Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Menemukan kenyataan


__ADS_3

"Kamu bersama siapa, Ara? kenapa tidak mengajak masuk?" tanya wanita setengah baya itu pada Clara yang sekarang merasa kikuk. Ditambah dengan Bagas, menatapnya dengan lekat sekarang.


"Maaf, Tante. Aku Bagas Prasetyo Wijaya." Bagas mengulurkan tangan menjabat tangan mamanya Clara dan mencium punggung tangan wanita itu. Kemudian ekor matanya bergerak melirik ke arah Clara, ingin mengetahui reaksi dari gadis itu begitu mendengar nama Prasetyo. Bagas menghela napasnya dengan sekali hentakan, sedikit kecewa, karena wanita itu tidak merespon apa-apa.


"Ma, bukannya aku tidak mau mengajak, Pak Bagas masuk. Tapi ini kan sudah larut malam. Takutnya dia nanti kemalaman sampai di rumahnya," Clara memberikan alasan, tidak terlalu fokus pada nam Prasetyo yang baru saja disebutkan oleh pria itu.


"Tapi, lebih tidak baiknya kalau berbicara di luar seperti ini. Ayo, Nak Bagas kita masuk dulu!" Nining mamanya Clara membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Bagas masuk.


Bagas mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan dan matanya langsung berhenti pada pigura photo yang tergantung di dinding. Di dalam pigura itu, jelas terlihat photo Ara waktu kecil.


"Silahkan duduk dulu, Nak Bagas! " setelah itu Nining mengalihkan tatapannya pada Clara, " Ara, tolong buatkan minum buat Nak Bagas, Sayang!" titahnya pada Ara yang langsung menganggukkan kepalanya.


Clara meletakkan tasnya dan hendak beranjak ke dapur. Akan tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara Bagas, " Tidak usah repot-repot, Ara." ucap Bagas yang sengaja memanggil Clara dengan nama panggilannya. Hingga menimbulkan perasaan aneh di hati Clara saat mendengar pria itu memanggilnya dengan nama Ara.


"Tan, maaf kalau kedatanganku sudah larut begini. Sebenarnya tadi aku sudah berniat menjemput dia, untuk pergi ke resepsi Ardan dan istrinya. Tapi, putri Tante menolak. Aku mau ngomong sesuatu Tan, kalau aku dan Ara sebenarnya sudah berencana untuk menikah, dan __"


"Apa?! Menikah?!" Nining terkesiap kaget, sampai-sampai bola matanya membesar dan hampir melompat dari wadahnya.


"Iya, Tan. Apa Ara sama sekali belum memberitahukan pada ,Tante?" tanya Bagas dengan kening yang berkerut.


Nining menggelengkan kepalanya, menandakan kalau dirinya benar-benar tidak tahu.


Bagas, sontak menatap tajam ke arah Clara yang menundukkan kepalanya. "Kenapa dia belum memberitahukan pada mamanya? apa dia benar-benar masih meragukanku?" Batin Bagas, sedikit kecewa.


"Maaf, Tan. Mungkin kesannya terburu-buru, tapi besok malam aku dan orang tuaku akan datang melamar secara resmi. Apa boleh, Tan?"


"Kok besok? bukannya dia bilang Minggu depan?" batin Clara bertanya-tanya.


"Maaf, Nak Bagas. Sebenarnya aku bahagia karena putriku akhirnya punya niat untuk menikah. Selama ini dia selalu menolak laki-laki yang hendak melamarnya sebagai istri.Tapi, aku sedikit ragu, merasa tidak percaya kalau orang besar seperti anda mau melamar putriku dan aku takut kalau orang tuamu tidak menyetujui kalau menantunya bukan dari kalangan atas seperti kalian. Aku juga mau bertanya, apa anda mencintai putri saya?Karena kalau anda tidak benar-benar mencintai putriku, dengan berat hati aku menolak." ucap Nining dengan tegas.


