Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Karma itu ada


__ADS_3

Aby memutuskan untuk tidak kembali lagi ke kantor setelah kembali dari kediaman Rio. Dia menyerahkan semua pekerjaannya pada Yuda, asisten papanya dulu, dan sekarang menjadi asistennya juga, yang walaupun sudah berusia 41 tahun, tapi masih cekatan dan tetap berjiwa muda.


Aby memarkirkan mobilnya di depan mansion dan segera turun. Sepanjang perjalanan, hatinya selalu bertanya-tanya, kenapa dia bisa makan begitu lahap dan tidak merasakan mual sedikitpun ketika memakan makanan yang dimasak oleh Celyn. Awalnya dia mengira, karena masuk angin yang dia rasa sudah tidak ada lagi. Tapi anggapan itu berubah sirna, ketika aroma makanan yang dimasak oleh Jasmine, menyapa hidungnya, perutnya serasa diaduk-aduk kembali.


"Ada apa dengan diriku? apa ini karena kedua anak yang dikandung oleh Celyn benar-benar menginginkan aku sebagai papanya? mungkin saja seperti itu." bisik Aby, yakin.


Aby memasuki mansion dan melihat suasana sangat sepi. Hanya terlihat para pembantu yang berlalu lalang dan menyapa Aby sambil membungkukkan badannya.


"Mbak, mama dan papa mana?" tanya Aby pada salah satu pelayan yang kebetulan sedang berpapasan dengannya.


"Pak Ardan dan Ibu tadi keluar, Tuan dan aku tidak tahu mau kemana," sahut wanita yang dipanggil mbak itu, sopan.


"Oh! ya udah, aku naik dulu ya, Mbak!" Aby beranjak naik ke atas, setelah wanita yang merupakan asisten rumah tangga itu, mengiyakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti biasa, setelah makan malam, Ardan dan Amanda tidak langsung masuk ke dalam kamar. Biasanya mereka akan akan mengobrol santai di ruang keluarga sambil menonton acara di televisi.


"Ma, Pa, boleh Aby bicara sebentar?" tanya Aby sembari mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.


Ardan dan Amanda saling silang pandang sejenak. Mereka menyadari kalau sepertinya ada hal serius yang ingin dibicarakan oleh putranya itu.


"Boleh, kenapa tidak?" ucap Ardan dengan tangan yang meraih remote control dan menekan tombol off, mematikan televisi.

__ADS_1


"Kamu mau mengatakan apa?" tanya Ardan dengan raut wajah serius.


Aby mengatur napas sejenak dengan menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan dan cukup panjang. Sedangkan Amanda dan Ardan menantikan anaknya itu untuk mengungkapkan apa yang ingin dibicarakan dengan sabar.


"Pa, Ma, aku mau menikah dengan Celyn," ucap Aby, langsung tanpa basa-basi.


"Serius?!" Sorak Amanda bahagia, sampai-sampai dia berdiri dari tempat dia duduk, dan Aby menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Syukurlah, akhirnya kamu mau memenuhi permintaan mama." Amanda kembali mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa, dengan senyum mengembang yang enggan pergi dari bibirnya.


Sementara itu, Ardan tidak memberikan respon yang berlebihan seperti Amanda. Dia justru menatap intens ke arah Aby, menelisik raut wajah putranya itu, merasa kalau ada hal lain yang ingin disampaikan oleh putra sulungnya itu.


"Kenapa dengan wajahmu? kamu mengatakan kalau kamu ingin menikah dengan Celyn, tapi sepertinya ada hal lain yang ingin kamu sampaikan," ujar Ardan dengan sorot mata yang menyelidik.


Netra Amanda dan Ardan membesar dengan sempurna, menatap putranya dengan tatapan tidak percaya.


"Apa kamu yang membuat dia hamil?" sorot mata Ardan memerah menahan marah, merasa kalau perbuatan putranya sangat bejat.


"Bukan,Pa! tapi orang lain yang bahkan Celyn pun tidak tahu itu siapa." jelas Aby, membuat Amanda dan Ardan semakin dilanda rasa kaget dan kebingungan.


Melihat kedua orangtuanya yang speechless, Aby akhirnya menceritakan secara detai, apa yang sudah terjadi dan bahkan alasan kenapa dia memutuskan untuk menikah dengan Celyn dan menjadi ayah dari bayi yang dikandung oleh wanita itu.


