ya?" Rio menyesali kebodohannya sendiri.


"Itu karena kamu kurang cerdas," jawab Ardan asal.


"Tidak apa-apa, Om! kalau Om malu sama anak-anak, anggap saja aku sudah dewasa.Atau anggap saja kalau aku patung di sini. Lagian tidak perlu malu,Om untuk mengakuinya.Justru lebih malu, kalau tidak cerdas, tapi mengaku cerdas." celetuk Aby yang wajahnya terlihat santai.


Rio, menerbitkan senyum terpaksa, menahan geram. "Bisa aja kamu, By, bercandanya." ujar Rio.


"Aku serius,Om. Tidak bercanda! Apa wajahku terlihat bercanda?" Aby mengangkat keningnya ke atas.


"Arghhhh! Gimana mau bisa membedakan kamu lagi bercanda atau tidak? ekspresi bercanda sama serius di wajahmu sama saja, tetap lempeng kaya jalan tol." umpat Rio, kesal. Kemudian Rio mengalihkan tatapannya kembali ke arah, Ardan. "Kamu juga, kurang cerdas, Dan! pemikiran kamu juga gak nyampe ke arah sana kan?" tukas Rio, tidak mau diledekin sendiri.


"Jelas beda! aku pada saat itu sedang kalut, jadi tidak bisa berpikir 'rasional'." sanggah Ardan, tidak mau disamakan.


" Sudah-sudah! kalian berdua sama-sama kurang cerdas. Hanya cucuku ini yang cerdas!" Celetuk, Rudi menengahi perdebatan antara Ardan dan Rio.


"Dia putraku Pa! makanya dia bisa cerdas." ucap Ardan tidak terima.

__ADS_1


"Kamu salah! justru karena aku lah kakeknya makanya dia bisa cerdas,"


"Mana bisa seperti itu? dia___"


"Cukup!" bentak Amara, membuat ketiga laki-laki yang katanya sudah dewasa itu terdiam.


Keheningan terjeda, untuk sepersekian detik. Detik berikutnya, Ardan mengalihkan perhatiannya pada, Jasmine yang dari tadi hanya bungkam.


"Jasmine, dulu kamu beralasan menerima perjodohan kita, hanya karena ibu Amanda, sakit. Apa itu benar, atau hanya alibimu saja?"


Jasmine tidak langsung menjawab. Dia memilih untuk menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya kembali ke udara dengan sekali hentakan.


"Sebenarnya, itu hanya alibiku saja. Saat kamu dan Rio datang ke tempat kami bekerja, ketika kamu melihat wajah Amanda yang pucat, Amanda tengah hamil, dan dia lebih memilih untuk mempertahankan kandungannya, karena dia merasa, kalau janin yang dikandungnya tidak berdosa. Aku, menghargai keputusannya. Tapi aku tahu, kalau dia masih bekerja di perusahaan tempat kami bekerja, suatu saat perutnya akan membuncit, makanya aku meminta uang pada papa, agar aku bisa memberikannya pada Manda, dengan tujuan supaya dia membuka usaha sendiri. Tapi ternyata, banyak pesaing Amanda yang iri melihat usahanya berkembang. Pesaingnya melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan Amanda.Usaha yang dibangun Amandapun hancur. Karena dia tidak mau menyusahkan ku lagi, dia akhirnya pindah tanpa memberitahukanku dimana keberadaannya. Ternyata selama ini, dia ada di Bekasi dan aku rasa kamu pun sudah tahu, apa yang dia lakukan untuk bertahan hidup." papar Jasmine panjang lebar tanpa mengambil jeda sama sekali.


Air muka Ardan sontak berubah sedih, mendengar penuturan Jasmine. Dia tidak bisa membayangkan, beratnya beban yang dipikul oleh Amanda. Mulai dari beban hati, Sampai dengan beban hidup.


"Tapi aku tidak habis pikir, kenapa dia tidak mencariku dan tidak meminta pertanggungjawaban? kenapa dia memilih pergi di saat aku masih tidur?"


"Karena dia merasa malu. Dia bahkan tidak berani melihat wajahmu sama sekali, saat kamu masih tertidur dengan posisi memunggunginya. Dia merasa, justru dia lah yang bersalah dalam hal ini." jawab Jasmine, lugas.


"Sudah ... sudah! sekarang itu, jadwal kemonya Anin. Baiknya kita ke rumah sakit sekarang. Dan kamu, Sayang, segera periksakan kecocokan tulang sum-sum belakangmu dengan Anin! Agar putrimu itu bisa cepat sembuh." pungkas Amara, mengakhiri pembicaraan.


Tidak ada yang membantah perkataan, Amara. Mereka semua berdiri, lalu melangkah keluar, untuk bersama-sama menuju rumah sakit.


"Pah, bawa ini! ini bisa papa jadikan bukti juga, jika sekiranya mama meragukanmu nanti." Aby meletakkan secarik kertas yang ternyata kertas yang bertuliskan kata 'maaf' yang pernah ditinggalkan oleh Amanda dulu.


"Maaf, Pah! aku telah mengambilnya diam-diam dari dalam laci nakas, di kamarmu." sambung Aby, menjelaskan lagi, begitu melihat tampang kebingungan dari papanya itu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2