Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kak Calvin, tolong aku!


__ADS_3

Cantika sudah tampil cantik dengan gaun yang dia beli bersama Anin dua hari yang lalu. Riasan yang dia gunakan sangatlah simpel, tapi tidak bisa menutupi kecantikan yang dia miliki.



Shin Ye Eun as Cantika



"Kamu pergi dengan siapa, Cantika?" tanya Clara begitu melihat putrinya itu turun dari atas dan sudah siap untuk berangkat.


"Aku berangkat sendiri aja, Ma. Nanti di sana toh bakal ketemu, sama Dion dan Deby," sahut Cantika dengan menerbitkan senyuman di bibir merahnya.


"Ok, kalau kamu di sana ketemu sama mereka berdua, bagaimana dengan pulangnya? tidak mungkin kan Dion mengantarkan kami juga. Kenapa sih, kamu tidak mengajak nak, Calvin?" raut wajah Clara terlihat sangat Khawatir.


"Justru kalau aku ajak, kak Calvin nanti aku gak bisa tenang, menikmati acara, Ma." sahut Cantika, ambigu.


"Kenapa bisa begitu? apa dia itu, cemburuan?" Kening Clara terlihat berkerut, menatap putrinya itu dengan tatapan menyelidik.


"Bukan, Ma. Tapi nanti di acara, teman-temanku fokusnya jadi sama kak ,Calvin. Jadinya aku fokus bukan ke acara lagi, tapi fokus jagain mata-mata yang mengagumi kak Calvin." terang Cantika berterus terang. Ya, inilah alasan Cantika yang sebenarnya, makanya dia meolak ketika Calvin menawarkan diri untuk ikut ke acara ulang tahun temannya. Sedangkan rencananya untuk mengajak Adrian gagal total, karena Adrian menolak ajakannya. Mengenai apa alasannya, Adrian tidak memberitahukan apapun padanya.


"Jadi itu alasannya? ck," Clara berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


"Udah ah, Mah! Cantika berangkat dulu, ya, bye!" Clara melambaikan tangannya seraya mengayunkan kakinya,melangkah keluar untuk menemui Pak Kurdi sang supir yang sudah siap mengantar sang, Nona muda.


"Hati-hati! jangan pulang terlalu malam!" masih terdengar suara Clara yang berteriak, dan Clara hanya menanggapi dengan jari yang membentuk huruf 'o'.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cantika, mengayunkan kakinya melangkah menuju area kolam renang yang berada di belakang rumah mewah, teman satu kelasnya yang sedang berulang tahun dan langsung mencari keberadaan dua sahabatnya yang pasti akan selalu menempel bagaikan perangko.


"Cantika, sini!" teriak Deby dengan suara khasnya yang pasti akan selalu membuat siapapun berada di dekatnya akan menutup telinga.


Cantika menerbitkan seulas senyuman di bibirnya dan melangkah menghampiri kedua sahabatnya. Kehadiran Cantika yang tampil sangat berbeda dari biasanya membuat tatapan seorang laki-laki tidak pernah lepas dari tatapannya. Siapa lagi dia, kalau bukan Max sang ketua basket di sekolahnya dan yang sampai sekarang masih penasaran dengan sosok Cantika yang sangat sukar untuk dia dekati.


"Kalian berdua sudah lama datangnya?" tanya Cantika berbasa-basi.


"Belum terlalu lama. Mungkin sekitar 10 menitan, lah, iya kan, Beb?" Deby menatap ke arah Dion, dan pria itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, acara tiup lilin pun akhirnya dimulai, potong kue dan diakihiri dengan ucapan terima kasih dari yang berulang tahun.


Setelah selesai dengan ucapan terima kasihnya, teman Cantika yang sedang merayakan hari lahirnya itu, mengayunkan langkah dan menghampiri tempat Cantika dan kedua sahabatnya berada.


"Cantika, terima kasih ya, sudah mau hadir di acaraku. Aku mengira kamu tidak akan datang, karena sikapku selama ini, yang cemburu tanpa alasan. Padahal kamu tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Max." ucap gadis remaja, yang bernama Viona itu dengan ekspresi yang sukar untuk dibaca.


"Oh, tidak apa-apa, santai aja, Vio!" sahut Cantika, tersenyum tipis.


"Oh ya, dimana kedua orangtuamu? kenapa mereka tidak terlihat?" tanya Cantika dengan alis yang bertaut.


Viona menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya kembali dengan helaan yang cukup panjang.


"Seperti biasa, mereka berdua sibuk dan hanya memberikan aku uang saja. Mereka berdua sekarang


Cantika, aku ada sesuatu yang sangat ingin aku berikan padamu sebagai permintaan maafku. Tapi, bendanya ada di dalam kamarku. Kamu mau kan menemaniku buat mengambilnya?" Viona terlihat menangkap kedua tangannya, memohon pada Cantika.


