
Anin kini dibawa kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan intensif, untuk mengetahui adakah pengaruh buruk yang terjadi pada proses pemulihan Anin, akibat dari insiden penculikan yang dilakukan oleh Lora.
Dokter Ridwan yang sudah pulang, diharuskan untuk datang segera ke rumah sakit dan harus sudah ada di rumah sakit sebelum Ardan yang membawa Anin, tiba di rumah sakit. Tapi sebelumnya, Ardan tidak lupa mengabari Amanda kalau Anin sudah ada padanya dan dalam keadaan baik-baik saja.
Sekitar 30 menit berselang, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Rio, yang membawa Ardan dan Anin, tiba di rumah sakit. Dokter Ridwan dengan dibantu oleh beberapa perawat dengan sigap menyambut dan langsung membaringkan Anin di atas brankar, kemudian mendorong ke ruang pemeriksaan.
Ardan tidak dipersilahkan untuk masuk, dan disuruh untuk menunggu di luar. Dari arah sebelah kiri, terdengar suara benturan sepatu yang beradu dengan lantai dengan cepat, pertanda sang pemilik sepatu itu sedang berlari.
"Bagaimana keadaan Anin, Mas?" ya, yang sedang berlari ternyata Lora bersama Aby. Raut wajah keduanya tampak rasa panik yang besar, walaupun Ardan berkata kalau Anin baik-baik saja.
"Kamu tenang saja dulu, Dokter Ridwan masih memeriksanya. Kita tunggu hasilnya sebentar lagi, dan aku yakin kalau Anin pasti baik-baik saja." Sahut Ardan, menenangkan hati Amanda.
Di saat bersamaan muncul Rudi dan Amara yang menyusul Amanda dan Aby. Rahang Rudi terlihat mengeras dan menghampiri Ardan, putranya. Tangannya terayun hendak memberikan pukulan pada putranya itu.
"Stop! jangan pukul aku, Pah!" tangan Rudi seketika berhenti di udara dan turun setelah mendengar ucapan Ardan yang datar tapi tidak bisa menutupi ketegasannya.
"Kenapa kamu tidak kasih tahu papa, masalah ini, Hah?!" tanya Rudi menuntut penjelasan.
"Maaf, itu karena aku tahu kalau jantung papa tidak sehat. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Papa," sahut Ardan yang membuat Rudi bungkam sekaligus terharu.
__ADS_1
Di saat bersamaan tiba-tiba pintu ruangan di mana Anin diperiksa, terbuka. Perhatian semua orang segera teralih ke arah pintu yang terbuka. Ardan, Amanda dan yang lainnya segera berlari ke arah Dokter Ridwan.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok? dia baik-baik saja kan? tidak ada sesuatu yang buruk terjadi kan?" cecar Ardan secara beruntun, tanpa memberikan kesempatan buat Dokter Ridwan untuk menjawab.
Dokter Ridwan menghela napasnya, lalu menerbitkan seulas senyum di bibirnya.
"Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada Anin, Pak Ardan. Aura positif dari Anin, membuat dia kuat dan kebetulan, Pak Ardan juga tidak mengabaikan kewajiban untuk mengkonsumsi obat tepat waktu," jelas Dokter Ridwan, lugas dan detail.
Semua orang yang mendengar, khususnya Ardan, Amanda dan Aby , bernapas lega mendengar penuturan Dokter Ridwan. Bahkan Ardan, langsung mengangkat Aby ke dalam gendongannya dan mendaratkan ciuman yang bertubi- tubi, ke pipi putranya itu.
"Terima kasih, Nak! kamu adalah pahlawannya sekarang. Tanpa kamu, papa tidak tahu lagi apa yang bisa saja terjadi pada adikmu," ucap Ardan tulus, hingga manik matanya berkilat-kilat akibat cairan bening yang sudah mulai memenuhi manik matanya itu.
"Turun harga diri?" desis Ardan bingung, tapi tetap menurunkan tubuh putranya itu.
