
Berita mengenai bangkrutnya orang terkaya ketiga itu, langsung cepat tersebar di media sosial dan berita-berita di televisi. Entah siapa yang menyebarkan, entahlah. Tapi yang jelas sekarang masalah kebangkrutan itu, sudah menguasai media sosial.
Rio baru saja pulang dan langsung mandi setelah berbasa-basi sebentar dengan ibu mertuanya. Setelah menyiapkan pakaian suaminya, Jasmine turun ke bawah untuk membuatkan teh hijau buat suaminya itu, seperti biasa.
"Jasmiiiine!"Ratna histeris tiba-tiba dari arah ruang keluarga.
Jasmine sontak berlari untuk menghampiri mamanya yang sudah tersungkur di lantai.
"Ada apa, Ma? apa yang terjadi?" cecar Jasmine , memeluk mamanya. Lamat-lalat dia dengar suara dari televisi yang menyebutkan nama perusahaan, papanya. Seketika mata Jasmine langsung membesar dan mengerti kenapa tiba-tiba mamanya histeris.
"Papamu benaran sakit, Nak. Sekarang mama harus ke rumah sakit, lihat papa kamu." Ratna berdiri dan nyaris melangkah pergi. Tapi dia menyurutkan langkahnya ketika mendengar suara Rio.
"Ada apa? kenapa mama berteriak?" Rio sudah berdiri di anak tangga dengan raut wajah bingung sekaligus khawatir.
"Apa maksudmu, Mas? ini semua ulah kamu kan? kamu kok tega buat perusahaan papa bangkrut. Aku kira selama ini kamu ikhlas buat bantu papa, ternyata aku salah menilaimu." tutur Jasmine, dengan suara tinggi. Untungnya Celyn sudah tidur, kalau tidak Celyn pasti akan menangis bila melihat papa mamanya adu mulut.
"Kamu jangan marah-marah! kamu dengarkan dulu penjelasanku. Aku ___"
"Apa? aku mau dengar apa? demi membantu perusahaan Ardan, kamu sampai tega membuat papa bangkrut. Sekarang papa terkena serangan jantung, puas kamu hah?" Jasmine sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi, karena amarah sudah menguasai pikirannya.
Rio bergeming dan kaget mendengar informasi kalau papa mertuanya terkena serangan jantung. Hal ini benar-benar di luar perkiraannya. Dia tidak pernah tahu atau pernah dengar kalau, Johan Mahendra mempunyai riwayat jantung.
"Jasmine, aku tidak pernah tahu kalau papamu ada penyakit jantung, dan __"
"Dan apa? seandainya papa tidak punya penyakit jantung pun, apa kamu bisa disebut manusia, hanya karena membela perusahaan sahabatmu itu, kamu sampai membuat perusahaan papa bangkrut?" Jasmine yang hilang kendali sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Rio untuk menjelaskan duduk persoalannya.
"Jasmine, dengarkan dulu penjelasan, Nak Rio!" Ratna berusaha menenangkan putrinya. Dari sorot manik mata yang ditunjukkan oleh Rio, Ratna yakin kalau Rio memiliki alasan untuk apa yang sudah dia lakukan.
"Tidak perlu, Ma. Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Jasmine meraih tangan mamanya dan berlalu pergi.
"Jasmine, kamu tidak boleh begitu, dengarkan dulu penjelasanku!" teriak Rio, masih berusaha untuk menjelaskan.
Jasmine memutar badannya dan menatap sengit ke arah Rio, suaminya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi, yang jelas, aku sekarang tahu siapa kamu. Dan ingat, jika terjadi sesuatu pada papa, akubtidak akan pernah memaafkanmu!" Jasmine mengangkat tangan seraya menunjuk ke arah wajah Rio. Kemudian dia melanjutkan langkahnya, keluar bersama sang mama yang terlihat masih berusaha membujuk Jasmine. Sayangnya, Jasmine sama sekali terlihat tidak menghiraukan apa pun yang diucapkan oleh mamanya.
"Arghhhh! Pekik Rio, sambil meninju tembok dengan keras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ardan terbeliak kaget mendengar informasi, Johan Mahendra terkena serangan jantung akibat kebangkrutan yang dia alami. Dia sontak meraih handphonenya, menghubungi Rio, untuk mengkonfirmasi berita yang beredar.
