Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kebahagiaan Celyn


__ADS_3

Aby sudah rapi dengan seragam sekolahnya, bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Aby nyaris melangkah ke luar dari kamarnya. Tapi, tiba-tiba dia mengurungkan langkahnya dan menoleh ke arah lemari, seperti ada yang mengganjal di pikirannya.


Dia kembali ingin melangkah keluar, tapi kebimbangan kembali datang menyapa. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali masuk dan melangkah ke arah lemari. Dia membuka lemarinya dan meraih boneka Celyn, lalu memasukkannya ke dalam tasnya. Dia sudah mantap memutuskan untuk mengembalikannya pada Celyn nanti ketika bertemu di sekolah.


Aby, kemudian melangkah keluar dengan tenang, dan menuruni tangga, bergabung bersama keluarga besarnya untuk sarapan pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kamu bawa-bawa tas kamu, By? kamu mau pulang ya?" tanya Kenjo dengan wajah bingung melihat Aby yang mengendong tasnya di jam istirahat.


"Tidak ada apa-apa. Ayo, ikut aku ke kelas Celyn baru kita ke kantin!" ajak Aby, melangkah terlebih dulu ke luar meninggalkan Kenjo dan Calvin yang saling silang pandang, dengan tatapan penuh tanda tanya. Sayangnya tidak ada satupun dari mereka berdua, yang tahu apa yang terjadi.


"Aby, tunggu! jangan cepat-cepat jalannya!" teriak Kenjo sambil sedikit berlari dan disusul Calvin.


Aby menyembulkan kepalanya terlebih dulu ke dalam kelas Anin, untuk memastikan ruangan itu masih ramai atau tidak.


Aby menghela napas lega, begitu melihat hanya ada Anin dan Celyn yang sedang memakan makanan yang mereka bawa dari rumah.


"Eh, Kak Aby. Tanpa Kakak ingatkan aku sudah makan, Kak." ucap Anin, tanpa menunggu Aby bertanya lagi. Karena dia sudah sangat hapal apa yang akan ditanyakan kakaknya itu.


"Bagus deh!" ucap Aby dengan ekor mata yang melirik ke arah Celyn yang langsung menundukkan kepala seperti biasanya.


Aby melepaskan tas dari punggungnya, lalu membukanya serta meraih boneka Celyn dari dalam tasnya


"Celyn, nih boneka kamu. Aku nemunya di pekarangan rumah, di bawah tanaman, mungkin terjatuh saat kamu digendong Om Rio." ucap Aby seraya meletakkan boneka itu di depan Celyn.


"Jatuh? di pekarangan rumah? kok aku gak pernah lihat ya?" gumam Anin yang bisa terdengar jelas di telinga yang berada di dekatnya.


"Terima kasih, Kak Aby!" ucap Celyn tersenyum sekaligus merasa malu. Malu karena ketahuan bohong, ketika dia mengatakan kalau bonekanya sudah ditemukan.


"Lain kali jangan biasakan berbohong!" ucap Aby, yang tidak sadar diri, kalau dirinya juga tengah berbohong.


"Iya, Kak. Maaf!" ucap Celyn dengan lirih. Tapi ada rasa senang dalam dirinya. Dia merasa kalau teguran Aby, pertanda kalau bocah laki-laki itu, sudah perhatian padanya.


"Kamu kenapa bengong, Anin?" celetuk Kenjo dengan alis bertaut melihat wajah Anin yang terlihat seperti memikirkan sesuatu.


"Aku bingung, aku kemarin nemenin, mang Asep bersihin pekarangan, tapi aku tidak melihat boneka itu ada di sana, tapi kok Kak Aby ___"


"Aku nemuinnya sebelum mang Asep bersihin pekarangan." Aby langsung menyela ucapan Anin, sebelum adiknya itu, berpikiran yang macam-macam lagi.


"Ya udah, kami bertiga mau ke luar dulu. Mau ke kantin, kamu baik-baik di sini. Dan kamu Celyn, jaga bonekamu baik-baik. Jangan sampai hilang lagi!"

__ADS_1


"Siap,Kak!" Celyn berdiri sambil mengangkat tangan, menghormat. Celyn merasa bahagia, karena menganggap, kalau kembaran Anin itu sedang mengultimatum dirinya, agar menjaga barang pemberiannya.


Sementara itu Aby, sengaja tidak menanyakan sejak kapan dia memberikan hadiah pada Celyn, agar putri dari Rio itu tidak sedih dan malu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga orang wanita cantik terlihat sedang tertawa-tawa di sebuah restoran yang ada di mall besar. Mereka tidak lain adalah nyonya pemilik dari 3 perusahaan besar di Indonesia. Siapa lagi mereka kalau bukan Amanda, Jasmine dan Clara.


Di antara mereka bertiga, hanya Claralah yang paling muda, tapi sikapnya yang dewasa mampu mengimbangi Amanda dan Jasmine.


"Jadi, semalaman Bagas di kamar mandi, dan kamu tidak tahu kalau dia lagi ngapain?" tanya Jasmine setelah puas tertawa.


"Iya, Kak. Yang aku bingungnya, dia keluar dari kamar mandi, berkeringat dan seperti capek gitu, itu kenapa ya Kak?"


Amanda dan Jasmine kembali tergelak mendengar cerita konyol Clara.


"Dia lagi mengurangi produksi mayonizenya, Ra." ujar Amanda yang makin ke sini ketularan mesumnya Ardan.


"Produksi mayonize? emang bisa?" tanya Clara dengan polosnya.


"Bisalah!" sahut Jasmine.


