Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Jadi maukah kamu menikahiku?


__ADS_3

"Kami dari mana aja, By? lama banget dari toiletnya." tanya Rio begitu melihat kedatangan Aby.


"Hmm, toiletnya antri, Om." sahut Aby, santai. Kemudian Aby mengalihkan tatapannya ke arah Ardan yang masih meringis kesakitan, akibat jeweran mamanya.


"Pah, bagaimana keadaan Anin?"


"Adikmu, baik-baik saja." sahut Ardan singkat.


"Oh," ucap Aby tak kalah singkat.


"By, kamu masih ingat utang kamu kan?" celetuk Rio tiba-tiba, hingga membuat Duo pria dingin berbeda usia itu sontak menatap tajam ke arahnya. Selain tatapan tajam, Rio juga mendapat cubitan di pinggangnya. Siapa lagi yang berani mencubitnya kalau bukan Jasmine istrinya.


"Tenang Om, Aby masih ingat kok dan akan segera membayarnya. Dan Aby juga akan membayarnya dua kali lipat.'


"Emang kamu punya uang?" ledek Rio.


"Om lupa aku siapa? aku putra dari Ardan Orlando Bagaskara. Jadi uang papaku adalah uangku juga." sahut Aby, santai. Sepertinya, bukan hanya sikap dingin Ardan yang diwarisi oleh Aby, tapi juga keangkuhannya dalam berbicara.


Rio mendengkus sekaligus berdecak mendengar kesombongan Aby. Tapi, Rio tahu benar, kalau dalam arti sebenar, kedua ayah dan anak itu sama sekali tidak mengenal kata sombong.


"Sudah bisa sombong kamu ya?" ucap Rio dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.


"Kalian berdua bisa tidak sehari saja tidak berdebat?" cetus Jasmine, sambil memutar bola matanya, merasa jengah dengan perdebatan Rio dan Aby.


"Kalau sehari saja tidak berdebat dengan ini anak, rasanya pasti ada yang kurang, iya kan By?" Rio menatap Aby dengan menerbitkan senyuman yang lebar, meminta pembelaan.


"Nggak! Aby biasa aja tuh!"


Senyum lebar Rio berubah kecut, dengan sudut bibir yang terangkat ke atas, mendengar jawaban bocah kecil, sok dewasa bin menyebalkan itu.


"Kamu memang tidak bisa diajak buat kompromi, By ...."


"Bisa aja, tergantung mau ngajak kompromi apa. Kalau ngajak kompromi yang ada faedahnya, Aby mau. Tapi, kalau unfaedah, maaf, Aby nggak bisa." lagi-lagi nada suara Aby terdengar datar, membuat Rio menggigit bibirnya sendiri, karena terlalu geram.


"By, kamu masih anak kecil, jadi jangan sok jadi orang dewasa. Bersikaplah sesuai usiamu!" ujar Rio.


"Om ... Om sudah dewasa, jadi bersikaplah seperti orang dewasa, jangan bertingkah kekanak-kanakan.Karena kalau anak kecil yang bersikap dewasa, masih wajar dan normal. Beda kalau orang dewasa yang bersikap kekanak-kanakan, jatuhnya pasti 'abnormal'. Aby, memberikan jawaban yang telak.


"Abyy!" pekik Rio, kesal.


"Tuh kan kekanak-kanakan lagi, masa gitu aja ngambek!" ledek Aby tersenyum tipis, sedangkan yang lain, menggeleng-gelengkan kepala melihat perdebatan keduanya yang tak kunjung habis.


"Dan, aku izin mau nyekik anakmu, boleh?" Rio menatap ke arah Ardan, yang dari tadi berusaha menahan tawanya, melihat Rio yang mati kutu menghadapi putranya.


"Sekali saja kamu menyentuh anakku, jangan harap tanganmu akan aman berada di tempatnya." ujar Ardan dingin.


"Papah, kamu memang yang terbaik!" Ardan dan Aby melakukan 'toss'.


"Om, Aldan , jangan begitu sama papaku! Celyn malah!" Celyn menghunuskan sorot mata tidak suka, pada Ardan.


"Kamu memang putriku yang terbaik, Sayang!" Rio mengangkat tubuh Celyn ke gendongannya dan memberikan ciuman di pipi putrinya itu.


"Iya dong. Tapi papah juga gak boleh malah-malah sama, Aby. Kalau tidak Celyn malah sama, Papa!"

__ADS_1


"Heh?" Rio, hanya bisa melongo mendengar ancaman putrinya sendiri.


"Aby, kamu memang tidak boleh dianggap remeh! kamu juga sudah berhasil mengambil perhatian putriku." Rio menggerutu kesal.


