Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Mari masuk calon suamiku!


__ADS_3

Calvin berdiri di samping mobilnya tepat di depan sebuah sekolah SMA elite. Mau ngapain dia di sini? ya, dia sedang melakukan tugas pertamanya sebagai calon suami yang baik, dari Bagas, yaitu menjemput Cantika.


Dari kejahuan dia melihat Cantika berjalan dengan wajah angkuhnya. Dia terlihat menggertak laki-laki yang hampir saja menabraknya, dan laki-laki itu terlihat beringsut ketakutan.


"Ya, Tuhan, apa aku benaran akan berjodoh dengan wanita seperti itu? di mana keadilan-Mu? Kenjo mendapat wanita lembut seperti Anin, Aby juga mendapat wanita lembut seperti Celyn. Kenapa giliran aku, aku mendapat wanita bar-bar seperti dia?" Calvin membatin sambil menatap ke arah Cantika yang semakin mendekat.


Cantika memicingkan matanya menatap ke arah Calvin yang menyenderkan tubuhnya di depan mobilnya.


"Hei, lagi nungguin siapa, Kak?" sapa Cantika.


"Nung_"


"Pasti nungguin pacarnya ya?" sela, Cantika, tidak memberikan kesempatan pada Calvin untuk menjawab.


"Emang kakak udah punya pacar? selamat ya, akhirnya kakak laku juga." Cantika mengulurkan tangannya, untuk memberi selamat.


Calvin menatap tangan Cantika yang terulur tanpa ada niat untuk membalas. Dia berusaha menahan diri untuk tidak marah saat ini, walaupun hatinya sudah jengkel. Karena secara tersirat, Cantika sudah mengganggap dia tidak laku selama ini.


"Ayo masuk!" ketus Calvin sambil membuka pintu mobilnya.


"Aku? masuk?" Cantika bingung, dengan telunjuk yang menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, apa ada orang lain, yang berbicara dengan aku, selain kamu di sini? ayo masuk!" titah Calvin, dingin tanpa mau melihat ke arah Cantika.


"Buat apa aku masuk? lagian siapa kamu merintah-merintah aku? hush hush sana, kakak pergi saja. Aku punya supir yang mungkin sebentar lagi akan jemput aku." Cantika membalas tidak kalah ketusnya.


"Supir kamu tidak akan menjemputmu, jadi sekarang, lebih baik kamu masuk. Please jangan buang-buang waktuku!" Calvin menekan kata jangan buang-buang waktuku dengan menggigit giginya sendiri.


"Hei, siapa yang buang-buang waktu kamu. Kalau kamu mau pergi, ya pergi saja. Aku di sini mau nungguin supir aku."


"Bukannya aku sudah bilang, kalau supir kamu tidak akan datang? jadi kamu masuk ke mobil sekarang!" Calvin mulai kehilangan kesabaran.


"Sok tahu kamu!" Cantika, mendengus kesal.


"Bukan sok tahu, tapi memang tahu. Karena papamu sendiri yang menyuruhku, menjemputmu,"


"Kenapa?" Cantika mengrenyitkan keningnya, curiga.


"Kamu jangan banyak tanya! pokoknya papa kamu yang nyuruh aku menjemputmu. Kalau kamu mau tahu alasannya, tanya sendiri sama papa kamu. Sekarang kamu masuk, karena masih banyak yang harus aku kerjakan.

__ADS_1


"Kasih tahu dulu alasannya, baru aku masuk. Kalau tidak, aku nggak akan masuk. Bodo amat mau kamu punya banyak kerjaan ke, kamu mau tiduran ke, aku nggak peduli." Ketus Cantika dengan wajah yang menantang.


Calvin meraup udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya kembali ke udara dengan embusan yang cukup panjang, berusaha menahan diri untuk tidak emosi.


"Cantika, please kamu masuk ya! nanti kamu kan bisa tanya apa alasannya sama om Bagas. tolong kamu bekerja sama sedikit."


"Hmm, aku ...,"


"Cantika, ini siapa? tampan sekali! kenalkan dong," tiba-tiba beberapa gadis SMA muncul dan menghambur ke arah Calvin, dan menggelayut manja di lengan Calvin.


Raut wajah Calvin berubah pucat, dan berusaha karena dikerubungi oleh gadis-gadis centil. Aby berusaha menepis tangan-tangan nakal itu, dan matanya menatap memelas ke arah Cantika, meminta tolong. Akan tetapi, Cantika terlihat tidak perduli. Dia malah tertawa puas melihat Calvin yang kesusahan menghadapi gadis-gadis itu.


"Cantika, ayo masuk, cepat!" pekik Calvin, memohon. Cantika tidak menggubris, dia malah menjulurkan lidahnya ke arah Calvin.


"Cantika! pulang sama aku yuk!" tiba-tiba kepala seorang pemuda menyembul dari dalam mobil.


