
"Selamat Pagi Adrian!" sapa seorang gadis yang merupakan mahasiswi dari Indonesia, dan satu jurusan dengan Adrian.
"Oh, pagi juga! ada apa?" jawab Adrian dengan sikap seperti biasa, dingin. Kesal karena gadis yang ada di depannya sekarang, hampir setiap hari mendekatinya. Padahal sekalipun dirinya tidak pernah menanggapi.
"Aku tadi buatin sarapan buat kamu. Aku bikin sendiri lho, mudah-mudahan kamu suka," ucap gadis itu dengan tersenyum manis, berpikir kalau pemuda yang menarik perhatiannya semenjak masuk pertama kali ke dalam kelas.
Adrian tidak langsung menerima kotak makanan yang disodorkan wanita yang dia tahu bernama Mita itu. Tetapi, dia hanya cukup melihat ke kotak makanan dan beralih ke wajah gadis itu.
"Ada hal apa, kamu membawakan makanan buatku?" tanya Adrian dengan wajah datar dan nada yang masih sama, dingin seperti kulkas.
"Aku hanya ingin saja. Aku tahu, kalau kamu pasti tidak ada yang masakin di negara ini. Jadi, aku berinisiatif memasakkannya untukmu. Asal kamu tahu, aku sampai belajar memasak, supaya bisa membuat makanan buatmu." Mita bercerita begitu antusias, berharap Adrian kagum dan merasa terharu akan niatnya.
"Maaf, aku tidak bisa menerima ini, karena sejujurnya aku sudah sarapan." Adrian mendorong kotak makanan itu kembali ke arah Mita.
Mita, merengut kecewa. "Tapi, aku sudah berusaha memasaknya. Kalau tidak dimakan kan, mubazir." ucap Mita dengan lirih dan ekspresi wajah memelas.
"Aku kan tidak menyuruh kamu untuk memasaknya untukku. Salah kamu sendiri tidak bertanya. Kalau kamu menganggap mubazir, ya kamu makan sediri. Kan beres, gak usah pakai drama." ucap Adrian tetap fokus pada buku yang ada di depannya.
"Kamu kok tega sih berkata seperti itu. Setidaknya kamu hargai usahaku." Mita masih berusaha menampilkan wajah sendunya, berharap Adrian berubah pikiran dan menerima kotak makanan itu.
"Baiklah! kalau aku menerima ini, berarti ini sudah jadi milikku kan?" Mita mengangguk dengan mata yang berbinar bahagia.
"Oh, ok. Kesinikan kotak makanannya!"
Mita dengan senang hati, memberikan kembali kotak yang berisi makanan itu ke tangan Aby dan Aby menerimanya tanpa senyuman.
"Luke, have you taken your breakfast, this morning? (Luke, apa kamu sudah sarapan tadi pagi?)" tanya Adrian pada salah satu temannya.
"Hmm, i haven't, why? (belum, kenapa?)"Sahut teman Adrian yang bernama Luke itu.
__ADS_1
"Oh, nothing. I just wanna give you this,( oh, tidak apa-apa, aku hanya mau memberikan kamu ini,)" Adrian memberikan kotak makanan yang diberikan Mita ke tangan Luke.
"She cooked for me this morning, but I have taken my breakfast, so I don't need that, ( Dia memasaknya untukku, pagi tadi. Tapi aku sudah sarapan, jadi aku tidak butuh itu lagi,)" imbuh Adrian sambil menunjuk ke arah Mita.
"Oh, Ok. Thank you, Sob. Did you hear that sound? ( ok, terima kasih, Sob. Apa kamu mendengar bunyi itu?)" ucap Luke ambigu.
"What sound? ( bunyi apa?)" Adrian mengreyitkan keningnya.
"The sound from my tummy. I'm ravenous, I can even eat an ox now. Hahahaha!( Itu suara dari perutku. Aku sangat lapar, bahkan aku bisa makan seekor sapi sekarang. Hahahaha!" ucap Luke, sedikit bercanda sambil menerima kotak makanan itu.
"Kenapa kamu memberikannya pada Luke? itu kan buat kamu," protes. Mita tidak terima.
"Bukannya kamu bilang, kalau aku menerimanya, berarti sudah jadi hak milikku? kalau sudah jadi hak milikku terserah aku kan mau ngapain? jadi, daripada mubazir, lebih baik aku kasihkan ke dia." sahut Adrian santai.
