Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Ardan bertindak


__ADS_3

Setelah berkutat di depan komputer sekitar se-jaman, dengan bantuan Aby dan kerja sama yang solid, akhirnya mereka berhasil melacak perusahaan ISP yang digunakan oleh orang yang telah meretas keamanan Bagaskara' company.


"Rio, segera hubungi CEO perusahaan itu, dan ancam akan menghancurkan perusahaan mereka, kalau dia menolak memberikan informasi data orang yang kita butuhkan. Sekalian berikan jaminan, kalau salah satu perusahaan kita akan menanamkan investasi di perusahaan itu." Titah Ardan sambil menyeringai sinis.


"Aku tidak akan melepaskan siapapun yang berniat menghancurkan Bagaskara company. Siapapun dia, dia sudah melakukan kesalahan yang sangat besar, sudah bermain-main denganku," sambung Ardan kembali, dengan rahang yang mengeras.


Rio menganggukkan kepala dan langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Ardan. Setelah selesai melakukan panggilan, raut wajah Rio terlihat sangat sukar untuk dibaca. Dari raut wajah itu terlihat kalau ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya dan itu mengundang tanda tanya besar buat Ardan dan Aby.


"Ada apa ,Rio? apa mereka tidak mau memberikan informasinya?" sudut mata Ardan terangkat ke atas menatap Rio, curiga.


Rio menggelengkan kepala dengan mulut yang masih sukar untuk bicara. ponsel yang masih ada di tangannya, segera dia masukan ke dalam saku celananya.


"Jadi, kenapa kamu diam saja? apa yang terjadi?"


Rio menghela napasnya dengan sekali hentakan, lalu menatap Ardan yang terlihat masih menanti jawaban dari dirinya.


"Dan, perusahaan itu, telah memberikan informasi data orang yang menggunakan jasa perusahaan mereka. Orang itu, Johan Mahendra, papahnya Jasmine.Kata pemilik perusahaan itu, Johan Mahendra datang bersama Radit, yang juga memiliki perusahaan yang bergerak di bidang 'Internet service provider'," terang Rio dengan wajah tegang tanpa senyum.


Ardan bergeming. Dia cukup maklum apa yang dirasakan oleh Rio sekarang. Bagaimanapun, Johan Mahendra adalah mertuanya, walaupun dia tidak pernah dianggap sebagai menantu. Tapi Ardan tahu jelas, kalau selama ini, Rio diam-diam juga, selalu membatu perusahaan mertuanya itu dengan merekomendasikan Mahendra group ke para kolega mereka.


"Hmm, baiklah. Tanpa kamu mengatakan apapun, aku sudah tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Kita harus cari jalan tengahnya saja. Sekarang cari informasi tentang perusahaan yang dikelola oleh Radit." Ardan terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. "Sepertinya. aku pernah dengar nama Radit, hmmm ... Oh iya, dia mantan kekasih Amanda. Cih, aku benci mengingat Amanda punya mantan." batin Ardan, masih sempat saja mengumpat karena cemburu.


"Rio, kamu tidak usah mencari informasi perusahaan Radit, aku akan tanyakan sendiri pada, Amanda. Ucap Ardan sambil merogoh handphone dari dalam sakunya.


"Amanda? apa hubungannya dengan Amanda?" gumam Rio, sangat pelan, tapi masih bisa didengar jelas oleh Ardan.


" Radit, mantan kekasih Amanda," terang Ardan, menghentikan tanda tanya, Rio.


Ardan memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celananya setelah panggilannya dan Amanda selesai.


"Rio, perusahaan Radit namanya Angkasa Multimedia. Apa kita punya kerjasama dengan perusahaan itu?" tanya Ardan.

__ADS_1


"Sepertinya perusahaan kita menggunakan jasa perusahaan itu. Karena Angkasa Multimedia, memiliki infrastuktur yang canggih dan kecepatan internet tanpa batas.Aku rasa Radit sengaja tidak membuat kecepatan internet kita bermasalah untuk menjaga nama baik perusahaannya. Dan dia tidak memakai jaringan internet dari perusahaannya untuk mengelabui kita." Jelas, Rio.


Ardan tersenyum smirk, menyeringai sinis.


"Baiklah, kalau begitu kita sendiri yang akan menghancurkan perusahaan itu, dengan membuat kecepatan internet mereka melambat dan bermasalah. Supaya semua perusahaan-perusahaan yang menggunakan jasa perusahaan mereka, mengajukan protes. Aby apa kamu bisa membobol sistem keamanan mereka, Nak?" tanya Ardan, melibatkan Aby yang sudah tidak dia ragukan lagi kemampuannya.


"Kita coba saja, Pah." sahut Aby, menyanggupi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hahahaha, ternyata mereka tidak terlalu pintar. Semua kliennya, beberapa sudah berhasil aku rebut. Dan aku yakin kalau sebentar lagi, pasti akan lebih banyak lagi yang berhasil aku rebut." Ujar Johan, sambil tertawa merasa sudah berhasil.


