
Sang mentari kini mulai bergeser sedikit demi sedikit ke arah barat, pertanda tugasnya di bumi Indonesia sebentar lagi akan selesai. Sedangkan sang bulan kini sedang berdandan sebelum keluar dari peraduannya, menggantikan tugas sang mentari untuk menerangi bumi.
Seperti biasa, Amanda akan melakukan rutinitas sorenya, yaitu membatu Anin untuk membersihkan diri. Anin yang makin hari makin terlihat segar menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Amanda, seakan lelahnya selama ini terbayar lunas.
"Ma, apa di perut mama udah ada adiknya?" tanya Anin dengan polosnya ketika Amanda baru selesai mengoleskan sebuah minyak ke kepala Anin, yang mulai ditumbuhi rambut.
"Hah? adik?" Amanda mengrenyitkan keningnya.
"Iya, Mah. Adik ... masa mama nggak ngerti sih. Kata papa, nanti kalau mama dan papa sudah benaran nikah, kalian berdua bakal kasih Anin, buanyak adik." Anin berucap sambil mengayunkan kedua tangannya.
"Papa, bilang begitu?" tanya Amanda, memastikan dan Anin menganggukkan kepalanya.
"Emang Anin mau punya berapa adik?" tanya Amanda lagi, menahan kesal pada Ardan yang seenaknya menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa ditepati pada putri kecil mereka.
"Sebanyak yang bisa Mama sama Papa kasih, Anin nggak akan nolak." sahut Anin.
"Eh, kamu gambar apa lagi, Sayang?" Amanda sengaja mengalihkan percakapan, dengan meraih buku gambar yang ada di atas nakas.
"Mama coba lihat aja, aku lukis wajah papa dan mama," sahut Anin.
Amanda membuka buku gambar dengan perlahan. Kedua matanya langsung membesar dengan sempurna begitu melihat hasil lukisan putrinya yang masih berusia tahun itu. Lukisan yang sama Persis dengan aslinya.
"I-ini benaran kamu yang lukis, Nin?" Anin mengangguk dan Amanda benar-benar speechless, tidak mengerti kenapa anaknya bisa punya bakat luar biasa seperti itu.
"Bagus sekali, Sayang. Buku gambarnya bisa mama pinjam? mama mau kasih tunjuk sama Papa." Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ardan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya berbalut seutas handuk di pinggangnya. Pemandangan itu, membuat Amanda segera mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan pipi yang sudah merona, malu. Ini adalah kedua kalinya Amanda melihat tubuh Ardan yang Shirtless, menunjukkan ada 6 roti sobek yang tercetak jelas di perut itu.
Ardan tanpa malu, membalutkan pakaian rumahannya tanpa berpindah ke walk in closet.
"Mas, kenapa berpakaiannya harus di sini sih? kan bisa di kamar mandi, atau di ruang ganti," suara Amanda terdengar memprotes, sehingga menerbitkan seulas senyuman di bibirnya.
"Emang kenapa? apa perlu aku memaksamu untuk melihat aku ganti pakaian? kan sah- sah aja. Kecuali aku ganti pakaian depan wanita lain, baru kamu bisa protes." Ardan memberikan tanggapan sambil mengenakan celana pendeknya.
Setelah pakaiannya terpasang dengan sempurna, Ardan mengayunkan langkah, menghampiri Amanda. Dengan lembut dia menepuk pundak wanita itu sehingga wanita itu terjengkit kaget.
"Kenapa sampai segitu kagetnya? kamu lagi mikir yang macem-macem ya?" Ardan mengerlingkan matanya, menggoda Amanda. Sementara itu, Amanda mengerucutkan bibirnya yang langsung disambar oleh bibir Ardan.
__ADS_1
"Mas, kok suka banget sih, main nyosor aja?"
Ardan terkekeh melihat wajah Amanda yang cemberut. " Habis,bibir kamu manis dan bikin candu." ucap Ardan. Mata Ardan kemudian tanpa sengaja melirik ke arah benda yang dia tahu, buku gambar Anin.
"Kenapa buku gambar Anin ada di sini, Manda?" tanya Ardan.
"Oh, aku yang bawa kesini tadi. Aku mau nunjukin sama kamu hasil lukisan Anin. Coba lihat! aku tidak menyangkan kalau Anin punya bakat selain di bidang musik." ucap Amanda, antusias.
" Aku sih gak heran, karena keturunan keluarga Bagaskara, memang bibit unggul semua." ucap Ardan dengan angkuh membuat Amanda kembali mencebik.
"Cih, sombong." gumam Amanda dengan ujung hidung yang sedikit terangkat ke atas.
"Bukannya sombong, tapi memang iya. Bakat Anin, mungkin dari adik kembarku Akila. Dia sangat berbakat di bidang seni. Baik itu di bidang musik, tarik suara dan melukis " terang Ardan.
"Jadi kamu benaran punya adik? sekarang dia ada di mana?" Amanda begitu terkesiap, tidak menyangka kalau Ardan punya adik kembar.
"Dia sudah meninggal. Dia meninggal di usia 9 tahun, tertabrak karena mau nyelamatin kucing di tengah jalan. Kenapa mama sama papa begitu kekeh mau menyekolahkan Anin sekolah musik, itu karena Anin mengingatkan mereka berdua akan sosok Akila," wajah Ardan berubah sendu. Dia mengalihkan tatapannya ke arah lain agar Amanda tidak melihat setitik cairan bening yang sudah berhasil lolos dari sudut matanya.
