
Calvin keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan tubuhnya. Dia langsung memakai pakaian rumahannya, yaitu celana pendek karet di atas lutut tanpa memakai benda berbentuk segitiga di balik celana itu. Calvin juga lebih memilih hanya bertelanjang dada, menunggu Cantika istrinya masuk ke dalam kamar.
Ya, Cantika tadi keluar dari kamar, karena merasa ada yang menekan bel, pintu apartemen tempat dia tinggal dengan Calvin.
"Kemana sih dia? kenapa lama sekali?" batin Calvin, sambil menatap ke arah pintu. Tiba-tiba lampu kamar mati-hidup, mati-hidup, dengan gorden tipis yang bergoyang-goyang tiba-tiba tanpa adanya angin. Seketika suasana kamar terasa sangat temaram, karena hanya lampu tidurlah yang menerangi kamar yang cukup luas itu.
"Kenapa suasananya jadi menyeramkan seperti ini ya?" bisik Calvin, dengan bulu-bulu yang sudah meremang, bergidik.
Calvin sontak mengayunkan kakinya, melangkah ke luar untuk mencari istri kecilnya,
Akan tetapi, ketika dia hendak membuka pintu, tiba tiba pintu itu sama sekali tidak bisa dibuka.
"Sayang! kamu dimana? kenapa pintunya dikunci?" teriak Calvin sambil tetap berusaha membuka pintu dengan memutar-mutar handle pintu.
"Ini benar-benar tidak lucu, Sayang! kalau kamu belum mau melakukannya, bukan begini caranya. Aku juga tidak akan memaksa!" lagi-lagi Calvin berteriak dari dalam kamar, mengira kalau istri kecilnya memang sengaja mengunci dirinya di kamar karena ketakutan melakukan Malam pertama dengannya.
"Kemana sih dia?" gumam Calvin, karena tidak ada respon sama sekali dari Cantika atas teriakannya.
Calvin tiba-tiba memegang tengkuknya, karena merasa ada sesuatu yang berkelebat tiba-tiba di belakangnya.
Dia, memutar badannya dengan perlahan-lahan untuk melihat apa yang ada di belakangnya. Akan tetapi, sama sekali dia tidak melihat apa-apa.
"Tidak ada apa-apa! Tapi kenapa tadi seperti ada yang lewat?" bisik Calvin dalam hati dengan bulu-bulu yang masih merinding.
"Ah, itu mungkin hanya perasaanku saja. Lebih baik aku berbaring aja di ranjang. Aku yakin kalau sebentar lagi, Cantika juga bakal masuk sendiri ke kamar ini." bisik Calvin pada dirinya sendiri, dengan mengulum senyumnya , membayangkan sang istri yang tidak mungkin kuat bertahan di luar sana.
Calvin tersenyum sumringah begitu melihat seseorang yang duduk di tepi ranjang membelakanginya.
"Ternyata dia sudah ada di dalam kamar dari tadi. Dia mau kasih aku kejutan ternyata." batin Calvin, tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.
Calvin naik ke atas ranjang dan perlahan-lahan mendekati wanita berpakaian putih, yang dia yakini istrinya itu.
"Sayang, kamu sudah di sini ternyata. pantesan aja kamu tidak merespon saat aku manggil-manggil kamu tadi. Pintunya sengaja kamu kunci ya? dan kamu sembunyikan kuncinya. Entah kejutan apa pun yang kamu rencanakan, aku tahu kalau itu pasti yang membuatku senang. Kamu sudah siap kan?" tanya Calvin dengan nada yang sangat lembut, bahkan kain sutra aja mau demo, gara-gara kalah lembut dari ucapan Calvin.
Calvin mengerutkan keningnya, karena sosok wanita yang sedang membelakanginya itu tidak merespon sama sekali.
"Sayang, kenapa kamu diam saja? lihat aku dong!" Calvin memutar punggung wanita di depannya dengan lembut, untuk menghadap ke arahnya.
