Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Antara bahagia dan takut


__ADS_3

Back to Indonesia


Kehamilan Anin yang membuat Kenjo yang mengalami ngidam, membuat Calvin sendiri yang mengurus perusahaan bekas perusahaan Gilang, yang diberikan oleh Ardan dulu pada Kenjo dan dirinya.


Alhasil dirinya menjadi sangat sibuk, mengurus dua perusahaan dan mau tidak mau selalu pulang lebih lama dari yang biasanya.


Untungnya Cantika istrinya tidak merasa keberatan dan sangat mengerti keadaannya. Akan tetapi, yang membuat dirinya heran, pulang dari kantor wajah Calvin kelihatan sangat lelah, tapi kalau urusan yang satu itu, sang suami tidak merasakan lelah sama sekali.


"Sayang, kamu udah mau berangkat kerja ya," ucap Cantika dengan bibir yang mengerucut.


"Iya, Sayang. Ada klien penting yang harus aku temui hari ini. Jam 10 sih, tapi aku harus kembali mempelajari berkasnya. Emang kenapa, Sayang?" tanya Calvin sambil mengencangkan dasinya.


"Bisa nanti saja, nggak,? aku kangen sama kamu." Cantika memeluk Calvin dari belakang.


Calvin melepaskan dengan lembut tangan istri kecilnya dari pinggangnya, kemudian berbalik menatap wajah sang istri yang terlihat sedikit pucat.


"Kamu kenapa, Sayang? kamu sakit ya?" tanya Calvin sambil meraba kening istrinya itu.


"Sama sekali tidak panas. Tapi kenapa wajahmu tampak pucat? " Calvin sudah terlihat khawatir.


"Aku nggak pa-pa, Sayang. Aku cuma ingin kamu di sini sebentar lagi boleh?" rengek Cantika yang membuat Calvin mengrenyitkan keningnya, bingung dengan Cantika yang manja tiba-tiba.


Calvin mengayunkan kakinya melangkah ke arah Nakas, untuk meraih ponselnya yang berbunyi pertanda ada panggilan masuk.


"Ya, ada apa? sebentar lagi aku berangkat. Kamu letakkan saja berkasnya di atas mejaku,". dari cara Calvin berbicara, Cantika yakin kalau yang sedang melakukan panggilan dengan suaminya adalah sekretarisnya di perusahaan.

__ADS_1


"Oh, begitu ya? Baiklah kalau begitu, aku ke kantornya agak siangan saja, soalnya istriku lagi kurang enak badan," sahut Calvin yang tidak menyadari kalau ucapannya yang mengatakan dirinya mempunyai istri, telah membuat sang sekretaris, kebingungan sekaligus lemas, karena baru tahu Calvin yang sudah memiliki istri.


Calvin meletakkan ponselnya kembali di atas nakas, setelah panggilan terputus. Dia berbalik menghadap istrinya yang menatapnya dengan manik mata yang berbinar begitu mengetahui suaminya akan berangkat agak siangan.


Cantika duduk di tepi ranjang, dan Calvin juga menyusulnya duduk di sampingnya. Kemudian Cantika meletakkan kepalanya di pundak sang suami.


"Sayang, aku mau tanya, apa kamu merasa sedih karena aku tidak bisa langsung hamil seperti, kak Anin?" tanya Cantika dengan mata yang sudah berembun, seperti merasa tidak enak pada Calvin, yang dia yakini sudah menginginkan seorang anak.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu. Aku tidak pernah berpikir ke arah sana. Kamu tenang saja, toh tinggal sebulan lagi, kamu lulus kan? kalau sudah lulus nanti, tiap malam kita akan membuatnya." ucap Calvin menenangkan istrinya sambil mengecup puncak kepala wanita yang dicintainya itu.


