
"Selamat pagi, Ma, Pa, princess papa!" sapa Rio, ketika melihat kedua mertuanya dan Celyn putrinya sudah duduk di meja makan.
Nak Rio, dimana Jasmine?" tanya Ratna, begitu melihat Rio turun dari atas tanpa Jasmine.
"Dia masih tidur, Ma. Aku sudah berusaha membangunkannya, tapi dia susah banget bangunnya." sahut Rio sambil mendaratkan tubuhnya duduk di dekat Celyn.
"Hah, masih tidur? jam segini? anak itu kok aneh ya, belakangan ini? suka banget tidur, nggak kaya Jasmine biasanya." Ratna menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mungkin bawaan bayi, Ma," Sahut Rio dengan tangan yang menyendokkan nasi goreng ke dalam piringnya.
"Hah, bawaan bayi?" bukan hanya Ratna yang kaget, Johan pun tak kalah kaget dengan istrinya.
"Lho, apa mama dan papa tidak tahu kalau, Jasmine sedang hamil?" Rio menautkan kedua alisnya, sehingga kedua netranya terlihat menyipit.
"Tidak, kami tidak tahu sama sekali. Kenapa kalian berdua tidak ada yang memberitahukan kabar bahagia ini pada kami?" tanya Ratna yang mengandung kekecewaan, merasa tidak dianggap.
"Aku aja baru tahu tadi malam, Ma, Pah. Itupun karena Amanda hamil, dan Ardan meledek aku. Makanya Jasmine keceplosan ngomong, kalau dia juga tengah hamil. Katanya dia mau kasih kejutan di hari anniversary kami minggu depan. Aku kirain mama sama papa sudah tahu, dan aku saja yang yang tidak tahu." jelas Rio apa adanya.
" Jadi, Amanda juga lagi hamil?" Rio menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Kami sama sekali tidak tahu, Nak. Menyesal mama sama papa, pulang duluan tadi malam." Ujar Ratna.
"Kan demi kesehatan papa juga, Ma. Intinya sekarang, mama dan papa akan punya cucu lagi, dan rumah ini akan semakin rame." ucap Rio, dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.
"Jadi, Celyn sebentar lagi akan punya adik, Pa?" tanya Celyn yang dari tadi masih menebak-nebak arah pembicaraan antara papa dan neneknya itu.
"Iya, Sayang. Jadi nanti Celyn, akan ada teman bermain. Jadi, kamu nanti jadi kakak yang baik ya,buat adiknya.
"Pagi semua!" tiba-tiba Jasmine muncul, masih dengan muka bantalnya, dan rambut yang berantakan.
"Astaga, Jasmine, kamu belum mandi, Nak?" seru Ratna, terkesiap melihat penampilan anaknya.
"Belum, Ma. Airnya dingin banget." Jasmine memberikan alasan, sambil mendaratkan tubuhnya duduk di dekat Rio, dan langsung merebut sendok dari tangan suaminya itu, kemudian menyuapkan nasi goreng milik Rio ke dalam mulutnya.
"Jasmine, kenapa kamu makan dari piring Nak Rio? di depanmu kan sudah ada piring kosong?" tegur Ratna dengan mata yang mendelik penuh peringatan.
__ADS_1
"Jasmine mau makan dari piring , Ma Rio ma." sahut Jasmine tanpa beban, membuat semua yang ada di meja makan itu berdecak, dan menggeng-gelengkan kepala.
"Oh ya, Mas. Tadi Bagas telepon ke ponselmu, katanya hari ini dia mau lamaran, jadi di mmengajak kita untuk ikut nanti malam." ucap Jasmine dengan mulut yang masih asik mengunyah.
"Jadi menikah juga itu anak." ucap Rio, sambil memandang istrinya yang lahap makan. Tiba-tiba dirinya merasa kenyang dengan hanya melihat Jasmine makan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bagas, menarik laci nakas dan terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Di tangannya kini dia memegang sebuah gelang, yang dari manik-manik berwarna warni yang dibuat oleh Ara dulu ketika masih kecil.
Bibirnya kini terulas senyuman, begitu bayangan masa kecilnya berkelebat di ingatannya. Dimana pada saat itu, dia sedang liburan ke kampung halaman kakek dan neneknya, orang tua dari mamanya, yang merupakan kampung tempat dia bertemu dengan Ara untuk pertama kalinya.
Flashback On
Bagas kecil yang pada saat itu berusia 11 tahun, terlihat sangat bahagia, bisa berlibur ke tempat kakek dan neneknya di daerah Bandung tepatnya di desa Alamendah. Kenapa Bagas begitu sangat bahagia? karena di desa kakek dan neneknya, dia bisa puas makan strawberry sepuasnya, dan langsung dari pohonnya. Karena kakek dan neneknya mempunyai perkebunan strawberry yang cukup luas. Selain karena itu, suasana di desa itu juga sangat asri dan adem.