"Se-setaaan! teriak Calvin dengan keringat dingin, Kaki yang gemetaran, lemas tidak bisa bergerak. Bagaimana tidak, sosok yang ada di depannya bukanlah Cantika istrinya, tapi sosok yang sangat menyeramkan. Wajahnya sangat putih dengan lingkaran hitam yang mengelilingi matanya, serta bola matanya yang menatap Calvin dengan sangat tajam.
"Ku-kuntilanak!"teriak Calvin, yang akhirnya seakan memiliki kekuatan untuk lari. Dia berlari ke arah pintu.
"Cantika! Sayaaaang, buka pintunya! ada setan' di dalam sini! tolong buka pintunya, Sayanggg!"
__ADS_1
Teriak Calvin sambil memukul-mukul pintu kamarnya berulang kali.
Calvin mulai putus asa, saat tidak ada respon dari sang istri. Dia pun kembali menoleh ke belakang, dan melihat sosok itu, tengah melangkah perlahan dengan seringaian sinis di bibirnya yang sangat pucat.
Dengan kekuatan yang mulai melemah, Calvin berusaha hendak berlari ke arah balkon. Akan tetapi ketika dia tiba di pintu balkon yang tertutup dengan tirai tipis, Calvin melihat di balik tirai tipis itu, berdiri sosok yang menyerupai pocong dengan wajah yang juga sangat putih.
"Ahhhhh!" teriaknya kembali, tanpa dia sadari dari balik celananya mengalir sebuah cairan yang sedikit panas.
"Tolong, aku sudah tidak kuat lagi! pergilah kalian! dunia kita sudah berbeda, jangan ganggu aku please!" mohon Calvin, dengan kaki yang gemetar.
Sosok Kuntilanak itu, tiba-tiba menghidupkan lampu, disertai dengan tawa yang menggelegar. Bukan hanya, si Kunti, sosok pocong itu pun keluar dari balik tirai dengan tawa yang terbahak-bahak sambil memegang perut.
"Ken, lihat, Calvin sampai terkencing-kencing!" tunjuk si Kunti yang ternyata Aby, pada celana Calvin yang basah.
"Kalian berdua ternyata, bangsaaat!" pekik Calvin marah, dan menghambur hendak menghajar kedua sahabatnya, yang hampir membuatnya mati ketakutan.
Sementara itu, Aby dan Kenjo, segera berlari ke pintu dan membukanya menggunakan kunci yang ada pada Aby. Setelah terbuka keduanya langsung, keluar dan mengunci Calvin kembali dari luar.
Aby dan Kenjo, tertawa puas sambil melakukan tos. Kemudian mereka membuka jubah penyamaran mereka.
"Kita harus keluar dari sini! Tapi kita harus bersihkan wajah kita dulu, baru kita bebaskan Cantika," ujar Aby, mengingat kalau tadi mereka menyekap Cantika di kamar lain dengan tangan terikat dan mulut yang tersumpal. Memang benar-benar sahabat tidak ada akhlak.
Flashback On
Ya, Aby dan Kenjo tadi, selepas kepergian Calvin, mereka yabg sudah tahu kelemahan Calvin, akhirnya berencana untuk menakuti sahabat yang sudah meledek mereka tadi. Dengan meminjam motor besarnya Roni, mereka melaju dengan kencang menuju apartemennya Calvin, sebelum sahabatnya itu tiba di sana bersama sang istri.
Aby dan Kenjo segera bersembunyi, ketika mengetahui Calvin dan Cantika sudah tiba dan keduanya langsung masuk ke dalam kamar.
Kenjo bertugas menekan bel rumah, untuk memancing Cantika keluar dari kamar. Begitu wanita itu keluar, dan berjalan mendekati pintu tiba-tiba Aby, membekap mulut Cantika dan membawa wanita itu ke kamar sebelah.
Setelah Clara sudah diamankan, mereka berdua langsung menuju kamar Calvin dan Cantika. Rencana mereka semakin lancar, ketika mengetahui, kalau Calvin sedang di kamar mandi. Kenjo dengan mudah langsung menyelusup ke balik tirai dan berdiri dekat saklar lampu. Aby setelah menutupi pintu, langsung bersembunyi di bawah kasur.
