
"Kenapa kalian semua melotot padaku? aku salah apa?" tanya Rio dengan kening yang berkerut.
"Kamu pikir sendiri salah kamu apa?" ucap Ardan.
"Emangnya salah suamiku apa? kan emang benar yang dia bilang. Tasnya kan jadinya sama aku." Jasmine yang juga tidak merasa ada yang salah, malah menambah suasana semakin panas. Terbukti dengan wajah Clara yang memerah
Clara sontak berdiri dan beranjak dari tempat duduk dan beranjak pergi. Dia merasa kesal selain karena Bagsa pernah menikah, dia juga pernah menyukai Amanda. Itu berarti Bagas pernah berniat untuk melupakannya.
"Awas kamu ya! ihhhh" Ingin Bagas, memaki Rio, tapi waktunya kurang tepat, karena dia harus mengejar Clara dan membujuknya.
"Kenapa sih kamu pakai keceplosan ngomong begitu, Yo? tanya Ardan sambil berdecak, menggelengkan kepalanya.
"Aduh, mana aku tahu kalau bakal begini jadinya." ucap Rio, sedikit menyesal.
"Aku juga salah, aku malah semakin memperkeruh suasana." Jasmine tidak kalah menyesalnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ara, kamu jangan marah begitu dong! kamu jangan percaya sama apa yang diomongin sama Rio." bujuk Bagas, sambil menahan tubuh Ara, agar tidak menjauh.
"Siapa yang marah? aku hanya sedikit kesal saja! Kakak telah membohongiku."
"Bohong apa? aku tidak pernah membohongimu. Aku jujur mencari kamu selama ini. Kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah punya istri dan punya anak." Bagas masih berusaha meyakinkan, Clara.
"Iya. Tapi coba seandainya, Amanda mau sama kamu, pasti kamu juga akan melupakanku kan?" ketus Clara.
"Ara, sebenarnya aku hanya mengagumi dia saja. Aku kagum karena dia wanita yang tangguh. Kamu mungkin sudah tahu sendiri bagaimana masa lalu dan perjuangannya." suara Bagas, terdengar sangat lembut dan lirih.
"Halah, alasan! asal kamu tahu, waktu itu kita pernah bertemu di kantor Pak Ardan. Saat itu kepalaku membentur dadamu saat aku mau masuk ke dalam lift dan kamu, mau keluar. Aku sudah minta maaf, tapi kamu hanya diam dan bahkan tidak mau melirikku sama sekali. Aku yakin, saat itu kamu pasti lagi galau kan, karena cemburu sama Pak Ardan dan Amanda? Saat itu ,Pak Ardan keluar dari kantor sambil menggandeng tangan Amanda." Clara mulai mengungkit kejadian yang lama, dan menghubungkannya dengan ucapan Rio.
"Masa sih? kok aku tidak ingat kejadian itu ya? batin Bagas, berusaha mengingat.
__ADS_1
"Hmm, perasaan aku tidak pernah galau deh gara-gara kedekatan Amanda dan Ardan. Dan setahuku kita pertama kali bertemu, saat aku hampir menabrakmu," ucap Bagas.
"Itu benar Clara. Bagas memang tidak pernah mencintai Amanda. Dia hanya kagum dengan ketangguhan Amanda. Dari dulu, mulai dari bangku kuliah, dia selalu berkata kalau dia akan menikahi gadis kecilnya yang bernama Ara. Kamu bisa lihat sendiri, seandainya dia benar-benar suka sama Amanda, pasti dia akan frustasi kan?" Tiba-tiba Rio datang dan menjelaskan, untuk memperbaiki kekacauan yang dia buat.
"Kamu itu harus mempercayai Bagas sebagai calon suamimu. Kamu harusnya, jangan terlalu melihat ke masa lalu lagi, sekarang yang perlu kamu lakukan itu, masa sekarang, dan perjuangan kalian berdua untuk meniti masa depan." ucap Rio, bijaksana dan diplomatis.
Clara bergeming mendengar penjelasan Rio. Dia merasa yang diucapkan oleh Rio itu benar.