"Kenapa telponku tidak diangkat sih?" gumam Ardan di percobaan yang kedua kali.Tapi, Ardan tidak putus asa, dia kembali menghubungi Rio, dan sampai bunyi yang terakhir, Rio tetap saja tidak mengangkat teleponnya.
"Kemana sih dia? apa dia ke rumah sakit ya?" Ardan menduga-duga. Sejurus kemudian, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dia melihat orang yang sedang dia pikirkan sedang menghubunginya balik.
"Ada apa,Dan?" terdengar suara lesu, tidak semangat dari ujung telepon.
"Yo, apa kamu baik-baik saja? aku dengar suaramu tidak bersemangat." tanya Ardan.
"Jasmine marah, Dan. Dia mengira kalau aku lebih mementingkan perusahaanmu, dari pada papanya. Dan dia mengatakan, gara-gara akulah papanya terkena serangan jantung. Aku sekarang bingung, Dan. Aku merasa sangat bersalah dengan semua tindakanku." keluh Rio dengan suara yang seperti ingin menangis.
"Ini bukan salah kamu. Kamu melakukannya demi menjaga harga dirimu." Ardan menyangkal pemikiran sahabatnya itu.
"Rio, kamu jangan plin-plan. Kalau kamu kembalikan sekarang apa kamu bisa jamin, Om Johan langsung sembuh? tidak kan? udah lah, semua pasti akan baik-baik saja. Sekarang tenangkan dulu pikiranmu. Kamu dimana sekarang?"
"Aku ada di taman rumah sakit. Jasmine mengusirku, ketika melihat aku menyusulnya ke sini." suara Rio terdengar semakin lesu.
"Baiklah, aku menyusulmu ke sana!"
"Tidak usah, Dan. Halo ... halo, Dan. Kebiasaan deh, main matikan telepon secara sepihak." Rio memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ardan benar-benar datang ke rumah sakit bersama dengan Amanda yang memaksa ingin ikut.
Sesampainya di rumah sakit, Ardan tidak langsung menyusul Rio ke taman. Akan tetapi dia lebih memilih untuk menemui Jasmine dan mamanya.
__ADS_1
"Jasmine!" seru Amanda dengan sedikit berlari menghampiri sahabatnya, lalu memberikan pelukan menenangkan.
"Ngapain kamu kesini?" ketus Jasmine ke Ardan. Entah kenapa, dia merasa Ardanlah dasar dari semua masalah, yang membuat suaminya jadi orang yang tega.
"Oh, aku ke sini hanya melihat bagaimana wajah orang egois sekarang." Sahut Ardan santai yang langsung mendapat cubitan dari Amanda.
"Apa maksudmu? apa kamu mau mengatakan kalau aku lah yang egois? yang egois itu justru kamu dan Rio." ketus Jasmine sengit dengan raut wajah sinis.
"Oh ya? apa namanya kalau bukan egois bagi orang yang tidak mau mendengarkan penjelasan suaminya sendiri. Apa itu bisa dikatakan sesuatu yang baik?" sindir Ardan sarkasme.
Jasmine berdecih mendengar ucapan Ardan. Situasi ini benar-benar tidak terasa nyaman buat Amanda. Antara mau membela suaminya atau sahabat yang selama ini ada untuknya.
"Cih, apa juga namanya, kalau demi perusahaan sahabatnya, sampai tega menghancurkan perusahaan papa mertuanya." balas Jasmine, masih dengan posisi sengit.
Ardan tersenyum miring mendengar balasan dari Jasmine. "Apa selama ini papa kamu mengganggap Rio menantunya? tidak bukan? dan __"
"Apa karena tidak dianggap, Rio sampai begitu tega untuk menghancurkan usaha papa?" Jasmine menyela ucapan Ardan.
"Apa kamu sudah tahu masalah sebenarnya? kenapa suami kamu sampai tega melakukannya?__tunggu dulu, jangan potong lagi ucapanku, Nona Jasmine yang tidak egois." Ardan menghentikan Jasmine yang terlihat ingin memotong ucapan Ardan lagi.
