
Ketakutan yang ada di dalam hati Adrian menguap entah kemana, begitu mendengar kesediaan Reyna untuk menikah dengannya.
Akhirnya pernikahan mereka berdua dilangsungkan dua Minggu kemudian tanpa adanya resepsi. Mereka akan mengadakan resepsi setelah, Reyna menyelesaikan kuliahnya nanti.
Sesuai dengan perjanjian, yang telah disepakati sebelumnya, akhirnya kedua orang itu pun harus berpisah setelah menikah. Mereka berdua bahkan belum melakukan malam pertama, karena Reyna hanya seminggu berada di Indonesia, dan pada saat menikah Reyna sedang datang bulan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari Minggu adalah hari yang sangat dinanti-nantikan, oleh Ardan dan Amanda, dimana semua anak, menantu dan cucunya akan datang berkunjung ke kediamannya secara berkala. Hari Minggu ini ke rumah besan mereka dan hari Minggu berikutnya ke rumah mereka. Begitulah seterusnya.
Ardan tidak merasa pusing dengan keriuhan yang ditimbulkan oleh para cucu-cucunya itu yang sekarang sudah berjumlah enam orang. 3 dari Aby dan 3 dari Anin.
Ya, Celyn telah melahirkan anak ketiganya yang berjenis kelamin perempuan dan diberi nama Azkia Chalondra Bagaskara yang artinya cahaya, cerdas dan pintar. Sekarang Azkia sudah berusia satu tahun lima bulan.
Sedangkan Anin melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Keenan Arsenio yang artinya pemilik yang gagah berani.
"Pah, apa Calista tidak datang hari ini?" yang bertanya sudah bisa dipastikan bukan Aarick, melainkan Arend. Putra kedua Aby yang sekarang sudah berusia 5 tahun.
"Hmm, tidak Sayang."
"Kenapa? ini pasti gara-gara Kak, Arick yang selalu nakal sama Calista, iya kan, Pah?" ujar Arend, melirik sinis pada Aarick yang merasa bodoh amat.
"Bukan, Rend! tapi karena om Calvin dan tante Cantika, lagi di rumah opa Bagas. Nanti kalau ada waktu, kita ke rumah Calista ya," bukan Aby yang menjawab, melainkan Celyn yang buka mulut.
"Sekarang, Arend temani adik dan adik-adiknya main ya," Arend menganggukkan kepalanya, lalu berlalu pergi ke arah adiknya dan ketiga adik sepupunya. Sementara itu, Arick masih tetap bersantai dan fokus memainkan game di ponselnya.
"Sayang, sepertinya yang sayang sama Calista itu Arend bukan Aarick. Buktinya setiap Aarick ketemu Calista, anak itu selalu saja menangis gara-gara Aarick dan yang selalu berhasil membujuknya untuk diam pasti Arend.
"Sudahlah, Sayang tidak perlu dipikirkan. Kalau mereka sudah besar suatu saat pasti berubah," ujar Aby, dengan mata yang tidak pernah lepas, mengawasi anak-anaknya.
__ADS_1
"Bukannya seperti itu, Sayang. Aku hanya tidak mau kedua anak kita setelah dewasa nantinya berselisih paham karena menyukainya seorang gadis yang sama," Celyn menyampaikan kegundahan hatinya.
"Aku yakin itu tidak akan pernah terjadi. Karena mereka lahir dari seorang ibu seperti kamu. Lagian kenapa kamu terlalu jauh, berpikiran ke sana. Anak-anak kita bahkan masih kecil?" Aby mengalihkan perhatiannya sesaat ke arah Celyn.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit khawatir aja,"
"Kalau kamu tidak mau itu terjadi, kita sebagai orang tua harus menanamkan nilai-nilai pentingnya persaudaraan dan saling mengalah di antara saudara." jelas Aby lugas.
"Aku yakin, rasa kasih sayang mereka sebagai saudara, akan bisa mengalahkan keegoisan yang mementingkan kebahagiaan diri sendiri. Percayalah!" sambung Aby kembali, menenangkan istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu dengan begitu cepat.
Di depan rumah utama Keluarga Bagaskara, kini sudah berjejer beberapa mobil. Dan dari arah luar, terdengar suara ribut di dalam. Kenapa tidak? hari ini si kembar Aarick dan Arend berulang tahun yang ke 8.
