
Para tamu mulai berdatangan menghadiri acara resepsi pernikahan Anin dan Kenjo. Di depan pintu masuk, kolase photo kedua mempelai itu ketika melakukan prawedding, terpampang jelas dan memperlihatkan keserasian kedua insan itu.
Setelah memasuki ruangan ballromm dimana diadakannya pesta, para tamu semakin terkagum dengan pilihan dekorasi yang sangat indah, dan mewah pilihan kedua mempelai
"Wah, indah sekali, Kak. Nanti kalau kita sudah mengadakan resepsi, harus seindah ini juga ya,Kak." ujar Cantika pada Calvin yang sudah sah menjadi suaminya seminggu yang lalu. Ya, Bagas benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Keduanya benar-benar dinikahkan seminggu setelah kejadian penegakan tombak, di apartemen Calvin, hari itu. Namun pernikahannya belum diumumkan ke publik dan belum mengadakan resepsi. Karena Cantika masih SMA. Bagi Bagas yang penting sah secara agama dan hukum dulu, resepsi bisa menyusul kelak. Yang mengetahui pernikahan mereka hanya keluarga dan orang-orang dekat.
"Iya, Sayang!" sahut Calvin dengan menerbitkan senyuman di bibirnya.
"Itu Aby dan Celyn, kita kesana yuk!" Calvin menggandeng tangan istrinya yang tampak cantik dengan balutan gaun berwarna merah, yang memperlihatkan pundaknya yang terbuka.
Jangan kira, kalau Cantika dengan mudah bisa memakai gaun itu. Butuh perdebatan cukup panjang, dan tentu saja perdebatan itu dimenangkan oleh Cantika.
Pada saat mereka sudah semakin dekat dengan Celyn dan Aby, Calvin menyunggingkan senyuman sehingga lesung pipinya tercetak dengan jelas di wajahnya
Akan tetapi, senyum Calvin seketika surut melihat Aby yang terlihat acuh dan fokus pad ponselnya. Entah apa yang menarik di dalam ponsel itu, Calvin tidak tahu.
"By, kamu lihat apa sih? apakah yang ada di ponsel itu lebih penting dari kedatangan kami berdua?" ucap Calvin dengan nada yang kesal.
Aby pun akhirnya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Calvin dengan menerbitkan senyuman, tapi senyuman yang sangat tipis, bahkan hampir tidak terlihat.
"Maaf, Sob. Tadi Om Yuda mengirimkan sesuatu, jadi aku harus fokus mempelajarinya." sahut Aby.
"Dia mah dari tadi seperti itu. Di saat seperti pun masih tetap mikirin pekerjaan," celetuk Celyn yang sangat kesal karena diacuhkan dari tadi.
__ADS_1
"Maaf, Sayang! jangan cemberut gitu dong!" ujar Aby sembari merangkul pundak istrinya itu.
"Kak Celyn, kakak cantik sekali!" puji Cantika, berdecak kagum melihat penampilan Celyn.
"Terima kasih, Tika! Kamu juga sangat cantik!" sahut Celyn dengan senyuman manisnya.
"Ayo kita duduk di sana!"
Aby, mengayunkan kakinya melangkah sambil menggandeng tangan Celyn, menuju meja disusul oleh Calvin dan Cantika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruang ganti, Anin sudah cantik dengan gaun dan riasan yang tidak terlalu mencolok, tapi tidak bisa menutupi kecantikannya.
"Kenapa, Sayang? kenapa kamu diam saja? aku kelihatan aneh ya?" tanya Anin sambil menggigit bibirnya.
"Ka-kamu cantik sekali, Sayang!" puji Kenjo, hingga membuat Anin tersipu malu.
"Kalau begini, aku rasanya jadi malas untuk ke acara kita. Pengennya berduaan saja denganmu." ucap Kenjo tanpa sadar, hingga MUA yang masih berada di kamar itu terkikik geli.
"Sayang!" Anin mendelik, kesal sekaligus malu.
"Ehem, ehem," tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang berdehem dari arah pintu.
Anin dan Kenjo sontak melihat ke arah pintu, tampak ad Ardan papahnya Anin berdiri di sana.
__ADS_1
"Lho,pah kenapa berdiri di sana? masuk,Pah!" ucap Kenjo yang langsung datang menghampiri Ardan.
"Hmm, kalian bisa keluar sebentar? aku mau bicara dulu sama putri dan menantuku!" ucap Ardan pada para MUA yang masih berada di sana.
