Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Lora kembali beraksi.


__ADS_3

Sudah 4 hari berlalu, sejak proses transplantasi sumsum tulang belakang antara Anin dan Ardan, dan sejauh ini, tidak terlihat efek samping dari hasil transplantasi itu. Semuanya terlihat baik-baik saja. Hari ini, Aby yang menemani Adiknya itu di rumah sakit, karena Amanda dan Ardan sedang mempersiapkan pernikahan mereka. Walaupun hanya pernikahan sederhana tanpa adanya resepsi, tetap aja banyak yang harus diurus khusus masalah data-data Amanda.


"Kak, jadi benar mama dan papa akan menikah?" tanya Anin yang baru saja menelan buah apel yang disuapkan Aby ke mulutnya.


Aby tersenyum simpul, dan menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Anin. Kemudian dia kembali menyuapkan potongan buah apel ke dalam mulut kecil adiknya itu.


Melihat anggukan kepala dari kakaknya, membuat wajah Anin berbinar bahagia.


"Berarti sebentar lagi kita akan mempunyai keluarga yang lengkap dong, Kak. Ada papa, mama, kakak, bahkan kita juga ada opa dan Oma." sorak Anin sambil tetap mengunyah apel yang ada di mulutnya.


"Nin, telan dulu makanan yang ada di dalam mulut, baru ngomong. Nanti kamu bisa tersedak," Aby dengan telaten melap sudut bibir adiknya, yang terlihat basah.


"Hehehe, maaf,Kak! Anin sangat senang soalnya."


Aby, meletakkan mangkok buahnya ke atas nakas, karena buah di dalamnya sudah habis.


Kemudian, dia terlihat memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, dan mengeluarkannya kembali. Tapi kali ini tangan Aby, keluar bukan dengan tangan kosong. Tampak jelas, di tangannya ada benda kecil seperti gelang.


"Nin, ini kakak ada hadiah gelang! Anin harus pakai terus ya. Ini hadiah dari kakak, karena Anin sudah berhasil jadi adik yang kuat. Jangan dilepas ya! kalau dilepas berarti Anin tidak sayang sama kakak." tutur Aby, sembari memasukkan gelang berwarna putih itu ke dalam pergelangan tangan adiknya.


"Wah, bagus sekali gelangnya, Kak! terima kasih." Mata Anin tampak berbinar menatap gelang pemberian kakaknya .


"Lihat, kakak juga memakai gelang yang sama denganmu, kamu warna putih dan kakak warna hitam.


" Aby meraih tangan adiknya dan sekarang jari-jari mereka saling bertaut.



"Apa kamu tahu kenapa kakak memilih warna putih?" tanya Aby.

__ADS_1


" Kenapa, Kak! apa karena kakak tahu kalau aku suka warna putih?"


"Bukan hanya itu saja, tapi lebih dari itu. Kakak memilih warna putih karena warna putih itu warna yang banyak mengandung makna positif, misalnya kemurnian dan kesucian. Bukan hanya itu saja, Putih itu, mengandung makna kepolosan dan cahaya. Sebenarnya banyak lagi, yang intinya semuanya baik. Sama seperti kamu, yang polos, baik dan membawa cahaya buat mama, papa dan kakak," jelas Aby, panjang lebar tanpa jeda.


Anin mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti. Kemudian dia membuka suara, "Anin juga tahu kenapa Kakak, pilih yang warna hitam."


"Itu karena, kakak suka warna hitam," sahut Aby dengan yakin.


"No, bukan itu juga. Anin tahu kalau kakak dan papa suka sama warna hitam, jadi Anin cari tahu bagaimana karakter,penyuka warna hitam. Tahu tidak, Kak, kalau penyuka warna hitam itu pasti orangnya misterius dan cuek. Sehingga tidak terlalu memikirkan apa kata orang tentangnya. Mencerminkan keberanian, keteguhan dan suka mendominasi. Sama banget kan sama karakter kakak sama papa? Tapi yang paling aku suka itu, warna hitam itu juga mempunyai makna 'pelindung'. Jadi, Anin tahu kalau papa dan kakak akan jadi pelindung buat Anin."


Senyum Aby, mengembang dengan sempurna melihat adiknya yang sudah kembali ceria dan terlihat lebih sehat.


"Iya, iya, sekarang kamu istirahat ya, biar cepat sembuh, dan bisa kembali pulang ke rumah, supaya kita semua bisa berkumpul. Makan bersama, main sama papa dan mama dan banyak lagi hal yang menyenangkan menantimu di luar sana."


