Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kita berbeda dengan mereka


__ADS_3

Adrian menepikan mobilnya ketika kediaman Reyna sudah terlihat.


"Sudah sampai! kamu boleh turun!" ucap Adrian memecah keheningan di antara mereka berdua, setelah kejadian tadi di pantai. Dimana Adrian kembali mencium Reyna,ketika dia berhasil menghindari pukulan gadis itu, dan memeluknya.


Reyna membuka sabuk pengamannya, dan hendak keluar tanpa mau melihat ke arah Adrian. Akan tetapi, dengan sigap Adrian menahan tubuh Reyna dengan menyentuh pundak wanita itu.


"Sebelum turun, apa kamu tidak mau mengucapkan sesuatu padaku? dan apa kamu tidak mau memberikan ciuman selamat malam?"


Reyna sontak memutar kepalanya dan menatap tajam ke arah pria yang menurutnya sangat menyebalkan malam ini. Dua kali sudah pria itu, berhasil memancingnya untuk membalas ciuman, yang entah kenapa dirinya ikut menikmati.


"Ciuman selamat malam apaan? dengar ya, yang tadi itu, aku pastikan akan jadi yang terakhir, jangan pernah coba-coba mau menciumku lagi, kalau tidak, aku tidak akan segan-segan mematahkan lehermu!" ucap Reyna dengan penuh ancaman.


Adrian, bukannya merasa takut justru terkekeh melihat wajah garang yang diperlihatkan oleh Reyna padanya.


"Ihh, takut! tapi aku dapat pastikan kalau ciuman itu bakal berlanjut, karena aku yakin, kalau kamu dan aku memang ditakdirkan untuk bersama. Suatu saat kamu itu pasti jadi istriku," ujar Adrian dengan santainya.


Reyna menggembungkan pipinya, dengan dada yang naik turun,karena geram dengan ucapan Adrian.


"Jangan mimpi kamu! Asal kamu ingat, kalau aku sudah punya pacar, dan ...."


"Tidak apa-apa kamu punya pacar sekarang, yang penting belum jadi suami. Pacar kapanpun bisa putus kok. Sebelum kamu memperlihatkan buku nikahmu, aku tidak akan menyerah,"


"Kamu ya ... kamu benar-benar ... ihh!". Reyna bingung mau mengatakan apa lagi, karena pria di depannya itu, sangat keras kepala dan percaya diri. Ingin rasanya dia mencekik pria itu , apalagi sekarang dengan jelas-jelas Adrian tersenyum manis sambil mengerlingkan matanya, menggoda.


"Sudah, sekarang, kamu turun ya cantik" ucap Adrian,sambil mendorong pelan tubuh gadis itu.


Reyna turun dengan hati yang sangat dongkol. Dia nyaris saja melangkah memasuki pekarangan rumahnya. Akan tetapi, tiba-tiba dia mengurungkannya, karena tiba-tiba terdengar suara Adrian yang memanggilnya kembali.


"Ada apa lagi sih?" sahut Reyna kesal, tapi tapi tetap melangkah kembali mendekat ke mobil.


"Jangan dari situ! kamu ke arah sini!" titah Adrian yang meminta Reyna berputar, ke arah jendela mobil dimana dia duduk, bukan dari tempat dia keluar tadi.


Reyna menghentakkan kakinya, saking kesalnya. Tapi, entah kenapa dia tetap, melakukan seperti yang diperintahkan oleh Adrian. Dia berjalan mengitari mobil, dan berhenti telat di jendela, tempat Adrian duduk.


Adrian menurunkan kaca mobilnya dan menyuruh Reyna mendekatkan kepalanya menggunakan jarinya.


"Kamu mendekat ke sini, aku mau membisikkan sesuatu!"


Bagaikan kerbau dicucuk hidungnya, Reyna sedikit membungkuk dan mendekatkan kepalanya ke arah pria itu.

__ADS_1


"Kamu masih aku cium saja, sudah keluar darah. Kamu datang bulan ya?" bisik Adrian dengan senyum yang menyeringai.


Kedua netra Reyna membesar dengan sempurna dan hendak berdiri tegak, guna mencek kebenaran, perkataan Adrian. Akan tetapi, sebelum Reyna benar-benar berdiri tegak


Adrian menahan kepala Reyna dan memberikan kecupan singkat di bibir gadis itu.


"Kamu ...!" Reyna hendak memukul Adrian, tapi pria itu langsung menaikkan kembali kaca jendelanya, hingga mau tidak mau, tangan Reyna berhenti di udara.


Adrian terkekeh melihat Reyna yang menutup wajahnya ketika mendapati, bahwa yang dikatakan Adrian itu benar. Terlihat ada noda darah yang menempel jelas di celana putih yang dia pakai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu dari mana?" cegat Roni, begitu Reyna masuk ke dalam rumah. Tatapan pria itu sangat dingin dan tajam, hingga membuat Reyna menundukkan kepalanya, takut.


"A-aku tadi dari ...."


"Darimana? apa kamu tahu jam berapa sekarang?" aura Roni semakin dingin sehingga atmosfer di ruangan itu, seakan semakin menakutkan bagi Reyna.


