
Hari itu Calvin memutuskan untuk tidak pergi ke kantor lagi. Dia memutuskan untuk menemani sang istri yang sedang manja-manjanya. Sekarang dia sudah beganti pakaian dengan pakaian rumah, yang membuat Cantika bahagia. Dari tadi sebelum Calvin berganti pakaian, dirinya tidak tenang, takut kalau Calvin pergi bekerja.
"Sayang aku mau tanya, kenapa kamu bisa ada pikiran untuk ngecek kehamilan? Padahal kamu tahu kalau aku KB?" Calvin bertanya dengan sangat serius. Jujur, dirinya sangat bingung kenapa istrinya ada niatan untuk cek kehamilan.
"Apa kamu lagi mencurigaiku? bukannya tadi kamu bilang kalau kamu lupa untuk suntik?" Cantika menatap tajam ke arah Calvin suaminya, yang terkesan seperti mencurigainya.
"Haish, benar-benar sensitif dia," batin Calvin.
"Buka seperti itu, Sayang. Aku cuma lagi memuji insting kamu sebagai seorang wanita. Kamu sangat hebat, punya pemikiran untuk ngecek, padahal kamu tahu kalau aku ber KB, kan hebat tuh!" jelas Calvin dengan perasaan was-was. Dia berharap istrinya bisa menerima alibi yang dia buat.
"Iya dong. Itulah seorang wanita, instingnya sangat kuat." Calvin mengembuskan napas lega, ketika melihat kalau Cantika bisa menerima alasan yang dia buat.
" Kalau suami ada main di luar pasti, istrinya bisa merasakan itu. Jadi, ketika aku telat datang bulan, instingku mengatakan kalau aku lagi hamil, makanya aku coba untuk ngecek, walaupun aku tahunya kamu yang ber KB. Awalnya aku hanya iseng-iseng aja ngeceknya.Ternyata aku benaran hamil, senangnyaaa!" Cantika mengelus perutnya yang masih rata.
Calvin tersenyum lebar, dan juga ikut mengelus perut istrinya yang masih terlihat seperti biasa.
"Hai, Sayang. Ini papah, baik-baik ya di dalam sana. Kalau mamamu suka fitnah, menjadikan kamu sebagai alasan untuk meminta sesuatu, segera bisikin ke papah melalui mimpi," ucap Calvin yang tentu saja mendapat pukulan di kepalanya dari Cantika.
"Ngomong apaan sih?" Cantika mengerucutkan bibirnya.
"Iya, iya benaran," ucap Calvin mengalah, daripada ngambek nantinya.
"Sayang kita ke rumah Papah yuk! aku kangen Rico,"
Ketenangan yang dirasakan Calvin seketika langsung pupus,begitu mendengar permintaan Cantika. Dia langsung membayangkan, wajah dingin sang papa mertua nantinya.
"Sayang, apa nanti papa tidak akan marah?" tanya Calvin mengungkapkan kegundahannya.
"Tenang saja, Papa pasti tidak akan marah. Justru papa pasti senang." ucap Cantika, sangat yakin.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu? kamu tahu sendiri, papa Bagas sudah mewanti-wanti, supaya kamu jangan hamil dulu sebelum lulus."
"Sayang, pasti papa tidak akan marah karena kamu itu suamiku. Kecuali kalau kamu belum jadi suamiku, papa bisa marah. Sekarang, aku ini sudah tanggung jawab kamu. Selama kamu tidak mengabaikan tanggung jawab kamu, papa pasti tidak akan marah. Lagian tidak mungkin kan kita menutupi kabar bahagia seperti ini? yakinlah papa pasti akan bahagia mendengar kalau dia akan menjadi seorang Kakek." ujar Cantika yang belakangan ini sisi kedewasaanya mulai terlihat.
Calvin menganggukkan kepalanya dan merengkuh tubuh istrinya itu dengan lembut, serta kembali meninggalkan kecupan di puncak kepala istrinya itu.
"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang. Tapi aku berganti pakaian dulu!" pungkas Calvin yang sudah tidak takut lagi, menghadapi Bagas.
"Tapi, sebelumnya kita ke rumah mama Dara sama papa Carlos dulu, baru ke rumah orang tuaku," ucap Cantika, menyebutkan nama mertuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aby turun dari dalam mobilnya dan langsung masuk ke dalam butik sang istri. Seperti biasa kehadiran pria itu akan selalu mengundang setiap mata untuk menatapnya seakan kehadiran pria itu sangat sayang untuk dilewatkan bila tidak dilihat. Tetapi, seperti biasa juga, Aby akan selalu bersikap biasa saja, dan berjalan lurus ke tempat di mana istrinya berada, yaitu langsung menemui sang istri ke ruang kerja wanita itu.