Flashback end
Di saat mereka hendak ke dapur membersihkan muka, tiba-tiba lampu di ruangan itu tiba-tiba padam.
"Ken, jangan main-main! nyalain lagi lampunya, gelap ini ah!" pekik Aby, mengira kalau ini kerjaan Kenjo.
"Enak aja, itu bukan aku! Kayanya, listrik benar-benar padam deh!" Jawab Kenjo di tengah kegelapan.
" Oh, iya kali!" balas Aby, membenarkan.
"Ken, kamu ketakutan ya? masa kamu takut sih?" ledek Aby, karena dia merasa ada tangan yang sedang menyentuh pundaknya.
__ADS_1
"Siapa yang takut? kamu jangan mengada-ada deh." sangkal Kenjo.
"Kalau kamu tidak takut, kenapa kamu memegang bahuku dengan kencang?"
"Hei, kamu jangan asal ngomong ya? aku sama sekali tidak ada menyentuh pundakmu," sahut Kenjo.
"Ja-jadi kalau bukan kamu, siapa?" tanya Aby sambil memutar kepalanya perlahan melihat ke belakang.
"Se-setan! teriak Aby, ketika melihat sosok yang berdiri dengan jubah putih panjang.
"Dimana setan, bangsat?!"pekik Kenjo, ikut gemetar ketakutan, dengan mata yang mengedar. Dia tidak bisa melihat apapun, tapi dia bisa melihat jelas ada bayangan putih selain bayangan Aby.
Kenjo hendak berlari keluar, karena walaupun suasana sangat gelap, Kenjo sudah hapal dimana letak pintu keluar.
"Ken, jangan tinggalkan aku bangsat!" teriak Aby yang kakinya juga sudah gemetaran.
"Aku di sini, By," Kenjo tidak jadi keluar, karena di depannya tiba-tiba berdiri juga bayangan putih yang sama persis dengan bayangan putih di belakang Aby tadi.
Aby dan Kenjo gemetaran dan tanpa sadar naik ke atas meja makan.
"Ken, sepertinya apartemen Calvin memang berhantu, dan mereka tidak senang dijadikan lelucon seperti yang kita lakukan tadi pada Calvin." ucap Aby yang langsung naik ke atas punggung Kenjo.
" Emang hantu juga punya harga diri, ya By?" tanya Kenjo yang tidak merasakan berat saat mengendong Aby.
Kedua makhluk itu, tiba-tiba terus melangkah mendekat ke arah Aby dan Kenjo yang berdiri di atas meja makan.
"Jangan apa-apakan kami? Kami tidak bermaksud membuat kalian sebagai bahan candaan. Kami hanya main-main tadi." mohon Aby dengan mulut dan lutut yang gemetaran.
"Iya, temanku ini benar! kami tidak bermaksud untuk menghina harga dirimu sebagai hantu. Kenjo menimpali ucapan Aby.
Tiba-tiba lampu kembali menyala, dan menyisakan gelak tawa yang terpingkal-pingkal dari dua sosok yang juga ternyata sedang, menyamar sebagai sosok setan.
"Kalian berdua!" sejak kapan kalian ada di sini?" pekik Aby, yang melihat kalau ternyata yang menakuti dirinya dan Kenjo adalah Celyn istrinya dan Anin adiknya.
"Hahahaha! lihat, Nin! mereka berdua ngompol di celana." pekik Celyn menunjuk ke arah meja makan yang sudah basah, demikian juga dengan.
"Apa? ngompol di meja makan?" tiba-tiba Calvin sudah muncul bersama dengan Cantika.
"Arghh! turun kalian berdua dari sana, bangsat! pekik Calvin, begitu melihat meja makannya yang sudah basah dan terlihat dengan jelas, kalau celana kedua orang itu, basah juga.
"Aby turun dari punggungku! kamu pipis di punggungku, setan!" teriak Kenjo.
"Dikit doang! ucap Aby, nyegir
__ADS_1
Tbc
Besok sudah hari Senin kembali, kalau berkenan, voucher vote rekomendasinya dikasiin ke novel ini dong😁 makasih sebelumnya🙏😍