Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!


__ADS_3

"Wow, ma, bagus banget rumahnya. Kayanya kalau kita bisa tinggal di sini pasti rasanya menyenangkan.! seru seorang gadis pada wanita setengah baya yang dia panggil mama. Ekspresi kagum tercetak jelas di wajah sang gadis dan sang mama ketika melihat mansion Keluar Bagaskara.


"Hmm, beruntung banget sih si Amanda itu, bisa mendapatkan suami tajir seperti Tuan Ardan." Kembali gadis itu berucap. Tapi kali ini dengan ekspresi yang berbeda, yang tadinya berdecak kagum, berganti kesal.


"Hush, kamu bisa diam nggak sih? nanti di dalam kamu harus bersikap senatural mungkin. Kamu harus menunjukkan kalau kamu benar-benar merindukan Amanda," wanita setengah baya itu, menyahuti ucapan yang bisa dipastikan adalah putrinya itu.


"Mama tenang aja, aku sudah berlatih semalaman untuk hal itu. Oh ya, ma, aku terlihat cantik kan? kali aja nanti si Ardan itu bisa kepincut padaku." Si gadis muda terlihat memutar-mutar tubuhnya di depan sang mama.


"Tentu saja! tapi nanti kamu usahakan jangan terlihat kalau kamu mau menarik perhatian Ardan. Setelah kita bisa tinggal di rumah ini, baru kita jalankan strategi untuk mendepak Amanda dari rumah ini, dan menjadikan kamu sebagai nyonya muda di rumah itu, " salah satu sudut bibir sang wanita setengah baya, terlihat terangkat ke atas, membentuk senyuman licik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mau cari siapa,Bu, Nona?" tanya satpam yang berjaga dengan ramah dan sopan pada kedua wanita berbeda usia yang berdiri di depan pagar.


"Kami mau menemui, Amanda. Aku Siska ibunya dan ini Sarah adiknya." sahut wanita itu bernama Siska itu dengan angkuh. Dia merasa dengan menyebut kalau dirinya ibunya Amanda, Satpam tersebut akan menghormatinya.


Sang satpam menatap Siska dan Sarah dari atas hingga ke bawah dengan kening yang bertaut, merasa curiga karena kedua wanita itu sikap kedua wanita itu sangat berbeda jauh dengan sikap sang Nyonya muda, yang rendah hati.


"Hey, Pak Security goblok! kenapa bengong? cepat buka pagarnya, kita mau masuk!" Sarah buka mulut dengan wajah bengis.


"Maaf Ibu, Nona, bukannya aku tidak mau membukakan pintu pagar ini, tapi aku tidak bisa membukakan pintu bagi orang asing. Setahu saya, Nyonya Amanda itu yatim piatu," sahut sang satpam masih berusaha untuk tetap sopan.


Kedua wanita itu terlihat terdiam, mendengar ucapan sang Security. Siska berusaha untuk memutar otak untuk meyakinkan sang satpan, kalau mereka benaran keluarga Amanda.


"Pak, aku ini memang bukan ibu kandungnya, tapi aku ini ibu tirinya. Dan aku sudah mengaggap Amanda itu putri kandungku sendiri. Kalau kamu tidak percaya, lihat ini!" Sisca menunjukkan photo pernikahannya dengan ayahnya Amanda, dan terlihat jelas ada Amanda di antara mereka.


"Ok, Ibu. Aku akan hubungi dulu majikan saya, apakah anda diizinkan masuk atau tidak." Sang satpam masuk kedalam posnya, dan segera mengubungi telepon di dalam rumah. Beberapa saat kemudian, sang satpam kembali berlari ke arah pintu pagar dan membukakan pintunya untuk kedua wanita berbeda usia itu.

__ADS_1


"Silahkan masuk, Bu, Nona! Tuan Ardan sudah menunggu kalian berdua di dalam."


"Iya ... iya, lain kali kamu jangan begini ya, kamu juga harus hormat pada kami mulai hari ini. Kamu lihat sendiri kan, Ardan sendiri yang meminta kami untuk masuk," ucap Siska dengan gaya angkuhnya.


"Sekali lagi maaf, Bu, Nona," Security itu, membungkukkan sedikit tubuhnya dan mempersilahkan kedua wanita itu untuk segera masuk, dengan kedua tangannya.


Siska mengayunkan kakinya melangkah dengan angkuhnya, disusul oleh Sarah dari belakangnya.


"Ma, aku benaran cantik kan? makeupku tidak luntur kan?" Sarah sibuk mempertanyakan penampilannya, pada Siska mamanya.


"Iya, Sarahhh, kamu itu sangat cantik. Jadi berhenti bertanya lagi!" ucap Siska ketus, merasa jengah dengan putrinya yang over thinking.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ardan berdiri di depan kedua wanita yang mengaku ibu dan adik dari istrinya Amanda, dengan mata yang menatap dingin.


"Halo, Nak Ardan. Kenalkan aku Siska mamanya Amanda. Dan ini adiknya, Sarah." Siska memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya, sedangkan Sarah sibuk berdecak kagum melihat sosok Ardan yang menurutnya ternyata lebih tampan bila di dilihat dengan nyata, dibandingkan bila melihatnya di TV.