"Kalau begitu, nanti kalau sudah besar, Celyn sama Aby, saja ya?" celetuk Jasmine.


"Mau!" Celyn


"Tidak mau!" Aby


"Huaaaa! Aby tidak mau, mama!" pekik, Celyn menangis histeris.


"Tenang saja, nanti kalau sudah besar, Celyn masuk aja ke kamar Aby, tapi jangan kabur ya!" ucap Jasmine, dengan ekor mata yang melirik ke arah, Amanda yang menatapnya dengan tatapan 'horor'.


"Jasmine, jangan ajari anak yang tidak-tidak!" ucap, Rio dengan nada datar, tapi terselip ketegasan di dalam ucapannya.


" Maaf semuanya, aku mau pamit dulu,, aku mau lihat kondisi, Anin." Amanda, yang dari tadi hanya menjadi pendengar setia, untuk pertama kalinya buka suara.


"Oh iya, silahkan, Sayang!" Sahut Amara.


"Aku ikut!" celetuk Ardan.


"Aku juga!" seru Aby.


"Aby, lihat Aninnya kapan-kapan saja ya? soalnya masuk keruangan Anin tidak boleh rame-rame." Amanda berjongkok, untuk mensejajarkan tingginya dengan tinggi sang putra.


"Ok deh, Ma," ucap Aby, lirih.


Amanda mengayunkan kakinya melangkah mendahului Ardan, membuat pria tampan itu, menggeram kesal.


"Ada apa?" tanya Amanda, dengan wajah bingungnya.


"Apa kamu tidak bisa melihat kalau aku sedang duduk di kursi roda? kamu tidak ada niat buat bantu dorong aku, gitu?"


"Oh iya, maaf!" Amanda kembali melangkah, menghampiri, Ardan. Kemudian dia pun mendorong kursi pria yang sikapnya makin kesini makin menyebalkan, menurutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah masuk ke dalam ruangan Anin, Amanda segera meraih pakaian dan topi pelindung, dan langsung mengenakannya ke tubuh dan kepalanya. Dia hampir saja melangkah untuk segera melihat keadaan putrinya. Tapi, lagi-lagi langkahnya terhenti, begitu mendengar deheman yang keluar dari mulut, pria bermulut pedas di belakangnya.


"Kamu tidak mau mengambilkan pakaian pelindung itu padaku?" Ardan menatap, Amanda dengan tajam dan mengintimidasi.


"Eh, iya, maaf!" Amanda meraih pakaian pelindung sekalian dengan topinya, lalu meletakkannya di atas paha, Ardan. Amanda, memutar badannya, hendak melangkah kembali. Tapi dengan sigap lengan besar milik Ardan langsung menahan tangan Amanda.


"Bagaimana kamu mau langsung pergi begitu saja? Kamu seharusnya memakaikan pakaian ini padaku,"


"Kenapa harus aku? kamu kan tinggal masukkan saja, ke kepala kamu," tolak Amanda, mulai kesal.


"Tidak ada penolakan! sekarang lakukan perintahku, pakaikan,pakaian ini kepadaku sekarang!" titah, Ardan tak terbantahkan.


Amanda menghela napasnya dengan sekali hentakan, pertanda kalau sekarang dirinya sedang berusaha menahan rasa kesalnya.


Amanda meraih kembali pakaian pelindung yang berada di atas paha Ardan. Degup jantungnya di dalam sana, sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, ketika dia mulai memasukkan pakaian itu ke kepala Ardan. Detak jantungnya, berdegup dengan begitu kencang, dan bisa terdengar jelas di telinga, Ardan. Setelah pakaian itu, sudah terpasang dengan sempurna, Amanda menarik dirinya agar menjauh dari Ardan, tapi dengan cepat, tangan Ardan langsung menarik pinggang Amanda dan menempelkan telinganya di dada Amanda.

__ADS_1


Kedua netra Amanda membesar dengan sempurna, dan ingin mendorong kepala Ardan yang menempel di dadanya persis di dua gundukan miliknya. Tapi, pelukan Ardan di pinggang Amanda sangat erat sehingga kepala Ardan tidak bergeser seincipun dari dadanya. Amanda ingin kembali melepaskan diri, tapi terhenti ketika mendengar suara dingin Ardan,


"Kamu diam dulu, jangan bergerak! aku cuma mau mendengar, musik disko apa yang sedang didengar oleh jantungmu. Sepertinya musikya enak, makanya jantungmu tidak berhenti berdisko." ucap, Ardan dengan napas yang sedikit memburu, menahan hasrat yang tiba-tiba menghampirinya.


