
Ketiga pasangan, Aby dan Celyn, Kenjo dan Anin, serta Calvin dan Cantika sudah mendarat selamat di Bandara international, Soekarno Hatta. Mereka kemudian langsung berpisah dan menuju kediaman masing-masing.
Aby dan Celyn tiba di mansion sore hari dan semuanya menyambut dengan gembira. Yang tidak kalah bahagia adalah Celyn karena dia sangat merindukan si kembar, walaupun hampir tiap malam dia melakukan video call dengan kedua buah hatinya itu.
"Selamat datang kembali, Sayang! apa kamu menikmati bulan madunya?" tanya Amanda sambil memeluk Celyn, menantunya.
"Sangat, Mah. Di sana sangat indah soalnya," sahut Celyn dengan wajah yang sangat berbinar bahagia.
"Gak usah dijelasin, Sayang. Walaupun bulan madu mama sama papa tidak ke sana, tapi mereka berdua sering liburan ke sana." celetuk Aby, yang membuat bola mata Celyn membola.
"Benar, Mah?"
"Hanya beberapa kali. Masa kamu lupa, mama kan ke sana sama mama dan papa kamu." Amanda mengingatkan.
"Oh iya ya? lupa!" Celyn memukul jidatnya.
"Apa tidak ada oleh-oleh buat, mama dan papa?" tanya Amanda lagi.
"Ada dong, Mah. Bukan hanya buat, Mama dan Papa, semua penghuni rumah ini juga Celyn bawain oleh-oleh. Tuh dia oleh-olehnya," Celyn menunjuk ke arah satpam yang menyeret koper besar, yang dibeli khusus buat tempat oleh-oleh ke atas.
Amanda terkekeh melihat koper besar itu. Teringat akan dirinya dulu. Sementara Ardan hanya mengeleng-gelengkan kepala dan menepuk-nepuk pundak Aby putra sulungnya, yang dia yakini, berganti peran jadi kuli panggul seperti dirinya dulu.
"Baby Arick dan Arend gimana, Mah? di mana mereka?" tanya Celyn, tidak sabar melihat si kembar.
"Mereka sedang tidur." sahut Amanda.
"Aku mau lihat mereka dulu,"
"Hei, kamu harus mandi dulu, baru bisa lihat mereka. Kalau tidak, mama akan melarang keras kamu untuk melihatnya." Celyn langsung berhenti melangkah begitu mendengar ultimatum dari Amanda, mama mertuanya dengan bibir yang mengerucut ke depan. Sedangkan Aby langsung terkekeh melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan.
"Iya deh, Mah," sahut Celyn, lemas. Kemudian dia naik ke atas, dan langsung menuju kamarnya.
"Anin dan Kenjo bagaimana? apa mereka baik-baik saja?" tanya Ardan.
__ADS_1
"Mereka baik-baik saja, dan katanya besok mereka akan ke sini." sahut Aby. Ardan dan Amanda mangut-mangut.
"Adrian mana, Pah? apa dia belum pulang?" tanya Aby dengan kening yang berkerut, karena tidak melihat keberadaan adiknya itu dari tadi.
"Dia lagi ada di kamarnya. mempersiapkan segala keperluannya, karena besok dia akan berangkat ke London."
"Ke London? buat apa?" alis Aby bertaut.
"Katanya dia mau melanjutkan kuliahnya di sana. Supaya sama sepertiku dan kamu."
"Tapi, kenapa baru sekarang dia mau? Bukannya kemarin-kemarin dia tidak mau?"
Ardan akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada Adrian. Aby tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya udah deh, Pah. Apapun itu, Aby yakin kalau itu adalah yang terbaik. Sekarang Aby ke atas dulu ya, Pah, Mah. Aku juga mau mandi dan mau melihat si kembar. Aby berlalu pergi dari hadapan kedua orangtuanya dan menyusul Celyn ke atas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Celyn sudah selesai membersihkan tubuhnya dan langsung menuju kamar kedua anaknya.
"Eh, Ibu sudah pulang?" tanya salah satu dari baby sitter itu.
"Sudah, Mbak! Ini oleh-oleh buat kalian berdua. Mudah-mudahan kalian suka ya." Celyn memberikan oleh-oleh pada kedua baby sitter itu, yang langsung menerima dengan wajah yang berbinar.
