
Jasmine berjalan untuk membukakan pintu untuk orang yang membunyikan bel dari tadi.
"Mama!" pekik Jasmine ketika melihat sosok wanita yang sangat dirindukannya berdiri di depan pintu sambil menenteng sebuah koper besar.
Wanita yang dipanggil mama oleh Jasmine itu, menghambur memeluk putri yang selama ini selalu dia rindukan.
"Kamu jahat, Nak. Kenapa kamu tidak pernah mau mengunjungi mama?" Ratna, mamanya Jasmine, mendekap erat tubuh putrinya sambil menangis sesunggukan. Air mata yang berusaha dia tahan semenjak berdiri di depan rumah putrinya itu, kini sudah berhasil lolos membanjiri pipi wanita setengah baya itu.
"Maafkan Jasmine, Mah. Jasmine dulu sudah pernah mencoba untuk pulang ke rumah, tapi sebelum bertemu mama, papah sudah mengusir Jasmine." Jawab Jasmine, yang kondisinya juga sama dengan mamanya, bersimbah air mata.
Setelah cukup lama berpelukan melepas rindu akhirnya mereka berdua melerai pelukan mereka dan saling menyeka air mata orang yang ada di depan mereka.
"Mama, ayo masuk! kenapa mama membawa koper besar? jangan bilang mama minggat dari rumah?" netra Jasmine melirik curiga dan penuh tanda tanya pada koper besar milik mamanya.
"Iya, mama sudah tidak kuat lagi, menghadapi papamu yang egois itu." sahut Ratna sambil melangkah masuk dan Jasmine buru-buru langsung membantu mamanya untuk menarik masuk koper besar itu.
"Mah, kasihan papa kalau ditinggal sendiri. Nanti yang ngurus keperluannya siapa?"
"Mama sudah tidak kuat, Sayang. Papamu bahkan berencana menghancurkan perusahaan Ardan." pekik Ratna sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Mama tahu dari mana? tidak mungkin papa seperti itu." Jasmine menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.
Melihat putrinya yang tidak percaya, akhirnya Ratna menceritakan semua, apa yang dia lihat dan dengar. Sementara itu, netra Jasmine membesar dan mulutnya sedikit terbuka mendengar cerita mamanya.
"Padahal, Rio walaupun tidak diakui menantu selama ini selalu membantu papa dari belakang. Semenjak papa memutuskan kerja sama dengan Bagaskara company, sebenarnya banyak yang tidak mau berinvestasi lagi ke perusahaan papa.Para dewan pemegang saham juga rame-rame ingin menarik saham mereka. Tapi Rio lah yang membujuk mereka semua untuk tetap menanamkan saham di perusahaan papa.Dan bahkan menjadi investor besar di perusahaan papa serta mengajak Wijaya group juga untuk berinvestasi ke perusahaan papa." Jelas Jasmine dengan mata yang berkaca-kaca mengingat semua hal yang dilakukan oleh suaminya itu.
Ratna terkesiap kaget mendengar penuturan putrinya itu. Ratna sendiri tidak menyangka kalau Rio memiliki pengaruh besar sehingga, mampu mendatangkan investor besar yang dia tahu adalah pengusaha terkaya di urutan kedua.
"Apa itu benaran, Sayang?" tanya Ratna, memastikan.
"Iya, Ma. Investor terbesar itu kan Mas Rio dan Bagas. Bagas itu sahabat mas Rio dan Ardan. Awalnya Bagas ragu, tapi aku dengar sendiri ketika mas Rio berusaha menyakinkan Bagas untuk berinvestasi di perusahaan papa.__ Ma, walaupun mas Rio hanya seorang asisten seperti kata Papa, tapi Rio memiliki saham 25 persen di Bagaskara Company. Mas Rio juga punya resort mewah di Bali. Papa selama ini melihat Mas Rio hanya dari kulitnya saja, tanpa mau melihat isinya." terang Jasmine yang membuat Ratna semakin terpengarah.
"Papamu harus tahu ini." Ratna hendak meraih ponselnya dari dalam tas. Akan tetapi, ponsel itu sudah terlebih dulu berbunyi. Ratna melihat kalau panggilan itu berasal dari asisten suaminya.
__ADS_1
"Bu, bapak pingsan.Beliau terkena serangan jantung dan sekarang sudah ada di rumah sakit." pekik suara dari ujung sana sebelum Ratna sempat mengucapkan kata halo.
"Sudah basi! trik ini tidak mempan lagi dia lakukan agar aku pulang.Sampaikan sama bapak, kalau selama dia belum berubah, ibu tak akan pulang."
"Bu, kali ini aku tidak bohong. Sumpah demi apapun, bapak benar-benar terkena serangan jantung, karena perusahaan bangkrut." asisten Johan berusaha meyakinkan istri atasannya itu.
"Maaf, aku tidak percaya.Kalian dari dulu sudah berulang kali membohongiku, kali ini aku tidak mau tertipu lagi." tegas Ratna sambil memutuskan panggilan secara sepihak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa malam sekali pulangnya, Mas? dan kenapa Aby diantar pulang tadi sama Supir? dan kenapa kamu tadi menanyakan Radit? apa ada masalah yang terjadi kantor?" cecar Amanda dengan beruntun, tidak memberikan Ardan kesempatan untuk menjawab.