"Tante tidak perlu meragukan ketulusanku, karena aku tulus mencintai Ara. Dan masalah orangtuaku, mereka tidak pernah membeda-bedakan derajat seseorang. Mereka juga sudah setuju, kalau aku menikahi putri anda." Jelas, Bagas tidak kalah tegasnya. Membuat Clara mendelik tidak suka.


Clara tidak mau, kalau mamanya bakal kecewa nantinya kalau tahu, kebenarannya, yang mereka menikah bukan karena cinta, tapi demi kebahagiaan ibu masing-masing.


"Kalau begitu, bawalah orang tuamu besok! aku akan meyambut keluargamu besok." pungkas Nining, mengakhiri pembicaraan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kamu membohongi, mamaku?" tanya Clara ketika dia mengantarkan Bagas ke depan.


"Berbohong apa? aku merasa kalau aku tidak ada berbohong sama sekali." jawab Bagas, sambil melirik tajam ke arah Clara. Jauh di dalam lubuk hatinya, ingin sekali dia memeluk Clara saat ini, tapi dia berusaha menahannya karena takut kalau Clara sudah tidak ingat lagi padanya.

__ADS_1


"Kamu mengatakan kalau kamu mau menikahiku Karna kamu tulus mencintaiku, bukanya itu suatu kebohongan?"


Bagas tersenyum samar. "Apa kamu menganggapnya suatu kebohongan?" Bagas menatap Clara secara intens, berharap Clara bisa mengerti kalau dia sama sekali tidak berbohong dengan menatap ketulusan yang terpancar dari manik matanya.


"Iyalah! kan memang kenyataannya kalau kamu berbohong."


Jawaban Clara, membuat Bagas merasa kecewa.


"Kata mamamu selama ini banyak lelaki yang ingin menjadikan kamu istri. Tapi kenapa kamu menolak mereka?" Bagas mulai melakukan penyelidikannya. Dan jawaban yang dia ingin dengar dari mulut Clara, adalah, kalau dia sedang menanti pria bernama Tyo melamarnya.


"Itu bukan urusan kamu!" ucap Clara dengan ketus, membuat Bagas lagi-lagi menghela napas kecewa.


"Apa aku tidak boleh tahu? Bagaimanapun aku ini calon suamimu sekarang. Aku sudah menceritakan mengenai masa laluku dan alasan kenapa aku belum juga menikah, apa kamu juga tidak mau jujur? setidaknya ini awal kita untuk membangun sebuah kepercayaan."


Clara tercenung, merasa kalau yang diucapkan oleh Bagas benar adanya.


"Hmm, sebenarnya aku hampir sama denganmu. Aku menunggu seseorang untuk memenuhi janjinya untuk menikahiku ketika kami dewasa. Tapi, sepertinya itu hanya janji anak kecil. Tidak mungkin juga dia mencariku sekarang. Karena mungkin saja dia sudah menikah. Makanya aku memutuskan untuk menerima tawaranmu. Ini semata-mata demi mamaku juga " Jelas Clara, akhinya mengungkapkan alasan kenapa dia tidak menikah hingga hari ini.


Jawaban yang baru saja didengar oleh Bagas, dari mulut Clara, membuat hatinya lega. Ingin rasanya dia mengungkapkan kalau laki-laki itu adalah dirinya.


"Hmm, terimakasih sudah mau berterus terang. Ara persiapkan dirimu besok. Aku akan benar-benar akan datang dengan keluargaku besok untuk melamarmu."


"Kenapa harus besok? bukannya kamu bilang Minggu depan? kenapa harus secepat ini? kesannya jadi terlihat terburu-buru."protes Clara.


"Kenapa seperti itu?" kening Clara berkerut, bingung.


"Kamu akan tahu jawabannya besok. Aku pulang dulu ya, bye!" Bagas menggusak rambut Clara dan mendaratkan bibirnya ke kening wanita itu, membuat mata Clara membesar dengan sempurna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ardan berulangkali menciumi perut Amanda. Dia tidak menyangka kalau sebentar lagi rumahnya akan bertambah anggota baru. Ardan berjanji kali ini dia akan menjadi suami siaga, dan akan selalu ada di sisi istrinya itu, untuk mengganti semua, hal yang tidak dia lakukan ketiak Amanda hamil si kembar dulu.