"Terima kasih, Bu!" ucap keduanya seraya membungkukkan sedikit badan mereka.
"Aku yang terima kasih, sudah mau membantu menjaga si kembar." sahut Celyn dengan tersenyum tulus.
"Itu sudah kewajiban kami, Bu!"
"Oh ya, sekarang bantu Ibu, buat dorong box bayi si kembar ke luar dong. Aku mau bawa mereka langsung ke kamar. Soalnya papanya juga rindu sama mereka." Kedua baby sitter itu mengangguk dan langsung membantu Celyn membawa si kembar ke kamar Aby dan Celyn.
"Sudah, sampai di sini saja! aku yang akan mendorongnya sendiri ke dalam kamar." ucap Celyn mencegah kedua baby sitter itu untuk masuk ke dalam kamar. Dia takut, kalau Aby suaminya sudah selesai mandi dan belum berpakaian.
__ADS_1
"Baik, Bu! sahut keduanya bersamaan.
"Terima kasih ya, Mbak!" ucap Celyn dengan seulas senyuman di bibirnya. Kemudian Celyn mendorong satu persatu box bay si kembar masuk ke dalam kamar. Benar dugaannya, Aby baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan seutas handuk yang melilit di pinggangnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adrian sudah berada di dalam pesawat dan sudah siap untuk berangkat ke London. Semua persiapan kuliah bahkan apartemen untuk tempat dia tinggal di sana juga sudah disiapkan.
Masih teringat jelas di benaknya ketika kakaknya Aby datang ke kamarnya dan menanyakan kembali niatnya, dan dirinya menjawab kalau dirinya sudah benar-benar yakin.
Aby kemudian memberikan dia beberapa nasehat dan dirinya berjanji, akan mengingat semua nasehat yang diberikan oleh kakaknya itu.
Ketika pesawat sudah mulai lepas landas Adrian menatap ke arah luar dari jendela pesawat.
"Selamat tinggal Indonesia, Selamat tinggal Reyna! semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Seperti yang kamu minta, aku akan menghilang dan tidak akan muncul di depanmu lagi," bisik Adrian pada dirinya sendiri.
Tanpa Adrian ketahui, kalau sebenarnya dari ketibaannya di Bandara, sepasang mata Reyna memperhatikannya dari jauh, sembari menitikkan air mata.
"Selamat jalan, Adrian! semoga penerbanganmu selamat sampai tujuan. Maaf kalau perkataanku sudah membuatmu sakit hati. Mudah-mudahan, kamu akan mendapatkan wanita yang sesuai denganmu kelak," batin Reyna, sambil menyeka air matanya.
Setelah Reyna rasa, pesawat Adrian sudah take off, gadis itu memutar tubuhnya hendak pulang. Akan tetapi betapa kagetnya dia begitu melihat ada 3 orang pria bertubuh besar di belakangnya. Dari kancing jas yang dipakai Reyna tahu kalau mereka bertiga adalah body guard dari keluarga Bagaskara.
"Maaf, Nona Reyna. Tuan Ardan menyuruh kami untuk membawa anda padanya. Kami harap anda mau mengikuti kami bertemu dengan beliau.
Reyna mengerutkan keningnya. Bingung kenapa Ardan ingin menemuinya.
"Apa Tuan Ardan tahu kalau aku sudah membuat Adrian patah hati dan dia mau berterima kasih padaku karena telah menolak putranya itu?" berbagai spekulasi bermunculan di benak Reyna.
"Maaf, Bang. Apa kalian tahu, apa tujuan, Tuan Ardan menyuruhku menemuinya? Dan tunggu dulu! bagaimana kalian tahu kalau aku ada di sini?" tanya Reyna, merasa was-was.
"Maaf, Nona Reyna. Masalah tentang Tuan Ardan yang ingin menemui anda, silahkan tanya sendiri pada beliau. Kami hanya melaksanakan tugas." sahut salah satu dari body guard itu, yang bertubuh paling tinggi.
Reyna bergeming, diam sejenak, larut dalam kebingungannya. Akan tetapi, dia tetap menganggukkan kepalanya dan mengikuti ketiga orang body guard itu.
__ADS_1
Tbc