Liburan kali ini, dia sendiri saja. Karena Papa dan mamanya harus menjaga toko kecil-kecilan mereka di Jakarta.
"Tyo jangan jauh-jauh mainnya ya, Sayang!" teriak neneknya, ketika Tyo berniat untuk keluar menikmati suasana segar kampung halaman mamanya itu.
"Iya, Nek." Sahut Tyo sambil beranjak keluar setelah selesai mengikat tali sepatunya.
Bagas atau Tyo saking asiknya menikmati buah strawberry tidak sadar kalau ada ulat yang menempel di bajunya.
Begitu dia menyadarinya, Tyo yang takut pada ulat sontak berteriak-teriak minta tolong. Seorang wanita cantik bersama dengan seorang bocah kecil berusia 6 tahun, muncul begitu mendengar teriakan Tyo.
Gadis kecil itu, langsung mengambil ulat itu, tanpa merasa takut sama sekali.
"Udah, Aa. Ulatnya udah Ara buang." ucap gadis kecil yang manis itu.
"Kamu siapa, Nak? kok sendirian ada di sini?" tanya wanita itu dengan lembut.
"Aku cucunya, Kakek Sutisna dan nenek Dyah, Tante. Tadi mau main saja di kebun kakek ini." Sahut Tyo.
__ADS_1
"Oh, kamu anaknya Gayatri ya? Tante ini, Nining, sahabat mama kamu dulu. Tante di sini lagi bantu-bantu kakek dan nenekmu manen strawberry. Apa mama kamu ikut ke sini?" wanita bernama Nining itu, mengedarkan pandangannya, untuk mencari keberadaan Nining.
"Mama sama Papa tidak ikut, Tan. Karena harus jaga toko." sahut Tyo sambil sesekali melirik ke arah Ara yang tersenyum dengan manisnya.
"Ya udah, Tante metik strawberry dulu ya.
Nak Tyo main dulu sama Ara." Nining melanjutkan memetik Strawberry setelah Tyo dan Ara menganggukkan kepala.
Mulai dari saat itu, Tyo dan Ara menjadi dekat dan tiap hari selalu bersama. Mereka berdua suka bermain-main, saling kejar-kejaran di perkebunan kakeknya itu.
Sampai suatu hari, Kakeknya Tyo jatuh sakit. Mama- papanya langsung kembali ke Bandung dan berencana membawa serta kakek dan neneknya ke Jakarta, agar mamanya bisa merawat kakeknya di Jakarta. Sedangkan pengolahan Kebun diserahkan pada sanak saudara.Dan hasil panen bisa dikirim lewat rekening.
Sebelum berangkat pulang ke Jakarta, Tyo masih sempat berlari menemui Ara untuk pamit pulang. Ara menangis dan memberikan sebuah gelang yang dia ronce dari manik-manik.
"Kak, ini gelang buatan Ara. Dipakai ya, buat kenang-kenangan." ucap Ara lirih, yang sudah mengganti panggilannya dari aa jadi kak, karena Bagas/ Tyo maunya seperti itu.
"Cantik sekali gelangnya, terima kasih ya! Tapi kakak gak punya apa-apa buat aku kasih ke kamu. Kakak belum sempat nyiapinnya." ujar Bagas dengan wajah yang sedih.
"Tidak apa-apa, Kak." sahut Ara dengan senyum manisnya.
"Ara, nanti kalau sudah dewasa, mau tidak Ara menikah dengan Kakak?" tanya Bagas dengan malu-malu.
"Mau, Kak Tyo. Ara mau!" pekik Ara dengan gembira.
"Kalau begitu, Kakak janji, nanti Kakak akan jadi orang sukses, setelah itu kakak akan menikahimu." ucap Bagas/ Tyo, mantap. Dan Ara hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Waktu berjalan dengan begitu cepat, Setiap liburan sekolah tiba, ingin rasanya Bagas, berlibur ke kampung kakek dan neneknya, tapi dia tidak punya alasan untuk ke sana, karena kakek dan neneknya sudah tinggal di Jakarta bersamanya.
Ketika kakeknya dipanggil sang Maha Kuasa dan meminta untuk dimakamkan di kampung, Bagas yang pada saat itu sudah
berusia 19 tahun sangat antusias untuk ikut. Karena dia ingin menemui Ara yang dia yakini sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Akan tetapi, dia sangat kecewa ketika mendengar kalau Ibu Nining dan kedua anaknya sudah tidak tinggal di kampung itu lagi. Karena banyak wanita-wanita yang menuduh Nining yang notabene sudah janda, ingin menggoda suami mereka. Jadi, supaya tidak kisruh, akhirnya RT di kampung mereka meminta Nining untuk angkat kaki dari kampung itu.
Flashback Off
__ADS_1
Tbc