"Kamu sudah mandi? Sudah makan? ngapain aja hari ini? bagaimana keadaan Anin? anak-anak sudah makan belum?"
"Mas, nanyanya satu-satu. Aku bingung mau jawab yang mana duluan." suara Amanda terdengar memprotes
"Tuh kamu tahu, aku juga pusing dengar pertanyaanmu yang tak putus-putus seperti kereta api." sahut Ardan dengan bibir yang mengerucut.
Amanda terkekeh melihat bibir Ardan yang maju. Semenjak Ardan sudah mengungkapkan perasaannya, pria itu sudah berani menunjukkan sisi manjanya pada Amanda, istrinya.
"Nggak usah, Sayang. Tadi aku udah makan malam dengan Rio di luar." Ardan menahan tangan Amanda yang nyaris beranjak pergi.
"Sekarang lebih baik kamu bantu aku mandi." Ardan mengerlingkan matanya, menggoda Amanda.
"Nggak mau! nanti aku basah lagi, aku kan sudah mandi." Sahut Amanda yang tidak mengerti dengan maksud Ardan.
Ardan tersenyum, lalu mencondongkan tubuhnya mendekat ke telinga Amanda.
"Aku merindukanmu, Sayang.Dan aku ingin kita melakukannya di dalam kamar mandi, apa kamu tidak ingin mencobanya?" bisik Ardan sambil memberikan gigitan lembut di telinga istrinya itu. Hembusan napas serta gigitan Ardan, membuat tubuh Amanda meremang, lalu refleks mendorong tubuh Ardan.
"Ih, mesum! Sana kamu mandi dulu! aku mau melihat anak-anak dulu," Amanda berjalan ke arah Walk in closet untuk menyiapkan pakaian suaminya, sebelum nanti melihat si kembar.
"Sayangggg, udah bangun nih, masa kamu nggak mau bantu menidurkannya?" rengek Ardan. Hilang sudah kegagahannya kalau sudah begini.
__ADS_1
"Nggak! kamu mandi dulu! nih pakaian kamu, aku ke kamar Anin ya," Amanda sedikit berlari meninggalkan Ardan yang merengut.
"Ini nih yang aku takutkan untuk jujur bilang cinta. Dia nya jadi ngelunjak, kaya Jasmine ke Rio." Ardan menggerutu dan dengan langkah gontai masuk ke dalam kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aby, kamu sedang apa, Nak?" tanya Ardan ketika melihat putra sulungnya itu, sepertinya sedang sibuk mengotak-atik sesuatu.
"Eh, Papah. Seperti biasa, Pah. Aku merakit mainan bionicle lagi. Sebentar lagi juga akan selesai, tinggal memasang pedangnya. Nih sudah selesai." Aby menunjukkan hasil karyanya pada papanya. Kalau biasanya anak-anak lain butuh waktu lama untuk merakit sebuah mainan bionicle, tapi tidak dengan Aby. Dia hanya butuh waktu sekitar satu jam, pasti sudah jadi.
"Wah, kamu memang hebat, Nak. Sekarang kamar kamu sudah penuh dengan benda-benda itu." Ardan mengedarkan pandangannya, melihat etalase yang sudah penuh dengan robot-robot rakitan Aby, dari Lego bionical.
"Dari dulu, aku sudah ingin memiliki koleksi-koleksi mainan ini, Pa. Tapi aku tahan, karena mainan ini, lumayan mahal dan mama tidak sanggup untuk membelinya. Untung papa, Aby orang kaya, kalau tidak, mungkin setelah aku dewasa baru bisa memiliki mainan ini." tutur Aby yang bibit angkuh dari Ardan mulai terlihat.
Ardan mengelus puncak kepala putranya dengan lembut. Tiba-tiba hatinya merasa sedih membayangkan susahnya hidup Amanda dan kedua anaknya dulu.
"Sekarang, Aby bisa beli sepuasnya, papa tidak masalah." ujar Ardan sambil memberikan kecupan di puncak kepala putranya, yang bersikap dewasa sebelum saatnya itu.
"Oh ya, sekarang Aby tidur ya, sudah malam. Besok Aby kan harus ke sekolah. Papa mau ke kamar adikmu dulu." pungkas Ardan , kembali meninggalkan kecupan di pipi Aby.
"Pah, semuanya berjalan lancar kan hari ini?" tanya Aby, sebelum Ardan sampai ke pintu.
"Semuanya aman terkendali, kamu tenang saja. Papa keluar ya?" Aby menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Tadinya Aby ingin mengutarakan keinginannya untuk mendirikan perusahaan mainan khususnya Lego seperti bionicle. Dan Aby ingin membuat tema yang berbeda, yaitu ingin membuat Lego yang bisa disusun ke dalam bentuk tokoh pewayangan di Indonesia, seperti ,Semar, Gareng, Petruk dan lain-lain. Karena selama ini, yang dia lihat mainan seperti itu sangat jarang ada di toko mainan. Mungkin ada, tapi sangat minim.Yang membludak justru tokoh-tokoh superhero buatan luar.
Tapi sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk mengutarakan niatnya, karena melihat wajah papahnya yang letih.
Tbc
__ADS_1
Bionicle adalah garis dari Lego mainan kontruksi , dipasarkan terutama terhadap untuk anak usia 8-16 tahun, dan harganya juga lumayan mahal. Aku sudah pernah mencoba, untuk merakit dan memang lumayan susah 😁🤦.