Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Celyn sakit?


__ADS_3

Hari berlalu dengan begitu cepat, tidak terasa sudah 1 bulan berlalu, dan Celyn benar-benar melakukan apa yang sudah menjadi niatnya, yaitu menghindar dari Aby. Celyn sekarang lebih banyak menghabiskan waktu sendiri di rumah dan hanya melakukan VC dengan Anin sahabatnya. Kalau dulu Celyn yang sering berkunjung ke rumah Anin, sekarang Aninlah yang sering berkunjung ke rumah Celyn.


Belakangan ini, wajah Celyn terlihat pucat dan sering merasakan pusing, dan anehnya dia sering ingin memakan buah-buah yang rasanya asam, dan menolak yang namanya nasi goreng, padahal jelas sekali, kalau nasi goreng adalah salah satu makanan kesukaannya.


"Nak, kamu kenapa? mukamu terlihat pucat, kamu sakit?" tanya Jasmine dengan raut wajah khawatir.


"Aku gak pa-pa, Ma. Cuma sedikit pusing saja, istirahat sebentar juga nanti akan baik lagi." sahut Celyn dengan menyematkan senyuman di bibirnya untuk menenangkan Jasmine.


"Hmm, apa baiknya kita ke dokter aja, Sayang?" rasa khawatir Jasmine tidak sepenuhnya sirna mendengar penuturan Celyn.


Celyn kembali menerbitkan senyum manisnya, merasa lucu melihat raut wajah khawatir yang tercetak jelas di wajah mamanya itu.


"Mah, aku sudah bilang, kalau aku tidak apa-apa, jadi mama tidak perlu khawatir ya?" Celyn meraih tangan mamanya itu, dan mengelus-elusnya dengan lembut.


"Ya udah deh. Kau begitu, kamu istirahat aja dulu! nanti malam, kalau kamu tidak bisa datang ke acara Aniversary tante Manda dan Om Ardan, tidak apa-apa. Nanti mama bisa jelaskan sama mereka kalau kamu lagi kurang enak badan." ucap Jasmine sambil menyugar rambut putrinya itu.


"Iya, Ma!" desis Celyn lirih. Kemudian dia melangkah menuju kamarnya. Ucapan mamanya tadi mengingatkan dia, kalau nanti malam Tante Manda dan Ardan, merayakan Aniversary mereka yang ke 18 tahun.


"Aku pergi gak ya? kalau aku pergi, itu berarti aku akan bertemu dengan Kak Aby. Tapi, kalau tidak, Anin akan marah dan kecewa," batin Celyn berperang di dalam sana.


"Ahh, lihat nanti aja deh. Sekarang baiknya aku istirahat dulu!" Celyn memejamkan matanya dan mulai bermimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aby mematut kembali dirinya di depan cermin untuk memastikan penampilannya sudah tampan atau tidak. Hal yang sangat jarang dilakukannya.


"Ngapain sih aku? buat apa aku memperdulikan penampilanku? mau pakai apapun, aku kan tetap tampan." Aby berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin.


Aby merasa aneh dengan dirinya sendiri, begitu inginnya dia tampil perfect di acara aniversary orangtuanya, apalagi tampil perfect di depan Celyn.


"Kakak udah tampan kok, jadi gak usah berdiri terus di depan cermin, ntar cerminnya pecah," tiba-tiba Anin muncul di depan pintu kamar Aby.


Aby berdecih, kesal dengan adiknya yang suka sekali menggangu ketenangannya.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Aby yang sekarang sudah berpindah dari depan cermin. Dia kini sedang memakaikan jam tangan di pergelangan tangannya.


"Acara sudah mau mulai, Kak. Jadi mama memintaku untuk memanggilmu." sahut Anin.


"Hey, Bro, kenapa kamu belum turun!" tiba-tiba ada suara bariton yang terdengar dari arah pintu. Suara yang selama ini membuat jantung Anin berdebar tidak karuan.


"Hey, kalian berdua sudah datang rupanya. Ini sebentar lagi aku akan turun," sahut Aby, tersenyum tipis.


"Hai, Anin apa kabar? kamu cantik sekali malam ini!" sapa Calvin, terpukau melihat kecantikan Anin.


__ADS_1


"Terima kasih, Cal!" sahut Anin sembari memberikan senyuman termanisnya, dengan ekor mata yang melirik ke arah Kenjo yang selalu tampak tampan di matanya.


"Hai, Ken, apa kabar?" sapa Anin, melawan rasa gugupnya.


Kenzo menoleh ke arah Anin dan menerbitkan senyum manisnya



"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, Nin," sahut Kenjo, tanpa menanggalkan senyuman di bibirnya.


"Aku yang menyapa kamu, tapi kenapa kabarku tidak kamu tanya, Nin?" tanya Calvin memasang wajah cemberut.


"Apa kabar, Cal?" tanya Anin, menanggapi protes Calvin.


"Telat!" sahut Calvin yang membuat Anin terkekeh.


