
Calvin, menggendong Cantika keluar dari dalam mobil ala bridal style, karena gadis remaja itu, tertidur setelah menangis cukup lama di dalam mobil.
Supir yang biasa mengantar jemput Cantika, hampir saja membuka mulut, ingin bertanya apa yang terjadi pada nona mudanya. Akan tetapi suaranya tercekat di tenggorokan ketika Cavin memberikan isyarat dengan mulutnya, agar pak Kurdi tidak sampai bersuara.
"Oh, maaf!" desis sang supir dan Calvin hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.
"Apa yang terjadi, pada Cantika?" pekik Clara langsung berdiri dari tempat dia duduk dan menghambur begitu, Calvin menapakkan kakinya di lantai rumah, Bagas. Beruntungnya gadis itu seakan tidak terganggu dengan suara mamanya. Dia masih setia dengan mata yang terpejam.
Calvin tidak langsung menjawab. Dia membaringkan tubuh Cantika di atas sofa terlebih dulu, lalu meletakkan tas kecil Cantika di atas meja. kemudian mendaratkan tubuhnya duduk di dekat kaki gadis itu.
"Ada apa ini Calvin? kenapa kamu tidak jawab?" kali ini Bagas yang bersuara, dengan aura yang sangat menakutkan.
Calvin menarik napasnya dalam-dalam terlebih dulu, kemudian dia membuangnya kembali ke luar dengan cukup keras. Setelah itu, Calvin pun mulai bercerita tentang apa yang terjadi, dengan detail, tanpa menambahi dan tanpa mengurangi sedikitpun.
"Brengsek! beraninya mereka mengusik putriku! Aku tidak akan tinggal diam, aku akan membuat mereka hancur sampai tidak ada gunanya lagi untuk menyesal. Bagas sontak berdiri dengan rahang yang mengeras, dan wajah yang sudah memerah, pertanda kalau amarah pria itu sudah sampai ke ubun-ubun.
Setitik butiran sebening kristal, menetes keluar dari sudut mata Cantika. Sebenarnya semenjak Calvin membaringkannya di atas sofa, tidurnya sudah terusik. Akan tetapi, gadis itu berpura-pura untuk tetap memejamkan matanya. Semenjak Calvin bercerita, Cantika sudah berusaha untuk menahan air matanya agar tidak keluar. Apalagi ketika mendengar Calvin yang sudah mengikutinya dari awal, dan meminta Dion untuk melaporkan apapun yang terjadi di dalam padanya. Dia seketika merasa dicintai oleh pria itu, walaupun tidak pernah terucap dari mulut pria itu.
Cantika tidak bisa menahan air matanya untuk keluar lagi, ketika mendengar kemarahan papanya, yang tidak rela dirinya diusik.oleh orang lain.
"Kami sudah bangun,Sayang?" ucap Clara yang melihat air mata yang menetes dari sudut mata, putrinya itu.
Calvin sontak mengalihkan perhatiannya ke arah Cantika yang sudah membuka matanya. Calvin berdiri dan membantu Cantika untuk duduk.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang? apa kamu sudah merasa tenang sekarang?" tanya Clara yang langsung merengkuh bahu Cantika dan mendekapnya dengan erat.
Cantika tidak menjawab sama sekali. Dia hanya menangis di pelukan mamanya. Kemudian ,Clara, melerai pelukannya, dan menyelipkan rambut Cantika yang berantakan ke daun telinga, kemudian menyeka air mata putrinya itu.
Tanpa aba-aba, Cantika langsung menghambur ke pelukan Calvin yang duduk di sampingnya, hingga tubuh pria itu hampir terjatuh ke belakang.
"Kak, terima kasih ya sudah menolongku. Aku tidak tahu lagi, bagaimana jadinya jika kakak tidak datang menolong," ujar Cantika di tengah- tengah Isak tangisnya.
"Em, iya,iya. Mau berapa kali kamu mau mengucapkan terima kasih? Aku rasa di dalam mobil sudah puluhan kali kamu mengucapkannya," sahut Calvin, dengan ekor mata yang melirik ke arah Bagas dan Clara.
__ADS_1
"Pelukannya bisa dilepas, gak? papa sama Mama kamu ngeliatin kita?" bisik Calvin. Cantika seketika mengerucutkan bibirnya dan malah makin mengencangkan pelukannya.
"Sayang, sepertinya putrimu sudah baik-baik saja, dan tidak membutuhkan kita lagi." celetuk Clara, yang jengah dengan sikap putrinya.
"Iya, sebaiknya kita pergi dari sini,Sayang. Putriku sudah tidak mencintaiku lagi. Dia lebih memilih memeluk pria lain dibandingkan aku, papanya. Sungguh tega." Bagas menimpali ucapan Clara istrinya dengan berpura-pura memasang wajah sedih, hingga membuat Calvin semakin salah tingkah.
