Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Akhirnya


__ADS_3

Sementara Kenjo dan Calvin, berjuang untuk membersihkan kelopak-kelopak mawar dari dalam kolam renang, Anin dan Cantika hanya sibuk memberikan semangat tanpa melakukan apapun.


"Hei, bocil! bisa gak kamu diam saja? Suaramu buat gendang telingaku, hampir pecah tahu, nggak?" suara Calvin, terdengar meninggi karena sangat kesal. Cantika, sontak mengerucutkan bibirnya, mendengar bentakan Calvin.


"Ini lagi, dia yang lamaran, aku jadi ikut susah." Imbuh Calvin, menggerutu.


"Cal, yang bekerja itu tangan, bukan mulut. Sepertinya, karena sering berurusan dengan anak remaja, otak kamu mengalami kemunduran, hingga sikap kamu udah kaya remaja, labil." ledek Kenjo, sarkastik.


"Maaf! aku lagi malas, nanggepin omongan,kamu. aku lagi malas untuk berdebat soalnya. Sekarang, yang terpenting adalah kapan kolam ini bisa bersih?" raut wajah Calvin benar-benar terlihat sangat kesal sekarang.


"Sayang! kamu minun dulu! nanti dilanjut lagi," suara Anin terdengar lembut memanggil, Kenjo.


Calvin sontak menatap Cantika, yang kini juga menatapnya dengan tatapan bingung.


"Apa,Kak? kenapa kamu menatapku seperti itu?"


Calvin menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya kembali ke udara. "Apa kamu tidak lihat, kalau Anin mengambilkan minum buat Kenjo. Tapi, kamu kok masih berdiri saja di sana? apa kamu tidak punya inisiatif buat ngambilin minum juga buatku?" hardik, Calvin kesal.


"Kak Kenjo, kan calon suami, Kak Anin. Lah, Kakak itu, siapanya aku? pacar aja nggak, kok." sahut Cantika, membuat Calvin menggeram.


Kenjo tergelak, sampai air yang dia minum tersembur ke luar, mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Cantika.


"Kamu ... kamu ya, benar-benar ...." Calvin menggantung ucapannya. Dia tidak tidak tahu lagi hendak menjawab apa, karena apa yang diucapkan gadis 17 tahun otw 18 itu, memang benar adanya.


"Sudah , sudah, kalian berdua jangan berantem. Aku juga bawain minum kok buat kamu, Cal." ujar, Anin menengahi perdebatan Cantika dan Calvin.


"Terima kasih, Nin. Harusnya kamu itu jadi calon istriku saja," Calvin menerima gelas berisi minuman dari tangan, Anin.


"Brengsek, kamu!" belum lagi, Calvin meneguk minumannya, Kenjo sudah menarik gelas pemberian Anin dan membuang isinya.

__ADS_1


"Apa-apaan sih, Ken?"


"Siapa suruh, kamu bilang Anin harusnya jadi calon istrimu?" cetus, Kenjo memasang wajah garang.


Cantika, dengan sigap menuangkan, minuman lagi, ke gelas kosong Calvin dan memberikannya pada pria itu.


"Nih, Kak. Sudah aku tuangin lagi."


Calvin yang tadinya ingin membalas ucapan Kenjo, bergeming, menatap ke arah gelas yang ada di tangan Cantika, kemudian beralih ke wajah wanita yang, sekarang tengah memasang senyum termanisnya.


"Terima kasih!" Calvin meraih gelas yang ada di tangan Cantika dan langsung meneguk minuman itu, sampai tandas.


"Kak, Anin. Besok bisa bantuin aku nggak, buat cari gaun?" tanya, Cantika sambil meletakkan gelas kosong bekas Calvin tadi. Sementara itu, Kenjo dan Calvin kembali bekerja, membersihkan kolam.


"Buat acara apa?" tanya Anin.


"Acara ultah teman sekelas, Kak."


"Kamu ke acara itu bareng siapa?" Anin kembali bertanya.


"Sendiri aja. Paling nanti, minta kak Adrian buat nemenin." Calvin sontak menghentikan pekerjaannya, dan menatap tajam ke arah Cantika.


"Kenapa harus ajak Adrian? biar aku aja yang nemenin kamu." cetus Calvin, dengan nada yang sangat dingin.


"Nggak ah. Kakak itu terlalu tua untuk ikut pestanya remaja," tolak Cantika mentah-mentah,membuat Calvin geram.


