Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kamu mau menikah denganku


__ADS_3

"Kenapa lama sekali, Sayang?" Ardan bertanya sambil membukakan pintu mobil buat istrinya itu.


"Hmm, tadi ketemu sama ibu- ibu di sana, Mas. Jadi, ngobrol sebentar," sahut Amanda seadanya sambil memasang sabuk pengaman ke tubuhnya.


Ardan hanya mangut-mangut.


"Apa yang kamu maksud, ibu-ibu sosialita yang


di sana?" tunjuk Ardan pada sekumpulan wanita yang sudah bersama dengan anak masing-masing.


Amanda tidak bersuara, dia cukup hanya menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban atas keingintahuan Ardan.


"Apa mereka menghinamu lagi?" selidik Ardan dengan alis yang bertaut tajam.


"Tidak! mereka justru mengajak aku untuk bergabung dengan arisan dan perkumpulan mereka." terang Amanda, santai.


Ardan sontak menoleh dan menatap tajam ke arah Amanda, curiga kalau Amanda bersedia bergabung.


"Tenang, Mas. Aku menolak permintaan merek kok." sahut Amanda dengan cepat melihat, perubahan raut wajah suaminya itu.


"Memang seharusnya begitu. Tidak perlu punya banyak teman, tidak ada gunanya kalau tidak membawa pengaruh positif. Punya teman sedikit lebih baik, yang penting berkualitas. Kamu harus mengerti kalau teman yang baik akan membawa pengaruh yang baik. Teman yang baik juga akan selalu mengajak untuk berbuat kebaikan, bukan menjerumuskan kedalam keburukan dan memberikan pengaruh negatif." ucap Ardan panjang lebar.


Seulas senyuman terbit di bibir Amanda menanggapi ucapan suaminya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hmm, laporan kamu sebenarnya sudah bagus, tapi sepertinya kurang perfect." Ucap Bagas, dari dengan mata yang fokus ke arah lembaran kertas yang ada di depannya.


"Kalau boleh tahu dimana kurangnya, Pak?" tanya Clara di sela-sela kekesalannya akan sikap Bagas yang semena-mena terhadapnya.


"Kamu duduk dulu di sana, biar aku lingkari bagian mana yang harus kamu perbaiki." Bagas menunjuk ke arah sofa.


Clara menghela napasnya dengan cukup panjang, lalu memutar tubuhnya dan melangkah menuju sofa yang dimaksud oleh Bagas.


"Clara! kesini kamu!" panggil Bagas, setelah hampir 15 menit dia berkutat pada lembaran-lembaran itu.


Clara berdiri dari tempat dia duduk dan berjalan mendekat ke arah Bagas.


"Nih, berkasnya kamu perbaiki lagi di bagian yang aku coret. Tambahin sedikit kata-katanya. Biar terlihat lebih estetik kalau dibaca." Bagas memberikan map berisi lembaran yang dia koreksi ke tangan Clara.

__ADS_1


Sebelum Clara melangkah, wanita itu terlebih dahulu membuka map itu dan melihat isinya. Alangkah kagetnya dia begitu melihat banyak sekali coretan yang diberikan oleh Bagas. Hal ini membuat amarahnya segera mencuat. Lama bekerja di Bagaskara Company, hasil kerjanya tidak pernah mendapat komplainan dari atasannya, makanya dia bisa terpilih menjadi sekretaris Ardan menggantikan Amanda. Tapi, baru 3 Minggu bekerja di perusahaan Bagas, hampir tiap hari, pekerjaannya selalu dikomplain, bos yang dia anggap physico akut.


"Pak Bagas! apa selama ini Bapak mengerjaiku? aku sudah muak, Pak diperlakukan seperti ini. Hampir tiap hari aku harus lembur, karena harus banyak yang diperbaiki. Apapun yang aku kerjakan selalu salah di mata Bapak. Mau Pak Bagas apa sih?!" pekik Clara yang tidak sanggup lagi menahan amarahnya.


Kemarahan Clara, mampu membuat seorang Bagas terdiam dam melongo dengan mulut terbuka. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Clara bisa semarah itu.


"Hei, berani sekali kamu membentak persis ke wajahku? kamu mau aku pecat?" ancaman yang selalu dilayangkan oleh Bagas, bila melihat Clara yang hendak membantah.


"Tidak perlu menunggu Bapak memecatku, aku yang akan mengundurkan diri. Jadi, mending, Bapak mencari sekretaris bapak yang lain saja! Aku nyerah, Bye !" Clara menghempaskan map di tangannya ke atas meja Bagas, dan memutar tubuhnya hendak melangkah pergi. Akan tetapi, dengan sigap tangan besar milik Bagas berhasil menahan Clara dengan menarik tangan wanita itu. Alhasil, Clara yang tidak siap tidak mampu menopang tubuhnya dan justru terjatuh tepat di dada Bagas.


Kedua insan itu, saling silang pandang dengan mata yang membesar dengan sempurna.


Brak ...


Pintu tiba-tiba terbuka, dan langsung menyadarkan kedua insan yang saling tindih itu.


Mereka berdua sontak melihat ke arah pintu, di mana di sana terlihat sosok wanita setengah baya yang berdiri dengan mata yang membesar dan tangan yang menutup mulut, karena kaget.


"Mama!" Bagas sontak mendorong tubuh Clara dari atas tubuhnya, sehingga membuat gadis itu terhuyung ke belakang, dan hampir jatuh.