"Lagian ini kan bukan kesalahan, Kak Tyo. Sebagai manusia, pasti punya titik lelah. Mungkin pada saat itu, Kak Tyo mengalaminya, karena putus asa mencariku kemana-mana. Dan pada saat itu, Kak Tyo juga harus memikirkan perasaan orangtuanya." Clara berbisik pada dirinya sendiri.
"Maaf, Kak Tyo. Aku sudah sedikit egois marah tidak jelas. Aku hanya sedikit kesal saja, karena merasa kalau aku saja yang masih bertahan tidak melihat laki-laki lain, sampai kakak datang menunaikan janji kakak, sedangkan kakak, sudah berniat menyerah dan mencari wanita lain." Clara berucap sambil menundukkan kepalanya. Butiran cairan bening sudah berhasil keluar dari sudut matanya.
Bagas meraih pundak Clara dan mendekap tubuh gadis itu dengan erat, merasa lega karena wanita itu sudah bisa tenang kembali.
Tidak ingin mengganggu dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu, Rio dengan gerakan matanya pamit untuk pergi, dan Bagas menanggapinya dengan anggukan kepala serta jari jempol dan jari telunjuk yang membetuk huruf o, yang artinya 'Ok'.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Baik, Tuan muda!" sang Bodyguard membungkukkan badannya dan melangkah menuju kamar Aby, untuk melaksanakan titah sang tuan muda.
Setelah Anin dan Celyn sudah dipindahkan, Aby menggaruk kepalanya melihat boneka-boneka yang dimainkan oleh Anin dan Celyn masih berserakan di atas karpet kamarnya.
"Haish, aku juga yang harus turun tangan merapikannya." Aby menggerutu di dalam hati.
Aby meraih boneka yang tadi paling sering dimainkan oleh Celyn, dia menatap intens boneka itu, untuk mengetahui apa kelebihan boneka itu, dengan boneka-boneka lain. Sehingga Celyn begitu bahagia bercengkrama dengan boneka itu.
Semakin dia teliti, semakin dia tidak mengerti apa kelebihannya, selain sangat cantik.
"Apa istemewanya nih boneka, sampai Anin saja dia tidak kasih pinjam, dan sampai rela bawa-bawa ke sini segala." Batin Aby, sampai tidak sengaja dan tanpa sadar malah menyimpannya ke dalam lemari pakaiannya.
__ADS_1
Aby menghela napas lega, melihat boneka-boneka itu sudah masuk semua ke dalam box mainan.
"Tuan apa ada lagi yang harus kami lakukan?" tanya Sang bodyguard setelah kembali dari kamar, Anin.
"Hmm, apa Om tidak keberatan, membawa semua boneka ini ke kamar Anin? setelah itu, Om bisa istirahat." pinta Aby, yang tidak pernah melupakan kesopansantunanya, membuat para maid dan bodyguard-bodyguard itu merasa dihargai. Bahkan sebenarnya Aby, selama ini menolak dipanggil Tuan. Dia meminta untuk dipanggil Aby saja, Tapi para Bodyguard dan maid tidak mau dan tetap ingin memanggil tuan muda.
"Tentu saja boleh, Tuan muda." Bodyguard itu mengangkat box berisi boneka itu dan mengayunkan kakinya, melangkah keluar.
"Selamat malam Tuan! pintunya aku tutup ya?"
Aby menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis." Terima kasih, Om!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil mewah milik Ardan, meluncur dengan kecepatan sedang, menyusuri jalan untuk pulang.
" Untung saja kami bisa meredam pertikaian Bagas Clara, Yo. Kalau tidak, si duda perjaka itu pasti menghajarmu." ucap Ardan sambil terkekeh.
"Seandainya kami sampai adu jotos, siapa yang akan kamu bela? tanya Rio dari kursi depan di belakang kemudi.
"Tidak ada, Karena kalian berdua sahabatku." sahut Ardan, tegas.
"Wah, kamu memang sahabat yang baik, Dan?" Rio menyunggingkan senyum tipisnya.
"Iya, aku tidak akan membela siapapun, tapi aku akan menjadi wasit, pergulatan kalian berdua, Hahaha!"
"Kampret! Sialan! " umpat Rio, kesal.
Tbc
Please goyangkan jempolnya sebanyak-banyaknya lagi dong gais. Jangan lupa vote dan komennya. Than you.
__ADS_1