"Maaf, Pak Johan. Akan tetapi, klien-klien besar Bagaskara Company belum berhasil kita dapatkan. Mereka tetap tidak mau melakukan kerja sama dengan kita, walaupun aku sudah menawarkan harga 3 kali lipat dari harga yang ditawarkan oleh Bagaskara Company." ucap asisten pribadi Johan, yang membuat pria licik itu meradang.


"Brengsek! Tidak boleh ... ini tidak boleh terjadi. Sekarang coba lihat lagi, masih ada lagi nggak klien yang terlewatkan?"


Radit yang masih berada di ruangan itu, segera melihat kembali ke layar monitor. Raut wajahnya terlihat memerah menahan amarah.


"Apa maksudnya ini? apa yang sudah Papa lakukan?" tiba-tiba Ratna istri Johan muncul dan mendengar semua pembicaraan yang terjadi di dalam ruangan itu.


"Mama, kenapa mama ke sini tidak bilang, papa dulu?" Johan melangkah menghampiri istrinya yang sekarang dalam kondisi marah.


"Papah kenapa melakukan ini semua? apa belum cukup papa memisahkan aku dan putriku? sekarang kamu mau membuat Ardan bangkrut. Kamu kan tahu, kalau menantu kita bekerja di sana. Kalau Ardan bangkrut, itu sama saja kamu membuat putrimu melarat, Pah!" pekik Ratna yang sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya.


"Justru itu yang aku inginkan, Mah! dengan begitu, Jasmine akan kembali kepada kita, dan Keluarga Bagaskara tidak akan bisa lagi sombong."


"Yang sombong dan angkuh itu kamu. Kamu bukan saja sombong, tapi kamu egois. Kamu lebih mementingkan harga diri dan reputasimu dari pada kebahagiaan anak istrimu. Kamu kira aku sudah bahagia dengan semua kemewahan yang kamu kasih? tidak! sama sekali tidak! aku lebih bahagia, jika bisa bertemu dan memeluk putriku.Sekarang terserah kamu, aku sudah capek. Aku mau pergi saja." Ratna memutar badannya, nyaris melangkah ke luar.


" Kamu mau pergi kemana?" cegat Johan, yang sudah berdiri di depan Ratna.


"Aku mau menemui Jasmine. Aku akan tinggal bersamanya dan aku tidak akan pernah kembali , kalau kamu masih tetap egois." Ratna mendorong tubuh Johan dan melangkah pergi.

__ADS_1


"Kenapa, Ibu tidak dikejar, Pak?" tanya asisten Johan.


"Biarkan saja! nanti ibu juga akan kembali sendiri. Dia sudah terbiasa seperti itu. Kalau aku bilang, jantungku terasa sakit, dia pasti akan kembali. Selama ini kan memang seperti itu." ucap Johan tersenyum, yakin.


"Tapi, Bapak kan tidak punya riwayat jantung, Pak." kening asisten itu terlihat berkerut.


"Hahahaha! itu cuma alasanku saja, supaya ibu kasihan dan kembali lagi ke rumah." jelas Johan.


Sementara itu, Radit hanya diam saja, karena merasa dia tidak punya hak untuk mencampuri urusan rumah tangga pria tua itu. Dia terlihat merogoh saku celananya, karena handphonenya yang berbunyi.


"Dani? ada apa Dani meneleponku?" batin Radit. Kemudian dia menjawab panggilan asistennya itu. Belum saja dia membuka mulut untuk mengatakan 'halo', sudah terdengar suara panik Dani dari ujung sana.


" Pak Radit, anda dimana? di perusahaan kita terjadi kekacauan, Pak. Tiba-tiba layanan jaringan internet kita melambat sehingga banyak mendapat protes dari perusahaan-perusahaan yang memakai layanan internet dari perusahaan kita. Bahkan banyak di antara mereka berhenti memakai layanan kita. Dan satu hal lagi, saham perusahaan kita 60 persen sudah dibeli oleh Bagaskara company."


Radit sontak memutuskan panggilan secara sepihak dan langsung berdiri dari tempat dia duduk.


"Brengsek! Ardan sialan!"umpatnya dengan amarah yang amat sangat.


"Kenapa? apa yang terjadi, Radit?" tanya Johan dengan raut wajah yang mulai diserang panic attack.


" Ardan sepertinya sudah tahu kalau kita yang meretas keamanan perusahaan mereka. Perusahaanku sudah dia akuisisi. Aku hanya memiliki sisa 40 persen saham sekarang. Arghhhhh!" Seandainya dia berada di ruangannya, mungkin semua barang yang ada di atas mejanya sudah akan dia hamburkan.


"Aku permisi dulu, Pak Johan!" Radit mengayunkan kakinya, melangkah ke luar. Akan tetapi ketika dia membuka pintu, dia kembali melangkah mundur karena melihat dua pria yang sedang tersenyum sinis ke arahnya.


"Wah, wah, ternyata kalian berdua sudah berkumpul di sini. Bagus deh, jadi aku tidak susah-susah lagi untuk mencari yang lainnya." ucap pria yang baru muncul itu.


"Ardan!" Johan tersentak kaget


Tbc


Jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejaknya , Kakak-kakak.😁🙏 please like, vote, dan komen. Thank you.

__ADS_1


__ADS_2