"Hmm, kamu tidak perlu repot-repot, Vio untuk memberikan aku hadiah. Kamu yang berulang tahun, masa kamu yang memberikan hadiah," tolak Cantika, dengan sangat halus.


"Aku akan sangat kecewa jika kamu tidak mau menerima hadiahku, Cantika. Itu sama saja kamu belum mau memaafkanku." wajah Viona terlihat sangat sendu dan tatapannya sangat memelas.


"Apa kamu merasa kalau aku akan berbuat jahat padamu, makanya kamu mau si Deby ikut?" Viona kembali memasang wajah sedih dan kecewa.


"Bukan begitu maksudku, Vi. Aku cuma .... ah, sudahlah, ayo, aku ikut ke kamarmu." pungkas Cantika, tidak mau berlama-lama lagi.


"Ayo!" Viona terlihat bahagia dan langsung menggandeng tangan Cantika.


"Aku pergi sebentar ya, Deb, Yon," pamit Cantika, pada dua sahabatnya, yang ragu-ragu menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Beb, menurutmu tingkah si Viona aneh gak sih?" tanya Deby pada Dion.


"Iya, menurutku juga begitu! Tapi kita coba positif thinking aja dulu, Beb." ujar Dion, menenangkan kekasihnya.


"Aduh!" pekik Dion tiba-tiba sambil memegang perutnya.


"Kamu kenapa, Beb?" tanya Deby, panik.


"Aku nggak pa-pa, Beb. Cuma perutku tiba-tiba sakit. Kayanya aku memerlukan kamar mandi deh. Kamu tunggu di sini ya, aku mau cari kamar mandi dulu!"

__ADS_1


"Kamu ih, bikin panik aja.Ya udah sana. Tapi, jangan lama-lama ya, Beb."


Dion tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cantika yang sama sekali tidak menaruh curiga pada Viona, terlihat membalas senyuman yang di tunjukkan oleh gadis itu, ketika mereka sudah tiba di depan sebuah pintu, yang Cantika yakini adalah kamar Viona.


Viona membuka pintu dengan perlahan dan meraih tangan Cantika, dengan senyuman yang masih tak tertanggal dari bibirnya. Akan tetapi, tiba-tiba Viona mendorong keras tubuh Cantika hingga tersungkur jatuh ke lantai kamar itu.


Di saat Cantika ingin berdiri Viona dengan sigap menutup, dan mengunci pintu dari luar.


"Rasain kamu Cantika! Kamu akan digilir di dalam sana, dan kamu pasti akan dicemoh semua orang, " batin Viona, sambil terseyum sinis.


"Viona ... Viona! buka pintunya!" teriak Cantika sambil memukul-mukul pintu itu.


"Selamat datang, Sayang! aku sudah menunggumu dari tadi." terdengar suara seorang laki-laki yang sangat familiar di telinga Cantika. Siapa lagi dia, kalau bukan, Max.


Cantika sontak memutar tubuhnya dan menatap pemuda itu dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kebencian.


"Apa maumu, Max? Sekarang kamu buka pintunya, cepat!" pekik Cantika, berusaha untuk terlihat tidak takut di depan, Max.


"Hahaha, maaf sekali, Sayang. Aku tidak bisa membuka pintunya, kecuali Viona, yang membukanya. Lagian mau kemana sih buru-buru? kita nikmati dulu kebersamaan kita di sini." ucap Max dengan bibir yang menyeringai sinis.


"Cih, aku tidak Sudi! sekarang kamu hubungi Viona, sebelum kalian berdua dihabisi oleh papaku. Apa kalian tidak tahu, kalau papaku adalah Bagas Prasetyo wijaya." gertak Cantika, terpaksa membawa nama besar papanya.


Max bergeming, terdiam untuk sepersekian detik, merasa sedikit gentar dengan nama yang disebutkan oleh gadis incarannya itu. Tapi, detik berikutnya, dia tersenyum sinis ke arah Cantika.


"Kamu kira aku takut dengan ancamanmu? paling aku akan dipukul sampai babak belur, habis itu aku akan disuruh untuk bertanggung jawab dan menikahimu. Tentu saja itu yang aku mau. Walaupun harus nikah muda. Dengan menikahimu, popularitasku akan semakin tinggi, nantinya." ucap Max dengan gelak tawa, iblisnya sambil mendekat ke arah Cantika yang beringsut mundur.


"Jangan mendekat! kalau kamu mendekat, aku akan teriak sekarang. Ingat! banyak teman-teman kita di bawah sana. Bila mereka tahu, kelakuanmu, maka selamanya kamu akan kehilangan muka." ancam Cantika, yang membuat Max semakin tergelak.


"Silahkan aja teriak! tidak akan ada yang akan mendengar teriakanmu. Kamar ini kedap suara, Sayang." ujar Max, yang membuat Cantika seketika putus asa.


"Kak, Calvin tolong aku!" gumamnya di sela-sela rasa takutnya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2