
"Pagi,Ma! sapa Celyn ketika dia melihat Amanda yang sudah ada di dapur sedang bersama dengan maid untuk mempersiapkan sarapan.
"Eh, kamu udah bangun, Sayang? kamu kenapa turun?" tanya Amanda sembari melanjutkan mengiris bawang.
"Mmm, Celyn mau memasak sarapan buat Ka Aby, Ma." ucap Celyn dengan mengulas senyum di bibirnya.
"Lho, biarkan mama sama mbak aja yang menyiapkan sarapan, kamu kembali saja ke kamar dan urus Aby saja." ucap Amanda dengan tangan yang masih terus bergerak melakukan kegiatannya.
"Kak Aby masih tidur, Ma. Jadi biar aku saja yang memasak." Celyn tetap kekeh ingin memasak.
"Mm, baiklah kalau begitu. Tapi__" Amanda terlihat merasa ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa, Ma?" Celyn penasaran melihat raut wajah Amanda dan kenapa wanita yang sudah menjadi mertuanya itu menggantungkan kalimatnya
"Mmm ... begini, Sayang, Aby itu belakangan ini tidak pernah mau lagi sarapan pagi di rumah. Dia pasti akan selalu menghambur pergi dan hanya meraih susu dan roti saja. Jadi, nanti kamu jangan tersinggung ya, kalau Aby tidak makan, makanan yang kamu masak." jelas Amanda mengungkapkan apa yang ada dipikirannya, berharap agar nanti, menantunya itu tidak berpikiran yang macam-macam.
Celyn tersenyum menanggapi kekhawatiran Amanda. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menganggukkan kepalanya saja, sebagai pertanda kalau nantinya dia akan baik-baik saja.
Akhirnya, Amanda memutuskan naik kembali ke atas, untuk membangunkan Ardan suaminya karena Celyn mengatakan agar dia sendiri saja yang memasak.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Celyn sudah menyelesaikan masakannya dan sudah menatanya dengan rapi di atas meja makan.
"Wih, Kakak ipar rajin amat." tiba-tiba Anin muncul, dan memandang takjub makanan yang terhidang di atas meja.
"Biasa aja, Nin. Di rumah juga aku biasa ya begini, membantu mama menyiapkan sarapan pagi." ucap Celyn yang tidak lupa untuk selalu tersenyum.
Mendengar ucapan Celyn, ada sesuatu yang menyentil hatinya tiba-tiba, karena selama ini, dia tidak seperti Celyn.
"Apa kalau mau jadi seorang istri yang baik, harus seperti ini ya, Cel?" tanya Anin, merasa dirinya belum bisa seperti Celyn
"Hmm, tergantung suaminya sih, tapi menurut yang aku dengar dan baca, kebanyakan suami suka makanan yang dimasak sama istri sendiri. Tapi, ada kok suami yang tidak mengharuskan istrinya pintar memasak." ucap Celyn.
"Mungkin Kak Kenjo juga tipe laki-laki yang mengharuskan wanita bisa masak. Coba deh kamu tanya dia!" bisik Celyn, menggoda Anin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aby membuka matanya dan kaget tidak menemukan adanya Celyn di atas tempat tidur. Dia mengedarkan matanya ke segala penjuru ruangan untuk mencari keberadaan istrinya.
Tiba-tiba perasaan yang menyiksanya selama ini kembali datang, apalagi kalau bukan perasaan mual. Aby melompat dari atas ranjang dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara itu, Celyn yang baru saja masuk ke dalam kamar, kaget mendengar suara Aby yang sedang muntah-muntah di dalam kamar.
Dia segera menyusul suaminya masuk ke dalam kamar mandi dan seperti biasa memijat-mijat tengkuk dan punggung suaminya.
__ADS_1
"Kamu dari mana saja?" cecar Aby, dengan nada kesal, sambil mencuci mulutnya.
"A-aku tadi ke dapur, Kak, masak sarapan." sahut Celyn dengan gugup, menyadari dari nada suara Aby, memperlihatkan kalau pria itu sedang kesal.
"Oh jadi kamu yang masak? ya udah deh aku mau makan dulu, soalnya aku sudah lapar?"
Bola mata Celyn membesar dan mulut sedikit terbuka, melihat perubahan mood Aby yang berubah tiba-tiba.
"Kakak, nggak mandi dulu?" tanya Celyn yang semakin heran, melihat Aby yang langsung ingin keluar dari kamar tanpa mandi dan berganti pakaian.
"Nanti saja, aku sudah lapar. Ayo kita turun ke bawah!" Aby meraih tangan Celyn dan mengajaknya keluar dari kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua orang menelan ludah masing-masing, dan saling silang pandang, kemudian menatap ke arah Aby dengan tatapan penuh tanda tanya, melihat pria itu makan begitu lahap.
"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu? kenapa kalian tidak makan?" tanya Aby, yang seketika menyadari kalau semuanya berhenti makan dan kompak menatap ke arahnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Mama rasanya sudah kenyang melihat kamu makan." ujar Amanda, yang diangguki kepala oleh yang lainnya.
