
"Kak, apa Kakimu masih sanggup berdiri?" tanya Cantika, ketika film horor yang mereka tonton sudah berakhir.
"Kenapa tidak? apa kamu kira aku lemah?" ucap Calvin yang berusaha berdiri walau sisa-sisa getaran di kakinya masih ada.
"Ya udah, kalau gitu ayo kita pulang!" Cantika berusaha berkata dengan senyum yang tertahan. Dia berpura-pura tidak tahu kalau kekasihnya itu sedang berusaha menutupi rasa takut di depannya.
Calvin berjalan sambil memegang pegangan kursi, untuk menopang tubuh jangkungnya agar tidak terjatuh.
Calvin mengembuskan napas lega begitu mereka sudah keluar dari area bioskop. Akan tetapi, Calvin mulai terlihat kesal ketika Cantika masih belum mau beranjak pergi dari tempat itu. Justru, gadis itu terlihat sedang melihat-lihat daftar film yang akan diputar di hari-hari berikutnya.
"Kak, kita besok nonton ini yuk!" Cantika menunjuk ke arah sebuah poster yang memperlihatkan, setan yang wajahnya berlumuran darah dan sedang menyeringai, seperti ingin membunuh. Seketika Calvin memalingkan wajahnya seraya bergidik ngeri.
"Hmm, maaf aku nggak bisa, soalnya besok aku harus kerja," tolak Calvin, memberikan alibi.
"Kerja apa? besok'kan hari Minggu?" kening Cantika berkerut menatap Calvin, curiga.
"Sial! aku lupa kalau besok hari Minggu," umpat Calvin merutuki kebodohannya.
"Iya, bukan kerja ke kantor, tapi memang ada yang harus diselesaikan, dan itu sangat diperlukan buat hari Senin." Sahut Calvin memberikan alasan lagi.
"Hmm, gitu ya? ya udah deh kalau nggak bisa, aku ajak Dion sana Deby aja besok." pungkas Cantika, memutuskan.
"Nah, itu lebih baik! pulangnya nanti aku jemput, dan ingat kamu tidak boleh duduk di dekat laki-laki lain!" Calvin memberi peringatan.
"Apaan sih, Kak. Belum juga jadi, udah dikasih peringatan. Lagian Dion kan laki-laki, dan dia biasa duduk di antara aku sama Deby. Itu bagaimana?
"Kalau Dion pengecualian."
"Kalau yang duduk di sampingku memang laki-laki bagaimana? kan aku tidak bisa prediksi yang duduk di sebelahku laki-laki atau perempuan. Masa aku harus usir kalau yang duduk di sebelahku,laki-laki. Bioskop ini kan bukan punya nenek moyangku."
"Kalau begitu, kamu tidak perlu nonton kalau tidak bersamaku,.titik ,no debat." pungkas Calvin tak terbantahkan, hingga membuat bibir Cantika mengerucut ke depan.
"Ayo, pulang!" Calvin meraih tangan Cantika dan menautkan jari-jarinya di sela-sela jari gadis remaja itu.
"Kak, ini kan malam Minggu, pertama kali kita kencan, masa kita langsung buru-buru pulang sih?" rajuk Cantika yang membuat Calvin mengelus dadanya.
"Sabar, Cal. Itu sudah menjadi resikomu, punya pacar ABG," ucap Calvin yang hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri.
"Jadi kamu mau kemana lagi, Sayang?" tanya Calvin dengan menggigit giginya sendiri.
"Kita main ke Timezone aja yuk!" Cantika menarik tangan Calvin, menuju tempat timezone.
__ADS_1
"Cantika, kita pulang saja ya," ucap Calvin dengan wajah yang memelas.
Cantika berhenti, dan menatap Calvin dengan bibir yang mengerucut.
"Ok, kita pulang, tapi aku gak mau pulang ke rumah. Kita ke apartemen kakak aja bagaimana? kita nonton lagi di sana. Aku ada kasetnya, dan sepertinya masih ada di tas.
Calvin bergeming, seperti tengah berpikir.
"Kamu tidak takut kalau aku bawa ke apartemen?" tanya Calvin, yang pikirannya mulai melalang ke arah iya iya.
"Nggaklah! kakak kan bukan setan, ngapain takut?" sahut Cantika.
"Tapi, aku lebih berbahaya dari setan, Cantikaa." ucap Calvin, yang hanya bisa diucapkan di dalam hati.
"Ayolah, Kak. Jangan kebanyakan mikir! kakak sekarang putuskan, mau ke apartemen kakak, atau kita main ke Timezone?"
"Baiklah! kita ke apartemen saja." pungkas Calvin, memutuskan.
"Masalah apa yang akan terjadi nantinya, biarlah Tuhan yang menentukan. Yang penting jangan ke Timezone," batin Calvin, tidak menanyakan dulu, film apa yang akan mereka tonton.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketegangan terjadi di apartemen, Calvin. Bukan hanya hati yang tegang, bagian bawah juga sudah ikut tegang. Bagaimana tidak, ternyata kaset yang dibawa selalu oleh Cantika ternyata kaset horor plus-plus.
