
Calvin kini benar-benar tidak semangat untuk melakukan pekerjaannya. Pikirannya kini dipenuhi rasa bersalah pada Cantika.
"Apa, aku sudah kelewatan padanya," bisiknya pada diri sendiri, sambil menggusak kepalanya dengan kasar.
Calvin menyenderkan tubuhnya, dan menajamkan matanya sambil menggoyang-goyangkan kursinya.
"Cal, kamu tidur?" Calvin tersentak kaget, hingga begitu tiba-tiba mendengar suara seseorang.
"Kamu Kenjo, ngagetin aja?" Calvin menyentuh dadanya, dan menepuk-nepuknya pelan, untuk menghilangkan rasa kaget yang dia rasa. Sedangkan Kenjo hanya terkekeh melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Maaf, Sob! aku kirain kamu lagi tidur. Lagian kamu mikirin apa sih, sampai-sampai aku buka pintupun kamu nggak dengar?" tanya Kenjo sambil mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.
"Tidak ada. Aku hanya merasa capek aja," sahut Calvin, malas.
Kenjo memicingkan matanya, merasa kalau sahabatnya itu sedang ada masalah. Karena dia tahu, secapek apapun Calvin, dia tidak pernah bertingkah aneh seperti ini.
"Kamu ada masalah ya, Cal?"
"Tidak ada! kamu mau apa kemari? apa ada hal yang penting?" tanya Calvin mencoba untuk bersikap seperti biasa.
"Sebenarnya,iya. Tapi sepertinya kamu lagi ada masalah. Jadi, besok saja aku omongin ke kamu. Kamu lebih baik ngomong sama aku, kamu ada masalah apa?" Kenjo menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa, sambil menatap ke arah Calvin, posisi siap mendengarkan.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak ada masalah, kenapa kamu tidak percaya sih?" Calvin mulai kesal.
"Ya udah, kalau kamu tidak mau cerita, tidak apa-apa. Aku balik dulu. Kapan saja kamu mau cerita, aku siap mendengar. Aku balik ya, Sob. Kalau perlu teman curhat, aku siap. Bye!" Kenjo berdiri, menepuk pundak Calvin, kemudian melangkah ke luar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sang raja tata Surya kini mulai merangkak tertatih-tatih ke arah barat, pertanda kalau dia sudah mulai lelah untuk menerangi bumi. Sedangkan bulan, sang panglima dan para prajurit bintang-bintang, kini mulai bersiap-siap menggantikan tugas sang raja.
Bagas terlihat memasuki pekarangan rumahnya dan langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi.
Bagas melangkah masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, Clara sang istri akan selalu menyambutnya dengan senyuman dan langsung mengambil alih tas kerja dari tangan Bagas.
__ADS_1
"Cantika sama Brian dimana, Sayang? tanya Bagas setelah memberikan kecupan singkat di puncak kepala istrinya.
"Ada di kamar masing-masing, Mas? jawab Clara yang setelah kelahiran Cantika dulu, sudah mengganti panggilannya dari Kak, menjadi mas.
"Mas sekarang mandi aja dulu, aku nyiapin makan malam dulu!" sambung Clara kembali.
"Kenapa kamu sendirian? kenapa Cantika tidak membantu?" Bagas mengrenyitkan keningnya.
"Entah! dari tadi siang, putrimu itu, tidak keluar dari kamarnya. Sepertinya dia marahan sama Calvin."
"Kok bisa? bukannya pas aku tinggalkan mereka baik-baik saja?"
Clara mengembuskan napasnya, dengan sekali hentakan. "Mas, sepertinya kita tidak usah deh menjodohkan mereka. Mereka itu tidak saling mencintai. Jadi, kita tidak boleh memaksa kehendak kita." ucap Clara, lirih.
Bagas menghela napasnya dan menerbitkan senyum di bibirnya. "Kamu tenang saja, biar aku yang membicarakan ini pada Cantika. Aku ke atas dulu ya," Bagas naik ke atas, setelah Clara, menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Sesampainya di atas, Bagas mengetuk pintu kamar Cantika, "Cantika, Can ... buka pintunya dulu, Nak!" Seru Bagas dari luar, tapi tidak ada respon sama sekali dari Cantika.
Bagas mengetuk kembali, tapi tetap saja tidak ada respon. "Cantika, kalau kamu tidak membuka, papa akan mendobrak kamarmu,"
"Kamu kenapa? kamu lagi kesal?" Bagas langsung mencecar dengan tatapan tajam.
"Iya, aku kesal sama, Papa." ucap Cantika ketus.
"Kesal kenapa? apa papa ada buat salah?" Bagas menautkan kedua alisnya, bingung dengan maksud ucapan Cantika.
"Aku kesal, karena papa sudah memaksa orang untuk menikah dengan putri papa, sampai pakai ngancam-ngancam mau buat bangkrut perusahaannya kalau tidak mau menikahi putrimu. Apa itu tidak jahat?" protes Cantika dengan bibir yang mencebik.