Anin menganggukkan kepalanya, mendengar nasihat kakaknya. Aby dengan lembut dan perlahan membantu merebahkan tubuh Anin di atas tempat tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang wanita dengan menggunakan masker di wajahnya, tampak masuk ke dalam ruangan Anin,setelah melihat Aby keluar dari ruangan itu.


Pandangan wanita itu, menatap ke atas, memindai setiap sudut ruangan untuk memastikan ada tidaknya kamera pemantau di dalam ruangan itu. Dan dia melihat, ada satu kamera CCTV di sudut tembok ruangan persis mengarah ke arah ranjang Anin.


"Huh, buat apa aku takut? toh mereka tidak akan bisa mengenal wajahku nanti." wanita itu membatin. Kemudian dia kembali mengarahkan tatapannya pada sosok gadis kecil yang terbaring dan sepertinya sedang tertidur lelap.


Sudut bibir wanita itu tertarik ke atas, menyeringai sinis ke arah gadis kecil itu.


"Rasain kamu, Manda. Aku tidak akan pernah rela melihat kamu bahagia. Aku akan membawa jauh putrimu ini,dan aku yakin kalau kamu akan gila, setelah kehilangan putri yang kamu rawat dengan susah payah, bisa sembuh.Dengan demikian keluarga Bagaskara tidak akan pernah mau menerima menantu, yang sudah gila sepertimu. Enak saja, kamu bisa bahagia, aku tidak." batin wanita itu, terlalu yakin dan dengan sorot mata penuh kebencian.


Ya, wanita itu adalah Lora, wanita yang hatinya selalu dipenuhi oleh rasa dengki yang berlebihan terhadap Amanda. Dalam kamusnya, kalau dia tidak bisa bahagia, Amanda pun tidak boleh. Dia merasa kalau karena kehadiran Amanda, dia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya.

__ADS_1


Dari dalam tasnya, dia mengeluarkan sapu tangan, yang sudah dibubuhi dengan obat bius. Kemudian dia menempelkan ke hidung Anin.


"Hei, bangun!" Lora mencoba membangunkan Anin, untuk menguji, apakah obat biusnya sudah bereaksi atau belum.


Setelah dirasa tidak ada respon dari Anin, Lora lagi-lagi menyeringai dan memasang sweater yang mempunya topi, ke tubuh bocah kecil itu. Setelah itu, dia mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Karena berat badan Anin, belum kembali seutuhnya, Lora dengan mudah tanpa memiliki kendala, berhasil membawa Anin keluar dari ruangan itu.


"Tidak ada yang merasa curiga ketika Lora dengan santainya membawa Anin keluar dari dalam rumah sakit. Mereka mengira , yang ada dalam gendongan wanita itu adalah anaknya, karena memang posisi kepala Anin yang ditutupi dengan topi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ardan dan Amanda berjalan beriringan tanpa ada sepatah katapun yang terdengar dari mulut keduanya. Sepertinya tidak ada yang berniat untuk membuka suara lebih dulu.


"Aby!" seru Ardan ketika melihat putranya itu sedang berjalan sendirian, ke arah tujuan yang sama, ke kamar Anin.


Merasa ada seseorang yang memanggil namanya, Aby memutar kepalanya, melihat ke arah belakang, dan senyumnya langsung mengembang begitu melihat siapa dua orang yang berjalan menghampirinya.


"Kamu dari mana? Anin kenapa ditinggal?" cecar Ardan.


"Tadi Anin sedang tidur, Pah. Aby lapar dan mau beli makanan di luar." Sahut Aby, dan Ardan serta Amanda, menganggukkan kepala dengan mulut membulat membentuk huruf 'o'.


Ardan membuka pintu ruangan Anin secara perlahan, takut putrinya itu terbangun. Mereka bertiga masuk kedalam ruangan Anin dengan seulas senyuman di bibir masing-masing.


"Di- dimana Anin?" pekik mereka bertiga bersamaan.


Tbc


Seandainya aku tidak ketiduran, tadi malam jam sebelasan mungkin ini novel ini sudah up 😁😁😁 .Tadi malam aku sudah tulis hampir mencapai 900 kata. Eh, karena ngantuknya aku ga sengaja ketiduran, untung naskahnya gak hilang, karena diselamatkan oleh suami.


Jangan lupa dukungannya lagi ya gais. Please like, vote dan komen. Biar aku makin semangat. Nanti sore aku akan usahakan up lagi. Biasa, tunggu anak tidur siang, baru lanjut nulis lagi. Thank you.

__ADS_1


__ADS_2