Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kamu harus menikahiku!


__ADS_3

"Laki-laki itu adalah 'aku'." tegas Ardan.


Amanda sontak mundur, dengan mulut yang terbuka, dan netra yang membesar. Bahkan untuk menggenggam secarik kertas itu pun rasanya, Amanda sudah tidak memiliki tenaga. Kepala Amanda pun dari tadi tidak berhenti menggeleng dan cairan bening, tanpa izin menerobos tembok dan berhasil keluar dari kedua mata Amanda.


"B-b- bagaimana mungkin? nggak ... ini gak mungkin!" Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya,tidak percaya.


"Apanya yang tidak mungkin? kamu pikir aku membohongimu? aku benar-benar papa dari Aby dan Anin." tegas Ardan.


"Tidak! aku tidak percaya. Kamu pasti lagi mengajak aku untuk bercanda kan? kamu lagi berusaha menghiburku kan? kamu kasihan padaku, dan untuk itulah kamu berkata seperti itu, agar aku terhibur. Tapi, maaf! candaanmu benar-benar nggak lucu, Mas." Amanda masih tetap menggelengkan kepalanya.


Ardan mengepalkan tangannya, dan menggeram dalam hati.


"Apa wajahku terlihat sedang bercanda, Amanda? apa untuk hal seperti ini, sesuai untuk dibuat sebagai candaan? tahu nggak kamu, dengan kamu mengatakan kalau aku sedang bercanda secara tidak langsung kamu sudah menuduhku sebagai manusia yang tidak punya hati. Dan bukannya tulisan yang tertera di kertas itu tulisan kamu? bagaimana bisa kamu masih menuduhku sedang bercanda?" Ardan memberondong Amanda dengan pertanyaan yang beruntun, membuat Amanda, menangis, sembari menutup kedua telinganya seraya berdiri hendak beranjak pergi. Akan tetapi tangan Ardan dengan sigap menarik tangan Amanda agar duduk kembali.


"Mau pergi kemana? kamu mau kabur lagi? sudah tidak bisa!" tatapan tajam dari manik mata Ardan, membuat Amanda sedikit gemetaran dan menundukkan kepalanya.


"Kamu lihat? bukankah ini kamu, ketika kamu masuk ke dalam kamarku? dan kamu bisa lihat, ketika itu Rio baru saja keluar dari sana." Ardan menunjukkan bukti rekaman CCTV yang ada di ponselnya.


Amanda, bergeming tidak mampu lagi untuk menyangkal. Karena memang benar, yang dia lihat di video rekaman itu adalah dirinya. Tiba-tiba ada perasaan takut yang muncul dalam hatinya, perasaan takut kalau Ardan murka padanya tentang kejadian masa lalu. Takut kalau Ardan, malah mengambil kedua anaknya darinya.


"M-mas Ardan, m-maaf ... maaf hari itu aku tidak sengaja. Aku hari itu dalam kondisi __"


"Dijebak?" Ardan menyela ucapan Amanda yang sepertinya sangat sulit untuk berbicara.


"B-bagaimana, Mas bisa tahu?" kening Amanda mengkrenyit, bingung.


"Aku, aku tahu segalanya! kenapa kamu memilih diam sewaktu aku tanya siapa papa Aby dan Anin? kenapa kamu tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi? seandainya kamu bercerita, mungkin Anin sudah sembuh sekarang." cecar Ardan, beruntun. Membuat Amanda sedikit merasa takut.


"Ma-maaf! Aku hanya merasa takut!"Amanda menundukkan wajahnya.


"Apa yang kamu takutkan? jelaskan!" suara Ardan terkesan sangat lembut, tapi bagi Amanda tetap saja, ada aura mengintimidasi yang terselip di dalam ucapan itu.


"A-aku takut, kalau kalian semua menganggapku, wanita murahan dan memecatku dari perusahaan."


Ardan menghela napasnya dengan sekali hentakan "bagaimana mungkin kamu bisa berpikir sejauh itu? apa kamu meragukan kebaikan keluarga Bagaskara?" tanya Ardan yang menyesali, pemikiran Amanda.

__ADS_1


"M-maaf!" Amanda tetap tidak berani mengangkat wajahnya.


"Apa kamu tidak bisa lagi mengucapkan kata lain selain kata maaf?" Ardan mulai meninggikan suaranya, sehingga membuat Amanda terjengkit kaget dan mulai menangis kembali, terisak-isak.


Ardan, membuang napasnya ke udara, lalu menarik Amanda ke dalam dekapannya dan memeluk tubuh Amanda dengan erat.


"Maaf! aku tidak bermaksud membentakmu. Hanya aku sedikit kesal, melihat kamu meragukan keluargaku." ujar Ardan seraya berkali-kali, meninggalkan kecupan di puncak kepala Amanda.


"Sekarang kamu tenang saja, Anin akan sembuh. Minggu depan transplantasi sumsum tulang belakangnya akan bisa dilakukan." jelas Ardan kembali, menenangkan Amanda.


Amanda melerai pelukan Ardan dan kali ini dia memberanikan diri untuk menatap laki-laki itu.


"Apa nanti setelah Anin sembuh, kamu akan mengambil mereka dariku? please jangan ambil mereka. Hanya mereka harta yang ku punya sekarang." Amanda memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di depan wajah Ardan.


"Aku tidak akan mengambil mereka darimu? Tapi, bukan berarti aku membiarkanmu pergi begitu saja." ucap Ardan.


