Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Ciuman pertama


__ADS_3

Adrian duduk dengan kaki yang berselonjor. Dia memandang luasnya lautan setelah tadi berteriak sekencang-kencangnya, untuk melepaskan beban di pikirannya.


"Tuan, Adrian! jangan duduk di sana! anda bisa terjatuh nanti!" pekik seseorang, yang suaranya sangat dikenal oleh pemuda berusia 18 tahun itu.


Adrian sontak berdiri dan melihat ke belakang dan dia melihat gadis yang baru saja menolak cintanya itu, setengah berlari ke arahnya. Ya, setelah kepergiannya tadi, Rico langsung menghubungi Reyna, dan memberitahukan apa yang terjadi. Reyna dengan sigap langsung beranjak dari atas kasurnya. Dia tahu, kalau Adrian pasti pergi ke pantai Ancol dan duduk di batu tempat dia sering, merenung bila merasa penat.


"Mau ngapain kamu ke sini? pergi, gak usah peduliin aku!" seru Adrian, menatap tajam ke arah Reyna.


"Please jangan seperti ini, Tuan! ingat orang-orang yang menyayangimu!" seru Reyna memohon.


"Kalau kamu mengatakan, kalau kamu menyayangiku, bahkan mencintaiku, baru aku akan tidak begini."


Reyna bergeming merasa disudutkan di antara dua pilihan.


"Tuan, jangan seperti ini! jika aku mengatakan kalau aku mencintai anda, hanya karena supaya anda tidak melakukan hal bodoh seperti itu, bukan karena tulus mencintaimu, apa Tuan mau?"


Gantian Adrian yang terdiam. Dia merasa kalau seandainya seperti yang dikatakan Reyna, akan terasa lebih sakit nantinya.


"Hmmm, sudahlah! kamu pulang saja! lagian aku gak mungkin melakukan hal yang merugikanku. Aku tidak bodoh! Aku hanya mau menenangkan diri di sini."


"Tapi, Tuan, nanti kalau anda kebanyakan termenung, bisa kesambet lho. Kita pulang sama-sama aja ya, " Reyna masih berusaha untuk mengajak Adrian untuk pulang bersamanya.


Adrian tidak menggubris ajakan Reyna sama sekali. Justru dia kembali membalikkan tubuhnya, membelakangi Reyna serta duduk kembali. Reyna mengembuskan napas dengan cukup panjang, dan melangkah mendekat ke arah Adrian. Dia pun akhirnya memutuskan untuk duduk di samping pria itu, dan ikut menyaksikan hamparan laut yang luas.

__ADS_1


"Reyna, aku mau tanya, apa kurangnya aku, sehingga kamu tidak mau menerima cintaku?" tanya Adrian dengan lirih sambil menatap Reyna.


Reyna terdiam sejenak. menoleh ke samping, dan saling tatap dengan Adrian. Reyna dengan sigap mengalihkan tatapannya, dan pura-pura kembali untuk melihat lautan di depannya.


"Tuan tidak ada kekurangan apapun! tapi --"


"Tapi apa? asal kamu tahu, aku sudah berusaha untuk berlatih ilmu beladiri, kamu tahu kenapa?" Reyna menggelengkan kepalanya, tidak tahu.


"Itu karena aku ingin bisa melindungimu, bukan kamu yang melindungiku. Walaupun aku akui, kemampuanku, belum sehebat dirimu." jelas Adrian dengan wajah sendu dan lirih.


"Tapi rasanya semua seperti sia-sia. Kamu sedikitpun tidak mencintaiku, kamu bahkan tidak mau mengubah panggilanmu, walaupun aku sudah berulangkali memintanya." imbuh Adrian kembali menatap hamparan air di depannya.


"Maaf, Tuan! tidak ada yang namanya sia-sia. Suatu saat itu pasti akan berguna untuk melindungi diri sendiri, dan melindungi wanita yang anda cintai kelak."


"Tapi sepertinya aku tidak akan mencintai gadis lain lagi, selain kamu. Dulu aku pernah menyukai Kak Celyn, sebelum menikah dengan Kak Aby. Tapi perasaanku tidak sesakit ini, pada saat itu. Hari ini, ketika kamu menolakku, rasanya sangat sakit, sampai aku merasa tidak ingin hidup lagi," terang Adrian seraya mengembuskan napasnya.


