Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Aku capek


__ADS_3

"Kenapa baru pulang?" tanya Amanda dengan. mata yang menghunus tajam, membuat Aby terjengkit kaget.


"Mama, ngagetin aku aja. belum lagi aku masuk udah kena semprot aja. Bukannya Kenjo udah ngasih tahu mama ya, kalau aku nginap di rumahnya?" ucap Aby sambil cengengesan.


"Itu Kenjo, bukan kamu! Lagian kenapa tidak kabarin mama, kalau kamu nginap di rumah Kenjo, hah?! tahu nggak semalaman mama khawatir. Untung ada Celyn yang menemani mama nungguin kamu tadi malam." omel Amanda dengan mimik wajah kesal.


"Celyn? buat apa dia ikutan menungguku?" kening Aby, mengrenyit, tidak suka.


"Tunggu! dia menungguku bareng mama, berarti dia tadi malam nginap di sini dong." batin Aby dengan mata yang mengedar, berharap kalau dugaannya salah.


"Kenapa? emang ada larangan kalau Celyn mau nemenin mama?" ucap Amanda, ketus.


"Nggak sih,Mah. Ya udah ya Mah, aku mau ke atas dulu, bye Ma ...!" Aby berlari naik ke atas, sebelum mamanya itu melanjutkan omelannya.


Aby, mengembuskan napas dengan sekali hentakan, begitu melihat ada Celyn dan Anin yang sudah berdiri di anak tangga.


"Kak Aby udah udah pulang ya?" tanya Celyn dengan menyematkan seulas senyuman manis di bibirnya.


Aby menatap sekilas ke arah Celyn, lalu naik kembali ke atas tanpa menyahuti pertanyaan Celyn.


"Ka Aby mau kemana? apa kakak nggak dengar kalau Celyn ngomong sama kakak?" Anin menghadang Aby dan menghunuskan tatapannya, tidak senang dengan sikap Aby yang mengacuhkan sahabatnya Celyn.


"Menurutmu, kakak mau jawab apa? karena tanpa dijawab pun dia sudah tahu jawabannya. Kakak sudah ada di sini, itu berarti kakak sudah pulang. Minggir, kakak mau mandi dulu!" Aby menggeser tubuh Anin yang menghadangnya dan segera berlari naik ke atas.

__ADS_1


Celyn menggigit bibirnya sambil menundukkan kepalanya, sedih dengan sikap Aby yang dari dulu tidak pernah ramah padanya.


"Maafin Kak Aby ya, Cel. Aku yakin, Kak Aby tidak bermaksud seperti itu. Mungkin dia lagi Capek, makanya jadi ketus seperti itu." Lagi-lagi Anin selalu meminta maaf untuk sikap kakaknya itu.


Celyn menyunggingkan senyumnya, yang siapapun bisa lihat kalau itu senyuman terpaksa. "Tidak apa-apa kok,Nin. Kamu tenang saja, aku sudah kebal dengan sikap Kak Aby. Aku udah maklum, Kok. Mungkin memang Kak Aby tidak menyukaiku sama sekali." wajah Celyn terlihat sendu.


"Jadi kamu mau menyerah?" Anin memicingkan matanya, dengan tatapan menyelidik.


"Aku capek, Nin. Aku capek jadi perempuan yang tidak punya harga diri. Aku merasa kalau Kak Aby tidak nyaman kalau aku ada di sini. Dia selalu menghindar dan pergi dari rumah, kalau aku datang berkunjung. Jadi, aku putuskan untuk menyerah saja." ucap Celyn lirih dengan manik yang sudah berkilat-kilat, karena sudah dipenuhi dengan cairan bening yang sudah siap ditumpahkan dari wadahnya.


"Kenapa kamu seperti ini? mana Celyn yang selalu semangat dan tidak gampang menyerah? aku seperti tidak mengenalmu kalau sudah seperti ini." Anin mengguncang bahu, Celyn, tidak senang kalau Celyn menyerah, mendekati Aby.


