Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Ternyata seperti itu ceritanya


__ADS_3

Bulan madu tiga pasangan di Maldives, berjalan dengan lancar, sudah berbagai kegiatan Meraka lakukan, mulai dari snorkeling, menonton lumba-lumba, diving, kulineran bahkan memancing dengan biaya yang fantastis juga sudah mereka lakukan. Hari ini adalah hari terakhir mereka untuk berbulan madu. Karena besok pagi ,mereka akan kembali ke Indonesia. Jadi mereka memutuskan hari ini, untuk berbelanja oleh-oleh yang akan mereka bawa ke Indonesia.


"Sayang, ayo buruan! nanti kalau kita kelamaan, kita jadi gak bisa beli banyak oleh-oleh." ujar Celyn yang membuat Aby langsung pusing seketika. Bagaimana tidak, di dalam bayangannya sudah bisa dia bayangkan, kalau dia akan menjadi tim pembawa barang belanjaan yang pastinya akan banyak. Akan tetapi, melihat antusiasme istrinya, membuat Aby tidak sanggup untuk menolak.


Hal yang sama juga terjadi pada Kenjo dan Calvin. Raut wajah dua pria itu, juga sudah terlihat frustasi, membayangkan ribetnya membawa belanjaan, dan menunggu istri masing-masing belanja.


Ketiga pasangan itu, akhirnya sudah tiba di toko tempat menyediakan souvernir khas dari Maldives. Dan ketiga wanita itu langsung tidak sabar memilih apa saja oleh-oleh yang mereka mau.


"Sayang, apa kamu tidak salah, membeli botol yang berisi pasir itu?" tanya Calvin, sedikit frustasi melihat istri kecilnya membeli pasir.


"Nggak, Sayang. Asal kamu tahu, pasir pantai Maldives ini, terkenal berbeda dari pasir di pantai lainnya. Pasirnya juga sangat putih. Lagian katanya, kalau kita kasih ini ke seseorang, yang kita kasih pasir itu, akan memiliki potensi, bakal ke Maldives juga suatu saat. Jadi aku mau kasiin ini ke Dion sama Debi." terang Cantika, antusias sambil memasukkan dua botol pasir ke dalam kantong belanjaan.


"Itu Mitos, ngapain sih harus dipercaya?" ucap Calvin, kesal karena tangannya sudah sangat pegal membawa barang belanjaan istrinya itu, yang menurutnya barang yang tidak berguna.


"Kan gak papa, yang penting tujuannya baik." jawab Cantika, yang tidak peka dengan penderitaan sang suami.


Bukan hanya Calvin, Kenjo dan Aby pun merasakan hal yang sama. Tangan kedua pria itu sudah penuh dengan kantong belanjaan dan wajah keduanya pun sudah terlihat sangat lelah.


"Sayang, sudah ya belanjanya! aku sudah lelah, dan tanganku juga udah pegal." ucap Kenjo dengan wajah yang memelas.


"Masa sih, cuma ngangkat barang gitu aja capek? Kalau ditimbang, belum juga nyampe berpuluh-puluh kilo. Aku yang hampir 50 kilo bisa diangkat, sambil goyang malah. Lah masa yang itu nggak sanggup." sahut Anin, ambigu sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kan aku dapat bantuan, Sayang dari KJ," sahut Kenjo yang mengerti kemana arah pembicaraan istrinya.


"KJ?" Anin mengrenyitkan Keningnya, bingung.


"Kenjo junior," jawab Kenjo, nyegir.


Sementara itu, Aby pun terlihat sangat menderita sekarang. Bukan hanya tangan tangannya yang sudah penuh. Di lehernya juga kini, sudah menggantung kantongan belanjaan. Wajahnya juga kini sudah memerah, karena banyak yang menatapnya dengan tatapan geli.

__ADS_1


"Sayang, belanjalah sepuasmu sekarang. Tapi kamu harus membayar lelahku nanti. Sekarang kamu yang membuatku lelah, tapi nanti malam kamu yang akan aku buat lelah." bisik Aby, yang membuat bola mata Celyn membesar dengan sempurna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kembali ke Jakarta.


Adrian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Kemudian dia merosot hingga sampai terduduk di lantai dengan tubuh yang menyender ke ranjang. Dia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Perasaannya sangat sakit malam ini. Tanpa terasa ada setitik cairan bening yang keluar dari sudut matanya, dan buru-buru dia seka.