"Ihh, Calvin lucu." Anin mencubit pipi, Calvin yang menurutnya sangat lucu ketika cemberut.



"Ayo kita turun sekarang!" nada suara Kenjo terdengar sangat dingin. Dia berlalu keluar dari kamar Aby dengan wajah datar dan sukar untuk dibaca.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tamu-tamu undangan sudah mulai berdatangan. Ardan tidak mengundang banyak orang, hanya orang-orang terdekat saja dan beberapa kolega. Makanya mereka lebih memilih untuk mengadakannya di taman belakang dari pada di gedung hotel.


"Mungkin masih di jalan," jawab Calvin. Sedangkan Aby terlihat acuh. Padahal dia pun penasaran kenapa keluarga Rio belum datang juga.


"Tuh, Om Rio datang!" seru Calvin dengan jari telunjuk yang terangkat mengarah ke arah datangnya keluarga Rio.


Aby sontak menatap arah yang ditunjuk oleh Calvin, demikian juga yang lainnya. Aby mengrenyitkan keningnya , begitu tidak melihat adanya Celyn yang berjalan bersama dengan Rio, Jasmine dan Rico.


"Lho, Celyn kemana?" tanya Calvin.


"Kamu bertanya pada siapa? kalau kamu tanya kami, kamu salah! Soalnya kita sama-sama tidak tahu," sahut Kenjo ketus.


"Kamu kenapa sih? ketus amat! kamu lagi datang bulan ya?"


Kenjo, tidak menyahut, dia hanya menghunuskan tatapan tajamnya, sebagai pertanda kalau dirinya tidak suka dengan candaan Calvin.


"Iya, Iya, aku diam deh!" ucap Calvin mengalah. Mengalah untuk apa, dia tidak tahu.


"Hey, Rico! dimana kakakmu?" tanya Anin , begitu Rico adiknya Celyn lewat di depan mereka.


"Oh, Kak Celyn lagi kurang enak badan.Sudah seminggu ini, kepalanya pusing terus," sahut Rico, apa adanya.

__ADS_1


"Sakit? sakit apa?" tanya Kenjo cepat. Sehingga menimbulkan kerutan di kening Anin dan Aby.


Mereka melihat, sikap Kenjo sedikit berlebihan.


"Entah! kalau ditanya, Ka Celyn jawabnya, dia pusing aja. Kalau diajak ke dokter nggak mau.Padahal mukanya udah pucat banget. Tapi, tetap kekeh gak mau." raut wajah Rico terlihat kesal, mengingat kakaknya yang keras kepala.


"Oh, gitu ya?" ucap Anin sembari menghela napas kecewa.


"Kenapa dia tidak ngabarin aku, kalau dia sakit?" gumam Anin mirip seperti bisikan.


"Katanya, agar Kak Anin nggak khawatir." Sahut Rico. "Oh ya, aku ke sana dulu ya," Rico menunjuk ke arah Adrian dan Brian putra Putra Bagas yang masih berusia 14 tahun.


"Aku pergi dulu ya!" Kenjo tiba-tiba berdiri dan beranjak pergi tanpa menunggu sahutan dari yang lain.


"Huh, paling dia mau ke rumah Celyn," celetuk Calvin tiba-tiba.


Aby dan Anin sontak menatap Calvin dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ma-maksudmu apa?" suara Anin sedikit bergetar, dan dadanya terasa sesak.


"Hmm, kalian baru tahu ya, kalau Kenjo sangat perhatian sama Celyn. Sepertinya Kenjo suka deh sama Celyn. Feelingku sih seperti itu," ujar Calvin santai.


Aby berdiri dan berlalu pergi tanpa pamit sama sekali pada Anin dan Calvin, sehingga menimbulkan kerutan di kening Calvin. Sedangkan Anin tidak peduli dengan perginya kakaknya, pikirannya justru berkelana entah kemana.


"Kamu tenang saja, Kenjo menganggap Celyn hanya sebagai adiknya saja, tidak lebih. Tadi aku sengaja bicara seperti itu, untuk melihat reaksi kakakmu itu," bisik Calvin persis di telinga Anin.


"Nga-ngapain kamu harus ngasih tahu aku? emang apa urusanku kalau Kenjo suka sama Celyn?" suara Anin terdengar gugup, seperti orang yang tertangkap basah.


"Kamu tidak perlu berbohong, Nin. Aku tahu kalau kamu itu suka sama Kenjo, iya kan?" Calvin mengerlingkan matanya, mengoda Anin.


"Kamu jangan sembarangan ngomong, aku tidak suka!" ketus Anin sambil berlalu menutupi rasa malunya.


"Hei, jadi aku benar-benar ditinggal nih?!" seru Calvin, kesal.


"Sama aku aja Kak," suara cempreng seorang wanita, mengagetkan Calvin.


Tbc


Bae Suzy as Anin



Nam Joo Hyuk as Kenjo


__ADS_1


Kim Seon Ho as Calvin



__ADS_2