"Dengar baik-baik! kamu hanya berpikir dari perspektif dirimu sendiri. Tapi apa kamu bertanya dengan jelas alasan Rio melakukan itu semua? Kamu memikirkan papamu, tapi apa kamu juga memikirkan perasaan Rio? Kamu menganggap Rio lebih mementingkan perusahaanku dari pada papamu? apa kamu tahu dengan jelas bagaimana perasaan suami kamu sendiri? Kamu sangat egois, Jasmine, tanpa tahu jelas duduk persoalannya, kamu sudah tega membuat hati suami kamu sakit. Apa tidak cukup, papa kamu saja yang membuat hati Rio sakit? sehingga kamu juga berniat membuat hati suami kamu tambah sakit? kamu mau mengatakan, 'harusnya Rio itu sabar menghadapi papa dan yakin kalau suatu saat papa pasti berubah', kapan? kapan papamu akan berubah? belum cukupkah kesabaran Rio selama bertahun-tahun direndahkan oleh papamu? apa suamimu tidak punya hak untuk memiliki harga diri? apa cuma papamu dan kamu yang pantas dijaga harga dirinya, sedangkan Rio sama sekali tidak pantas? asal kamu tahu, Rio sudah berusaha untuk bersabar dan mengatakan padaku untuk bermusyawarah untuk mengambil jalan tengahnya. Seandainya Rio dendam pada papamu, bisa saja dia setuju untuk melaporkan papamu ke polisi, karena sudah meretas sistem keamanan Bagaskara Company dan mencuri data serta merebut beberapa klien kami dengan curang. Tapi apa? Rio meminta agar kami mengambil jalan tengah dengan mendatangi papa kamu, dan meminta dengan baik agar papa kamu menghentikan semuanya. Tapi papa kamu dengan lantang menolak dan justru menghina Rio." Ardan berhenti sejenak untuk mengambil jeda, sekaligus meraup oksigen untuk mengisi paru-parunya yang mulai kekurangan oksigen. Sedangkan Jasmine tergugu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kamu tahu Jasmine, papa kamu kembali menghina suamimu, mengatakan kalau suamimu hanyalah seorang kacung di keluarga Bagaskara dan berniat akan memisahkan kalian berdua. Apakah menurutmu, Rio pantas mendapat penghinaan seperti itu terus-menerus? aku jadi mempertanyakan, rasa cintamu pada Rio, seorang istri bukannya akan merasakan sakit, kalau harga diri suaminya diinjak-injak bagaikan seonggok kotoran? tapi aku tidak melihat itu ada pada dirimu. Kamu hanya melihat kenyataan, kalau papa kamu sekarang terbaring di dalam sana, tanpa memikirkan apa dan mengapa itu bisa terjadi. Kalau masalah papahmu, yang terkena serangan jantung, itu di luar kuasa Rio. Itu sudah skenario author, eh Tuhan." Sambung Ardan kembali dengan mata yang berapi-api.
Jasmine bergeming, tercenung dan seketika dari matanya menetes cairan bening membasahi pipinya.
"Iya, Nak. Semua yang terjadi pada papamu, di luar kuasa nak Rio. Ini semua adalah teguran dan karma buat papamu. Dulu setiap kali mama berniat mendatangimu, papa selalu menipu mama dengan berpura-pura terkena penyakit jantung, agar mama segera pulang kembali. Sekarang anggap saja Tuhan mengabulkan keinginan papamu, untuk memiliki penyakit jantung," ucap Ratna sambil menyugar rambut putrinya itu dengan lembut.
"Jadi sekarang aku harus bagaimana, Ma? aku sudah kasar dan bahkan mengusir, Mas Rio." Jasmine menangis sesunggukan.
"Temui dia, dan minta maaflah. Suamimu sekarang ada di taman rumah sakit ini." Amanda buka suara sambil mengelus lembut punggung sahabatnya itu.
Tbc
__ADS_1
Oh ya, terima kasih ya, buat semua dukungannya, hingga membuat karya saya ini bisa menduduki rangking 10 Minggu ini.Tanpa kalian semua, aku tidak mungkin bisa sampai sejauh ini. Salam dan peluk serta cium online buat kalian semua.🥰😘😍♥️♥️♥️
Mohon untuk tetap meninggalkan jejaknya ya gais.Like, vote dan komen. Thank you😍🙏