"Tapi seharusnya kamu jangan begitu. Kamu harusnya hargai usaha orang yang bersusah-susah belajar memasak untukmu."
"Kenapa? kamu jangan gegabah mengatakan tidak akan pernah. Karena suatu saat kamu mungkin akan berubah pikiran." ucap Mita dengan sangat yakin.
Adrian menyeringai sinis. "Sepertinya kamu sangat yakin dengan ucapanmu. Tapi, seperti kamu yang sangat yakin, aku boleh juga dong sangat yakin, kalau aku tidak akan berubah pikiran. Kamu tahu kenapa?" tanya Adrian tersenyum miring.
"Karena aku sudah memiliki calon istri," netra Mita membesar dengan sempurna mendengar ucapan Adrian.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku tidak percaya! lagian kalaupun ada, apa kamu kira dia akan setia, jika berhubungan jarak jauh dengan kamu? aku sama sekali tidak yakin," ucap Mita, menyeringai sinis.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Aku tidak memaksamu juga untuk percaya. Dan lagi, apa kamu kira kami berhubungan jarak jauh? ck, calon istri saya ada di universitas ini juga, di fakultas kedokteran. Dan apa tadi? kamu di awal tadi sempat mengatakan kalau tidak ada yang memasak makanan untukku? kamu salah besar, karena calon istriku setiap pagi dan malam selalu memasak makanan untukku. Jadi, kembali aku ingatkan, kamu tidak perlu melakukan apapun lagi untukku." tegas Adrian, dengan nada yang sangat sinis.
Mita, semakin terhenyak mendengar pengakuan Adrian. Karena selama ini, dia tidak pernah melihat Adrian bersama seorang wanita.
"Apa tadi dia bilang? fakultas kedokteran? sial, kenapa selama ini aku bisa tidak tahu sih?" Mita mengumpat di dalam hati.
__ADS_1
"Tapi mana aku tahu? universitas ini sangat luas, dan fakultas kedokteran lumayan jauh dari sini. Arghhh, secantik apa sih calon istrinya, itu?"
"Yang jelas calon istriku jauh lebih cantik darimu bagiku. Dan lebih muda juga." cetus Adrian seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Mita.
"Maksudmu aku sudah tua? asal kamu tahu, aku masih 24 tahun," pekik Mita tidak terima.
"Dibandingkan denganku dan calon istriku ya lebih tua kamu. Calon istriku masih 19 tahun going to be 20 dan aku 3 bulan lagi mau 19. Lebih muda kami kan?"
"Oh, sial! masih mau 19 tahun, tapi kok bisa mengambil S2 ya?" gumam Mita, yang walaupun sangat pelan, tapi masih bisa didengar oleh telinga Adrian.
"Kamu pikir sendiri alasannya kenapa?" sahut Adrian.
"Oh ya, asal kamu tahu, kedatanganmu tadi, benar-benar sudah sangat mengganggu konsentrasi belajarku."
"Lebih menyebalkan dari gangguan seekor lalat." Ucap Adrian yang tentu saja hanya dia ucapkan dalam hati. Bagaimanapun dia tidak mau membuat wanita itu semakin sakit hati pada ucapannya.
Mita, memutar tubuhnya, hendak pergi meninggalkan Adrian. Akan tetapi, tiba-tiba dia menyurutkan langkahnya, ketika mendengar ucapan seseorang yang diberikan makanan pemberiannya oleh Adrian.
"Rian, do you know, the appearance of the food was very nice, made me really wanna eat. But, when I started to eat it, ck, the taste was so bad and disgusting,(Rian, apa kamu tahu, penampilan makanan itu sangat cantik, membuatku ingin cepat-cepat memakannya. Tapi, ketika aku mulai memakannya, ck rasanya sangat buruk dan menjijikan,)" ucap Luke yang tidak menyadari kalau ucapannya masih didengar oleh si pembuat makanan, siapa lagi kalau bukan Mita.
Mita meninggalkan kedua pemuda itu, sambil menghentakkan kakinya, kesal bercampur malu.
Tbc
please kencengin like dan komennya dong. Mohon Votenya juga. Kalau berkenan kasih hadiah juga boleh 😍
Note
Ravenous: lebih ekstrim dari hungry artinya sangat-sangat lapar.
__ADS_1