Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Mengurus butik lagi


__ADS_3

sinilah mereka bertiga berdiri sekarang.Di depan sebuah universitas yang sangat terkenal di belahan dunia ini. Universitas of Oxford.



Universitas tertua dan sudah banyak menghasilkan alumni yang meraih Nobel penghargaan. Jadi tidak heran seleksi untuk masuk ke universitas ini sangat ketat.


Reyna menatap ke gedung universitas ini dengan tatapan takjub. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan bisa melanjutkan pendidikan di universitas ini.


"Wah, aku tidak menyangka, kalau aku bisa kuliah di sini. Om Ardan benar-benar sangat berpengaruh," gumam Reyna, di sela-sela decakan kagumnya.


"Ya, papa dan kak Aby termasuk lulusan terbaik dari sini. Dan papa juga masih berhubungan baik dengan rektor universitas ini. Makanya rektor percaya ketika merekomendasikan kalian berdua, Sehingga kalian bisa masuk tanpa harus diseleksi ketat. Rektornya percaya, kalau yang dapat beasiswa dari perusahaan papa pasti smart. Kamu smart, kan?"


"Apaan sih? aku gak sebodoh yang kamu pikirkan. Gini-gini aku selalu mendapatkan juara umum di sekolah." sahut Reyna dengan bibir yang mengerucut.


"iya, iya aku percaya. Ihh kamu menggemaskan kan deh," ucap Adrian sembari mencubit gemas, bibir Reyna.


"Ehem, ehem. Tolong hargai saya yang ada di sini," celetuk Roni yang jengah pada keromantisan kedua sejoli itu.


"Ihh, Kakak gak seru!" cetus Reyna sambil menarik tangan Adrian menjauh dari kakaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Adrian berjalan di koridor universitas Oxford untuk mencari di mana kelasnya setelah mengantarkan Reyna ke kelasnya, karena hari ini adalah hari pertama mereka kuliah.


Reyna mengambil jurusan kedokteran sedangkan Adrian tentu saja mengambil jurusan seperti Aby kakaknya yaitu di Fakultas master of bussiness administration (MBA) untuk S2nya. Sedangkan Roni juga mengambil jurusan yang sama, tapi masih untuk S1.


"Oh, ini dia ruangannya," gumam Adrian, sembari masuk ke dalam ruangan itu. Kedatangannya langsung menarik perhatian semua orang, khususnya seorang gadis yang kemungkinan juga berasal dari Indonesia sepertinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berganti hari, minggu berganti minggu bahkan waktu sudah 3 bulan berlalu. Baby Arick dan Baby Arend sudah 5 bulan lebih atau hampir 6 bulan. Perkembangan keduanya sangat signifikan Mereka berdua tumbuh menjadi bayi yang sangat menggemaskan



Kedua bayi itu juga menjadi bayi idola baru di keluarga Bagaskara. Amanda bahkan sering menomorduakan Ardan suaminya karena ingin selalu bersama dengan si kembar. Hingga membuat suaminya itu sering protes.


"Ingin cemburu, tapi susah. Soalnya saingannya berat, cucu sendiri." ucap Ardan setiap kali ingin protes.


"Celyn, apa kamu tidak mau kembali mengurus butikmu, Sayang?" tanya Amanda, sambil memasangkan pakaian buat si kembar, karena si kembar itu baru saja selesai dimandikan.

__ADS_1


"Hmm, sebenarnya aku ingin sekali, Mah. Tapi. aku tidak tega meninggalkan si kembar sampai seharian, dan mengabaikan mereka karena pastinya akan sibuk nantinya." jawab Celyn sambil membantu mama mertuanya memasang pakaian salah satu dari buah hatinya.


Sementara itu, dua baby sitter hanya berdiri memperhatikan kedua wanita yang walaupun menantu dan mertua tapi lebih terlihat seperti ini dan anak perempuannya.


Mereka berdua bingung mau melakukan apa, karena semuanya sudah dilakukan oleh kedua wanita itu.


"Kami kembali saja mengurus butikmu. Masalah kamu tidak tega meninggalkan si kembar seharian, itu bisanya kamu yang mengatur waktumu. Untuk masalah si kembar, kan ada mama yang membantumu buat mengurus mereka? ada dua mbaknya juga yang akan membantu."


"Tapi,Mah? apa mama nanti tidak terlalu capek?" tanya Celyn yang merasa tidak enak hati.


"Kenapa capek? justru mama sangat suka mengurus mereka. Lagian kamu juga tahu, walaupun kamu ada di rumah, mereka berdua kan emang sering mama kuasai, hehehe!" ujar Amanda cengengesan.


"Benar juga ya? aku di rumah juga kebanyakan bengong. Anak-anak seringan sama mama." bisik Celyn dalam hati.


"Nanti aku bicarakan sama mas Aby dulu deh, Mah. Kalau mas Aby mengizinkan, aku akan urus butikku lagi."


"Iya, kamu bicarakan dulu sama suamimu. Mama bukannya merasa tidak suka kamu ada di rumah. justru karena mama kasihan sama kamu yang selalu bengong tidak punya banyak kegiatan. Lagian mama juga dengar semenjak kamu nyerahin semua urusan butik ke asisten kamu, butik itu mengalami penurunan omzet. Mama tahu kalaupun butik itu tutup, kamu tidak akan kekurangan, tapi cobalah lihat dari sudut pandang lain. Jika itu, tutup akan banyak karyawanmu yang akan kehilangan pekerjaan, bukan?"