"Iyalah! Aby sudah besar dan seorang laki-laki, jadi jangan gendong atau ciumi Aby di depan orang-orang." Sahut Aby dengan wajah datar, yang membuat semua orang tergelak.
Setelah gelak tawa mereda, Ardan mengalihkan perhatiannya ke arah Dokter Ridwan.
"Dok, aku mau Anin melakukan proses pemulihannya di rumah saja. Di rumah ada banyak kamar, aku akan sediakan khusus satu kamar buat Anin. Dan aku juga akan mensterilkan kamar itu, sama persis dengan ruangan rumah sakit. Segala peralatan medis juga, tolong dipindahkan juga ke kamar Anin nantinya. Dokter tenang saja, aku akan pastikan, siapa pun yang masuk ke kamar Anin, prosedurnya akan tetap sama seperti di rumah sakit. Dan anda, bisa datang ke rumah untuk melakukan pemeriksaan," titah Ardan, tegas tak terbantahkan.
__ADS_1
Dokter Ridwan, menghela napasnya, dengan sekali hentakan. Untuk membatah perintah Ardan juga akan sia-sia. Pria dingin itu, pasti tidak akan mau mendengar. Jadi, biarlah dia merasakan lelah, bolak -balik rumah sakit dan ke kediaman Ardan nanti. Itu lebih baik, daripada membantah perintah, putra pemilik rumah sakit itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jenazah Lora, baru saja tiba di kediaman Radit dan sudah dilakukan persiapan di sana untuk menyambut jenazah wanita itu, setah sebelumnya sudah dikonfirmasi terlebih dahulu oleh polisi.
Radit menatap sendu tubuh yang terbujur kaku di depannya. Wajah Lora, yang seperti menyimpan banyak duka dan kesakitan, tergambar jelas di wajah wanita yang sudah tiada itu. Entah kenapa, ada rasa sedih dan rasa kehilangan yang besar, begitu melihat wajah Lora yang pergi tanpa senyuman itu.
Sebelum Jenazah Lora tiba, Radit selaku suami Lora, dari tadi sudah cukup puas, kena Omelan sang mama. Karena tidak bisa dipungkiri, kalau Lora selama ini sudah menjadi menantu yang baik, buat wanita yang telah melahirkannya itu.
"Lihatlah! ini semua karena kamu, coba sekali saja kamu membuka hati dan menerima Lora sebagai istrimu, pasti dia tidak akan sefrustasi ini dan iri pada, Amanda. Kamu tahu tidak, dia itu jadi egois begini gara-gara kamu. Dia sudah berusaha bertahun-tahun jadi istri yang baik, mencintai kamu dengan tulus, tapi sedikitpun tidak kamu hargai! " itulah secuil dari omelan mamanya yang disertai dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Masih banyak lagi kata-kata mamanya, yang bagi orang lain, bisa memekakkan telinga. Tapi bagi Radit, sangat menyakitkan.
Tangisan mamanya dari tadi tetap membuat Radit bergeming. Jauh di dalam lubuk hatinya, ingin rasanya Radit berlari, merengkuh tubuh kaku, berwajah pucat dan muram itu, dan meminta maaf, tapi tubuhnya seakan sulit untuk digerakkan.Hanya tatapan matanya yang bisa dideskripsikan oleh para pelayat, kalau pria itu tengah sedih.
"Apa yang sudah aku lakukan? kenapa aku tidak bisa membuka hatiku selama ini? dan perasaan apa ini? kenapa hatiku merasa sangat sakit kehilangan dia?" Radit membatin dengan tatapan yang kosong serta berkali-kali menyeka buliran cairan bening yang menetes dari sudut matanya.
Di antara para pelayat, tampak Jasmine bersama Rio, datang melihat Lora untuk yang terakhir kalinya. Bagaimanapun juga, Lora sempat menjadi sahabat yang baik buatnya.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen dong gais. Kasih hadiah juga diterima kok😁😁