"Bu-bukan se-seperti itu, Om." ucap Calvin, gugup.
"Ayo, Sayang kita pergi!" ucap Bagas seraya meraih tangan istrinya dan mengajak pergi.
Kecanggungan terjadi di antara Calvin dan Cantika, setelah mereka hanya berduaan di ruang tamu itu.
"Ehem, ehem. Sebaiknya aku pulang sekarang! sudah makin larut soalnya." ucap Calvin, menghentikan kecanggungan yang terjadi.
"Kenapa Kakak tidak menginap di sini saja? banyak kamar kosong di rumah ini."
"Tidak usah! aku lebih baik pulang saja," ucap Calvin sambil berdiri dari tempat duduknya dan nyaris melangkahkan kakinya.
"Kak, kenapa kakak punya niat untuk mengikutiku dan bahkan sampai menyuruh Dion untuk menjadi mata-matamu? apa kakak menyukaiku?"
"Kamu jangan asal bicara. Aku hanya ingin melaksanakan tanggung jawab yang diberikan oleh om Bagas untuk menjagamu. Tidak lebih," sahut Calvin, tanpa melihat wajah Cantika.
"Tanggung jawab apa? kenapa kakak harus bertanggung jawab padaku? apa Kakak masih takut kalau, usaha kakak akan dibangkrutkan sama papa? aku kan sudah bilang, kalau kakak tidak perlu khawatir tentang itu. Mulai sekarang, kalau kakak sama sekali tidak menyukaiku, kakak tidak perlu untuk mengawasiku lagi. Kakak boleh mencari wanita yang Kakak sukai mulai dari sekarang."
Calvin sontak memutar tubuhnya dan menatap Cantika dengan tatapan tidak suka, begitu mendengar ucapan gadis itu.
"Kamu jangan bicara sembarangan! aku sama sekali tidak memikirkan masalah tentang ancaman Om Bagas." sangkal Calvin.
"Jadi gara-gara apa?"
"Itu karena kamu seorang wanita yang masih remaja yang masih butuh perlindungan. Sedangkan kamu tidak mempunyai kakak laki-laki yang bisa melindungimu. Dan kamu tahu, kalau Brian adik kamu juga masih remaja labil."
Cantika tersenyum kecut, mendengar ucapan Calvin. Dia kecewa dengan ucapan Calvin yang kalau bisa ditarik kesimpulan, kalau pria itu menempatkan dirinya hanya sebagai seorang kakak.
__ADS_1
Cantika meraih tasnya, dan mengambil ponselnya dari dalam tas itu. Kemudian dia menekan nomor seseorang dan langsung meletakkan ponsel itu ke telinganya.
"...."
"Halo,Yon. Aku baik-baik saja kok. Terima kasih ya, udah bantuin aku tadi."
"....."
"Nggak ada, aku cuma mau besok pertemukan aku dengan laki-laki yang mau kenalan samaku, waktu di rumah Om Ardan, ya? kayanya aku sudah saatnya punya kekasih, dan aku rasa dia menyukaiku,"
Mendengar ucapan Cantika, Calvin sontak merampas ponsel itu dan langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
"Apa maksudmu mengatakan seperti itu?" tanya Calvin dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Aku cuma mau mencari kekasih, yang bisa melindungiku, agar kakak tidak susah-susah menjagaku. Jadi kakak bisa bebas untuk mencari calon istri."
"Aku tidak mau! Calon istriku itu, kamu!" cetus Calvin tanpa sadar.
Cantika tersenyum samar, sampai hampir tidak terlihat. " Tapi, bagaimana bisa kakak nanti menikahi, perempuan yang tidak kakak cintai? aku juga tidak mau menikah dengan pria yang tidak mencintaiku."
"Siapa bilang aku tidak mencintaimu? aku mencintaimu!" Ucap Calvin tegas, walaupun dia masih belum menyadari ucapannya.
"Serius, Kak? coba ulangi lagi?" Cantika mendekatkan wajahnya ke wajah Calvin dengan mata yang berbinar dan mengerjap-erjap serta bibir yang tersenyum manis.
"E-emang aku bilang apa? tanya Calvin gugup dengan semburat merah yang muncul di pipinya.
Cantika memundurkan wajahnya, dengan bibir yang mencebik, kesal.
"Ya udah! kalau Kakak tidak ingat, sekarang Kakak pulang saja." Cantika memutar badannya dan hendak berlalu dari depan Calvin. Akan tetapi, lengan besar milik Calvin langsung menahan tubuh Cantika dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu! aku mencintai gadis yang sering aku panggil bocil ini!" ujar Calvin sambil memberikan kecupan di puncak kepala gadis itu.
Cantika mengerakkan tangannya, merangkul pinggang Calvin dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang pria dewasa itu.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, Kak." gumamnya.
Tbc