"Mudah-mudahan apa yang kamu ucapkan, benar. Walaupun aku tidak yakin dengan hal itu. Karena semua laki-laki di keluarga kami, sekalinya mencintai seorang wanita, akan susah membuka hati untuk wanita lainnya." ucap Adrian sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kamu pulang saja! kamu tenang saja, aku pasti pulang nanti. sambung Adrian yang sudah mulai bisa tenang.


"Hmm, bagaimana kalau kita pulang sama-sama aja Tuan? tadi aku ke sini menggunakan taksi. Anda tahu sendiri, susah untuk mendapatkan taksi di tempat ini, apalagi di jam segini." ucap Reyna dengan memelas.


"Ya udah, ayo pulang!" Adrian berdiri, mengulurkan tangannya, hendak membantu Reyna berdiri. Akan tetapi Reyna tidak langsung menyambut uluran tangan pemuda itu. Dia justru bergeming menatap tangan Adrian.

__ADS_1


"Apa untuk, menyambut uluran tanganku kamu juga tidak sudi?" sindir Adrian dengan nada yang sangat dingin.


"Bu-bukan seperti itu." dengan tangan bergetar, Reyna meletakkan tangannya ke telapak tangan Adrian. Pria itu pun menggenggam dengan erat lalu menarik Reyna untuk berdiri.


Setelah Reyna berdiri dengan sempurna, Adrian melepaskan genggamannya dan memasukkan tangan itu ke saku jaketnya. Kemudian, dia melangkah mendahului Reyna, yang juga langsung, mengekor dari belakang.


Mereka kini sudah tiba di mana Adrian memarkirkan mobilnya. Adrian membuka pintu mobil itu, dan memutar tubuhnya hendak mempersilahkan Reyna masuk. Akan tetapi, Reyna yang berjalan sembari menundukkan wajahnya, tidak menyadari akan hal itu. Dia tiba-tiba menabrak tubuh Adrian. Adrian hampir jatuh ke belakang, demikian juga dengan Reyna yang hampir terjungkal ke belakang. Beruntungnya, Adrian dengan sigap menarik tangan Reyna dan dia langsung merangkul pinggang gadis itu, hingga mereka sama-sama terjatuh dengan tubuh Reyna yang menimpa tubuh Adrian.


"Mata mereka seketika saling memandang untuk sepersekian detik, dengan jantung yang berdetak lebih kencang.


Benda kenyal berwarna merah chery, yang memiliki belahan itu, seakan menghipnotis Adrian dan ingin mendaratkan bibirnya di sana.


Adrian mendekatkan bibirnya dan tanpa bisa dihindari bibir itu kini sudah menempel di bibir Reyna. Kedua netra Reyna membesar dengan sempurna, kaget dengan apa yang dilakukan oleh Adrian. Reyna ingin sekali bangkit dari atas tubuh Adrian, akan tetapi, gestur tubuhnya seakan menerima apa yang dilakukan oleh Adrian.


Untuk sesaat, mereka berdua, terhanyut dalam ciuman yang cukup panjang, yang walaupun sedikit kaku tapi, tidak bisa dikatakan buruk juga.


Tiba-tiba, Reyna seketika tersadar. Dia langsung meronta dan bangkit dari atas tubuh Adrian. Tanpa sadar dia mengayunkan tangannya, memukul wajah Adrian dengan kencang, sehingga sudut bibir pria itu mengeluarkan darah.


"Kenapa kamu memukulku? bukannya kamu juga sangat menikmatinya tadi?" ucap Adrian sembari duduk dan menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Arghhh!" Reyna berkali-kali mengusap bibirnya, untuk menghilangkan bekas ciuman Adrian.


"Sepertinya ini, ciuman pertamamu. Terlihat dari caramu yang kaku. Itu berarti pria yang kamu katakan kekasihmu itu, sama sekali belum pernah menciummu. Itu berarti aku lebih beruntung dari pacarmu itu," ucap Adrian dengan kekehan di mulutnya.

__ADS_1


Reyna sangat kesal, ketika mendengar ucapan Adrian. Tanpa sadar, dia kembali akan melayangkan pukulannya. Akan tetapi, tangan Adrian dengan sigap menangkap tangan itu, dan menarik Reyna ke dalam pelukannya.


Tbc


__ADS_2