"Sayang, apa kamu masih sibuk?" tanya Aby begitu dia membuka pintu ruangan Celyn istrinya. Ya, tujuan dirinya datang adalah untuk menjemput sang istri, karena itu kemauannya yang tidak membiarkan istrinya itu menyetir sendiri, kecuali dirinya sangat sibuk.
"Sebentar lagi, tanggung ini," sahut Celyn, masih berkutat dengan design baju pesanan seorang artis papan atas.
"Alamat lama ini, karena kata 'sebentarnya' seorang wanita, sama seperti aku yang bolak-balik Jakarta-Singapura 5 kali pakai jeda pula." gumam Aby, pasrah sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa.
Celyn tidak menjawab keluhan suaminya sama sekali. Dia menanggapi cukup dengan tertawa kecil.
Benar dugaan Aby, kata sebentarnya Celyn sudah memakan waktu hampir 2 jam. Bagaimana Aby bisa tahu? Karena film action yang dia tonton di ponselnya untuk mengusir kejenuhan sudah selesai. Padahal Aby tidak men skip film itu sama sekali.
" Sayang, ini benaran kita masih di butikmu? aku kirain kita sudah bersantai di rumah, bermain dengan si kembar." ucap Aby, menyindir.
"Apaan sih? aku lagi fokus, please jangan ganggu dulu! salah sendiri, maksain buat antae jemput."
Aby bergeming tidak bisa menjawab. Dia berdiri dari tempat dia duduk dan menghampiri Celyn.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa aku bantu?" bisik Aby dengan nada yang sensual sambil meniup telinga sang istri.
"Ihh, geli, Sayang!" ucap Celyn, mengusap-usap telinganya.
"Oh, geli ya? kalau begini masih geli, gak?" Aby menggigit telinga Celyn lalu menjilatnya sehingga tubuh Celyn langsung meremang seketika.
"Sayang, tolong jangan ganggu konsentrasiku," mohon Celyn sambil menahan hasratnya, karena sekarang Abu tidak hanya menggigit telinga Celyn. Tangan Aby juga kini sudah bergerak aktif dengan nakalnya masuk ke dalam gaun sang istri dan meremas yang harus diremas memilin yang harus dipilin.
"Sayang, tolong berhenti! aku nggak bisa konsentrasi," mohon Celyn dengan napas yang memburu.
Akan tetapi, Aby seakan tidak peduli. Tangannya kini malah semakin gencar bermain
di tubuh sang istri.
"Sial! aku kan tadi hanya ingin menggoda saja, tapi kenapa aku jadinya yang gak kuat. Tidak boleh jadi ini," batin Aby yang kini menginginkan lebih, kalau tidak dia pasti akan merasa pusing.
Aby yang sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi, akhirnya mengangkat tubuh Celyn me atas meja dan mulai melakukan aksinya, yang sama sekali tidak bisa ditolak oleh sang istri.
"Sayang, jangan di sini! nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" desis Celyn masih berusaha untuk menahan diri, walaupun tubuhnya kini sudah sangat ingin lebih.
Aby tidak perduli dengan protesan sang istri, karena sekarang hal yang paling dia butuhkan adalah bagaimana caranya dia bisa membuat kepalanya tidak pusing.
"Tunggu! aku kunci dulu pintunya." ucap Celyn akhirnya.
"Tidak perlu! karena aku sudah mengunci pintunya, begitu masuk ke sini."
Akhirnya, Celyn pun pasrah berada di bawah Kungkungan suaminya, karena dia pun tidak bisa berbohong kalau tubuhnya juga menginginkan lebih.
Tbc
__ADS_1
Mungkin dalam beberapa bab lagi, novel ini akan segera aku tamatkan. Soalnya akan jadi membosankan, karena hanya menceritakan kisah sehari-hari mereka saja. Terimakasih sudah mau mampir sampai sejauh ini.
Bagi para pejuang garis dua dimanapun kalian berada, semoga harapan kalian semua bisa segera terwujud. Tetap semangat dan keep praying( terus berdoa) Satu hal yang harus diingat "Apa yang mustahil buat manusia, Tidak mustahil bagi Tuhan."