"Ma, dulu Tante Jasmine berkorban untuk menolong dan menutupi aib mama. Jadi biarlah sekarang aku melakukan hal yang sama untuk menutupi aib Celyn." terang Aby dengan tulus.

__ADS_1


Amanda dan Ardan, bergeming dan saling silang pandang untuk sepersekian detik. Detik berikutnya, Ardan menghela napasnya dengan helaan yang cukup panjang dan kembali menatap ke arah putranya, yang sabar menanti keputusan dari kedua orang tuanya.


"Papa, hanya bisa menghargai keputusanmu dengan menyetujui apa pun yang kamu anggap baik. Tapi kamu harus tahu, kalau pernikahan itu, hal yang serius dan tidak boleh kamu anggap permainan. Apa kamu sudah sangat yakin dengan keputusanmu?" tanya Ardan.


"Aby sudah memikirkannya matang-matang dan sudah sangat yakin dengan keputusan yang sudah Aby ambil," sahut Aby, tegas.


"By, mama mau tanya, apa kamu tidak memiliki perasaan cinta pada Celyn?" tanya Amanda, menatap dalam ke manik mata Aby.


Aby, bergeming, tidak tahu untuk menjawab apa atas pertanyaan mamanya itu, karena dirinya sendiri masih merasa ambigu dengan perasaaan yang dia miliki.


"Untuk sekarang aku masih belum tahu jelas perasaan yang aku miliki, Ma. Tapi, aku tidak mau mengatakan kalau aku tidak mencintainya. Karena, kalau aku berkata seperti itu, aku sudah dapat memastikan, kalau aku benar-benar tidak mencintainya . Tapi, aku hanya mau mengatakan, mungkin aku 'belum' mencintainya dan suatu saat seiring berjalannya waktu, kata belum itu bisa berubah menjadi sudah mencintainya." ucap Aby, diplomatis.


"Tapi, kenapa mama bertanya seperti itu?" tanya Aby dengan alis yang bertaut.


"Karena hidup bersama pria yang tidak mencintai kita, merupakan hal yang sangat menyakitkan bagi seorang wanita, Nak. Wanita itu ciptaan Tuhan yang diberikan keistimewaan. Dia bisa terlihat tetap tegar meski nyaris menyerah, tetap sabar meski ingin mengeluh, tetap kuat meski hampir terjatuh. Mungkin secara kasat mata, tidak akan terlihat, tapi sebenarnya batin seorang wanita itu menangis, bila mendapatkan suami yang bersikap apatis pada mereka," terang Amanda, ingin anaknya itu, mengerti kalau dia sudah berani memutuskan untuk menjadikan Celyn istrinya, dia harus siap untuk memberikan kenyamanan dan membuat wanita itu merasa benar-benar merasa dicintai.


Aby mangut-mangut, mengerti apa maksud perkataan mamanya itu. "Mama, tenang saja, bukannya tadi aku mengatakan kalau kata belum bisa berubah jadi 'sudah'? itu artinya, Aby sudah berniat akan belajar membuka hati dan berusaha untuk mencintai Celyn." tegas Aby, hingga membuat senyum di bibir Amanda mengembang dengan sempurna.


"Baiklah, mama percaya, kalau anak mama ini, pria yang bertanggung jawab pada apa yang sudah diucapkannya. Ingat Nak, kalau kamu berpikir untuk menyakiti seorang wanita, segeralah ingat kalau kamu dilahirkan dengan susah payah oleh seorang wanita. Dan ingat juga, kalau kamu memiliki seorang adik perempuan. Bayangkan saja, jika kamu menyakiti hati seorang wanita, ada pria lain yang akan menyakiti Anin, atau bahkan putrimu kelak. Atau kata sederhananya 'karma itu ada'." Tutur Amanda, memberikan nasehat.


"Ya, apa yang dikatakan oleh mamamu itu benar. Tapi ada lagi yang lebih penting, harus kamu tanamkan dalam hati dan harus kamu ingat baik-baik. 'Ingat, wanita itu selalu benar'." celetuk Ardan yang sontak mendapat pelototan tajam dari Amanda.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2