"Maaf, aku tidak berniat untuk membuatmu sedih." Amanda tanpa sadar memeluk Ardan dari belakang dan meletakkan kepalanya di punggung pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ardan terlihat sedang fokus melihat ke arah ponselnya. Sesekali dia melihat ke arah pintu, untuk memastikan, Amanda sudah masuk kembali ke dalam kamar atau tidak. Sesekali mulut Ardan terlihat komat-kamit seperti sedang menghapal sesuatu.
"Amanda, Aby sudah tidur?" tanya Ardan basa-basi untuk mengendalikan kegugupannya.
"Sudah, Mas. Bagaimana dengan Anin? apa dia juga sudah tidur?" tanya balik, Amanda sambil naik ke atas ranjang dan duduk di samping Ardan, hingga membuat detak jantung Ardan semakin berpacu di dalam sana.
"I-iya sudah!" sahut Ardan sambil mengembuskan napasnya perlahan, hingga menimbulkan kerutan di kening Amanda.
"Oh ya, Mas. Kamu bilang apa saja sama Anin? please kamu jangan menjanjikan apa-apa dulu sama dia."
"Lho, emangnya aku menjanjikan apa sama Anin?" alis Ardan bertaut tajam memikirkan maksud ucapan Amanda.
"M-mas Ardan kenapa menjanjikan akan memberikan dia adik? kita kan belum ada rencana untuk itu," ucap Amanda sambil menundukkan kepalanya, menahan malu.
"Kita? itu hanya kamu. Aku justru sudah punya rencana ingin memberikan dia adik," sahut Ardan tegas.
"Tapi kan ...."
"Tapi apa? kamu butuh ungkapan cinta dariku? baiklah. Aku sebenarnya tidak pintar untuk menggombal, tapi aku akan mencobanya." Ardan menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya kembali ke udara dengan cukup panjang. "Kamu dengar baik-baik ya! ehem ... ehem. Amanda, ikan apa yang bisa bikin baper?"
"Ikan apa ya? aku gak tahu. Mana ada ikan yang bisa bikin baper. Mas, ini ada-ada saja.
__ADS_1
"Ada. ikan stop loving you." sahut Ardan dengan wajah datar,membuat tawa Amanda pecah melihat raut wajah itu. Bagaimana tidak tertawa, mulut Ardan sedang menggombal, tapi wajahnya datar aja, kaya tidak lagi terjadi apa-apa.
"Kamu kenapa tertawa?" wajah Ardan menunjukkan ketidaksukaannya.
"Nggak, papa. lucu aja, ada ikan yang bisa bikin baper. Trus?"
"Apalagi ya? hmm, Amanda ... kayanya aku butuh kipas."
"Kipas? tunggu aku ambilkan dulu." Amanda hendak beranjak untuk mengambil kipas yang dibutuhkan oleh Ardan. Akan tetapi, sebelum dia benar-benar beranjak, tangan Ardan sudah menahannya.
"Bukan kipas itu, tapi kipastian dari kamu." lagi-lagi Amanda tergelak sambil memegang perutnya.
" Amanda, sejak kapan kamu jadi penari?"tanya Ardan lagi.
" Emang yang jadi penari siapa?" Amanda mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Oh, nggak ya? tapi kenapa kamu bisa menari-nari di benakku?"
Semburat merah, langsung timbul di kedua pipi Amanda. Walaupun gombalan, tapi entah kenapa sudah bisa membuat Amanda bahagia.
"Sayang, pinjam flashdisk dong!"
"Buat apa?"
" Buat mentransfer data cintaku padamu." Ardan sebenarnya benar-benar geli, saat melontarkan gombalannya, tapi demi bisa mengungkapkan perasaannya pada Amanda, ya mau tidak mau dia pun harus melakukannya.
"Apalagi ya tadi?" bisik Ardan pada dirinya sendiri. Lalu dia mengangkat sedikit bantalnya dan melirik ke arah ponselnya
"Manda, tadi pagi aku nggak bisa makan karena ingat kamu. Tadi siang pun aku tidak bisa makan karena ingat kamu juga. Sekarang aku justru tidak bisa tidur karena aku kelaparan. Eh kok jadi kelaparan?" ucap Ardan sambil memperhatikan jelas-jelas tulisan yang ada di layar ponselnya.
Amanda tidak sanggup lagi menahan tawanya. Tawanya pecah, sampai ke perutnya terasa keram. Hal itu membuat Ardan merasa geram sekaligus malu.
"Kamu belajar ngungkapin cinta dengan cara gombal begini dari siapa, Mas?" tanya Amanda di sela-sela tawanya.
"Dari Rio, katanya dia ngungkapin cintanya sama Jasmine dengan cara itu." sahut Ardan, jujur, hingga membuat tawa Amanda semakin pecah.
"Dan kamu percaya begitu saja?" Ardan menganggukkan kepalanya.
"Ngungkapin cinta itu gak harus seperti itu, Mas. Aku hanya mau kamu mengungkapkan apa kamu benar-benar mencintaiku dengan tulus atau tidak. Kalau seperti tadi, kesannya kamu tidak tulus," jelas Amanda.
Sementara itu, Ardan terlihat mengepalkan tangannya dengan keras. Dadanya terlihat naik turun menahan emosi. Dan dengan suara lantang akhirnya Ardan berteriak.
"Riooooo, mampus kau besok!" Kemudian dia meraih ponselnya dari bawah bantal dan menghapus tutorial cara mengungkapkan cinta yang dikirimkan oleh Rio tadi.
__ADS_1