"Tapi, Kak Bagas, tidak membawa apa-apa kok, kak, pas keluar dari kamar mandi. Mayonizenya diletakkan dimana?" raut wajah Clara masih terlihat kebingungan.


" Astaga, berarti semalaman Kak Bagas tersiksa ya," tanya Clara dengan mulut yang terbuka. Kaget sekaligus kasihan mengingat apa yang sudah terjadi pada pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Hai, Amanda. Masih ingat dengan ibu?" tiba-tiba seorang wanita setengah baya muncul bersama dengan seorang wanita yang usianya terpaut dua tahun bawahnya itu. Siapa lagi mereka kalau bukan Siska ibu tirinya bersama dengan Sarah adik tirinya.


"Eh, kenapa kalian berdua bisa ada di sini?" tanya Amanda dengan mata yang memicing, curiga.


"Kami merindukanmu, Nak." Sahut Siska dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.


"Iya, Kak. Kami sangat merindukanmu," Sarah menimpali ucapan Siska, melengkapi sandiwara mamanya itu.


"Kenapa kalian bisa merindukanku? dan sejak kapan aku dianggap anak dan kakak oleh kalian berdua? bukannya anda sudah memutuskan hubungan dengan saya dulu? anda bahkan mengatakan kalau aku tidak punya hak atas rumah papa yang anda jual, setelah papa meninggal." sindir Amanda, sarkasme.


"Maafkan kami, Nak! itu sebenarnya bukan dari hati kami, tapi karena hasutan tetangga kita dulu." ucap Siska melakukan pembelaan yang diangguki kepala oleh Sarah.


"Oh ya? jadi apa tujuan kalian berdua, menemuiku?" tanya Amanda dengan nada yang tidak bersahabat.


"Kami tidak mau apa-apa, Nak. Kami hanya merindukanmu saja. Kamu tidak mau memeluk ibu?" Siska merentangkan tangannya dengan wajah yang berpura-berpura ingin menangis.

__ADS_1


"Maaf, ibuku telah meninggal, dan anda bukan ibuku, seperti yang anda bilang saat itu. Dan terima kasih sudah merindukanku, walaupun sebenarnya, aku meragukan itu." ucap Amanda, lugas dan langsung mengena ke hati.


"Belagu banget kamu Amanda, udah syukur kami mau baik padamu. Jangan sombong karena sekarang kamu sudah kaya." ucap Sarah yang langsung membuka topeng kepura-puraannya dan menunjukkan wajah aslinya.


Amanda melengkungkan bibirnya ke atas, tersenyum. Bukan tersenyum manis tapi lebih mengarah ke senyuman meledek.


"Terima kasih, sudah membuka topengmu! jadi aku tidak susah-susah lagi untuk membukanya." lagi-lagi Amanda berucap dengan tenang sambil tersenyum sinis.


"Dasar wanita sialan kamu!" Sarah tiba-tiba mendorong Amanda dengan keras. Beruntungnya ada dua orang wanita yang tinggi tiba-tiba menahan tubuh Amanda agar tidak terjatuh.


"Terima kasih! ucap Amanda dengan tulus.


"Sama-sama, Nyonya!" ucap mereka sambil membungkukkan badannya, hingga membuat Amada bingung.


"Kami adalah orang yang ditugaskan oleh Tuan Ardan untuk melindungi anda." sahut salah satu wanita itu, dengan sopan, hingga membuat Amanda speechless, merasa bersyukur dengan Ardan yang memikirkan keamanannya, ketika suaminya itu tidak berada di dekatnya.


"Anda berdua, bukannya Tuan kami sudah memberikan peringatan? apa kalian menganggap itu main-main. Sekarang siap-siaplah berhadapan dengan Tuan Ardan." ucap salah satu wanita bodyguard itu.


"Tangkap mereka!" titah wanita itu lagi.


Amanda semakin terheran-heran, demikian juga dengan Clara dan Jasmine, melihat kenyataan kalau bodyguard yang diutus Ardan melindungi Amanda, bukan hanya dua orang itu tapi ada lima orang.


Siska dan Sarah berusaha melepaskan diri dan meminta Amanda untuk menyuruh para bodyguard itu, untuk melepaskan mereka.


"Hmm, aku bukannya tidak mau melepaskan kalian berdua, tapi aku tidak bisa menjamin kalau aku melepaskan kalian berdua, kalian tidak akan menggangu aku lagi atau masih akan mengganggu aku." ucap Amanda.


"Kami berjanji tidak akan mengganggumu lagi, Manda. Kami bersumpah." ucap kedua wanita itu dengan raut wajah ketakutan.


"Baiklah! Mbak lepaskan saja mereka."


"Tapi, Bu, " body guard itu merasa ragu.


"Nggak apa-apa, Mba, lepaskan saja!"


Bodyguard itu akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Siska dan Sarah.


"Maaf, Tante, Sarah. Aku cuma mau mengingatkan, Agar kalian berdua jangan memandang harta di atas segalanya. Kalian juga jangan berusaha untuk menjatuhkan orang lain, karena seribu cara yang ada gunakan untuk menghancurkan orang lain, ada lebih dari seribu cara juga, untuk membuat rencana kalian berdua gagal." Ucap Amanda, sebelum kedua wanita itu benar-benar pergi dari hadapannya.


Tanpa Amanda sadari, wanita yang merupakan ketua dari para bodyguard itu, memberikan isyarat pada anak buahnya dengan kedua matanya, untuk tetap menangkap kedua wanita itu.


Tbc

__ADS_1


Hari Senin. Saatnya untuk Vote. Kasih Vote dong gais ,🙏 Jangan lupa buat like, dan komennya. Kalau berkenan, kasih hadiah juga boleh 😁😍🤗


__ADS_2