Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Mari bekerja sama!


__ADS_3

"Hei, sedang apa kalian berdua?" Bagas tiba-tiba muncul di depan pintu.


Ardan dan Amanda sontak menghentikan aktivitas mereka. Amanda juga langsung membenarkan pakaiannya, yang agak berantakan akibat ulah tangan Ardan.


"Hei, kenapa kamu masuk tanpa ketuk pintu?" bentak Ardan sambil mengelap bibirnya yang basah.


"Kalau aku tidak cepat-cepat masuk, kamu justru pasti sudah melakukan lebih dengan Amanda." ketus Bagas dengan manik mata yang memerah menatap tajam ke arah Ardan.


"Lho apa salahnya? dia kan ...."


"Ya jelas salahlah! dia itu sekretarismu, bukan wanita yang bisa kamu pakai seenak jidatmu." Bagas tidak melepaskan sorot mata tajamnya ke arah Ardan.


"Hei, tutup mulutmu! aku tidak serendah yang kamu pikirkan. Amanda itu ___"


"Kamu jangan ngelak lagi! aku udah lihat dengan mata kepalaku sendiri, perbuatan kamu sama Amanda. Aku yakin ini bukan kemauan Amanda, kamu pasti yang memaksanya. Udah Amanda, kamu kerja di kantorku saja, jangan hiraukan perjaka tua ini."


Ardan menggeram sambil mengepalkan tangannya, mendengar celotehan Bagas, yang tidak memberikan dia kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya.


"Maaf, Pak Bagas, aku ini istri, Mas Ardan." celetuk Amanda tiba-tiba.


Bagas terkesiap kaget. Saking kagetnya, dia sampai menjatuhkan kantongan bawaannya yang langsung menumpahkan isinya dari dalam.


Tampak jelas, kalau isi kantongan yang dibawa Bagas, adalah tas branded yang harganya sangat fantastis, dan Ardan yakin kalau itu pasti mau dihadiahkan pada Amanda, istrinya. Hal itu,membuat Ardan semakin menggeram, kesal.


"Kalian berdua jangan bercanda! apa kalian kira aku akan percaya. Kalau kamu menikah, tidak mungkin aku tidak tahu." Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


"Terserah, kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas kami sudah menikah kemarin. Dan masalah kamu tidak tahu, itu karena kamu masih di luar negri dan kebetulan kami belum mengadakan resepsi," jelas Ardan lugas. Bibir Ardan tersemat senyum mengejek, sekaligus senyum kemenangan.


Bagas, bergeming, terpaku pada tempatnya. Mulutnya terasa kelu tidak tahu mau berkata apa lagi.


Ardan manyeringai, menatap Bagas, dengan tangan yang menekan wireless intercome ke ruangan pribadi, Rio.


"Rio, kamu ke ruanganku sekarang! Ada Bagas di sini." titah Ardan dengan tatapan yang tidak lepas dari Bagas, seperti takut kecolongan.


"Kamu tunggu Rio di sini! aku mau pulang bersama is -tri -ku," ucap Ardan dengan menekan kata istriku. Kemudian dia meraih tangan Amanda untuk mengajak wanita itu keluar dari ruangan.


Sebelum mencapai pintu, Ardan berhenti sejenak, memutar badannya kembali, dan menatap ke arah tas yang tergeletak di atas lantai.


"Oh ya, aku ingatkan sekali lagi, ambil tas yang kamu bawa dan jangan pernah berniat untuk memberikan pada istriku, hadiah atau semacam apapun itu. Aku sanggup memberikan apapun lebih dari itu." tegas, Ardan dengan aura yang mengintimidasi.


Tiba-tiba pintu terbuka, membiarkan tubuh Rio untuk masuk ke dalam. Keningnya berkerut, merasakan aroma pertikaian yang baru saja terjadi.


"Kalian mau kemana?" tanya Rio sambil menatap jari-jari Ardan dan Amanda yang sing bertaut.


"Mau pulang, mau menuntaskan apa yang tadi tertunda." Jawab Ardan, dengan ekor mata yang melirik tajam ke arah Bagas yang terlihat lesu.

__ADS_1


"Jadi, urusan dengan Bagas bagaimana?"


"Kamu kan bisa urus sendiri. Aku mau sekalian jemput, Aby dulu.Udah ya, kami pergi dulu."


"Pak Bagas, kami ___"


"Udah, nggak usah pamit segala sama dia." Ardan menarik tangan Amanda, ketika Amanda berniat mau pamit.


"Cih, dasar bucin!" Bagas berdecih sambil memungut tas yang tergeletak di lantai.


"Mereka memang benar-benar sudah menikah, Yo?" Rio mengangguk, sebagai jawaban.


"Kok bisa? tapi iya sih, Amanda kan cantik, aku aja kalau gak keduluan Ardan, mau sama dia." Bagas bertanya dan dia jawab sendiri.


"Kamu nggak ada niat kan buat misahin mereka?" mata Rio memicing, menatap Bagas curiga.


"Nggaklah. Justru aku senang si perjaka tua itu akhirnya bisa menemukan tambatan hati.Walaupun awalnya aku sempat kesal sih. Tapi, aku ikhlas kok." sahut Bagas, tersenyum tulus.


"Udah, gak usah bahas mereka, sekarang kita bahas proyek kerja sama kita saja." pungkas Rio, mengakhiri pembahasan tentang Ardan.


"Besok aja lah, aku capek! begitu pesawat mendarat, aku langsung ke sini tadi. Aku balik ya." Bagas menepuk pundak Rio yang kini sudah sangat kesal.


"Dasar duda tidak ada akhlak!" umpat Rio, dan Bagas hanya terkekeh, sebagai tanggapan.


"Kamu emang mau, istri kamu nerima hadiah dari laki-laki lain?" tanya Bagas.