"Tapi, Sayang. Aku sedikit takut, kalau kakak merasa kesal karena tidak seperti kak Aby dan Kak Kenjo. Kak Aby sudah punya dua anak, kak Kenjo sebentar lagi akan jadi seorang ayah juga. Aku takut kalau setelah aku lulus nanti, aku juga tidak bisa langsung hamil, seperti yang kamu inginkan." tutur Cantika dengan lirih dan raut wajah yang sendu.


"Ya, kamu jangan terlalu jauh berpikir ke arah sana. Kalau kamu tidak kunjung hamil, yang kita tetap usaha membuatnya. Toh bikinnya ini enak kok." ucap Calvin yang disertai dengan sedikit candaan, untuk menenangkan sang istri.


Calvin terkekeh, lalu menarik tubuh istrinya itu kembali dan merengkuh tubuh wanitanya dengan erat.


"Kamu jangan khawatir,aku memang menginginkan seorang anak, tapi aku tidak akan meninggalkanmu seandainya kita ditakdirkan tidak memiliki anak. Karena tujuan menikah bukan hanya untuk mendapatkan anak saja." ujar Calvin yang sebenarnya sudah mengerti arah pembicaraan istrinya yang takut kalau tidak bisa memberikan dia anak.


"Benarkah?" ucap Cantika sambil memutar-mutar kancing kemeja suaminya.


"Iya, lagian dalam hal tidak memiliki anak, kita tidak boleh menyalahkan wanita saja, karena bisa jadi yang bermasalah, juga si pria. Bagaimana kalau aku yang bermasalah, apa kamu akan meninggalkanku?" Calvin bertanya balik, karena jujur dia juga sedikit khawatir mengenai kesuburan itu.


"Tidak akan! kita kan bisa adopsi anak nantinya." ucap Cantika, menghentikan kegiatannya bermain di kancing kemeja suaminya, berganti mengelus-elus dada sang suami.


Calvin tersenyum dan kembali mengecup puncak kepala istrinya itu.

__ADS_1


"Kak, aku ke kamar mandi sebentar ya?". Cantika beranjak dan berjalan ke kamar mandi setelah Calvin menganggukkan kepalanya.


"Sayanggg! teriak Cantika tiba-tiba dari dalam kamar mandi, membuat Calvin panik dan melompat dari atas ranjang, kemudian berlari ke kamar mandi.


"Ada apa? apa yang terjadi? apa kamu baik-baik saja?" cecar Calvin beruntun, melihat istrinya yang berjongkok di lantai sambil menutup mulutnya dan dari matanya terlihat wanita itu sedang menangis.


"Sayang, kamu kenapa sih? apa kamu jatuh? dimana yang sakit?" Wajah Calvin semakin panik sambil ikut berjongkok di depan sang istri dan memeriksa tubuh sang istri.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Tapi aku ...." Cantika menggantung ucapannya dan menyerahkan sebuah benda ke tangan sang suami.


Calvin menerima benda itu dan mengreyitkan keningnya bingung ketika melihat ada garis dua di benda itu.


"ini maksudnya apa?" tanya Calvin bingung.


"Itu menunjukkan, kalau aku hamil, Kak,"


"Hah?! hamil? bagaimana bisa? bukannya aku ... astaga, ternyata aku lupa buat suntik hormon lagi untuk yang kedua kalinya. Suntik yang kemarin kan hanya tiga bulan." seru Calvin sambil menepuk jidatnya.


"Kakak tidak senang?" tanya Cantika dengan wajah yang kembali ingin menangis melihat ekspresi suaminya yang terlibat kurang senang.


"Bukan tidak senang,Sayang. Aku sangat bahagia sekali." ucapnya sambil meraih tubuh istri kecilnya dan memeluk dengan berat seraya mencium puncak kepala wanita itu dengan bertubi-tubi. Ini lah ternyata alasan kenapa Cantika, sangat manja dan gampang sensitif.


Calvin bahagia sekaligus takut. Bahagia karena sebentar lagi akan memiliki anak, takut akan kemarahan Bagas, papa mertuanya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2