"Nin, maaf kalau kamu tidak suka dengan ucapanku. Tapi cobalah kamu tarik ke diri kamu sendiri. Kamu juga pasti tidak akan mau kan, memaksakan kehendak kamu, pada orang yang sama sekali tidak mau ke kamu. Jangankan untuk hidup bersama, berada di dekatmu barang sebentar pun dia tidak suka, seakan dia menganggap kita kuman, dan ingin menyingkirkan kita segera. Seperti itulah sikap Kak Aby padaku," jelas Celyn dengan bibir yang masih berusaha untuk tersenyum, menunjukkan pada Anin, kalau dia baik-baik saja.


"Kamu benar! Tapi entah kenapa, aku yakin, kalau sebenarnya Kak Aby itu menyukaimu, hanya saja dia belum menyadarinya dan dia selalu menyangkal kata hatinya. Mungkin Kak Aby, suka dengan yang namanya, mengejar, bukan dikejar. Selama ini, dia merasa dikejar sama kamu, jadi dia tidak suka. Sekarang coba kamu menghindar, bisa jadi dia yang akan mengejarmu." Anin memberikan saran, seperti yang dia sering baca di novel-novel dan drama yang sering dia tonton.


"Sudahlah, Nin. Aku rasa itu pun akan sia-sia. Jadi sekarang biarkanlah takdir yang bekerja. Kalau Kak Aby ditakdirkan berjodoh denganku, mau aku berada di benua apapun itu, pasti akan bertemu juga, tapi kalau tidak, ya berarti Kak Aby bukan takdirku." ucap Celyn diplomatis tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.


"Maafin kakak aku ya!" Anin menatap Celyn dengan raut wajah sendu.


"Apa yang harus dimaafkan? ayolah, kakakmu tidak bersalah sama sekali, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah. Udah ah ... aku pulang dulu ya, Ada design gaun dari pelanggan yang belum aku selesaikan, padahal besok dia meminta designnya harus sudah jadi. Kamu tahu sendiri kan artis Syahriri, kalau gaunnya tidak perfect bisa sewot sampai tahun depan." Celyn tertawa berusaha untuk bercanda, menutupi kesedihannya.


"Ya udah, kamu hati-hati ya! salam sama Om Rio dan tante Jasmine." Anin memeluk Celyn dan mereka cipika cipiki seperti biasa.

__ADS_1


Sebelum keluar dari rumah itu, Celyn lebih dulu mencari keberadaan Amanda dan Ardan untuk berpamitan pada kedua orang yang sudah dia anggap seperti orang tua sendiri.


"Hati-hati, Cel! seru Amanda ketika Celyn melambaikan tangannya dari dalam mobilnya.


Mobil merah milik Celyn melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan mansion keluarga Bagaskara. Dari balik tirai ada sepasang mata yang menatap dengan intens sampai mobil yang dikemudikan oleh Celyn itu, menghilang dari pandangan matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aby beranjak dari jendela kamarnya selepas mobil Celyn tidak terlihat lagi. Kemudian dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia berencana akan berendam lama dan menggosok tubuhnya dengan sebersih-bersihnya, untuk menghilangkan aroma tubuh Shasa yang dia yakini pasti memeluknya.


Sementara itu Celyn yang berada di dalam mobilnya terlihat berkali-kali mengusap pipinya.


Air mata Celyn, yang dari tadi berusaha dia tahan akhirnya dia izinkan untuk keluar, membasahi pipinya. Walaupun dia berusaha untuk menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja, di depan Anin, tapi perasaannya sangat sakit seperti ada ribuan jarum yang menghujam hatinya.


"Sepertinya, aku memang harus melupakan perasaanku dan membuka hatiku pada orang lain. Aku tidak mau terus merasakan sakit lagi karena perasaan yang tidak berbalas." tekad Celyn di dalam hati


Celyn menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kembali ke udara, berharap semua beban hatinya ikut terbuang bersama hembusan napasnya.


"Aku bisa, pasti bisa. Ayo Celyn semangat."


Tbc


Jangan lupa buat tetap ninggalin jejak ya gais, please Like, vote dan komen. Thank you🙏

__ADS_1


__ADS_2