Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Bagas yang teraniaya


__ADS_3

Suara gelak tawa terdengar dari ruangan Ardan. Hal yang sangat langka terjadi. Bagas sang sahabat sekarang jadi bulan-bulanan dua orang yang katanya mengaku sahabat. Siapa lagi mereka kalau bukan Ardan dan Rio.


Memang ya, bukan sahabat namanya kalau tidak senang membully sahabat sendiri. Tapi percayalah walaupun sahabat sering ngebully kita, tapi mereka akan maju pertama kali, ketika ada orang yang ngebully kita.


"Dan, kamu tadi malam nyemburin mayonize kamu berapa kilo?" tanya Rio.


"Hmm, berapa ya? lupa Yo, saking banyaknya dan berkali-kali lagi. Kalau kamu berapa kilo?" Ardan balik bertanya dengan ekor mata yang melirik ke arah Bagas.


"Lupa juga, Dan. Tapi yang jelas, banyak juga. Kalau kamu, Gas?" tanya Rio dengan wajah menahan tawa.


"Gak usah nanya dia, Yo! kasihan dia, belum ada wadah yang bisa dia jadikan tempat penampungan mayonize." Ardan menimpali ucapan Rio dengan nada meledek.


"Teruskan saja, mengolok-ngolok aku. Mungkin hidup kalian berdua tidak akan berwarna tanpa ngebully aku. Jadi, aku ikhlas kalian bully, yang penting kalian bahagia." Ucap Bagas dengan air muka kesal.


Suara gelak tawa kembali pecah, melihat wajah Bagas. "Salah sendiri sih, dulu punya istri dicerain, kan jadi numpuk tuh mayonize." Ardan kembali menyindir.


"Ish, sekarang kamu bisa ya ngeledek, gak nyadar dia, udah usia 35 baru nyemburin tuh mayonize."Bagas balik meledek.


"Beuhh jangan salah, usia 28 tahun dia udah nyemburin mayonize kali. Makanya punya anak dua." Rio melakukan pembelaan pada Ardan, sehingga membuat Bagas berdecih kesal.


"Udah akh! aku datang ke sini buat bahas kerja sama, bukan jadi bahan Bullyan kalian berdua." ujar Bagas.


"Santai, Sob. Nggak usah buru-buru! Jujur aku penasaran sama kamu. Apa kamu sering bermain dengan wanita-wanita bayaran untuk nuntasin hasrat kamu? Ya ... kita kan tahu sendiri kalau kamu itu sempat nikah, jadi setelah kamu cerai, kan nggak ada lagi tuh yang nampung mayonize kamu."


"Apa kalian mengira aku pria seperti itu? asal kalian tahu, selama aku menikah dengan Sonya, aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya," aku Bagas tanpa sadar.


"What?! kamu normalkan?" Rio dengan sigap menghindar dari Bagas, sambil bergidik geli.


Bagas sontak melempar bantal sofa ke wajah Rio. "Hei, tentu saja aku normal. Aku masih senang mendaki gunung, dan menyusuri lembah yang basah berwarna pink kemerahan." ucap Bagas.


"Tapi, Kok bisa kamu dan mantan istrimu itu ...."


"Ya bisalah! kalian kan tahu sendiri, kalau aku menikah dulu karena dijebak sama dia. Aku itu tidak pernah cinta sama dia sama sekali. Dia akhirnya nggak kuat aku anggurin, makanya cari kenik**matan dari laki-laki lain. Dan yang diuntungkan dengan perbuatannya itu, aku. Karena dengan alasan itu akhirnya, aku bisa menceraikannya." ungkap Bagas dengan lugas, membuat Ardan dan Rio saling silang pandang kaget.


"Wah, Kamu hebat Sob! aku aja yang menikahi Jasmine tanpa cinta dulu, selama sebulan gak nyentuh dia, rasanya menyiksa banget, sampai berpura-pura mabuk biar bisa ngelakuinnya, apa lagi kamu yang menikah sampai lebih dari 3 tahun. ck ...ck," Rio berdecak kagum, dan jujur tanpa sadar.

__ADS_1


"Beda kelas Sob. Bini kamu cantik dan wanita baik-baik, tentu aja kamu pengen. Lah aku, cantik sih iya, tapi ... nggak usah aku jawab, kalian pasti sudah tahu jawabannya," ujar Bagas.


"Eh, tunggu dulu! tadi kamu bilang, kamu pura-pura mabuk kan, biar bisa ngelakuinnya sama Jasmine?" sambung Bagas kembali sambil menatap Rio dengan tatapan menyelidik.


"Mana ada aku bilang seperti itu, kamu salah dengar kali." sanggah Rio, memalingkan wajahnya dari Bagas.