"Ogah! aku sudah dijemput sama calon suamiku," ucap Cantika, asal sambil berlalu menerobos kerumunan gadis-gadis itu dan langsung masuk ke dalam mobil Calvin.


Setelah Cantika masuk, Calvin pun buru-buru masuk dan mengembuskan napas lega.


"Kenapa tidak dari tadi kamu masuk sih? lihat nih tanganku, banyak cakaran. Ihh, teman-teman kamu menyeramkan." Calvin bergidik ngeri sambil melajukan mobilnya. Sedangkan Cantika, diam saja dengan bibir mengerucut.


"Aw, aw sakit,Cantika! desis Calvin, meniup kulitnya yang sedikit terluka.


"Oh, Tuhan, apa dosaku, sampai aku mendapat calon istri seperti ini." bisik Calvin pada telinganya sendiri.


"Sial!" pemuda yang mengajak Cantika untuk pulang bersama itu, memukul alat kemudi dengan kesal, karena lagi-lagi gagal mendekati Cantika.


"Cih, sok jual mahal. Apa tadi dia bilang? calon suami? dia kira aku percaya begitu saja? tidak mungkin anak SMA sudah memiliki calon suami." pemuda itu, tersenyum miring. Kemudian melesatkan mobilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ ...


Cantika turun dari dalam mobil Calvin setelah mobil itu berhenti dengan sempurna di depan rumahnya.


Cantika menutup pintu mobil dengan membanting sangat kencang, hingga membuat Calvin terjengkit kaget.


"Hei, pelan-pelan dong! feminim dikit jadi seorang wanita kenapa sih?" umpat Calvin seraya ikut turun dari dalam mobilnya.


"Ngapain Kakak ikut turun? katanya banyak kerjaan, ya udah, sana langsung pergi saja!" cetus Cantika, menatap sinis ke arah Calvin.

__ADS_1


"Kamu mengusirku?" ucap Calvin, kesal.


"Hmm, aku tidak mau menyangkalnya. Ya, aku mengusir kakak." sahut Cantika dengan raut wajah yang benar-benar menjengkelkan bagi Calvin.


"Kalian sudah pulang?" suara bariton tiba-tiba muncul dari arah pintu. Siapa lagi dia kalau bukan Bagas.


"kenapa tidak langsung masuk? kalian susah untuk berpisah ya?" ledek Bagas.


"Papa, apa-apaan sih?! cetus Cantika sambil mencebikkan bibirnya.


"Siang, Om! aku sudah mengantarkan Cantika, sekarang, aku pamit pergi dulu ya, Om," ucap Calvin sambil mengulurkan tangannya hendak mencium tangan Bagas.


"Nanti dulu, kamu pulangnya! kamu makan siang di rumah aja dulu, sama Cantika. Biar makin akrab." Bagas menolak uluran tangan Calvin.


"Ini apa-apan sih, Pah? pertama, aku bingung kenapa, jadi Kak Calvin yang jemput aku ke sekolah. Yang kedua, kenapa aku harus akrab sama dia?" alis Cantika bertaut. Dia benar-benar bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Lho, apa kamu tidak tahu? Calvin ini calon suami kamu. Tentu saja kalian harus akrab kan?"


"What? calon suami? jadi dia ___" netra Cantika membesar dengan sempurna sambil menggeleng-gelengkan kepala, sulit untuk percaya.


"Iya! apa Calvin tidak memberitahumu?" tanya Bagas, berusaha menahan senyumnya.


"Tidak! aku tidak mau Pa! aku masih muda." tolak Cantika, sengit.


"Yes!" Terima kasih, Cantika!"sorak Calvin, girang.


"Heh? kok dia malah kesenangan ditolak? tidak bisa ini. Di sekolah banyak laki-laki yang mengejarku dan sedih ketika aku tolak. Ini kok malah kesenangan aku tolak?" Cantika membatin, kesal.


"Tuh, dengar sendiri,Om Bagas. Cantika sendiri yang menolak bukan aku. Jadi__"


"Siapa bilang aku menolak? aku tadi belum selesai bicara, Kak Calvin main potong-potong saja," celetuk Cantika, berubah pikiran karena kesal pada Calvin yang terang-terangan gembira ketika dia tolak. Dia merasa harga dirinya sebagai gadis yang banyak menolak pria, turun.


"Maksudnya?" kening Calvin berkerut, bingung.


"Maksudku, aku tidak mau menolak jadi calon istri Kak Calvin. Aku bersedia!" tegas, Cantika dengan kedua mata yang mengerling ke arah Calvin.


Mulut Calvin terbuka, bergeming karena kaget dengan ucapan Cantika. Seketika perasaan bahagianya langsung surut.


"Mari masuk calon suamiku!" bisik Cantika persis di telinga Calvin dan memberikan tiupan singkat di telinga pria itu, hingga membuat tubuh Calvin meremang. Bukan meremang karena gairah, tapi meremang karena merasa ngeri.

__ADS_1


__ADS_2