"Jawab Reyna! kenapa diam saja?!" kali ini suara Roni, meninggi hingga membuat Reyna terjengkit kaget.


"Ta-tadi aku menemui, Tuan muda Adrian, Kak!" jawab Reyna, gugup.


"Aku benar-benar telah menolaknya, Kak. Tapi, tadi aku dapat kabar dari Rico temannya, kalau Tuan Adrian mau menceburkan dirinya di laut, makanya aku buru-buru ke sana buat mencegahnya." sahut Reyna, jujur dengan kepala yang menunduk.


"Sekarang kakak mau tanya, apa kamu menyukai, Tuan Adrian?"


"Ti-tidak, Kak!" jawab Reyna, gugup, masih tidak berani menatap, kakaknya itu.


"Reyna, aku ini kakakmu. Aku tahu, kalau kamu tengah berbohong. Aku tahu, kalau kamu juga menyukainya, tapi kamu itu harus sadar diri siapa kita. Semua menantu dari Tuan Ardan, dari kalangan orang berada, jadi walaupun mereka baik, mereka pasti akan tetap, ingin memiliki menantu, yang hampir sepadan dengan mereka, bukan seperti kamu."


"Tapi bagaimana dengan Ibu, Amanda? bukannya ibu Amanda juga dari kalangan biasa seperti kita?" kali ini Reyna memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, menatap sang kakak.


"Jangan membantah, Reyna! itu kasusnya berbeda."


"Kenapa? apa aku harus hamil dan memiliki anak dari Tuan Adrian dulu, biar bisa sama kasusnya dengan Ibu Amanda?" Reyna semakin berani menantang, sang kakak yang wajahnya kini sudah terlihat memerah.


"Reyna!" tangan Roni terayun ke atas, hendak memukul adik perempuannya itu.


"Kenapa tidak jadi kakak pukul, Kak? nih pukul," Reyna mendekatkan wajahnya ke arah Roni.

__ADS_1


Roni menurunkan tangannya, kemudian dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kembali keluar. Dia melakukannya berulang-ulang, untuk menekan amarah di hatinya.


"Reyna, bukan seperti itu maksud, Kakak. Aku tahu kalau Ibu Amanda juga berasal dari kalangan biasa seperti kita. Tapi, beliau sebelumnya tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Bagaskara. Kalau kita, kamu tahu sendiri, kalau papa dulu bekerja pada keluarga itu, sekarang kakak juga. Kakak hanya tidak mau, keluarga mereka menganggap kalau kita melunjak, memanfaatkan kebaikan mereka, dengan berhubungan dengan Tuan Adrian dan berharap jadi bagian dari keluarga itu. Selain itu, kakak juga tidak mau, kamu akan merasa berbeda di antara para menantu Tuan Ardan kelak," jelas Roni panjang lebar tanpa jeda.


Reyna tercenung, tidak bisa berkata-kata lagi. Dia merasa kalau yang diucapkan oleh kakaknya itu benar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menurunkan Reyna di depan rumahnya. Senyuman di bibir Adrian seakan tidak mau beranjak pergi, hingga sampai di mansion keluarganya.


"Selamat malam, Pah!" sapa Adrian ketika berpapasan dengan pria itu yang kebetulan baru turun dari atas.


"Selamat malam?" sahut Ardan dengan raut wajah bingung, melihat Adrian yang tidak seperti biasanya. Apalagi, ketika putra bungsunya itu menyapanya dengan intonasi yang sangat berbeda dari biasanya.


"Kamu dari mana? sudah jam berapa ini?" tanya Ardan, yang seketika mengabaikan kebingungannya.


"Main sama Rico, Pah. Tadi keasikan main, sampai lupa pulang." jawab Adrian, tidak mengatakan yang sebenarnya, dan untungnya Ardan terlihat percaya.


"Papa, mau ngapain? kenapa belum tidur?"


"Aku mau ngambil minum ke dapur," jawab Ardan dengan kerutan yang muncul di keningnya.


"Ada apa, Pah? kenapa melihatnya seperti itu?"


"Kamu sehatkan, Yan?" Ardan malah balik bertanya.


Karena dia merasa ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi.


"Aku sehat kok, Pah? emang aku terlihat sakit ya?" ucap Adrian dengan bibir yang tidak berhenti tersenyum.


"Bukan terlihat tidak sehat sih, tapi terlihat aneh," jawab Ardan.


"Aneh bagaimana? Adrian biasa aja kok, papah kali yang aneh," ujar Adrian, sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, supaya papanya itu tidak melihat bagaimana ekspresi wajahnya sekarang.


"Udah ya, Pah. Aku mau naik dulu, mau tidur, bye bye, Pah!" Adrian naik ke atas, dengan sedikit berlari, meninggalkan Ardan yang menyunggingkan senyum misterius.


"Sepertinya, malam ini dia berhasil." batin Ardan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tbc

__ADS_1


Segini dulu ya Guys. Aku masih oleng soalnya. Ini aja nulisnya, dari pagi, berhenti-henti sebentar. Maaf ya 🙏


__ADS_2