"Silahkan duduk! maaf aku tidak bisa menjabat balik tangan anda, karena tanganku sedikit alergi dengan tangan wanita lain selain tangan mama dan istriku serta putriku." ucap Ardan dengan datar. Akan tetapi terselip sedikit sindiran di dalam ucapannya.


"Oh, maaf deh kalau begitu, Nak Ardan!" Ucap Siska dengan senyum terpaksa. Sedangkan Sarah yang tadinya memamerkan senyum terbaiknya, senyumannya langsung surut mendengar ucapan Ardan.


"Cih, sombong banget! lihat saja, nanti kamu bakal bertekuk lutut mengharapkan cintaku," batin Sarah percaya diri.


"Amanda dimana, Nak Ardan?" tanya Siska sambil mengedarkan matanya ke segala penjuru untuk mencari keberadaan Amanda, anak tirinya.


"Amanda tidak ada di rumah. Dia lagi pergi ke salon bersama mama saya. Oh ya, Ibu Siska, tolong jangan panggil saya, Nak. Karena saya bukan anak anda." sudut bibir Ardan membentuk senyum sinis.

__ADS_1


"Tapi, aku kan ibunya Amanda, jadi kamu itu me __"


"Menantu anda. Itu maksud anda kan?" Siska menganggukkan kepalanya, membenarkan.


"Maaf, setahu saya ibu mertua saya sudah meninggal, dan anda hanya ibu tiri Amanda yang sudah tidak menganggap istri saya sebagai anak lagi, semenjak papanya meninggal. Jadi, anda tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan istri saya." sindir Ardan, sarkasme, membuat Siska mati kutu.


"Siapa yang mengatakan itu? walaupun aku ini hanya seorang ibu tiri, aku benar-benar menyayangi Amanda dengan tulus." ucap Siska dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


"Oh ya? benarkah? tapi yang saya dengar, setelah papa istri saya meninggal, anda mengusir Amanda, dan mengatakan kalau Amanda tidak akan anda anggap lagi sebagai anak. Dan ketika kuburan ayah mertua saya masih basah, anda langsung menjual rumah peninggalan mertua saya, dan sama sekali tidak mau memberikan sepeserpun pada Amanda. Benar begitu, Ibu Siska?" ucapan datar Adam kini disertai dengan sorot mata yang sangat tajam ke arah dua wanita yang wajahnya mulai terlihat pucat.


"Si-Siapa yang bilang begitu, Tuan Ardan? aku mencari dia selama ini untuk memberikan uang hasil penjualan rumahnya," sangkal Siska dengan wajah yang dibuat semeyakinkan mungkin.


"Oh, ya? Ibu Siska, bukannya ketika Amanda datang untuk melihat ayahnya untuk terakhir kalinya , anda langsung mengusirnya?


"Waduh, kenapa dia bisa tahu tentang itu?" batin Siska dengan wajah yang semakin pucat, seperti tidak dialiri darah sama. sekali.


"Sekarang jelaskan apa tujuan kalian berdua datang kemari selain untuk bertemu dengan istri saya?" tanya Ardan.


"Tidak ada, kami hanya ingin bertemu dengan Amanda,.karena kami sangat merindukannya." Bukan Siska yang menjawab, tapi Sarah yang buka suara .


Ardan menyeringai sinis mendengar pengakuan Sarah yang terlihat jelas penuh dengan kepura-puraan.


"Oh ya? Aku rasa bukan itu tujuan kalian sebenarnya. Kalian hanya ingin mendekati Amanda, karena tahu dia istriku, dan kalian berdua ingin memanfaat kan situasi itu. Tapi asal kalian tahu, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Anda pasti heran dari mana aku bisa tahu bagaimana perlakuan kalian terhadap istri saya. Bukan Amanda yang mengatakannya padaku, tapi aku mencari tahu sendiri. Jadi, aku tekankan sekali lagi, semenjak kalian mengusir dan mengucapkan kata-kata kalau kalian tidak mengganggap Amanda keluarga lagi, semenjak itu, kalian tidak ada hubungan lagi dengan istri saya. Sekarang kalian berdua keluar dari rumah saya, dan Jangan pernah bermimpi untuk menjadi bagian dari keluarga ini." Usir Ardan dengan dingin dan tegas.


Siska dan Sarah sama sekali tidak menyangka, akan mendapat pengusiran dari Ardan. Hal ini benar-benar di luar dari ekpektasi mereka. Siska dan Sarah berdiri dengan rasa takut dan buru-buru hendak melangkah keluar.


"Tunggu dulu! ada yang ketinggalan. Dengar baik-baik perkataanku, jangan sesekali kalian berdua mendekati istriku dengan memasang wajah akting memelas kalian itu. Sekali saja aku tahu kalian berkeliaran di dekat Amanda, aku tidak akan segan menghancurkan kalian berdua. Aku memang tidak 24 jam ada di sekitar istri saya, tapi asal kalian tahu, banyak mata yang akan mengawasi istri saya dan melaporkan semuanya. Ingat, saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya, Cam kan itu!"

__ADS_1


Tbc


please like dan komennya kencengin dong gais.Kasih hadiah juga boleh😁


__ADS_2