"Maulah. Kan gratis?" ucap, Rio.


"Kamu nggak cemburu seperti Ardan?"


"Beda kasus, Gas. Kamu ngasih hadiah sama Amanda kan ada maksud tertentu.Ya pantas Ardan cemburu. Kalau ini kan beda, kamu nggak ada maksud terselubung sama biniku." jelas Rio.


"Tapi, sekarang aku ada maksud terselubung sama istri kamu. Aku udah bosan menduda soalnya." Bagas mengerlingkan matanya.


"Nih, bawa aja tasmu!" Rio melempar kembali tas ke arah Bagas dan Bagas langsung menangkapnya dengan cekatan disertai dengan tawa renyah.


"Becanda kali, Sob. Udah ah, aku pergi dulu." Bagas mengayunkan langkah, keluar dari ruangan Ardan. Tapi sebelumnya melemparkan kembali tas bawaannya pada Rio.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Cih, aku nggak nyangka, kalau ternyata Amanda itu gak sepolos yang kita lihat. Dia ternyata pintar buat godain, Pak Ardan." Ucap Desi salah satu karyawan di Bagaskara company pada rekannya yang hanya tersenyum saja menanggapi ocehan Desi.


"Kamu nggak boleh su'udjon begitu. Belum tentu Amanda yang godain pak Ardan. Amandanya juga cantik ini kok." sahut wanita yang biasa dipanggil Clara itu, tanpa menanggalkan senyum di bibirnya.


"Cla, aku kurang apa coba? dulu aku suka sama pak Adam, tapi aku nggak digubris sama sekali. Eh, mau tebar-tebar pesona sama pak Rio, pak Rionya udah keburu punya istri. Mau tebar-tebar pesona sama Pak Ardan eh keduluan sama Amanda." cerocos Desi dengan bibir yang mengerucut.

__ADS_1


"Makanya, kalau mimpi tuh jangan ketinggian, kalau jatuh rasanya sangat sakit." Clara menyentil kening Desi.


"Kan nggak salah berharap, Cla. Kali aja nasib aku kaya di novel-novel yang bisa menikah sama CEO, " mata Desi menerawang dengan bibir yang senyum-senyum sendiri membayangkan yang indah-indah.


"Udah ah, aku mau balik ke atas dulu. Ngobrol sama kamu, bikin aku makin pusing," Clara mengayunkan kakinya melangkah menuju lift dan Desi mengekor dari belakang Clara.


Setelah memencet tombol tanda panah ke bawah, Clara berdiri menunggu sampai pintu lift terbuka.


Ting ....


Pintu lift terbuka, dan Clara langsung melangkah masuk bersamaan dengan Bagas yang melangkah keluar, sehingga kepalan Clara terbentur ke dada Bagas yang keras.


"Ma- maaf, Pak!" seru Clara sambil memegang keningnya. "Itu dada atau besi sih?" bisik Clara pada diri sendiri. Sementara itu, Desi menatap Bagas dengan mata yang terbeliak dan mulut yang terbuka.


Bagas mengibas-ngibaskan tangannya terlihat seperti membersihkan dadanya dari kotoran, sambil berlalu pergi.


"Cih, dasar sombong!" umpat Clara kesal. Kemudian masuk ke dalam lift. Dia kembali keluar dan menarik tangan Desi, yang masih terpaku di tempatnya, menatap kepergian Bagas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ada apa anda menyuruh saya ke sini?" tanya Radit pada sosok pria setengah baya di depannya.


"Duduk dulu, Pak Radit. Jangan terburu-terburu. Silahkan minum dulu kopinya.


"Maaf, Pak Johan. Aku punya banyak urusan. Jadi kita langsung ke intinya saja." ujar Radit, pada pria setengah baya yang ternyata Johan Mahendra, papahnya Jasmine.


"Baiklah kalau itu mau kamu. Aku memanggil kamu cuma mau menawarkan kerja sama. Aku dengar-dengar kamu pakar di dalam dunia IT. Jadi aku mau menawarkan kerja sama untuk menjatuhkan Bagaskara Company, bagaimana? apa kamu bersedia?" Johan memberikan penawaran.


Radit memicingkan matanya, menatap curiga pada Johan. "Apa maksud anda? bukannya Rudi Bagaskara adalah sahabat anda?"


"Itu dulu. Sekarang tidak lagi, setelah dia membatalkan perjodohan Ardan dengan putriku secara sepihak. Dan sekarang dia malah menikahkan Ardan dengan wanita lain." tampak bara dendam di manik mata Johan.


"Jadi kenapa anda mengajak saya untuk kerja sama? kenapa bukan yang lain." tanya Radit.


"Karena aku tahu, kalau kamu juga punya masalah dengan Ardan.Istri Ardan adalah mantan kekasihmu kan? Jadi, dengan kita bekerja sama, kamu bisa kembali mendapatkan wanita yang kamu cintai dan aku bisa puas menghancurkan Bagaskara company. Selain itu, aku juga akan menanamkan saham yang besar di perusahaanmu, bagaimana?"


"Maaf, aku sama sekali tidak tertarik dengan apa yang anda tawarkan." ucap Radit, seakan melakukan penolakan, membuat kening Johan saling bertaut.


"Kenapa? apa penawaranku kurang menarik, atau __"


"Bukan! aku mau bekerja sama dengan anda, tapi bukan karena ingin mendapatkan Amanda kembali. Tapi untuk membalas kematian istriku." Ujar Radit tegas, menyela ucapan Johan.


Johan sontak berdiri dengan senyuman yang terulas di bibirnya. Mengulurkan tangannya ke arah Radit. "Selamat bekerja sama!" Raditpun menyambut uluran tangan Johan Mahendra.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2