"Sial, aku kan hanya mau menggodanya saja, tapi kenapa jadi aku yang tergoda begini?" umpat, Ardan di dalam hatinya.


"M-mas Ardan, bisa lepaskan aku? tolong perhatikan di mana kepalamu menempel?" ucap Amada, gugup. Bahkan semburat merah yang menempel di pipinya pun sudah menapakkan diri.


"Kenapa? aku bahkan sudah pernah merasakannya, dan aku masih ingat jelas bagaimana, pufttt ...," Amanda tiba-tiba Sudah menutup mulut Ardan dengan tangannya.


"Tolong jangan dibahas lagi!" seru Amanda dengan mata yang mendelik.


"Kenapa tidak? sebentar lagi kamu sudah akan menjadi istriku." ucap Ardan.


"Hmm, bisa lepaskan aku sebentar! aku mau bicara serius dengan kamu. Dan aku tidak bisa lagi menunggu untuk mengatakannya padamu." mohon Amanda dengan wajah memelas.


Mendengar ucapan Amanda, Ardan segera melepaskan rangkulannya, dari pinggang Amanda.


"Baiknya nanti saja kita bicara, kita lihat Anin saja di dalam," ucap Ardan.


"Tidak! aku maunya sekarang. Sepertinya Anin juga sedang tidur, jadi kita bicara saja sekarang.


"Kalau itu maumu, baiklah." Ucap Ardan mengalah.


Amanda, diam sejenak dengan tangan yang saling meremas dan menggigit bibir bawahnya. Sedangkan Ardan tidak melepaskan tatapannya dari wajah Amanda, sabar menanti, apa yang akan dibicarakan oleh wanita, ibu dari kedua anaknya itu.


"Mas Ardan, apakah kita bisa tidak harus menikah? karena ___"


"Tidak bisa! kita harus tetap menikah! demi anak-anak kita. Mereka butuh orang tua yang lengkap, dan kamu tidak boleh egois." Ardan menyela ucapan Amanda, tidak mau mendengar alasan yang hendak diutarakan oleh wanita itu.


"Kalau masalah itu, aku jamin mereka tetap akan mendapatkan kasih sayang dari kita berdua, karena aku tidak akan membatasi mereka untuk bertemu denganmu," ucap, Amanda, lirih.


" Sekarang aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu tidak mau menikah denganku? apa kamu sudah memiliki kekasih?"


Amanda dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak! bukan karena itu,"


"Jadi?" nada suara Ardan terdengar sangat dingin sekarang.


"Aku hanya tidak mau kamu terikat denganku, hanya karena kedua anak kita, sementara kamu tidak mencintaiku. Aku hanya ingin, memberikan kamu kesempatan untuk menikah dengan wanita yang benar-benar kamu cintai." ujar Amanda dengan kepala yang tertunduk, tidak berani menatap sorot mata Ardan yang terlihat sangat menakutkan dari yang biasanya.


Rahang Ardan mengeras, wajahnya memerah, dan kedua tangannya terkepal keras di balik pakaian Pelindungnya,mendengar ucapan Amanda. Dia begitu kesal, karena Amanda belum juga mengerti bagaimana perasaannya pada wanita itu.


"Jangan banyak bicara lagi, dan jangan berpikiran yang aneh-aneh! bagaimanapun aku akan tetap menikahimu, titik dan kamu tidak boleh membantah lagi." tegas Ardan, tak terbantahkan.


"Tapi, bagaimana dengan reputasi keluargamu nantinya? orang-orang pasti akan mencibirmu, dan mengganggap kamu, pria tidak benar karena sudah memiliki anak di luar nikah." Amanda kembali mengungkapkan kekhawatirannya.


"Kamu jangan terlalu berpikiran jauh! tenang saja apa yang kamu pikirkan dan takutkan itu, tidak akan terjadi. Bukannya aku sudah pernah mengatakan padamu, kalau aku mencarimu bertahun-tahun, untuk meminta pertanggung jawabanmu? Kalau tidak karena itu, aku pasti sudah menikah sejak dulu. Jadi bagaimanapun caranya, kamu harus menikahiku." pungkas Ardan, masih dengan gengsinya, malu mengakui perasaannya.


"Baiklah, kalau begitu, apakah Mas Ardan mau menikahiku?" Amanda tiba-tiba berlutut, dengan gaya bagaimana biasanya laki-laki melamar pria.


"Heh?" Gantian Ardan yang melongo, bingung.


Tbc

__ADS_1


Wow, 1600 kata. 400 kata lagi, bisa dua episode.🤭😍


Jangan lupa dukungannya ya gais. Please, like, vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh.🙏🥰🤗


__ADS_2