Celyn mengangguk-anggukan kepalanya, membenarkan ucapan mamanya itu


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Celyn masuk ke dalam kamar dengan bibir yang mengerucut, membuat Aby mengrenyitkan keningnya. Aby mengembuskan napasnya dan meletakkan ponselnya ke atas nakas. Dia yakin kalau raut wajah istrinya sudah seperti itu, pasti dia tidak berhasil lagi membawa si kembar untuk tidur di dalam kamar ini.


"Anak-anak sama mama lagi ya, Sayang?" Celyn tidak menyahut, dia hanya menganggukkan kepala saja sebagai jawaban.


"Udahlah! kamu jangan cemberut seperti itu! Sini baring di sampingku." Aby menepuk-nepuk ranjang kosong di sampingnya.


Celyn menurut dan naik ke atas ranjang kemudian langsung berbaring di samping suaminya itu.


Aby meraih tubuh Celyn dan mendekap tubuh wanita itu seraya mengecup puncak kepala wanita yang sangat dicintainya itu.


Celyn nyaris saja memejamkan matanya, tapi dia membuka kembali matanya, karena teringat pembicaraannya dengan sang mama mertua sore tadi.


"Sayang, tadi sore mama nanya aku, apa aku tidak berniat untuk mengurus butikku lagi atau nggak, menurutmu bagaimana?" tanya Celyn seraya menatap suaminya itu.


"Apa kamu kekurangan uang?" tanya Aby, datar.


Celyn menggelengkan kepalanya, "Tidak! tapi kata mama, dia kasihan melihatku, yang selalu bengong di rumah sementara baby Arick dan Arend, selalu sama mama. Lagian kata mama, semenjak aku menyerahkan semua urusan sama asisitenku, omzet butik itu jauh berkurang. Kalau ditutup juga, kasihan karyawan-karyawan yang pasti kehilangan mata pencarian mereka." terang Celyn menatap manik mata suaminya itu

__ADS_1


Aby tercenung, memikirkan perkataan istrinya. Dia memutar bola matanya, seraya menggigit bibir bawahnya.


" Apa yang dikatakan mama itu benar. Tapi, sekarang keputusan ada di tangan kamu. Kalau kamu mau kembali mengurus butik, ya silahkan. Karena aku yakin, kalau kamu pun pasti sangat bosan berada di rumah terus," sahut Aby..


"Emm, tentu saja aku mau, Sayang. Terima kasih ya!"


Aby menganggukkan kepalanya seraya tersenyum melihat kebahagiaan kecil sang istri.


"Tapi, aku tidak mau kalau kamu sampai kecapean dan melupakan kewajiban kamu sebagai seorang istri dan ibu. Kalau kamu merasa sudah lelah, kamu istirahat dan jangan paksakan tubuhmu seperti dulu lagi."


"Itu mah sudah pasti, Sayang. Dulu aku suka menyibukkan diri dan menghabiskan waktuku di butik, supaya pikiranku tidak terfokus ke kamu. Sekarang kan beda. Kamu sudah benar-benar jadi milikku sekarang," ucap Celyn seraya menyelusupkan kepalanya ke dada suaminya.


"Oh, jadi karena aku sudah jadi suamimu dan kamu sudah tahu kalau aku juga sudah mencintaimu, kamu gak memikirkanku lagi?" Aby berpura-pura memasang wajah dinginnya.


"Bu-bukan seperti itu, Sayang. Kamu pasti tetap ada di pikiranku." Celyn langsung gugup dan langsung menatap kembali wajah dingin suaminya.


"Ah, sudahlah! aku cukup tahu saja. Emang benar kata orang, kalau cinta yang kita kejar sudah kita dapatkan, rasa gregetnya lambat laun pasti berkurang." Aby masih dalam posisi memasang wajah datar dan dingin. Entah kenapa melihat kepanikan di wajah Celyn, seakan menjadi hiburan tersendiri baginya.


"Jangan begitu dong, Sayang. Tidak ada yang berubah kok dari aku, Suer deh. Aku sudah susah-susah membuatmu bisa mencintaiku, tidak mungkin aku langsung melupakan perjuanganku itu." ucap Celyn dengan wajah yang terlihat seperti ingin menangis.


Aby akhirnya tidak kuat lagi untuk berpura-pura. Dia pun menarik kembali tubuh istrinya itu dan mendekapnya erat.


"Aku percaya kok, Sayang. Kamu jangan menangis. Aku tadi hanya bercanda," ucap Aby lembut seraya mengecup puncak kepala istrinya itu.


"Ihh, kamu becandanya gak lucu. Kamu jahat!" Celyn berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Aby dan memukuli dada suaminya itu.


"Pukullah terus! biar suamimu ini mati, dan kamu jadi janda."


Ucapan Aby sontak membuat Celyn menghentikan pukulannya.


"Eh, tunggu dulu! kamu menjebakku? tidak mungkinkan, kamu langsung mati hanya gara-gara pukulanku? pukulanku kan tidak kencang-kencang amat."


Aby terkekeh karena berhasil mengelabui istrinya. "Kamu lucu," ujar Aby sambil mengacak-acak rambut Celyn, hingga membuat wanita itu mencebikkan bibirnya.


Aby merasa gemas dan mengecup singkat bibir yang mengerucut itu. Karena tidak ada perlawanan, Aby pun mulai melu*mat bibir tipis istrinya dengan penuh perasaan. Akan tetapi, ciuman penuh perasaan itu hanya berlangsung untuk sepersekian detik. Detik berikutnya, ciuman lembut itu, berubah menuntut lebih.


Tanpa menunggu lama, akhirnya tubuh keduanya sudah polos dan kamar itupun dipenuhi dengan suara erangan dan de*sahan yang keluar dari mulut Aby dan Celyn


Tbc

__ADS_1


__ADS_2