"Tenang, Kak, tidak usah takut! ada aku di sini." bukan hanya mulut Cantika yang aktif, menenangkan, tapi juga tangan yang ikut aktif menenangkan, dengan cara mengelus dada, dan berpindah ke paha.
"Ya, Tuhan! kuatkan imanku, walaupun si imin udah hampir tidak kuat lagi." bisik Calvin dengan peluh yang menetes di pelipis Calvin.
"Aduh, Kakak sampai keringat dingin begini." Cantika menyeka peluh Calvin dan dengan polosnya memeluk Calvin, lalu membaringkan tubuhnya di paha pria itu.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? kalau boleh, buat saja tidak sadarkan diri saat ini, Tuhan.
Cantika menggeser kepalanya semakin dekat ke arah tubuh Calvin, hingga tanpa sengaja menyentuh, juniornya.
"Tuhan, cobaan-Mu semakin berat. Jangan biarkan aku khilaf Tuhan." lagi -lagi keringat dingin merembes dari pelipis Calvin.
"Wah, perut kakak ternyata bagus ya?" ucap Cantika seraya meraba-raba perut Calvin.
"Mati aku, kalau begini terus, aku gak bisa jamin dirimu selamat malam ini, Cantika," batin Calvin berusaha menahan napasnya.
"Kakak kenapa sih, gak bisa diam? bergerak aja dari tadi," protes Cantika seraya mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Habis, kamu kenapa pakai tidur di paha aku sih?" ujar Calvin yang wajahnya sudah memerah.
"Emang kenapa? aku gak boleh tiduran di pahamu gitu?"
"Bukan tidak bisa. Tapi belum saatnya, Sayang. Soalnya nanti ada yang bangun."
"Siapa yang bangun?"
"Pokoknya adalah. Masa aku harus sebutkan sih!" ujar Calvin frustasi.
"Siapa sih Kak? apa di sini ada orang lain selain kita?" tanya Cantika dengan tatapan curiga.
"Ada Cantika, setan yang sedang berbisik menyuruhku khilaf," ujar Calvin Yanga hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.
"Tidak ada selain kita. Tapi pokoknya adalah yang bangun. Kamu duduk aja ya!" pinta Calvin dengan nada yang sangat memohon.
"Gak mau!" ujar Cantika yang malah makin membenarkan tidurnya, sambil menggerak-gerakkan kepalanya, hingga lagi-lagi tuh kepala menyentuh kepala bawah si Calvin.
Calvin berusaha untuk menahan napas, agar de*sahannya tidak keluar dari mulutnya.
Tiba-tiba ponsel Cantika berbunyi, pertanda ada panggilan yang masuk. Gadis itu, bangkit duduk dan meraih ponselnya. Hal itu membuat Calvin mengembuskan napas, lega. Akan tetapi, rasa leganya hanya sementara, karena sekarang gadis itu kembali dengan santainya meletakkan kepala ke paha Calvin, hingga membuat Calvin kembali menahan napas.
"Halo, Pah! ucap Cantika yang menjawab telepon yang ternyata dari Bagas, Papahnya.
"Kamu dimana? kok belum pulang?" Calvin mendengar suara Bagas yang sangat dingin dari ujung telepon, karena kebetulan Cantika menghidupkan loud speakernya.
"Aku di apartemen kak Calvin, Pah." jawab Cantika, jujur. Tidak menyadari kalau itu bisa membuat Bagas kalang kabut.
"Ngapain di sana? jangan macam-macam ya!" pekik Bagas panik.
"Hmm macam-macam apa,Pah? kita hanya nonton aja kok, iya kan Kak, Cal?" Cantika tidak sadar dari tadi tangannya sudah masuk ke dalam kemeja Calvin dan meraba-raba perut pria itu.
"Haaaaa! benda apa yang sudah keras itu?" Cantika tiba-tiba berteriak, bangun dari atas paha, Calvin dengan jari telunjuk yang menunjuk ke arah celana Calvin yang sudah menonjol.
Calvin meraih bantal sofa, dan menutupi bagian bawahnya dengan bantal itu.
"Kan tadi sudah aku bilang, kamu duduk saja, dan jangan tiduran di pahaku, takut ada yang bangun. Tuh lihat dia sudah bangun kan? ini bukan salahku, tapi salahmu."
"Kenapa kakak, gak langsung ngomong kalau itu yang akan bangun?!" pekik Cantika yang tidak menyadari kalau teleponnya masih tersambung. Dan tentu saja Bagas di ujung sana sudah panas dingin.
"Gimana mau ngomong, harusnya kamu yang ngerti. sudah aku kasih kode, tapi kamu gak peka-peka." ucap Calvin tidak mau disalahkan.
__ADS_1
"Calvinnnnn! awas kalau putriku kenapa-napa ya. Gak bisa lagi ini. Aku gak mau tahu lagi, pokoknya kalian harus secepatnya menikah! gak usah menunggu Cantika lulus SMA lagi, " pekik Bagas dari ujung sana, hingga membuat netra Calvin dan Cantika saling silang pandang dengan mata yang membesar.
Tbc