"Oh, Maaf. Kayanya mama masuk di waktu yang tidak tepat. Kalian lanjutkan saja! Mama pergi dulu ya, bye!" wanita yang dipanggil mama oleh Bagas itu, berbalik dengan senyuman yang mengembang sempurna.


Akan tetapi, wanita setengah baya itu, tidak mau berhenti. Bahkan berjalan berlenggak-lenggok, sambil mengangkat tangan kirinya ke atas, melambai-lambai.


Bagas mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Mengingat kehebohan yang akan terjadi selanjutnya, akibat ulah dari mamanya.


Sesuai dugaan Bagas, di lobby dengan gembiranya tanpa ada beban, wanita yang merupakan mamanya Bagas itu, setiap bertemu karyawan yang menyapanya, dia selalu berkata, "Maaf ya, aku buru-buru! mau nyiapin kamar buat calon cucuku. Soalnya cucuku lagi dalam pembuatan." ucap wanita itu dengan bahagianya, membuat kening para karyawan itu, mengrenyit bingung


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bagas duduk di kursi kebesarannya dengan siku yang menempel ke meja, dan tangan di kepala. Raut wajahnya terlihat sangat frustasi.


Sekarang dia sudah sangat terlihat pusing memikirkan bagaimana caranya nanti menjelaskan pada mamanya itu, kalau yang dia lihat hanya salah paham.


Bagas tidak sanggup membayangkan raut wajah kecewa sang mama nantinya. Bagas bukannya tidak tahu, kalau mamanya itu sering terlihat sedih mengingat dirinya yang tak kunjung menikah lagi.


Clara yang merasa tidak memiliki sesuatu yang penting lagi, memutar tubuhnya hendak melangkah keluar dari ruangan Bagas. Tekadnya sudah bulat untuk tetap resign dari perusahaan Bagas.


"Kamu mau kemana?" suara panggilan Bagas, yang lirih, menyurutkan langkah Clara. Kemudian dia berbalik dan menatap Bagas dengan intens.

__ADS_1


Jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa simpati yang muncul melihat wajah frustasi di depannya.


"Aku mau keluar, Pak. Sudah tidak ada lagi Jan yang harus aku kerjakan di sini?" sahut Clara dengan sedikit ketus.


"Kamu jangan pergi dulu! kamu bisa duduk sebentar? ada hal serius yang ingin aku katakan padamu."


Clara ingin sekali menolak, tapi entah kenapa mulutnya terasa kelu, untuk melontarkan kata penolakan. Kakinya justru terayun melangkah ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya di sana. Sedangkan Bagas, berdiri dari kursinya dan menyusu Clara, untuk duduk di sofa.


"Clara, kali ini aku meminta padamu untuk tidak resign dulu dari kantor ini. Untuk perlakuanku selama ini, aku minta maaf. Selama ini aku haus akan hiburan, entah kenapa melihat kamu marah, menjadi hiburan tersendiri bagiku," ujar Bagas jujur.


"Jadi, benar dugaanku, kalau selama ini, bapak sengaja melakukan semua itu? Bapak memang sangat kelewatan!" wajah Clara memerah karena amarahnya kembali mencuat.


"Untuk itu aku minta maaf. Kali ini aku mau meminta sesuatu darimu, mau gak kamu menikah denganku?"


Ucapan Bagas,membuat netra Clara membola dengan mulut yang agak terbuka.


"Maaf Pak Bagas, aku tidak bisa! anda tahu sendiri kalau kita tidak sedang menjalin hubungan dan tidak ada rasa cinta di antara kita. Jadi dengan sangat berat hati aku menolak." Tegas Clara, mantap.


"Clara, aku tahu kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Tapi ini demi mamaku! dia pasti sudah menaruh harapan penuh pada yang dilihat tadi.Dan aku tidak sanggup melihat wajah kecewanya, bila dia tahu kenyataannya."


Clara terlihat tersentuh dengan penuturan Bagas, yang terlihat sangat tulus. Dia juga membayangkan wajah ibunya yang kecewa, karena di usianya yang sebentar lagi 29 tahun belum juga menikah. Bukan karena tidak ada yang mau, tapi Clara sedang menanti janji seorang laki-laki pada masa kecilnya, yang berjanji akan menikahinya kalau sudah dewasa.


"Bagaimana, Clara? aku benar-benar serius. Aku janji tidak akan menceraikanmu sampai kamu yang memintanya sendiri, jika suatu saat kamu benar-benar tidak bahagia denganku." ucap Bagas, tulus.


Clara tercenung, terdiam seperti memikirkan sesuatu. Clara terlihat memejamkan matanya sekilas, lalu mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan.


"Baiklah! aku setuju. Dan aku juga tidak akan meminta cerai, karena bagiku pernikahan bukan mainan." pungkas Clara mengambil keputusan.


"Terima kasih, Clara!" ucap Bagas, lega.


Clara tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca.


"Maafkan aku, Kak Tyo. Aku tidak bisa lagi menunggumu. Aku bahkan tidak yakin, apakah sekarang kamu masih ingat janjimu atau tidak," batin Clara dengan wajah sendunya.


"Maafkan aku, Ara! Mungkin kita tidak berjodoh. Mungkin sampai di sini saja pencarianku. Aku juga tidak yakin apa kamu masih ingat janji kita atau tidak," bisik Bagas pada dirinya sendiri.


Tbc


Please, dukungannya dong kakak-kakak. Jangan lupa buat terus like, vote dan komennya . Thank you.

__ADS_1


__ADS_2