
"Ini acaranya lama lagi ya dimulainya?" Ardan melirik ke jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.
"Sabar, Mas. lagian kan acaranya dimulai jam 7. Ini baru jam 6.58, jadi masih ada waktu dua menit lagi." Amanda menyahut sambil mengelus dada suaminya.
"Astaga, Amanda. Itu yang kamu lihat jam di ponselmu, di jam tangan aku udah pas."
"Jam tanganmu kecepatan. Yang benar itu jam di ponselku," Amanda tidak mau kalah.
Rio menggelengkan kepala mendengar perdebatan sepasang suami istri itu.
"Demi apa, kalian berdua memperdebatkan jam berapa? kalian berdua tunggu saja, nanti kan bakal dimulai juga," celetuk Rio mengehentikan perdebatan sepasang suami istri itu.
"Perlu, Yo! hal sekecil apa pun harus__"
"Tunggu dulu! si Bagas ngirimin photo ke aku." Rio menyela ucapan Ardan, karena ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sedangkan Ardan juga melakukan hal yang sama, merogoh sakunya untuk meraih ponselnya yang juga berbunyi. Kedua pria itu tiba-tiba berdecih bersamaan melihat penampakan yang ada di ponsel mereka.
'Sah menjadi suami. Fix, aku tampan,' bunyi caption dari kiriman Bagas.
"Belagu banget nih orang," ucap Ardan yang diangguki kepala oleh Rio dengan sudut bibjr yang terangkat ke atas, sinis.
"Tapi, dia benaran tampan sih, iya kan, Jas?" celetuk Amanda, yang diangguki kepala oleh Jasmine, membenarkan.
Ardan dan Rio sontak menatap tajam istri masing-masing. Raut wajah mereka berubah dingin, tidak senang mendengar istri masing-masing memuji laki-laki lain.
Baru saja Ardan ingin buka mulut, ingin memprotes Amanda, tiba -tiba mulutnya langsung dibungkam oleh wanita itu menggunakan tangannya.
"sttt, jangan marah-marah! tuh acaranya mau mulai,"
Benar saja, suara master of ceremonies atau MC terdendengar mengumumkan kalau sang king dan Quenn untuk malam itu akan memasuki tempat acara. Semua para tamu berdiri dan memberikan tepuk tangan sesuai yang diperintahkan oleh sang MC.
Tampak Bagas dan Clara berdiri di ambang pintu masuk, saling menatap dengan mesranya.
Semua orang terpukau dengan interaksi keduanya, kecuali Ardan dan Rio yang berdecih. Bukan karena mereka iri atau tidak bahagia melihat sahabat mereka menikah, tapi mereka merasa jijik melihat kebucinan Bagas. Mereka tidak sadar kalau mereka berdua pun sama.
Ketika Bagas dan Clara melangkah perlahan menuju pelaminan, yang diiringi lagu ' I wanna grow old with you', membuat Ardan dan Rio seketika melupakan rasa ingin muntah mereka. Kedua manik mata mereka, justru kini terlihat berkaca-kaca melihat perjuangan sahabat mereka untuk menemukan cinta sejatinya, berbuah bahagia. Mereka berdua membalas senyuman Bagas yang tersenyum ke arah mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Acara berjalan dengan lancar sesuai rundown yang sudah disusun sebelumnya. Tampak Bagas dan Clara duduk di pelaminan sambil bercengkrama. Terlihat jelas binar bahagia di wajah kedua pasangan suami-istri baru itu. Tangan Bagas tidak pernah melepaskan tangan Clara. Dia menggenggamnya dengan erat.
"Wih, pengantin baru! auranya berbeda, " ucap Ardan, yang muncul bersama dengan Amanda disusul oleh Rio dan Jasmine.
"Selamat, Sob!" Ardan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Bagas.
Bagas sontak berdiri dan menyambut uluran tangan Ardan dengan senyum yang tidak pernah lekang dari bibirnya. Kemudian mereka saling merangkul dengan tangan Ardan yang menepuk-nepuk pundak Bagas.
Ketika Amanda hendak mengulurkan tangannya, belum juga kedua tangan itu bersentuhan, Ardan sudah menarik tangan istrinya, membuat Bagas berdecih. Ketika Ardan ingin menjabat tangan Clara, Bagaspun melakukan hal yang sama. Dia menarik tangan Clara sebelum bersentuhan dengan tangan Ardan.
Amanda berdecak seraya menggelengkan kepalanya, jengah dengan sikap cemburuan para pria itu.
Setelah Ardan dan Amanda selesai mengucapkan selamat, kini giliran Rio dan Jasmine yang mengucapkan selamat.
"Sob, kamu udah siapin tenaga kan buat nanti malam?" bisik Rio ketika merangkul Bagas.