"Tapi aku dengarnya juga begitu, Yo." Ardan membenarkan ucapan Bagas.


"Aku bilang nggak ada, ya nggak ada, kok kalian jadi memaksa gitu sih, kan nggak mungkin aku melupakan apa yang diucapkan sama mulutku." Rio masih kekeh tidak mau mengaku.


"Kami juga begitu, tidak mungkin kuping kami melupakan apa yang dia dengar. Iya kan,Dan?" Ardan menganggukkan kepalanya, membenarkan.


"Bisa aja kali, itu istilahnya salah dengar." ucap Rio.


"Kami juga berarti bisa. Itu istilahnya 'keceplosan'. Tadi kami bisa dengar dengan jelas, kalau kamu pura-pura __"


"Iya iya, kalian benar aku memang pura-pura mabuk dulu. Karena aku gengsi memintanya, dalam posisi sadar. Puas kalian berdua?!" cetus Rio, kesal.


Suara gelak tawa kembali pecah memenuhi ruangan itu.


"Ya, kalian masa lupa dengan alasannya. Alasan masih belum berubah, aku masih ingin memenuhi janjiku pada gadis kecilku," ucap Bagas dengan, helaan napas yang cukup panjang.


"Jadi kalau kamu nggak bertemu dengan dia lagi, kamu nggak nikah-nikah dong!" ucap Rio.


"Sebenarnya sih aku sudah sempat mau melepas status dudaku, tapi itu sudah tidak mungkin terjadi. Dia sudah jadi milik orang," terang Bagas dengan mata yang menerawang.


"Sabar!" Rio menepuk-nepuk pundak Bagas.


"Kalian tahu siapa wanita itu?" Ardan dan Rio menggelengkan kepala, tidak tahu.


"Masa sih tidak tahu? Padahal kemarin ada yang narik wanita itu, pas aku mau kasih hadiah tas."


Bugh ....


Sebuah buku melayang tepat mengenai kepala Bagas,

__ADS_1


"Brengsek! masih berani kamu memikirkan istriku,hah?! aku keluarkan juga nanti otakmu dan aku ganti pakai otak sapi, biar pikiranmu mikirin rumput aja terus. Mau kamu?!" pekik Ardan dengan sorot mata tajamnya.


"Idih, gitu aja marah! aku kan hanya bercanda." elak Bagas, merasa sedikit takut juga dengan aura membunuh dari manik mata, Ardan.


"Udah ah. Sekarang kita bahas kerja samanya saja. Waktuku benar-benar terbuang sia-sia di sini." pungkas Bagas, mengakhiri perdebatan.


Ardan terlihat melirik jam di pergelangan tangannya. "Nanti aja kita bahasanya. Ini sudah jam makan siang, kita makan siang di luar, yuk!" Ardan beranjak berdiri diikuti Oleh Rio. Mereka seperti tidak merasa bersalah, telah membuat Bagas membuang-buang waktunya dengan percuma, yang datang hanya untuk dibully dan membahas masalah unfaedah.


"Sialan! Woi, kampret! Jadi aku datang kesini, cuma mau dikadalin sama kalian berdua? kalian berdua benar-benar teman-teman tidak ada akhlak!" Umpat Badas sambil melempar bantal sofa ke arah Ardan dan Rio, yang dibalas dengan kekehan dari kedua pria itu.


"Ehem ... ehem, siap-siap!" Ketiga orang itu berdehem lalu mengencangkan dasi, dan kembali memasang wajah datar, dan dingin, ketika hendak membuka pintu. Mereka bertiga keluar dengan wajah khas mereka, dingin dan susah tersentuh.


Begitulah mereka, di depan orang lain, mereka sangat disegani dan aura mereka sangat dingin. Giliran sudah bersama orang terdekat, siapa sangka kalau ketiga orang itu, sangat absurd.


Clara memperhatikan ketiga pria yang keluar dari dalam ruangan dengan kening yang berkerut.


"Bukannya mereka bertiga tadi, ketawa-ketawa ya? kok sekarang berubah jadi es semua?" batin Clara. Tanpa sengaja, Matanya dan mata Bagas saling silang pandang.


"Hei, sepertinya aku pernah lihat kamu. Kamu perempuan yang hampir aku tabrak itu ya? kok kamu ada di sini?" tanya Bagas terkesiap kaget.


Park Seo Joon as Bagas



"Cih, baru nyadar dia." Clara membatin sambil memutar bola matanya, jengah.



Park Min Young as Clara


TBC


Kencengin like, vote serta komennya dong gais.😁🙏


Park Seo Joon as Bagas

__ADS_1


__ADS_2