"Siapa yang kamu sebut tua? jika aku pakai seragam sekolah, wajahku juga masih sesuai."


"Itukan menurut, Kakak. Menurutku sama sekali nggak. Pokoknya aku mending pergi sendiri daripada kakak harus ikut, titik." tegas Cantika, tdak terbantahkan.

__ADS_1


Kenjo dan Anin saling silang pandang, dan sama-sama tersenyum sambil menggelengkan kepala.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Celyn baru saja selesai menyusui baby Arick dan Arend. Kedua bayi itu, tampak tertidur pulas, di dalam box bayi mereka.


Sementara itu, Aby terlihat keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang hanya berbalut seutas handuk di pinggangnya. Tanpa berganti pakaian, dia langsung menghampiri sang istri dan memeluk wanita itu dari belakang.


"Mereka sudah tidur ya, Sayang?" tanya Aby, sambil membenamkan bibirnya di caruk leher sang istri, hingga membuat tubuh Celyn seketika meremang. Apalagi ditambah dengan tangan Aby yang mulai mengelus-elus pundak istrinya itu.


"Sayang, kamu pakai baju dulu, gih! nanti kamu bisa masuk angin," ucap Celyn yang pura-pura tidak tahu dengan apa yang diinginkan Aby suaminya.


"Buat apa, berpakaian lagi, toh nanti juga akan tidak akan berpakaian sama sekali."ucap Aby sambil menyelusupkan tangannya ke dalam gaun tidur yang dipakai istrinya itu, dan meremas bongkahan padat itu dengan lembut, dan bermain-main sejenak di area puncak, menggunakan jarinya, hingga membuat Celyn me*ndesah sambil menggigit bibirnya.


"Aku takut, Sayang," desis Celyn di sela-sela hasratnya yang sudah mulai terpancing.


"Jangan takut! aku akan bermain dengan pelan."Aby memutar tubuh istrinya agar menghadap padanya. Kemudian dia mulai mengikis jarak dan mendaratkan bibirnya dengan sempurna ke atas bibir, wanitanya itu. Aby melu*mat bibir Celyn dengan penuh perasaan. Akan tetapi, ciuman yang penuh perasaan itu, hanya bertahan untuk sepersekian detik. Detik berikutnya, Aby menarik dan menahan kepala Celyn, dan menyerang bibir Celyn dengan ganas sambil melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulut wanita itu.


Aby membelit lidah kemudian meng*hisap bibir Celyn. Kedua tangannya juga kini sudah mulai bergerak, meraba paha wanita itu, dan kembali menyelusupkan tangannya, masuk ke dalam gaun tidur dan berhenti di bongkahan padat milik Celyn.


Aby yang sudah dipenuhi oleh kabut ga*irah, membimbing Celyn ke arah tempat tidur dan langsung membaringkan tubuh wanita itu, di atas ranjang.


Suara de*s4han yang keluar dari mulut Celyn, menjadi pemantik semangat buat Aby untuk segera menuntaskan hasratnya yang sudah dia tahan selama ini. Hanya satu harapannya, semoga kedua anaknya tidak akan bangun di tengah permainan.


Tidak lama kemudian, kedua sejoli itu, sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh mereka. Dan setelah dirasa sudah siap, Aby kemudian mengarahkan senjata laras panjangnya, ke arah sasaran yang tepat. Terdengar pekikan tertahan dari mulut Celyn, untuk menahan rasa sakit sekaligus agar kedua buah hatinya tidak terbangun.


Sebelum menggerakkan tubuhnya, Aby berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan pada inti Celyn untuk menyesuaikan dengan benda asing yang baru saja datang berkunjung dan menyapa.


Setelah dirasa sudah bisa beradaptasi, Aby kemudian mulai melakukan gerakan seperti pushup di atas tubuh Celyn. Setelah cukup mereka berdua bertarung, keduanya akhirnya sama-sama menyerah dan memekik, seiring meletusnya gunung dan mengeluarkan lava dan lahar panas mengalir, memasuki gua sampai kedalaman yang tak terhingga. Akhirnya malam ini, 3 sahabat, yang bersahabat dari kecil, sama-sama kelelahan, dengan jenis kelelahan yang berbeda.

__ADS_1


Tbc


Maaf ya, tidak bisa terlalu mendetail, kegiatan malam pertamanya, Nanti ditolak 😁😁


__ADS_2