"Sudah, dong. Tanpa kamu ingatkanpun, secara alamiah, itu pasti sudah siap dengan sendirinya." Bagas balik berbisik.
Wajah Clara seketika memerah mendengar bisikan keduanya. Karena walaupun keduanya berbisik, Clara masih bisa mendengar jelas dan mengerti arah pembicaraan keduanya.
"Clara, landasan sudah siapkan? soalnya nanti malam akan ada pesawat yang akan mendarat." ucap Rio, yang sontak mendapat cubitan kencang di pinggangnya.
"Kamu serius, Sayang? kamu bercanda kan?" tanya Bagas,memastikan.
"Iya, Kak, aku serius. Maaf ya!" desis Clara lirih, membuat Bagas terduduk lemas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aby sama sekali tidak bisa tidur, karena Anin kali ini sangat susah untuk dibujuk. Berkali-kali dia, mengetuk pintu kamar adiknya, tapi sang adik sama sekali tidak mau membukakan pintu.
"Hmmm, mungkin kalau aku bicara lembut pada Celyn, Anin tidak akan marah lagi," bisik Aby pada dirinya sendiri.
"Arghhh, kenapa sih tuh anak nyusahin aja." Aby menggusak kasar rambutnya.
" Om Jodi, tolong telepon Celyn! Aku mau bicara sebentar sama dia." titah Aby.
"Pakai ponsel saya, Tuan muda?" tanya Jodi.
"Tidak! pakai telepon rumah saja!"
__ADS_1
Jodi mengayunkan langkah mendekati telepon rumah untuk melakukan perintah Aby.
Ketika telepon tersambung, dan terdengar suara seorang wanita dari ujung telepon, "Hallo, dengan siapa?"
"Maaf, apa ini benar rumah Pak Rio?" tanya Jodi memastikan.
"Benar, Pak! aku pembantu di sini. Bapak mau bicara dengan Pak Rio ya? tanya wanita itu lagi dari ujung sana.
"Siapa, Mbok?" terdengar suara anak kecil, yang dapat dipastikan kalau itu suara Celyn.
Tut ... tut ...tut ...
Panggilan terputus seketika, bukan karena ada gangguan, tapi karena Aby yang merampas telepon dan langsung meletakkannya kembali di tempatnya, begitu mendengar suara Celyn.
"Lho, kenapa dimatikan, Tuan muda? Itu tadi suara , Non Celyn kan?" Jodi, mengrenyitkan keningnya
"Tidak apa-apa! aku mau ke kamar aku dulu! Selamat malam, Om Jodi." Aby mengayunkan kakinya melangkah dengan sedikit cepat, masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Jodi yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Sesampainya di kamar, Aby naik ke atas tempat tidur dan sebelumnya meraih buku, yang akan dia baca sebelum dia tidur. Entah kenapa ada perasaan menggelitik yang tiba-tiba menghampirinya. Dia menoleh ke arah lemari, tempat dia menyembunyikan boneka barbienya Celyn.
Aby beranjak turun dan melangkah menghampiri lemari. Dia membuka lemari lalu meraih boneka itu dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Apa sih istimewanya ini? apa dia bisa diajak bicara?" batin Aby dengan sudut bibir yang tertarik ke atas dan kepala yang berkali-kali miring ke kanan dan ke kiri, bergantian.
"Halo, aku Aby, nama kamu siapa?" kegeniusan Aby, hilang seketika. Dengan bodohnya dia mengajak boneka itu berbicara. Dengan kening berkerut Aby menunggu si boneka menyahut, tapi tidak ada respon sama sekali dari boneka itu.
"Astaga, kok aku jadi bodoh begini? kan gak mungkin boneka ini bisa bicara," Aby menepuk jidatnya, merutuki kebodohannya.
"Kak Aby!" suara Anin dari depan pintu, tiba-tiba mengagetkan Aby, sehingga tanpa sadar boneka itu terpental jatuh ke lantai.
Aby yang masih belum sadar kalau suara yang memanggilnya Anin, menendang-nendang boneka itu dengan hati-hati.
"Waduh, nih boneka benaran hidup," gumam Aby.
"Kak Aby, buka pintunya!" Teriak Anin kembali dari luar.
"Eh, bukan boneka ini ternyata, tapi itu suara Anin." Aby mengelus dadanya, merasa lega. Kemudian dia meraih kembali boneka itu. Netra Aby, memicing, melihat ada sebuah tulisan yang terlihat ketika gaun yang dikenakan boneka itu terbuka sedikit. Karena rasa penasarannya, Aby membuka gaun itu dan melihat tulisan 'Hadiah dari Kak Aby'.
"Sejak kapan aku kasih dia hadiah?" alis Aby bertaut tajam, bingung.
Tbc
__ADS_1
Bagi like, vote dan komennya dong gais.Terima kasih😁🙏