Aby dan Celyn tidak mengundang anak-anak yatim-piatu dari panti asuhan. Akan tetapi, mereka memberikan donasi yang cukup besar buat beberapa panti asuhan dan mengirimkan banyak hadiah buat para anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua itu, sebagai ucapan syukur atas bertambahnya usia kedua anaknya.
"Ka Arick ini kado buatmu," Calista memberikan sebuah kotak yang dibungkus dengan rapi dengan kertas kado berwarna pink.
"Kenapa kertas kadonya warna pink?" tanya Arick dengan raut wajah yang tidak suka.
"Karena aku sukanya warna pink, Kak." Jawab Calista dengan mata yang mengerjap-erjap, sehingga gadis kecil itu terlihat semakin imut dan menggemaskan.
"Kamu kan kasih kadonya buat aku, harusnya kamu buat warna yang aku suka, bukan yang kamu suka."
"Emang Kakak sukanya warna apa?" tanya Calista dengan polosnya.
"Aku suka warna hitamlah,"
__ADS_1
"Warna hitam itu nggak bagus, Kak. Seram kayak malam. Bagusan juga warna pink, ungu, merah dan banyak warna lagi," ucap Calista.
"Kamu sebenarnya ngasih kado, yang jadi kesukaanmu atau yang jadi kesukaanku? Kalau begitu, lebih baik kado ini buat kamu saja, kan kamu yang suka." Arick menyerahkan kembali kado berwarna pink itu ke tangan Calista, hingga membuat mata gadis kecil itu berembun.
"Kalau kamu tidak mau, biar buatku saja," Arend mengambil kotak kado itu dari tangan Calista. Akan tetapi, Arick kemudian merampasnya kembali dari tangan Arend.
"Enak saja, kado ini buatku! Kamu tidak boleh mengambilnya.
"Bukannya tadi kamu tidak mau?" suara Arend terdengar memprotes.
"Itu tadi, sekarang aku mau setelah aku berpikir, yang penting isinya bukan sampulnya," ujar Arick santai dan Arend hanya bisa mendengus kesal.
Kemudian dia menoleh ke arah Calista yang tadinya hampir menangis kini sudah terlihat tersenyum kembali.
"Kado untukku mana, Cal?"
"Tunggu, Calista ambilkan!" Calista kembali ke tempat di mana Cantika mamanya berada, untuk mengambil kado buat Arend.
"Nih, Kak kado buat kamu." Calista menyerahkan sebuah kotak yang kali ini terbungkus dengan warna biru, yang entah kenapa membuat Arend kecewa. Tadinya dia berharap, kalau dia akan mendapat hal yang sama dengan Arick kakaknya.
"Terima kasih, Calista!" desis Arend, kurang bersemangat, tapi tetap berusaha untuk tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kediaman Bagaskara kini sudah mulai terlihat sepi. Kini yang ada di sana hanya, Aby, Kenjo dan Calvin bersama dengan istri masing-masing ditambah dengan Adrian bersama Reyna yang perutnya sudah terlihat membuncit karena sedang mengandung anak pertamanya, setelah menunda kehamilan selama lebih dari 5 tahun, karena setelah dia selesai dengan pendidikannya, Reyna lanjut untuk mengambil gelar dokter spesialis kandungan.
Sedangkan para kakek dan nenek berkumpul di tempat yang berbeda dimana lagi kalau bukan di taman belakang yang sudah Ardan sulap menjadi area bermain seperti play ground. Ada perosotan, ayunan, trampolin dan sebagainya. Para kakek dan nenek itu, begitu bahagia mengawasi cucu masing-masing saat bermain.
Bagaimana kabar Roni dan Mita? kedua sejoli yang ternyata sudah saling menaruh hati semenjak SMA itu, sebentar lagi akan melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan minggu depan. Berkat kegigihannya akhirnya hotel yang dihadiahkan oleh Ardan dulu padanya berkembang dengan pesat, bahkan dirinya sudah mendirikan resort mewah di beberapa destinasi wisata di Indonesia ; di Bali, di Raja Ampat, Lombok tepatnya di kepulauan Gili dan Wakatobi, Sulawesi tenggara.
__ADS_1
Mereka semuanya sudah bahagia setelah menghadapi banyak rintangan. Mereka berharap kalau kebahagiaan akan selalu ada di dalam kehidupan mereka seterusnya.
------------- Tamat---------