Ardan tersenyum dan memeluk Anin, begitu para MUA sudah menghilang di balik pintu.
"Kamu cantik sekali, Sayang!" puji Ardan yang menatap putrinya itu dengan manik mata yang sudah berembun.
"Terima kasih, Pah!" sahut Anin, membalas senyuman papanya.
"Anin, papa tidak menyangka waktu berlalu begitu cepat. Sekarang kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Anin, papa memang tidak sempat melihat bagaimana kamu lahir ke dunia ini, tapi asal kamu tahu, saat yang paling membahagiakan dalam hidupku, di saat kamu memanggilku, Papa untuk pertama kali. Walaupun aku belum tahu, kalau kamu memang benar-benar putriku saat itu. Tidak ada suara yang lebih merdu daripada panggilan papa dari anak perempuanku kepadaku saat itu,"Ardan berhenti sejenak sambil melihat ke atas, untuk menahan agar air matanya tidak terjatuh.
"Kebahagiaanku semakin bertambah, begitu mengetahui, kalau kamu dan kakakmu Aby benar-benar darah dagingku. Papa sangat beruntung memiliki kalian berdua. Kamu adalah putri terbaik di dunia bagi papa dan papa sangat bangga akan itu. Kamu harus ingat, Sayang sampai usia berapapun, kamu tetaplah anak perempuan papa yang paling berharga dan satu harapan papa, harapan terbesarku yang ingin putrinya selalu tahu bahwa papa sangat mencintaimu."
Anin sudah tidak bisa lagi membendung air matanya untuk tidak keluar dari matanya, mendengar ucapan-ucapan papanya itu.
"Kamu jangan menangis, Sayang. Putri papa adalah putri yang hebat dan kuat. Jadi, kamu jangan sedih. Sekarang kamu sudah dewasa dan sudah menjadi seorang istri, papa pesan
tetaplah menjadi putri papa yang baik, dan juga jadilah istri yang baik bagi suamimu. Taatilah setiap perintah suamimu asalkan itu baik. Dan jadilah ibu yang mengayomi anak-anakmu kelak. Kamu akan memiliki keluarga sendiri, tapi jangan lupa kamu tetap putri papa dan mama. Jika kamu membutuhkan sesuatu, datanglah kepada kami dan kami dengan segenap hati akan membantumu,"
"Papaaa!" Anin menghambur ke dalam pelukan Ardan dan menangis sesunggukan di dada papanya itu. Ardan yang dari tadi sudah berusaha menahan tangis, sekarang dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Bendungan itu akhirnya roboh, dan menumpahkan air yang sudah sesak, ingin keluar dari tadi.
Kemudian pria setengah baya, yang masih terlihat gagah itu, melerai pelukannya pada Anin, dan beralih menatap ke arah Kenjo.
"Kenjo, aku tahu kamu adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Aku percaya kalau kamu sanggup untuk mengantikan peranku, Aby kakaknya serta adiknya Adrian dalam melindunginya dan membahagiakannya." Ardan berhenti sejenak, untuk mengambil jeda, sekaligus untuk meraup udara mengisi parru-parunya yang sudah minim oksigen.
"Aku titip putriku padamu. Kalau ada sesuatu yang tidak berkenan akan sikap dan tingkah lakunya, tegurlah dengan cara yang baik dan lembut. Jangan gunakan tangan dan ototmu dalam menegurnya. Jika sekali saja aku tahu, akan hal itu, aku tidak akan segan-segan untuk kembali mengambilnya darimu, karena jika bagimu dia tidak berharga lagi, dia masih akan tetap berharga bagi kami. Cam kan itu!" sambung Ardan kembali, dengan nada yang datar, tapi terselip ketegasan di dalam ucapannya itu.
"Baik, Pah. Aku berjanji akan membahagiakan Anin." sahut Kenjo, tegas dan yakin.
"Aku tidak butuh janji, tapi aku butuh bukti," tegas Ardan kembali.
Kenjo, meneguk ludahnya sendiri, tenggorokannya tercekat, sehingga sedikit kesulitan untuk bersuara. Kenjo tidak bisa membayangkan ,hal apa yang akan dilakukan oleh Ardan, Aby dan Adrian, bila dia membuat hal yang tidak baik pada Anin. Karena tanpa sepengetahuan Anin dan Ardan, Aby juga sudah datang kepadanya dan mengatakan hal yang hampir sama dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ardan.
Tbc
__ADS_1