"Kak, Celyn, kemungkinan aku akan makan lahap juga, kalau kakak mau menyiapkan makanan untukku? bolehkan?" Adrian memberikan piring ke arah Celyn, meminta agar wanita yang kini sudah menjadi kakak iparnya itu, melayaninya seperti dia melayani Aby, kakaknya.
Ketika Celyn hendak meraih piring dari tangan Adrian, Aby sontak menahan tangan Celyn dan menghunuskan tatapannya, menandakan kalau dia tidak suka.
Adrian berdecih dan mendengkus kesal.
Aby tidak mengubris protes dari Adrian. Dia malah kembali melanjutkan makannya.
"Aku kenyang," ucap Aby sambil mengelus perutnya, kemudian dia sendawa di depan wajah Adrian, puas membuat adiknya itu kesal.
"Ka, Aby! bau!" protes Adrian sembari mengibas-ngibaskan tangan di hidungnya.
"Aku ke atas dulu ya, mau mandi. Ayo Cel!" Aby beranjak pergi dari ruang makan disusul oleh Celyn yang juga sudah berpamitan.
"Dia anak kita Aby kan, Mas? kok nggak seperti biasanya ya?" tanya Amanda sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Ardan yang ditanya hanya mengangkat bahunya, pertanda kalau dia juga tidak tahu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anin melangkah masuk ke dalam sebuah restoran dengan perasaan yang campur aduk antara senang dan gugup. Kenapa tidak, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Kenjo menghubunginya dan mengajak untuk makan siang bersama.
Matanya mengedar untuk mencari keberadaan Kenjo, yang tadi sudah mengirimkan pesan, kalau dia sudah sampai di restoran dan sedang menunggunya.
__ADS_1
"Dimana dia? katanya sudah sampai tapi kok tidak ada?" batin Anin, gusar.
"Mba, lagi cari siapa?" tanya seorang pelayan yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Lagi cari teman saja, Mbak. Katanya dia sudah ada di sini. Tapi sepertinya belum deh." sahut Anin, tersenyum ke arah pelayan itu.
"Mbak ini, mbak Anindita kanm dan teman mbak itu Tuan Kenjo?" tanya pelayan itu sopan.
"Iya, Mbak. Darimana mbak tahu?" Anin menautkan kedua alisnya, menatap penuh tanda tanya pada sang pelayan.
"Tadi Tuan Kenjo berpesan agar saya membawa mba ke ruangan ViP di restoran ini, ayo, Mba ikut saya!" pelayan itu berjalan mendahului Anin, dan Anin mengekor dari belakang, masih dengan penuh tanda tanya.
"Silahkan masuk, Mba!" ujar pelayan itu sembari membukakan pintu untuk Anin.
Sementara itu, melihat kedatangan Anin, Kenjo langsung berdiri dan menarik kursi buat tempat Anin duduk.
"Ada apa ini Ken? kenapa kita harus makan di ruangan ini?" tanya Anin, tidak bisa lagi menutupi rasa penasarannya.
Sementara itu, Kenjo menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, grogi mau menjelaskan alasannya.
"Hmm, aku lebih suka makan di tempat tertutup seperti ini, Nin, lebih bebas," sahut Kenjo, dan Anin menanggapi dengan menganggukkan kepala serta mulut yang membentuk huruf 'o'.
Kemudian mereka memesan menu makanan buat mereka masing-masing pada pelayanan yang setia berdiri di samping meja mereka.
"Ehem, Nin ... emm, " Kenjo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung untuk memulai dari mana dulu.
"Kenapa Ken? apa ada yang mau kamu katakan?" tanya Anin. Jangan tanya bagaimana keadaan jantungnya sekarang. Yang pasti jantungnya sudah berdisco di dalam sana.
"Mm, apa benar kamu mau dijodohkan?" akhirnya Kenjo berhasil menanyakan, hal yang sangat menggangu pikirannya semalaman.
"Siapa yang mengatakannya? papa hanya bilang, kalau dalam waktu dekat ini, aku belum mengenalkan kekasihku pada papa, maka papa akan menjodohkanku, itu saja."
"Jadi kamu sudah punya seseorang yang ingin kamu kenalkan?" desak Kenjo, dengan perasaan was-was.
Anin tidak menyahut, tapi dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kalau dia belum punya seseorang untuk dikenalkan pada papa dan mamanya.
"Hmm, Nin boleh tidak aku mengajukan diriku sebagai orang yang ingin kamu kenalkan pada orangtuamu?" tanya Kenjo, dengan gugup. Bahkan telapak tangannya juga sudah berkeringat saking gugupnya.
Semburat merah timbul di pipi putih Anin dan matanya tiba-tiba berembun, karena merasa bahagia, cintanya ternyata berbalas.
Dengan cepat akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan senyum yang mengembang sempurna.
"Yes! sorak Kenjo. Kemudian dia meraih tangan Anin dan membawanya ke bibirnya.
__ADS_1
"Terima kasih! Terima kasih Nin,"
Tbc