Bagas mengulum senyumnya, langsung mengerti kenapa putrinya itu bisa sampai marah. "Cantika, sebenarnya itu hanya alibi papa saja. Tidak mungkin papa bisa Setega itu membuat perusahaan Calvin bangkrut karena hanya tidak mau menikahimu. Sebenarnya papa punya alasan kenapa papa ingin Calvin menjadi suamimu kelak."
"Apa?" tanya Cantika, penasaran.
"Karena papa ingin yang terbaik buatmu dan papa sudah lama mengenal Calvin. Dia pria yang sangat bertanggung jawab dan sangat menghormati wanita.
__ADS_1
"Itukan menurut papa. Kalau menurut Cantika, tidak. Tadi bahkan dia bilang, kalau bukan karena ancaman Papa, dia lebih baik melajang seumur hidupnya daripada menikah denganku. Apa itu yang namanya menghormati wanita? emang aku seburuk apa, sampai dia bicara seperti itu?"
Bagas kembali tersenyum menanggapi ucapan putrinya. "Itu karena kamu galak. Makanya jadi wanita itu jangan galak-galak."
"Alah, mama aja galak, tapi papa tetap cinta kok." Cantika, mencibir papanya.
"Asal kamu tahu, waktu kecil mama kamu itu nggak galak. Papa juga jadi bingung kenapa setelah dewasa, mamamu jadi galak seperti itu?" terang, Bagas dengan senyuman yang tidak tanggal dari bibirnya.
"Pokoknya,Pah aku tetap tidak mau menikah nantinya dengan Kak Calvin. Karena aku tidak suka padanya dan dia juga tidak suka samaku, titik nggak pakai koma." tegas Cantika.
"Cinta itu bisa hadir kalau kalian berdua sering berinteraksi. Apa kamu tidak tertantang, untuk bisa menaklukkan hati Calvin? kamu harus buat dia termakan dengan ucapan dia sendiri, bagaimana?" Bagas memprovokasi putrinya, yang dia tahu kalau putrinya suka tantangan.
Cantika, terdiam dengan memutar bola matanya, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Sepertinya iya sih,Pah. Aku harus buat dia menarik kembali ucapannya." tekad Cantika sembari menganggu-anggukan kepalanya.
"Apa kamu mau tahu alasan lain, kenapa papa ingin menjodohkan kalian berdua?"
Cantika menganggukkan kepalanya, merasa penasaran.
"Selain karena dia laki-laki yang bertanggung jawab, papah ingin memenuhi amanat dari kakek buyutmu dan kakek buyut Calvin. Dulu kakek buyutmu pernah ditolong oleh kakek buyut Calvin. Mulai dari situ, mereka berdua bersahabat dan berjanji, kalau mereka nanti akan menjodohkan anak-anak mereka. Akan tetapi, ternyata mereka sama-sama punya anak laki-laki, yaitu kakekmu dan kakek Calvin. Jadi, mereka bilang, nanti biarlah cucu mereka yang berjodoh. Tapi, ternyata, aku dan mamanya Calvin tidak berjodoh, karena papa menunggu mamamu, sedangkan mamanya Calvin, menikah dengan orang lain yang lebih mencintainya, jauh sebelum papa menikah dengan mamamu." Bagas berhenti sejenak untuk mengambil jeda, sekaligus untuk meraup oksigen, yang mulai berkurang karena dia banyak bicara.
"Makanya, ketika Calvin bercanda, memintamu untuk dijadikan sebagai istri, papa pura-pura menolak awalnya, agar papa tidak terlalu terlihat senang. Tapi, akhirnya papa menerima dan bahkan sampai memberikan ancaman padanya. Besar harapan papa, agar kamu dan Calvin yang bisa memenuhi amanat kakek buyutmu itu, Sayang." sambung Bagas kembali, menjelaskan.
Netra Cantika membesar dengan sempurna mendengar penjelasan papanya.
"Hmm, baiklah, Pah. Tapi sebenarnya bukan karena. amanah dari kakek buyut. Tapi karena aku merasa tertantang. Aku ingin membuat dia menarik kata-katanya sendiri."
Selepas berkata seperti itu, dan setelah papanya keluar dari kamarnya, Cantika langsung meraih ponselnya dan menghubungi nomor Calvin. Bukan panggilan biasa,melainkan video call.
"Hai, calon suamiku!" sapanya begitu wajah Calvin terpampang jelas di layar ponselnya, tidak peduli dengan ekspresi kaget Calvin dari ujung sana.
Tbc
__ADS_1
Hari Senin kembali menyapa. Aku tidak akan lupa juga meminta dukungan kalian semua, untuk memberikan Vote, pada karyaku ini. Semoga kalian berkenan memberikannya. 🙏😁😍🤗