"Geli, Mas. Udah dong cium-ciumnya!" rengek Amanda dengan manja.


"Aku belum puas, Sayang. Oh ya, apa kita masih bisa melakukannya?" tanya Ardan dengan muka inginnya.


"Tidak boleh! tunggu sampai dia lahir baru bisa," jawab Amanda, menggoda Ardan.


"Serius kamu? jadi selama bertahun-tahun aku puasa, dan baru buka puasa 3 bulan ini, masa langsung puasa lagi, selama 9 bulan?" keluh Ardan dengan raut wajah frustasi.


"Sabar!" Amanda mengelus pundak Ardan dengan terkekeh.

__ADS_1


Di saat Ardan ingin kembali mencium perut Amanda, ponselnya berbunyi, hingga membuatnya berdecak kesal. Kekesalannya semakin bertambah, ketika yang sedang ada di line telepon adalah si Bagas.


Walaupun kesal, Ardan tetap saja menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan sahabatnya itu.


"Halo, kenapa kamu telepon aku di jam Kunti seperti ini? apa kamu lagi ganti peran sama si Kunti?" cerocos Ardan dengan kesal.


"Maaf, Sob. Aku sudah tidak bisa menahan lagi soalnya. Takut besok aku lupa." jawab Bagas dari ujung telepon.


" Emang ada apa?" tanya Ardan.


Terdengar Bagas bercerita ,mengenai kenyataan yang Claralah, sebenarnya gadis kecil yang selama ini dia cari-cari.


"Serius kamu?!" seru Ardan dengan mata yang terbeliak kaget.


"Iya, Sob. Makanya aku mau minta sama kamu agar kamu jangan pernah bilang ke Clara, kalau aku pernah tertarik sama Amanda, ya?" terdengar suara Bagas, memelas dari ujung sana.


Mendengar permintaan Bagas, membuat Ardan menyeringai licik, merasa mendapatkan ide untuk mengusili Bagas.


"Kamu tidak usah senyum-senyum seperti, Dan. Aku tahu kalau sekarang dirimu pasti sedang memikirkan cara untuk mengusiliku kan?" tebak Bagas, seakan dia benar-benar bisa melihat Ardan.


"Kenapa sih kamu tahu aja isi kepalaku?" tanya Ardan kesal.


"Aku sudah tahu bagaimana sifatmu, jadi aku bisa tahu isi kepalamu." sahut Bagas, santai.


"Bagaimana kalau aku tetap memberitahukan pada Clara? apa yang akan kamu lakukan?" tantang Ardan, yang tidak suka kau dirinya di intimidasi seseorang.


"Kalau kamu mau memberitahukan pada Clara, jangan salahkan kalau aku dekat-dekat sama Amanda."


"Brengsek kamu! awas kalau kamu dekat-dekat Saman Amada." ancam Ardan, merasa gusar sekaligus kesal, karena Bagas, tahu betul kalau kelemahannya itu Amanda.


"Kalau begitu, kamu jangan ngasih tahu dong" ujar Bagas, merasa menang.


"Iya, aku bakal tutup mulutku," pungkas Ardan, mengakhiri panggilan.


Di lain tempat Bagas, tersenyum dengan mata yang menerawang menatap langit-langit kamarnya. Dia merasa tenang, karena Ardan sudah bisa diajak kerja sama.


"Sepertinya ada yang kurang, tapi apa ya?" batin Bagas, tiba-tiba merasa tidak tenang, seperti ada yang tengah mengganjal di dalam hatinya.


"Sepertinya tidak ada lagi. Mungkin Karena aku terlalu gugup makanya perasaanku tidak nyaman begini, Mending aku tidur sekarang," Bagas, menenangkan dirinya sendiri.


Tbc

__ADS_1


Author: Bagas, masih ada Bang Rio yang belum kamu tutup mulutnya. Jadi waspadalah. 😁😁


__ADS_2