"Kamu tenang saja! aku tidak akan pergi kemana-mana.Seandainya aku harus pindah dari paviliun belakang rumahmu, aku pastikan kalau aku akan tetap berada di Jakarta, dan tetap mengizinkanmu untuk bertemu dengan mereka berdua.Karena bagaimanapun mereka tetap anak-anakmu, dan butuh kasih sayang seorang ayah." ujar Amanda dengan tegas dan yakin.


"Bukannya tadi aku sudah bilang, kalau aku tidak akan membiarkanmu pergi? artinya kamu tidak boleh pergi selangkah pun meninggalkan rumahku. Dan aku juga mau menuntut tanggung jawabmu." ucap Ardan yang terdengar ambigu.


"Apa kamu lupa, kalau 7 tahun lalu, kamu sudah mengambil keperjakaanku, jadi kamu harus tanggung jawab!"


"Heh? kok j-jadi terbalik begini?" raut wajah Amanda benar-benar bingung. Dan sumpah demi apapun, Ardan ingin tertawa melihat raut wajah itu.


"Apa aku harus membayar untuk itu? K-kamu tahu sendiri, kalau aku tidak punya uang."


"Aku tidak kekurangan uang. Jadi aku tidak butuh uangmu."


Amanda semakin dibuat bingung oleh ucapan yang dilontarkan oleh Ardan.


"Jadi kalau kamu tidak butuh uang, mau kamu apa? Lagian, bukankah, kalau laki-laki yang kehilangan keperjakaannya, tidak akan ada yang tahu? Beda dengan kami perempuan.Jadi, menurutku kamu tidak ada kerugian sedikitpun," suara Amanda mulai meninggi, karena kesabarannya mulai hilang.


"Emang tidak ketahuan, tapi bagiku itu sangat berharga. Bagiku, kamu telah meninggalkan noda di tubuhku, jadi kamu harus bertanggung jawab." Ardan tidak mau kalah.


"Kenapa jadi kebalik begini sih? yang ternoda aku kan?" Amanda berbisik pada dirinya sendiri. Wajah Amanda terlihat putus asa dan ingin menangis. Ardan memalingkan tatapannya ke arah lain, agar Amanda tidak bisa melihat wajahnya yang sudah memerah menahan tawa.

__ADS_1


Setelah dia merasa sudah bisa menahan tawanya, Ardan kembali menatap wajah Amanda dengan sorot mata yang tajam.


"Kamu sudah memberikan banyak kerugian padaku Amanda, ingat itu! dan kamu harus bertanggung jawab dengan semua itu."


Kerutan di wajah Amanda semakin bertambah. Sumpah demi apapun, dirinya sekarang benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataan pria kutub di depannya itu.


"Kerugian apa yang kamu maksud? aku benar-benar tidak mengerti."


"Gara-gara kamu, aku banyak menghabiskan waktu untuk mencarimu sampai - sampai aku lupa untuk menikah. Bukankah kamu harus bertanggung jawab dengan itu semua?" Ardan mencondongkan wajahnya mendekat ke wajah Amanda, yang membuat wanita itu, secara refleks memundurkan wajahnya dengan mata yang mengerjap-erjab. Ekspresi Amanda, yang menurutnya sangat menggemaskan, membuat Ardan menelan ludahnya sendiri, dan ingin segera meraup bibir merah milik Amanda yang sedikit terbuka. Rasa manis bibir itu, seketika berkelebat di pikirannya.


Ardan sontak menarik mundur wajahnya, menjauhi wajah Amanda, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali keluar, untuk menghalau gejolak keinginan yang baru saja dia rasakan.


"Itu kan salahmu sendiri,siapa suruh kamu tidak menikah?" gumam Amanda, tapi masih bisa dengan jelas tertangkap oleh telinga Ardan.


"Apa kamu bilang?" Ardan menghunuskan tatapannya ke arah Amanda, yang langsung beringsut takut.


"Ng-nggak ada ... nggak ada!" Amanda mengibas-ngibaskan tangannya di depan Ardan.


"J-jadi kamu mau aku ngapain? tanggung jawab apa yang kamu mau?" tanya Amanda, memecah keheningan yang sempat terjeda di antara mereka berdua.


"Kalau seorang perempuan, yang ternoda biasanya tuntutan apa yang dia minta dari laki-laki yang menodainya?" tanya Ardan.


"Ya, meminta untuk menikahinya?" jawab Amanda dengan polosnya.


"Jadi, sama seperti itu wanita itu, aku mau kamu bertanggung jawab dengan menikahiku juga."


Kedua mata Amanda membesar dengan sempurna mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Amanda.


"Me-menikahimu?"


"Ya, menikahiku! Dan aku mau kamu melamarku segera!" Ucap Ardan sambil beranjak berdiri dan meninggalkan Amanda yang membeku di tempatnya, dengan mulut terbuka.


"A-apa- apaan ini? apa dunia ini benar-benar sudah terbalik? b-bagaimana bisa dia memintaku yang melamarnya? arghhh, dasar gila!" umpat Amanda seraya menghentak-hentakkan kakinya.


Tbc

__ADS_1


Hai, gais! mohon untuk selalu meninggalkan jejaknya dong di karya anak genius ini. Please jangan lupa, untuk selalu tekan like, vote dan komennya. Agar aku tetap semangat nulisnya. Terima kasih ya thanyank -thayangku. Peluk dan cium online dengan love-love di udara buat kalian semua.


__ADS_2