Dia tidak menyangka kalau Reyna bakal tega mengatakan kalau sampai kapanpun dirinya tidak akan bisa mencinta dirinya, karena hatinya sudah diserahkan buat kekasihnya. Reyna juga mengatakan kalau gadis itu sekarang justru sangat membencinya dan tidak ingin melihat wajahnya lagi sampai kapanpun.


"Arghh, apakah sesakit ini rasanya mencintai ya Tuhan? sanggupkan aku untuk bisa menghadapi semua ini." Adrian membatin di dalam hati seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sepertinya jalan satu-satunya aku harus pergi jauh dari Negara ini. Agar aku bisa melupakan Reyna. Aku yakin, kalau aku pasti bisa, walaupun sulit." gumam Adrian, sambil manggut-manggut.


Kemudian, Adrian menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kembali ke udara. Lalu di berdiri dan beranjak keluar dari kamarnya.


"Mah, Pah, aku mau melanjutkan kuliah di London, seperti kak Aby." ucap Adrian, langsung tanpa basa-basi sambil mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.


"Ada apa? apa kamu ada masalah?" tanya Amanda dengan tatapan menyelidik.


"Tidak, Mah! aku benar-benar ingin kuliah di London, karena murni ingin belajar jadi pebisnis hebat di sana." jawab Adrian.


"Papa tidak yakin dengan alasan yang kamu ucapkan. Papa yakin kalau kamu mau ke sana karena kamu ada masalah. Patah hati mungkin?"


Adrian terkesiap dengan dugaan papanya yang tepat sasaran.


"Tidak, Pah!" elak Adrian, berusaha untuk tidak memperlihatkan pada papanya, kalau dugaan papanya itu benar.


"Jadi kenapa harus ke London? bukannya di negara kita kamu juga bisa belajar menjadi pebisnis yang baik. Universitas di Indonesia banyak juga menelurkan pebisnis-pebisnis yang baik asal kamu tahu."

__ADS_1


"Aku tahu, Pah. Aku hanya ingin seperti Papa dan Kak Aby yang lulusan dari universitas Oxford." Jawab Adrian memberikan alibi yang masuk akal.


Ardan mengangguk-anggukan kepalanya. Diam untuk sepersekian detik. Detik berikutnya dia menghela napasnya dan menatap intens wajah putra bungsunya itu.


"Baiklah, kalau itu mau kamu! Tapi, tunggu kakak-kakakmu pulang dari bulan madu baru kamu ke sana. pungkas Ardan akhirnya, menyetujui.


"Berarti lusa kan, Pah? soalnya mereka pulangnya besok." ujar Adrian tidak sabar.


"Apa itu tidak terlalu cepat, Sayang? kenapa harus buru-buru? semuanya butuh persiapan kan?" Amanda buka suara. Entah kenapa dia merasa sedih, akan berpisah sementara dengan putra bungsunya itu. Baru saja Anin meninggalkan rumah dan tinggal bersama suaminya, sekarang putra bungsunya juga mau pergi.


"Tidak, Mah! masalah semua persiapannya, aku rasa tidak akan susah buat, Papa. Iya kan, Pah?"


"Hmm," jawab Ardan singkat.


"Terima kasih, Pah! ucap Adrian, dengan lega. Kemudian dia kembali melangkah menuju kamarnya, setelah berpamitan pada kedua orang tuanya itu.


"Tapi, Sayang, kenapa harus buru-buru sih? rumah kita langsung sepi," ucap Amanda, memprotes.


"Sudahlah, Sayang. Biarkan saja. Dia sudah cukup dewasa untuk memilih apa yang terbaik untuknya. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik." ucap Ardan dengan lembut, menenangkan Amanda istrinya.


"Ya, udah deh. Sekarang aku mau ke atas dulu, mau lihat si kembar, kamu tidak ikut?"


Ardan menggelengkan kepalanya. "Kamu pergi saja dulu, ada sesuatu yang harus aku kerjakan!" ujar Ardan, dan Amanda menganggukkan kepala, mengiyakan.


Setelah kepergian Amanda, Ardan meraih ponselnya dan langsung menghubungi seseorang. Pria setengah baya itu, terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, antusias mendengat orang yang berbicara di ujung telepon.


"Ok, baiklah! terima kasih!" Ardan meletakkan kembali ponselnya di atas meja, kemudian menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Ternyata, seperti itu ceritanya." batinnya, dengan tersenyum simpul.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2